
"Tuan Juanda, apa yang kamu lakukan?"
teriak Hartana, tetapi Cakra mengabaikannya dan melarikan diri bersama orang-orangnya.
Suasana tiba-tiba menjadi suram.
Semua orang mengira Keluarga Wiryawan akan membalas Jimmy dan menyiksa Nawang sesuka hati hari ini, tapi mereka tidak menyangka akan berakhir seperti ini.
"Tuan Wiryawan, sekarang semua orang yang tidak berkepentingan sudah pergi. Saatnya membicarakan dendam kita."
Dengan sorot mata yang lucu, Nawang langsung menuju aula berkabung.
Hampir seratus pembunuh menyingkir dan tidak ada yang menghentikan Nawang.
Hartana ketakutan dan terpikirkan banyak hal. Ketika dia melihat Nawang mendekati peti mati Jimmy, ekspresinya berubah drastis.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Hartana.
"Tidak ada. Hanya saja Tuan Wiryawan sangat sombong dan mendominasi. Mengandalkan latar belakang Keluarga Wiryawan yang kuat, dia telah menyakiti dan membunuh banyak orang, tetapi diabelum hidup sampai usia tiga puluh tahun. Kamu, Hartana Wiryawan, akan mati tanpa keturunan!"
Senyum tipis tersungging di wajah Nawang.
"Kamu ..."
Hartana sangat marah hingga hampir memuntahkan darah.
"Oh, tidak! Jimmy bukan putramu satu-satunya. Setahuku, kamu memiliki putra di luar nikah. Aku pikir kamu berencana untuk membawanya kembali ke Keluarga Wiryawan, benar bukan?" tanya Nawang yang menatap Hartana dengan dingin.
Duar!
Tiba-tiba saja, ekspresi Hartana berubah drastis seolah tersambar petir. Fakta bahwa dia memiliki anak haram selalu menjadi rahasia. Selama bertahun-tahun, istrinya pun tidak mengetahuinya, tetapi bagaimana Nawang bisa mengetahuinya?
Mendengar apa yang dikatakan Nawang, Nyonya Wiryawan, yang berdiri di sebelah Hartana, menjadi pucat karena ketakutan. Kemudian dia ingat bahwa Hartana telah memberitahu dia sebelumnya bahwa dia telah memberikan beasiswa pada seorang mahasiswa dan mengangkatnya sebagai anak.
Sekarang setelah Jimmy meninggal, Keluarga Wiryawan tidak bisa hidup tanpa penerus, dan mereka tidak bisa hidup tanpa seorang anak. Jadi dia memutuskan untuk membawa putra angkat ini ke Keluarga Wiryawan.
Tenggelam dalam kesedihan atas kematian putranya, Nyonya Wiryawan tidak terlalu banyak berpikir dan setuju dengan Hartana. Dia tidak menyangka bahwa anak angkat itu adalah anak haram suaminya.
Hartana tidak hanya menyembunyikan hal itu darinya selama bertahun-tahun tetapi juga terus menipu Nyonya Wiryawan. Benar-benar patut dibenci!
"Hartana, bajingan! Kamu benar-benar bajingan tak berperasaan! Jimmy baru saja dibunuh, tapi kamu akan membawa anak harammu kembali. Apakah kamu masih manusia?"
"Selama bertahun-tahun, jika aku tidak memberimu nasihat, bisakah kamu memiliki status dan kekuasaan seperti sekarang? Dengarkan baik-baik, aku bisa membiarkanmu memiliki semua ini, jadi aku juga bisa membuatmu kehilangan segalanya dalam sekejap!"
Nyonya Wiryawan sangat marah sehingga meraih kerah Hartana dengan kedua tangannya dan menyumpahinya di depan umum.
"Apa kamu sudah gila? Apakah kamu percaya dengan apa pun yang dia katakan? Dia adalah musuh bebuyutan Keluarga Wiryawan. Bisakah kamu lebih bijaksana?"
Memang benar kesuksesan Hartana hari ini karena dukungan istrinya.
Banyak orang tahu bahwa Hartana
tidak memiliki banyak kemampuan, jadi dia mengandalkan istrinya. Namun sekarang, dia dimaki oleh Nyonya Wiryawan di depan umum, yang merupakan sebuah penghinaan.
