TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU

TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU
Bab 12 Siapakah Pria Misterius Itu?


__ADS_3

Albert berkata dengan wajah datarnya: "Dahulu, kita tidak memiliki apa pun. Perusahaan kita yang sekarang bisa berhasil seperti ini berkat bantuan dari ayah Nawang. Semua yang kita miliki saat ini adalah pemberian dari Tuan Tirta. Sangat masuk akal jika aku memberikannya kepada Nawang. Selain itu, ketika Nawang dan Intan menikah nanti, dia akan menjadi bagian dari keluarga kita."


Intan seketika tersadar, matanya terbelalak, dia lalu berteriak dengan histeris; "Dia bukanlah keluarga kita! Aku tidak akan pernah mau menikah dengan pengecut sepertinya seumur hidupku!"


"Apa yang sebenarnya sedang kamu bicarakan? Bukankah kamu menyukai Nawang?"


"Itu dahulu!" teriak Intan dan berbalik


memelototi Nawang. Dia kemudian menekankan setiap kata-katanya dengan marah; "Aku menyukai Nawang yang gigih, bukan pecundang ini!"


"Intan!" bentak Albert sembari menunjuk ke arah Intan, tubuhnya gemetar karena marah.


Intan mengangkat kepalanya seolah-olah dia tidak takut dan berkata; "Apakah aku salah, Ayah?


"Apakah Ayah tahu apa yang terjadi kepada Keluarga Wiryawan? Pria misterius itu tiba-tiba muncul dan mengacaukan pesta pernikahan Jimmy dan membunuh Jimmy! Dia benar-benar tidak takut dengan keempat keluarga itu!"


"Itulah yang dinamakan pria sejati!"


"Jika dia dibandingkan dengan pria itu, dia hanyalah seorang pengecut yang miskin!"


Suara Intan bergetar hebat, air matanya


membasahi seluruh wajahnya. Wanita itu berteriak dengan pelan. Dia sebenarnya masih mencintai Nawang, tetapi dia menyesal karena Nawang tidak seperti apa yang diharapkannya.


"Kamu .."


Kepala Albert tiba-tiba pusing, dia


menghembuskan nafasnya dengan berat.


Nawang memegang lengan Albert dan berkata; "Jangan marah, Tuan. Aku tidak pantas untuk Intn. Selain itu, aku menyukai orang lain."


"Kamu ... " Albert benar-benar merasa bersalah.


"Malam sudah larut. Aku harus pergi sekarang. Aku akan datang menemuimu lagi kalau aku punya waktu."


Setelah mengatakan hal tersebut, Nawang berbalik, bahkan sebelum Albert memintanya untuk menginap di sini malam ini.


Suasana di ruang makan itu berubah menjadi suram setelah kepergian Nawang.


"Apa kalian puas sekarang?"


Albert menghela nafasnya, tubuhnya merosot di atas kursi seolah-olah usianya bertambah sepuluh tahun.


Tiba-tiba, ponsel Intan yang tergeletak di atas meja itu berdering. Dia meraih ponselnya dan menjawab panggilan itu dengan cepat.


"Hei, Intan. Bukankah kamu sedang mencari pria yang membunuh Jimmy di pesta pernikahannya waktu itu? Aku sudah tahu identitas pria itu."


"Benarkah? Siapa dia?" tanya Intan, dia tampak benar-benar bersemangat sehingga amarah dan kesedihannya menghilang dalam sekejap.

__ADS_1


"Hei, jangan khawatir. Kamu sangat mengenal pria itu."


"Aku mengenalnya? Bagaimana mungkin? Katakan saja, siapa dia?" tanya Intan heran.


"Nawang Tirta, Putra kedua Keluarga Tirta!"


Bang!


Ponsel itu terlepas dari tangan Intan dan jatuh menghantam lantai dengan keras.


Layarnya ponselnya seketika pecah dan wajah muram Intan terpantul di layar ponsel yang kini tampak seperti sarang laba-laba itu.


Di saat yang sama, Nawang keluar dari vila Keluarga Teguh.


Endaru yang sedang merokok di pintu gerbang dengan cepat berdiri. Dia terkejut saat melihat wajah Nawang yang tanpa ekspresi itu.


Sebagai pengawal pribadi Nawang, Endaru merasakan sesuatu yang tidak beres dan berkata; "Komandan Tirta..."


"Minta seseorang untuk melindungi Keluarga Teguh secara diam-diam. Kota Habuan tidak akan damai akhir-akhir ini," titah Nawang.


"Baik, Tuan!" jawab Endaru dengan suara rendahnya.


"Ayo kita pulang."


Setelah Nawang masuk ke dalam mobil, Endaru tidak berani mengatakan apa pun dan segera pergi meninggalkan vila milik Keluarga Teguh.


