
"Bagaimana bisa?!" seru Laura sambil menutup mulutnya.
"Pemuda ini ... Bukan orang biasa..."
Tuan Ganendra melihat ke arah Nawang pergi, dengan pikiran kosong.
Laura mengerucutkan bibirnya. Sangat jelas kalau perempuan itu tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakeknya, dan mengira bahwa kakeknya hanya membuat kehebohan.
Laura berpikir, beraninya pria itu menindasku? Aku harus membalasnya.
Laura mengerjapkan matanya yang indah, memikirkan bagaimana caranya untuk membalas dendam pada Nawang.
Saat ini, Endaru sudah menunggu lama di vila. Dia bergegas untuk menemui Nawang begitu melihat sosok pria itu.
"Komandan Tirta, beritanya telah dikonfirmasi. Keluarga Evano akan melelang Taman Negeri Dongeng besok, atas anjuran Randy Kencana. Saat acara itu berlangsung, banyak kelompok dengan kekuatan besar akan turut serta berpartisipasi dalam kompetisi."
"Semakin banyak, semakin baik. Selalu
menyenangkan ketika ada banyak orang, kan?"
Mendengar apa yang dikatakan Endaru, Nawang tersenyum dengan dingin dan berkata; "Tidak akan ada yang bisa menyentuh apapun milik kakakku!"
Begitu Nawang selesai berbicara, aura membunuh pun dengan cepat memenuhi seisi ruangan.
Endaru yang berdiri di sebelah Nawang pun gemetar ketakutan.
Di hari kedua, Nawang dan Endaru langsung pergi ke tempat pelelangan.
"Pak Tirta, Keluarga Evano menawarkan harga lelang minimum satu triliun empat ratus delapan puluh miliar dan target mereka adalah tiga triliun. Saat lelang dimulai, mereka pasti akan mengatur agar seseorang menaikkan harga di antara para penawar."
Di dalam mobil, Endaru terus melaporkan situasi terbaru pada Nawang.
"Taman Negeri Dongeng adalah tempat kakakku mengabdikan dirinya. Apakah mereka pikir nilainya hanya tiga triliun?"
"Hanya karena ini, semua anggota Keluarga Evano pantas untuk mati!"
Ada aura membunuh yang begitu kuat di balik sorot mata Nawang yang gelap dan berbinar.
Setengah jam kemudian, sebuah mobil berhenti di luar hotel bintang lima tempat pelelangan diadakan.
Di tempat parkir, ada berbagai macam mobil mewah.
__ADS_1
Banyak pria dengan setelan jas dan wanita bergaun indah memasuki aula hotel.
Sepertinya memang ada banyak orang yang ingin mendapatkan Taman Negeri Dongeng. Namun itu adalah milik Keluarga Tirta. Hari ini, Taman Negeri Dongeng ditakdirkan untuk kembali ke tangan Nawang, dan tidak ada yang bisa menghentikannya!
Ketika Nawang masuk ke aula pelelangan, dia menemukan bahwa sudah ada banyak orang berkumpul di sana. Mereka berkumpul berpasangan atau bertiga, dan mengobrol satu sama lain.
Nawang mengenakan pakaian kamuflase yang membuat pria itu tampil mencolok di antara kerumunan pria dan wanita yang berpakaian rapi.
Kehadiran Nawang pun segera menarik perhatian banyak orang.
Tentu saja hal ini tidak dilakukan Nawang dengan sengaja. Sebelum datang ke tempat ini, Endaru juga sudah bertanya pada Nawang apakah dia ingin mengenakan setelan jas, tapi Nawang menolaknya.
Hal ini karena Nawang, Raja Perang Tertinggi, tidak terkendali dan bisa melakukan apapun yang dirinya suka. Sejak awal, ini adalah gayanya dalam melakukan sesuatu.
Semua orang yang hadir adalah orang-orang yang cerdik dan licik. Mereka tidak memandang rendah Nawang ketika melihatnya berpakaian sangat santai.
Sebaliknya, mereka berpikir bahwa dia pasti bukan seorang pria dengan latar belakang yang biasa karena dia berani mengenakan pakaian yang santai seperti itu dalam pelelangan yang diadakan oleh Keluarga Evano.
Mereka semua tahu betul bahwa lebih baik memiliki satu orang teman baru daripada menambah musuh.
Selain itu, pesta kelas atas seperti ini selalu menjadi kesempatan bagus untuk berkenalan dengan orang-orang terkenal dan kaya raya. Jadi, beberapa orang ingin mencari tahu identitas Nawang yang sebenarnya.