"Nyonya Wiryawan, aku memiliki laporan tes DNA suamimu dan putra angkatnya. Kamu bisa melihatnya!"
Setelah mengatakan itu, Endaru melemparkan tas dokumen ke arah Nyonya Wiryawan.
Wajah Hartana menjadi pucat karena ketakutan. Dia mengambil tas dokumen itu tetapi ditendang oleh Nyonya Wiryawan.
__ADS_1
Setelah melihat-lihat isi laporan itu, Nyonya Wiryawan sangat marah sehingga wajahnya menjadi ganas.
Dia melemparkan tas dokumen itu ke wajah Hartana dan meraung; "Hartana, dasar bajingan tak berperasaan. Begitukah caramu memperlakukanku selama ini? Beraninya kamu memiliki simpanan dan anak haram di belakangku! Aku bersumpah bahwa aku tidak akan membiarkanmu memiliki kehidupan yang layak di masa depan!"
"Cukup! Ini adalah hari pemakaman Jimmy. Ada begitu banyak orang penting yang hadir. Mari kita bicarakan ini nanti. Sekarang kita harus menangani Nawang bersama!"
Wajah Hartana memar dan rambutnya berantakan.
Dia berteriak dengan suara rendah.
Nyonya Wiryawan tercengang. Dia juga wanita yang cerdas. Dia mengertakkan gigi dan memutuskan untuk menyelesaikan hal ini dengan Hartana nanti setelah putranya dimakamkan.
Adapun anak haram itu, selama Nyonya Wiryawan masih hidup, dia tidak
akan membiarkan anak itu masuk ke Keluarga Wiryawan.
"Selesai sudah urusanmu. Bisakah kamu pergi sekarang?"
Hartana mengertakkan gigi dan menatap Nawang dengan galak.
"Hah, apa kamu marah sekarang? Dibandingkan dengan apa yang kamu telah perbuat pada Keluarga Tirta, ini bukan apa-apa!"
"Aku baru saja membunuh anakmu dan
mengungkapkan rahasia anak harammu. Apa kamu tidak tahan? Lalu, bagaimana aku harus membalas dendam untuk Keluarga Tirta?"
Senyum menyeramkan dan mengerikan muncul di wajah Nawang. Mata hitamnya sedalam langit.
Seolah dia hendak membunuh orang.
Nawang meletakkan tangannya di peti mati Jimmy dan berkata dengan dingin; "Sulit untuk bertahan hidup di medan perang. Merupakan hal yang beruntung jika bisa menyimpan mayat tentara yang mati dan mengirimnya kembali ke rumah. Namun seorang gangster yang kejam tidak berhak meminta seluruh kota berduka untuknya!"
Tiba-tiba saja, Nawang menempelkan tangannya ke peti mati itu dan seluruh peti mati itu meledak dalam sekejap. Mayat Jimmy terhempas ke luar dan jatuh dengan keras ke tanah.
Semua orang terkejut!
Mereka sangat terkejut!
Semua pembesar di aula berkabung ketakutan.
Mereka menarik napas dalam-dalam dan menatap Nawang dengan mata ketakutan seolah telah melihat iblis, gemetar.
"Jimmy!"
"Pukul dia! Bunuh dia!" teriak Nyonya Wiryawan sembari berlari cepat
menghampiri jasad putranya, memegangnya dan meraung.
"Berhenti!"
Saat ini, Hartana menghentikan mereka. Dia lebih tenang dari istrinya.
Putra kedua Keluarga Tirta adalah orang yang sama sekali berbeda.
"Hartana, apa yang kamu katakan? Apakah kamu masih seorang manusia?"
"Sekalipun kamu memiliki anak haram, bukankah Jimmy juga anakmu?"
"Dasar binatang!" teriak Nyonya Wiryawan yang memarahi Hartana dengan gila-gilaan.
__ADS_1
"Diam! Kamu tahu apa?" seru Hartana pada Nyonya Wiryawan.
Berbalik, Hartana memandang Nawang dan mencoba sebaik mungkin untuk menenangkan dirinya. Mungkin hanya itu yang bisa dia lakukan.
