
setelah lama menangis Berlian pun tertidur di pelukan Marvin sedangkan Marvin yang melihat dia tertidur pun mengangkat nya ala bridal style menuju kamarnya.
...🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼...
Sekarang di istana Matahari semua orang ketar ketir akibat melihat sang kaisar jatuh sakit.
Setelah sang kaisar tidur di pelukan Marvin dan Marvin membawa Berlian ke kamarnya dan menidurkannya tapi siapa sangka bahwa sang kaisar mengigau memanggil kakak dengan suhu tubuh yang sangat panas sehingga para selir pun langsung membawa kembali Berlian ke istana.
" KALIAN INI SUNGGUH DOKTER APA BUKAN SIH. MENGAPA TUBUH ISTRI KU SEMAKIN PANAS? " marah Daksa pada para Dokter
Para dokter yang dibentak dan mendapatkan tatapan tajam dari semua selir hanya bisa diam
" selir Daksa tenanglah biarkan para dokter menjelaskan keadaan kakak " ucap William yang menenangkan Daksa yang membuat Daksa langsung memejamkan mata dan mencoba menenangkan amarah yang ada dirinya.
setelah semua tenang dokter pun menjelaskan keadaan Berlian
" Demam Yang Mulia cukup tinggi akibat merasakan rindu pada seseorang. Sebaiknya pertemukan dia dengan orang yang dia rindukan " ucap salah seorang dokter menjelaskan keadaan Berlian dan memberikan solusi pada keadaan Berlian.
" mungkin itu yang terbaik " ucap George yang dianggukan semua orang kecuali dua orang dengan pikiran yang sama.
Ya mereka adalah Daksa dan William. Daksa dan William hanya diam dan memandang Berlian dengan raut wajah tak terbaca.
" Ada apa dengan kalian? " tanya Akashi yang melihat Daksa dan William hanya diam yang langsung diperhatikan oleh yang lain
__ADS_1
"...."
"...."
Daksa dan William hanya diam tak menjawab saat Akashi bertanya dan akhirnya mereka meninggalkan kamar Berlian dengan arah yang berbeda.
Semua orang hanya memandang kepergian Daksa dan William dengan seribu pertanyaan di benak mereka.
" Kakak " ngigauwan Berlian yang membuat orang yang di dalam itu langsung tersadar dan menoleh kearah Berlian dengan raut wajah sedih.
" Kakak " ngigauwan Berlian kembali yang membuat Alex mendekat dan langsung memegang telapak tangan Berlian sambil menangis sesekali dia mengecup tangan mungil Berlian yang hangat.
" Yang Mulia tenang ya... hiks... Kami pasti akan mempertemukanmu dengan kakakmu... hiks " bisik Alex dengan tangis sesegukan di telinga Berlian yang membuat Berlian langsung terdiam.
Berbeda dengan semua orang di ruang itu sekarang William sedang di kamar lebih tepatnya di sudut kamarnya dengan menangis dengan pelan agar semua orang yang di luar kamar tak mendengar tangisannya.
" Kakak...hiks...bagaimana jika kak Lian...hiks... kembali histeris seperti dulu " ucap William yang masih dengan tangisnya dengan mendongakkan kepala menatap langit kamarnya.
Jika William di kamar maka Daksa di Balkon kamarnya sambil memandang langit berbintang dengan raut wajah tak terbaca sesekali menghela nafas kasar
" Aku harus Bagaimana? Itu kejadian yang sudah lama. Bagaimana jika Berlian kembali histeris " ucap Daksa yang duduk menyandar menghadap ke kamarnya.
.
__ADS_1
.
.
.
Pagi yang cerah untuk semua makhluk hidup yang merasakannya tapi tidak untuk semua orang berada di kamar Berlian begitu juga di William dan Daksa di kamar Berlian yang sudah pikiran dengan lebih baik.
" Bagaimana " tanya Daksa dingin sambil memandang para dokter yang membuat nyali para dokter menciut.
" Anu... Selir... Yang Mulia sudah lebih baik. Tapi mungkin jika Yang Mulia bertemu dengan kak beliau itu pasti akan lebih baik " ucap salah seorang dokter yang mewakili dokter yang ada di ruangan itu .
lagi dan lagi William dan Daksa langsung terdiam di tambah sekarang dengan Logan yang langsung menghela nafas kasar yang membuat semua orang memandang mereka bertiga kecuali dokter yang tadi langsung pamit keluar karena aura yang di keluarkan Daksa.
" Ada apa ini sebenarnya? " tanya Akashi yang sudah penasaran dengan William dan Daksa tapi sekarang bertambah dengan Logan.
Logan yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung menoleh ke kiri yang ada William. William yang hanya diam setelah itu dia menoleh ke kanan Daksa pun sama akhirnya dia diam
Tak lama Daksa beranjak dari sana dan meninggalkan semua orang dengan kubangan ke bingungan di kamar itu kecuali Logan dan William yang sudah mengerti.
kepergiaan Daksa membuat Logan menghela nafas kasar dan langsung memandang semua orang yang di sana dan langsung melirik ke William dan hanya dianggukan olehnya.
" Sebenarnya "
__ADS_1