TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU

TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU
Bab 17 Demi Negara Dan Rakyat!


__ADS_3

Pria paruh baya itu bernama Banyu Juniarka, presiden Yayasan Makmur Kota Habuan. Awalnya, Yayasan Makmur tidak ada hubungannya dengan Keluarga Wiryawan, Kencana, dan Cakrawala. Namun, dalam dua tahun terakhir, tiga keluarga berpengaruh itu berencana untuk


menguasai yayasan. Hal itulah yang membuatnya tidak menyukai ketiga keluarga itu.


Kalau bukan karena dukungan dari pihak-pihak yang bersembunyi di belakang yayasan, yayasan itu pasti


sudah dikuasai oleh tiga keluarga itu!


Banyu sangat senang saat mendengar kabar kematian Jimmy.


Tujuan dia datang ke sini hanyalah untuk bersenang-senang. Dia tidak menyangka kalau ada seorang pria yang membuat keributan di sini. Dia


merasa bahwa kedatangannya ke sini tidak sia-sia! Banyu berpikir dalam hati seraya, menatap Nawangdengan lekat, Pria itu nampaknya baru berusia sekitar dua puluh lima tahun, tetapi aura yang dikeluarkannya sangatlah mengintimidasi. Dia bahkan berani mempermalukan Keluarga Wiryawan di depan umum. Aku yakin dia punya orang yang mendukungnya dari belakang!


Musuhnya musuh adalah teman. Jika dia bisa bekerja sama dengan dengan musuhnya musuh, dia pasti mampu mengalahkan musuhnya dengan mudah!


Namun, yang tidak dia ketahui adalah memanfaatkan Nawang sama saja dengan cari mati!


Raja Perang Tertinggi adalah pria yang sangat kuat.


Hanya Nawang yang boleh memanfaatkan orang lain.


Memangnya siapa yang berani memanfaatkannya?


Jika ada, orang itu pasti sudah bosan hidup!


Setelah Nawang pergi, pemakaman Keluarga Wiryawan tidak bisa lagi dilaksanakan. Mereka tidak ingin para tamu itu melihat mayat Jimmy yang


terbaring di tanah. Jadi, Hartana meminta para tamu itu untuk pulang seraya memohon kepada mereka


untuk tidak membicarakan apa yang telah terjadi hari ini kepada orang lain.


Bagaimanapun juga, Keluarga Wiryawan sudah cukup dipermalukan.


Jika mereka dipermalukan lagi, mereka pasti akan mati.


Pada saat yang sama, di tempat parkir yang terletak tidak jauh dari kediaman Keluarga Wiryawan, tiga anggota Keluarga Teguh tampak berdiri di samping mobil militer yang mengintimidasi dengan murung.


Intan menceritakan semuanya kepada ayah dan ibunya.


Albert tadi dipermalukan secara habis-habisan oleh Keluarga Wiryawan, tetapi kini wajahnya tampak berseri-seri.


"Nawang, kamu benar-benar ... benar-benar ..."


Nawang mengangguk dan berkata; "Tuan Teguh, semuanya benar."


Albert sangat senang mendengar jawaban Nawang.


Mereka sebenarnya tidak tahu siapa Raja Perang Tertinggi itu, tetapi jika dilihat dari sikap Andre tadi, mereka yakin bahwa dia adalah pria yang luar biasa.


Beberapa waktu kemudian, kegembiraan mereka perlahan menghilang.

__ADS_1


"Tuan Tirta pasti sangat bahagia di surga. Keluarga Tirta memiliki keturunan yang sangat hebat! Kamu telah hidup menderita selama


bertahun-tahun ... Puluhan ribu nyawa melayang dalam medan perang Nawang pasti telah melewati banyak hal yang tidak bisa dibayangkan agar bisa mendapatkan prestasi seperti itu dalam kurun waktu sepuluh tahun. Bekas luka yang ada di tubuhnya adalah buktinya."


"Tuan Teguh, semuanya aku lakukan demi negara dan rakyat," ucap Nawang, matanya terlihat berbinar.


Dia tidak akan pernah meragukan hal itu. Itu adalah sumpah yang dia katakan di hari pertama dia bergabung sebagai tentara dan dia selalu menjaga


sumpah itu.


Bahkan jika di negaranya ada sampah seperti empat keluarga berpengaruh itu, dia akan tetap melindungi keluarganya dan membela negaranya tanpa penyesalan.


"Bagus sekali!" puji Albert sembari menepuk bahu Nawang dengan


kuat.


Tampak sekali bahwa Albert sangat mengagumi sosok Nawang.


Di sisi lain, Intan tampak seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia segera mengurungkan niatnya.