Lalu dia berkata dengan suara yang dalam; "Tuan Tirta, Keluarga Wiryawan bukanlah satu-satunya keluarga yang bisa disalahkan atas kehancuran Keluarga Tirta. Kamu juga membunuh anakku, Jimmy, dan tidak ada manusia yang bisa hidup kembali. Bahkan jika kamu membunuh semua anggota Keluarga Wiryawan, itu tidak ada artinya. Mengapa kamu tidak menemukan cara lain untuk menyelesaikan masalah ini?"
"Cara lain?" tanya Nawang seraya menatap Hartana dengan tatapan main-main.
"Ya, Keluarga Wiryawan akan memberimu kompensasi, selama kami mampu!"
Hartana merasa bahwa nada bicara iblis yang berdiri di depannya itu telah melunak sehingga hatinya yang tegang seketika lega.
Baginya, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak menyukai uang dan tidak akan ada seorang pun yang benci punya uang yang banyak.
Jika dia bisa menggunakan uangnya untuk membuat Nawang, pria yang tampak seperti iblis itu, mengurungkan niatnya untuk balas dendam kepada Keluarga Wiryawan, hal itu tentu saja akan menjadi keberuntungan yang besar!
"Kompensasi?"
"Baiklah! Serahkan seluruh aset Keluarga Wiryawan kepadaku. Dengan begitu, aku akan membiarkan seluruh anggota Keluarga Wiryawan hidup selama sepuluh hari lagi!"
Nawang memberikan ultimatum kepada seluruh anggota Keluarga Wiryawan dengan tenang.
Mereka telah membantai seluruh anggota Keluarga Tirta. Bagaimana mereka, pelaku dibalik hancurnya Keluarga Tirta, bisa menjalani kehidupan yang nyaman?
Alasan mengapa Nawang memberi Keluarga Wiryawan waktu sepuluh hari lagi bukan karena dia menginginkan aset mereka.
Namun, dia ingin seluruh anggota Keluarga Wiryawan hidup dalam penderitaan dan keputusasaan, yang pastinya akan membuat hidup mereka jauh lebih buruk daripada kematian!
Membunuh seseorang dengan cepat adalah cara terbodoh untuk balas dendam.
Cara terbaik untuk balas dendam adalah menyiksa mereka dan membuat mereka hidup dalam ketakutan, keputusasaan, penderitaan, dan kegelisahan setiap harinya!
"Kamu ...jangan mimpi! Berani-beraninya kamu berkata seperti itu?!" ucap Hartana. Tubuh Hartana gemetar karena marah setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Nawang.
Dia tidak pernah menyangka kalau Nawang akan mengambil seluruh harta Keluarga Wiryawan sekaligus membunuh mereka semua!
"Sepuluh hari lagi, aku akan mengirim seseorang untuk mengambil seluruh harta sekaligus nyawa kalian ..." ucap Nawang seraya berbalik tanpa melirik ke arah Hartana sedikit pun, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Dia berjalan dengan dua tangan di saku
celananya, di bibirnya tampak sebatang rokok yang tinggal setengah. Langkah kakinya terlihat sangat mengintimidasi.
Endaru mengikuti Nawang dari belakang dengan penuh hormat, tak bersuara, dan bermartabat!
Setelah kepergian Nawang, semua pelayat seketika menghela napas lega, tetapi berat. Wajah mereka tampak pucat dan keringat dingin membasahi kening mereka. Tubuh mereka gemetar tak terkendali. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat tatapan mata
segarang itu layaknya sebuah pisau yang tajam.
Benar-benar mengerikan!
"Aku benar-benar tidak menyangka! Keluarga Tirta telah tiada, tetapi putra kedua, Nawang, ternyata masih hidup ..."
"Dia baru saja kembali setelah sepuluh tahun bertugas. Pria itu benar-benar sulit diprediksi!"
"Dengan keberanian dan kekayaan yang dia miliki, Nawang pasti akan menjadi pria yang luar biasa!"
"Sepertinya, akan terjadi perubahan secara besar-besaran di Kota Habuan karena kembalinya Nawang..."
Saat mereka tersadar dari keterkejutan mereka, mereka tanpa sadar mengagumi sosok Nawang dan mulai membicarakannya.
__ADS_1
Pada saat yang sama, seorang pria paruh baya yang mengenakan jas hitam tampak berdiri di sudut aula itu seraya memutar cincin giok yang ada di ibu jarinya secara perlahan. Tatapan matanya tertuju pada sosok Nawang.