TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU

TIDAK ADA ORANG YANG TAU TITELKU
Bab 9 Rencana Busuk


__ADS_3

"Boleh, tapi bukan aku yang bisa memutuskan hal ini."


Setelah mengatakan itu, Nara melirik Nawang dari sudut matanya yang indah.


Santika langsung mengerti dan menatap Nawang dengan wajah memelas.


Nawang tidak berdaya dan akhirnya mengangguk.


Tidak ada yang lebih penting dari membuat Santika bahagia setiap hari.


Melihat pamannya setuju, Santika langsung kegirangan.


Sementara Villa No. 1 penuh dengan tawa, suasana di mansion Keluarga Wiryawan, salah satu dari empat keluarga besar, sangat suram.


Di aula resepsi kediaman Keluarga Wiryawan, cahayanya redup, dan peti mati merah yang menyilaukan diletakkan di tengah aula.


Ada puluhan orang yang duduk di sebelah peti mati. Mereka adalah anggota utama Keluarga.Wiryawan dan Keluarga Juanda.


Dua pria paruh baya duduk di depan. Salah satu.pria itu berperawakan gemuk dan terlihat kaya.


Itu adalah Hartana Wiryawan, pemimpin


Keluarga Wiryawan.


Pria lainnya yang terlihat kuat dan sangar adalah pemimpin Keluarga Juanda, Cakra Juanda, bos besar dunia kriminal di Kota Habuan.


Di belakang Cakra berdiri Kartini yang sedang marah.


Amarah Kartini bukanlah karena kematian.Jimmy, melainkan penghinaan dari Nawang.


Dia dan Jimmy menikah karena suatu


kepentingan, jadi tidak ada cinta di antara mereka.


Brak!


Hartana menggebrak meja untuk mencairkan suasana yang suram.


"Tuan Juanda, Nawang sudah keterlaluan! Dia telah membunuh anakku. Dia harus mati!"


Dengan ekspresi serius di wajahnya, Cakra mengangguk setuju dan berkata; "Tuan Wiryawan, maafkan aku. Seekor anjing liar berani menyinggung martabat empat keluarga besar. Memang benar dia harus mati, tapi .."


"Tuan Juanda, apakah kamu takut dengan pangkatnya sebagai kolonel?" tanya Hartana dengan ketus ketika melihat Cakra yang ragu-ragu.


"Tidak masalah jika dia hanya kolonel biasa. Namun, kemungkinan besar Nawang adalah pemimpin Resimen Serigala Darah dan benar-benar memiliki kekuasaan. Kita harus berpikir untuk jangka panjang tentang masalah


ini!" kata Cakra setelah berpikir sejenak.


Hartana tidak senang ketika mendengar hal tersebut.


Dia berpikir dalam hati, bukan anakmu yang meninggal. Tentu saja, kamu tidak terburu-buru.


Meskipun Hartana marah, dia tidak

__ADS_1


menunjukkannya.


Keluarga Kencana dan Keluarga Cakrawala sedang mengawasi apa yang terjadi. Mereka berencana menyelidiki identitas Nawang terlebih


dahulu. Oleh karena itu, jika Hartana ingin membalas dendam secepatnya, dia hanya bisa mengharapkan bantuan dari Keluarga Juanda.


"Tuan Juanda, orang lain mungkin takut, tapi apakah kamu takut pada Nawang?"


"Kamu memiliki banyak bawahan yang cakap dan Andre Hartawan, komandan Kota Habuan, berhubungan baik denganmu ..."


"Aku mendengar bahwa Andre juga kembali dari perbatasan dan dia adalah seorang kolonel senior!"


"Selama mau membantu, Andre bisa menekan Nawang dengan mudah!"


Niat Hartana sudah jelas. Dia berharap Cakra bisa meminta bantuan Andre.


Bagaimanapun, kolonel senior satu tingkat lebih tinggi dari kolonel biasa, itu berarti Andre dapat menghadapi Nawang dengan mudah.


Mendengar hal ini, Cakra menghela napas dan berkata; "Tuan Wiryawan, aku biasa menghubungi Tuan Hartawan, tetapi akhir-akhir ini, persahabatan tidak ada harganya. Aku


khawatir dia ..."


"Satu triliun delapan ratus miliar rupiah!" seru Hartana yang rela membayar banyak untuk membalas dendam putranya.


Namun setelah ragu-ragu sebentar, Cakra menggelengkan kepalanya dan berkata;" Tuan Wiryawan, ini bukan tentang uang..."


"Selama Nawang bisa dihabisi, Keluarga


Wiryawan akan membagi sepertiga hartanya dengan Keluarga Juanda!" ucap Hartana sembari mengertakkan gigi dan berdiri seolah akan menantang Cakra jika menggeleng lagi.


yang kamu bicarakan? Kita ini teman. Apalagi bajingan kecil itu berani memukul putriku. Jika dia tidak mati, aku akan dipermalukan!"