Di sebuah vila, Nawang mendengar Santika mengeluh tidak puas sebelum memasuki sebuah ruangan; "Nara, apa benda hitam itu? Rasanya benar-benar tidak enak."


"Aku mati-matian membuatkannya untukmu. Bagaimana kalau kamu coba sekali lagi?"


Saat Nawang membuka pintu, dia tidak sengaja melihat wajah malu Nara.


Di sisi lain, Santika mengerutkan keningnya, ekspresi wajahnya benar-benar tidak puas.


Nawang bingung melihatnya. Santika bukanlah tipe anak yang pilih-pilih soal makanan. Setelah semua yang dialaminya, gadis kecil itu benar-benar sangat menghargai makanan.


Namun, saat Nawang melihat dua potong "arang hitam" di atas meja itu, dia juga tampak bingung.


"Apa itu?"


"Oh, kamu sudah pulang." Nara berdiri dengan gembira dan saat dia menyadari tatapan bingung Nawang, wajahnya seketika memerah.


"Ini ... ini sebenarnya telur rebus yang kubuat untuk Santika ..."


Telur rebus?


Nawang terkejut bukan main.


Jika dilihat dari warnanya, telurnya pasti sempat digoreng sehingga warnanya berubah menjadi seperti itu.

__ADS_1


"Paman akhirya kembali juga. Nara ternyata tidak bisa memasak," keluh Santika sembari menyeka noda hitam yang ada di sudut mulutnya.


Tampak sekali gadis itu tidak menyukai telurnya.


Wajah cantik Nara seketika memerah saat mendengar ucapan Santika. Dia berdiri seraya berkacak pinggang dan berkata; "Ini adalah pertama kalinya aku memasak untuk orang lain, tetapi kamu malah tidak menyukainya."


"Ayah selalu mengajarkanku untuk berkata jujur," kata Santika sambil cemberut.


"Kamu ..."


Nara benar-benar kehabisan kata-kata.


Dia kemudian menyerahkan dua potong arang itu kepada Nawang dan berkata dengan marah; "Telurnya sangatlah enak. Coba saja kalau tidak percaya."


Setelah menatap arang hitam itu selama beberapa detik, Nawang berkata; "Apakah kamu dengar apa yang barusan kamu katakan?"


Nara terlihat murung.


"Baiklah, aku akan memasak untukmu."


ucap Nawang sambil menggelengkan kepalanya, dia lalu menuju ke arah dapur.


Tak lama kemudian, ruang tamu itu kembali dipenuhi oleh suara tawa.


Nawang tersenyum kecil.


Setelah mengetahui kabar buruk yang menimpa Keluarga Tirta, Nawang pikir dia tidak akan bisa lagi merasakan hangatnya sebuah rumah. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ternyata jejak kehangatan itu masih ada.


Rasanya ... sungguh luar biasa.


Nawang tidak keluar dari vilanya akhir-akhir ini. Dia selalu menghabiskan waktunya bersama Santika seraya menikmati kehangatan keluarga yang sangat jarang dia rasakan selama sepuluh tahun terakhir.


Pada saat yang sama, dia sedang menunggu pihak-pihak tersembunyi yang ikut terlibat dalam pembantaian Keluarga Tirta.


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Di hari ketiga, tibalah hari di mana Keluarga Wiryawan mengadakan upacara pemakaman untuk Jimmy.


Keluarga Wiryawan bahkan menutup semua tempat hiburan yang ada di kota dan mengizinkan para pejabat dan seluruh anggota geng Kota Habuan untuk memberikan penghormatan terakhir mereka kepada Jimmy.


"Tidak ada satu pun yang peduli dengan kematian para pahlawan. Namun, seluruh kota turut berduka atas kematian pria yang kejam seperti Jimmy. Betapa menakjubkannya Keluarga Wiryawan itu!"


Di vila milik Keluarga Tirta, sikap Nawang tampak dingin.


"Keluarga Wiryawan dan Keluarga Juanda telah mengumpulkan banyak master, tetapi mereka belum mengambil tindakan apa pun," lapor Endaru penuh hormat.


"Sepertinya, kematian Jimmy tidaklah cukup..."


Tatapan mata Nawang terlihat dingin.


Dia membunuh Jimmy karena dia ingin memperingati seluruh pihak yang telah menghabisi Keluarga Tirta. Alasan kenapa dia membunuh Jimmy adalah karena dia ingin membuat mereka panik. Pada saat yang sama, dia ingin memancing pihak-pihak yang masih bersembunyi itu untuk keluar dari persembunyian mereka. Namun, saat ini, semuanya terasa sia-sia saja.

__ADS_1


__ADS_2