"Apa aku boleh tahu namamu?"
"Tuan Tirta, pria ini adalah Jefri Nadiem. Dia fokus dalam bisnis investasi. Dia memiliki banyak perusahaan atas namanya dan memiliki beberapa koneksi di dunia kriminal. Dia bisa dianggap sebagai tokoh terkenal di Kota Habuan," bisik Endaru pada Nawang.
Nawang bahkan tidak melihat ke arah Jefri. Dia hanya datang ke tempat ini untuk mengambil kembali Taman Negeri Dongeng dan memberikan pelajaran pada Keluarga Evano.
Nawang bahkan tidak berniat untuk berurusan dengan orang lain.
Melihat Nawang yang memperlakukannya seolah tidak ada, Jefri langsung mengerutkan keningnya.
Dia terbakar amarah dengan perlakuan yang diterimanya. Ke mana pun dia pergi, dia akan disanjung oleh orang lain. Pemuda di depannya ini malah berani mengabaikannya.
"Tuan Nadiem sedang bertanya padamu! Kamu ini Mempertaruhkan... tuli atau bodoh? Jawab dia sekarang!"
Saat ini, seorang pengawal bertubuh kuat yang ada di belakang Jefri melangkahkan kakinya maju, kemudian menunjuk Nawang dan mengumpat dengan angkuh.
Dalam seketika.
Ada banyak pasang mata yang langsung mengarah pada Nawang dan yang lainnya, sengaja atau tidak sengaja, untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Banyak orang yang hadir tahu bahwa Jefri adalah sosok yang terkenal. Bahkan Keluarga Evano dan Keluarga Kencana harus menunjukkan rasa hormat padanya.
Oleh karena itu, di mata sebagian besar orang, Nawang bersikap terlalu sombong dan lancang karena telah mengabaikan Jefri, dan mereka yakin kalau pria lancang itu pasti akan diberi pelajaran yang keras.
Tanpa diduga, suara retakan ringan terdengar. Itu adalah suara tulang yang patah, membuat bulu kuduk orang merinding.
Hal yang mengejutkan semua orang adalah, seluruh lengan pengawal bertubuh kuat di belakang Jefri yang baru saja melangkah maju dan menunjuk Nawang, dipatahkan oleh Endaru!
Darah pun mengalir tanpa henti.
Bahkan tulang pria itu pun terlihat.
Pemandangan yang sangat mengejutkan!
"Inilah konsekuensinya karena telah menunjuk atasanku!"
Endaru menatap pengawal bertubuh kuat yang jatuh ke tanah dan berteriak itu, seolah sedang menatap orang yang sudah mati.
Semua orang begitu terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka saat ini.
Mereka berdiri dengan mulut menganga.
Mereka sangat ketakutan.
Semua orang yang melihat pemandangan ini mengira kalau mereka sedang berilusi.
Mereka berpikir, ya Tuhan! Siapa orang ini? Beraninya dia melumpuhkan pengawal pribadi Jefri di depan umum? Bukannya itu sama saja dengan tamparan di wajah Jefri? Dia sedang mempertaruhkan nyawanya!
Saat ini, Jefri berhenti memutar-mutar kenari yang ada di tangan kanannya.
Sorot matanya berubah menjadi sangat bengis. Dia mengertakkan giginya,
kemudian menatap Nawang dan berkata dengan nada yang dingin; "Huh, kamu adalah orang pertama yang berani memukul anak buahku di depan mataku. Aku harus mengatakan kalau sikapmu ini benar-benar berani!"
"Kamu pikir aku bersikap berani hanya karena aku telah melumpuhkan anak buahmu? Bagaimana kalau aku membunuhnya atau membunuhmu?"
Melihat Jefri, Nawang mengatakan itu dengan nada yang sangat tenang, seolah membunuh orang adalah hal yang mudah seperti menginjak semut baginya.
Pria itu mengatakannya tanpa perasaan.
Tentu saja, hal ini bukalah sesuatu yang dibuat-buat. Setelah bertahun-tahun berada dalam pertempuran, ribuan orang telah tewas di tangan Nawang. Oleh karena itu, membunuh adalah hal yang lebih santai baginya daripada memotong sayuran!
__ADS_1
"Hahaha, aku telah melihat banyak orang yang suka berpura-pura menjadi sesuatu yang hebat, tapi ini pertama kalinya aku melihat orang sepertimu yang sangat nekat!"
Jefri tertawa dalam amarah. Pria itu menatap Nawang dan mengatakan hal itu dengan penuh hinaan.