"Terima kasih, Tuan Juanda. Aku akan mencoba memancing Nawang keluar saat pemakaman Jimmy dua hari lagi. Kuharap kamu bisa meminta bantuan Tuan Hartawan," pungkas Hartana dengan seringai mengerikan sambil


menangkupkan tangannya.


"Jangan khawatir. Tuan Hartawan telah berada di perbatasan selama bertahun-tahun. Dia mengenal semua perwira militer senior. Selama dia ada di sana, Nawang tidak punya pilihan selain berlutut dan memohon belas kasihan!"


Berita pemakaman Jimmy Wiryawan menyebar.


Keluarga Wiryawan dan Juanda berada dalam situasi tegang dan semua master sudah siap.


Di hari kedua, Nawang dan Endaru keluar lebih awal.


Santika masih tinggal di villa. Nawang diam-diam membayar beberapa orang untuk melindungi Santika dan meminta Nara untuk menjaganya.


Tiba-tiba saja, Nawang merasa senang memiliki wanita seperti Nara.


"Komandan Tirta, ke mana kita akan pergi?" tanya Endaru dengan penuh semangat sambil mengemudi. Dia benar-benar suka bertarung dan


ingin bergegas menuju ke tempat empat keluarga besar untuk membunuh mereka semua sekaligus.


"Aku selalu merasa bahwa selain Randy dan Nindi, ada orang lain yang ikut menghancurkan Keluarga Tirta ... arahkan mobil ke Mansion Tua Tirta. Kita harus memeriksanya."

__ADS_1


Alasan kenapa Nawang tidak membunuh keempat keluarga itu sekaligus adalah karena dia ingin musuh-musuhnya terbunuh dalam rasa


sakit dan penderitaan yang tak ada habisnya.


Menyiksa orang secara perlahan adalah hal yang paling keji.


Apalagi butuh waktu untuk memancing


manipulator tersembunyi itu keluar, jika memang ada. Itulah cara Nawang untuk membunuh mereka semua.


Hari sudah menjelang siang ketika Nawang dan Endaru tiba di sebuah rumah tua di pinggiran kota.


Keluarga Tirta pindah ke pusat kota setelah mereka menjadi kaya. Dengan kata lain, rumah tua itu adalah warisan keluarga mereka.


Melihat rumah di hadapannya, Nawang menjadi emosional.


Dia membuka pintu kemudian masuk.


Pemandangan yang familier itu membangkitkan ingatan Nawang yang begitu dalam.


Namun setelah beberapa saat, Nawang tiba-tiba mengerutkan keningnya.


Setelah Keluarga Tirta dibantai, rumah tua itu telah ditinggalkan selama hampir setahun.


Namun, sekarang rumah itu sudah terlihat bersih. Jelas sekali ada yang sering membersihkannya.


"Siapa kamu? Menerobos masuk ke rumahku adalah perbuatan ilegal. Jika kamu tidak pergi sekarang, aku akan memanggil polisi!"


Saat Nawang bingung, tiba-tiba terdengar suara dari belakang.


Nawang mengerutkan keningnya dan tatapannya menjadi dingin.


Rumah besar ini adalah warisan dari Keluarga Tirta. Sejak kapan tempat itu menjadi rumah orang lain?


Menyadari perubahan aura Nawang, Endaru mengepalkan tangan dan bersiap bertarung.


Nawang dan Endaru berbalik, mereka melihat seorang pria paruh baya yang berusia lima puluhan berdiri di depan Randy. Pria itu memelototi mereka dengan tatapan marah, di tangannya tampak sebuah tongkat.


Ketika Nawang melihat wajah pria itu dengan jelas, dia sedikit tercengang, dan tatapan matanya yang dingin seketika menghilang; "Tuan Teguh, apa yang sedang Anda lakukan di sini?"


"Kamu ..." Pria paruh baya itu tercengang saat mendengar suara itu.


Dia menatap Nawang dari atas sampai bawah lalu tersadar. Tongkat yang


dipegangnya itu jatuh ke atas lantai.


Tangannya tiba-tiba bergetar dan air matanya berlinang; "Apakah itu kamu, Nawang? Ternyata kamu masih hidup!"


"Iya, ini aku Nawang, Tuan. Aku masih hidup!"


Air mata Nawang menggenang. Dia kemudian mendekati pria paruh baya itu dan memeluknya dengan erat.


Air mata Albert pun menggenang. Dia menepuk tubuh Nawang dengan tangannya yang besar itu dan berkata; "Anak baik, kamu benar-benar kuat!"

__ADS_1


"Tuan Teguh, aku adalah seorang prajurit. Mana mungkin aku berani mempermalukan negara kita?" ucap Nawang sembari mengembangkan sebuah senyuman di wajahnya. Dia tidak berubah sama sekali.


__ADS_2