Setelah dia mengumpulkan keberaniannya, dia berjalan mendekati Nawang, pikirannya benar-benar kacau. Tangannya yang saat ini sedang memilin ujung pakaiannya tampak sedikit gemetar.


Dia mengangkat kepalanya, lalu menatap Nawang dengan matanya yang cerah dan mengatakan kata-kata yang sangat ingin dia ucapkan; "Maafkan aku!"


Intan kembali sedih saat melontarkan kata-kata itu dan air matanya tampak mengalir di pipinya.


"Aku ... aku tidak pernah berbohong kepadamu," ucap Nawang pelan, tatapan matanya sulit dibaca.


Air mata Intan berlinang saat mendengar perkataan Nawang. Dia selalu mencintai Nawang dalam hatinya.


Nawang tampak menghela nafasnya.


Dia lalu membelai rambut Intan dan berkata dengan suara pelan; "Intan, jaga ayahmu baik-baik. Jalan yang aku


tempuh sangatlah berbahaya. Akan sulit bagiku untuk mengunjungimu kelak."


"Baiklah ..." ucap Intan, suaranya tercekat oleh tangisannya.


Dia memalingkan wajahnya dan melihat Cakra, Kartini, dan yang lainnya menunggu tak jauh dari sana.


Mereka tampak ketakutan.


Albert menghela nafas dan berkata; "Nawang, minumlah bersamaku saat kamu punya waktu luang."


"Pasti," jawab Nawang sembari mengangguk.


"Baiklah, ayo kita pulang. Kita tidak boleh mengganggu Nawang. Hari ini, aku akan membuka botol anggur terbaikku dan meminumnya sampai


habis!" ucap Albert seraya tertawa dan melangkah pergi.


Nyonya Teguh tidak berani menatap Nawang. Yang bisa dia lakukan hanyalah menundukkan kepalanya, dia benar-benar merasa bersalah.

__ADS_1


Dia tampak sedikit cemas saat melihat Albert yang hendak pergi. Dia ingin sekali mengatakan sesuatu,


tetapi dia tidak berani mengatakannya karena dia takut kepada Nawang.


Nyonya Teguh memberikan isyarat kepada Albert melalui kedipan matanya, tetapi Albert malah memelototinya.


Wanita itu tidak mau menyerah begitu saja. Jadi, dia menyenggol lengan Intan.


Namun, Intan mengabaikannya. Jadi Nyonya Teguh tidak punya pilihan lain selain pergi bersama Albert dan Intan.


Setelah mereka pergi menjauh, Nawang berkata kepada Endaru yang berdiri di belakangnya; "Minta mereka untuk mengurus bisnis Keluarga Teguh."


"Baik, Tuan!" jawab Endaru dengan suara beratnya.


Setelah memastikan Keluarga Teguh pergi, Cakra mendekati Nawang dengan tubuhnya yang gemetaran.


Buk, buk, buk ...


Begitu mereka berdiri di hadapan Nawang, Cakra menyuruh Kartini dan yang lainnya untuk berlutut di


atas tanah.


"Tuan Tirta, aku ... aku bersalah!"


Tubuh Cakra gemetaran. Dia adalah pria yang cerdas.


Dia tahu kalau dia dan seluruh keluarganya akan berada dalam bahaya jika Nawang tidak memaafkan


mereka.


Nawang hanya menatap mereka dengan tenang, dia tidak mengatakan apa pun.


Selang beberapa waktu, keringat dingin mulai membanjiri punggung mereka yang saat ini tengah berlutut di atas tanah, punggung mereka pun terasa


sangat sakit. Namun, mereka masih tidak berani bergerak karena takut menyinggung Nawang lagi.


Akhirnya, Nawang berkata dengan suara dinginnya; "Aku akan memaafkanmu. Namun, dengan satu


syarat. Keluarga Juanda harus mau bekerja untukku."


Kalimat singkat itu sontak membuat mereka menghela nafas lega sekaligus gembira.


Mereka tidak begitu menghiraukan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nawang karena bagi mereka, mereka merasa beruntung bisa membantu pria


sekuat Nawang. Rasanya sama sekali bukan seperti hukuman.


"Terima kasih, Tuan. Selama Tuan memberi kami perintah, Keluarga Juanda akan melakukan apa pun


yang Tuan mau!" ucap Cakra dengan tergesa-gesa.


Dia benar-benar merasa lega setelah mendapatkan maaf dari Nawang.

__ADS_1


Nawang kemudian berkata; "Kalau begitu, bantu aku mengurus Keluarga Kencana."


Ekspresi Cakra seketika berubah.


__ADS_2