Titisan Leak Gundul

Titisan Leak Gundul
bab 11. Lukisan maut


__ADS_3

Jenazah Gendis saat ini sudah berada dirumah duka, tangis Bu RT terdengar hingga diluar rumah nya, ia tak bisa merelakan putri sematang wayang nya yang harus meregang nyawa seperti itu.


Sari, Radit dan Rian sudah tiba dirumah duka sedangkan Siluh akan segera menyusul dengan Made.


Siluh masih tak habis berpikir dengan kejadian dan peristiwa yang mereka alami ketika harus berlibur ke desa ini.


"Pak Gendis masih hidup kan , dia tidak meninggal kan Pak" ucap Bu RT memeluk tubuh sang anak dan berteriak melihat putri nya berbaring tak bernyawa


"Bu kita harus ikhlas , Bu Gendis sudah tidak ada" sahut Pak RT menenangkan istirnya yang sedari tadi tak berhenti menangis.


tak lama kemudian Siluh datang bersama Made , ia terlihat sedih namun ia berusaha untuk menahan air mata nya.


Disaat Jenazah hendak dibawa ke pemakaman tiba tiba ponsel Siluh berdering


"Dretttt,,,,Dretttt"


(panggilan dari Mamah)


"Sebentar ya Mamah gue nelpon" ujar Siluh pada Sari


Gadis itu kemudian pergi menjauh dari rumah Bu RT dan ia langsung mengangkat telpon dari sang Mamah.


"Halo Mah" ucap nya


"Halo sayang, kamu baik baik aja kan perasaan Mamah ga enak dari semalam" ucap Mamah nya yang merasa gelisah sejak malam tadi


"Hmm iya Mah Siluh dan yang lainnya baik baik saja" ujar nya ia tak ingin menceritakan kejadian yang terjadi di desa itu, ia takut jika sang ibu akan khawatir dan tambah cemas.


"Syukur lah , lalu kapan kamu akan pulang Mamah harap kamu jangan terlalu lama disana" ujar nya


"Iya Mah Siluh pasti akan segera pulang, yasudah Mah nanti Siluh telpon Mamah lagi" langsung menutup ponsel nya


"Tapi sayang..., tut....tut..tut" jaringan nya terputus wanita separuh baya itu mencemaskan keadaan Putri nya itu, ia takut jika terjadi sesuatu yang aneh.


"Maaf Mah Siluh belum bisa cerita" ujar nya mengelus nafas nya dengan berat


******


Pukul 17:00 dini hari Jenazah Gendis telah selesai dimakamkan kini semua warga mendoakan nya bersama, namun tangis Bu RT masih terdengar keras bahkan sepertinya ia masih tak bisa merelakan putri nya itu.


Setelah berdoa selesai para warga satu persatu kembali ke rumah nya, Bu RT dan Pak RT masih tetap disana, wanita itu terus memegang Papan nama sang putri.


ia terus mengelus nya dengan sangat lembut, memeluk nya dan berbicara sendiri.


Melihat kondisinya membuat Siluh sangat geram dan emosi jika ia bisa mencegahnya malam itu ini semua tidak akan terjadi.

__ADS_1


Siluh kemudian pergi dari makam itu , wajah nya terlihat sedih dan emosi bercampur menjadi satu,


"Eh Luh Lo mau kemana?" teriak Sari yang melihat sahabatnya pergi secara tiba tiba


Ia kemudian menyusul sahabat nya dengan diikuti oleh Radit, Rian dan Made.


gadis itu pergi menuju rumah nya, membuka pintu dengan kasar, ia menuju ruang keluarga dan mengarah ke arah lukisan yang terpampang lebar itu.


ia berdiri tepat didepan lukisan itu


"Ini semua gara gara kamu , lukisan pembawa maut kenapa kamu ambil nyawa gadis itu" ujar siluh meneteskan air mata nya dan menunjuk ke arah lukisan.


Sementara Sari dan ketiga temannya yang baru sampai terheran heran melihat Siluh yang berbicara pada lukisan itu dengan nada tinggi. Bahkan ia menyalahkan lukisan itu seperti orang yang kurang akal.


"Lo ngomong apa sih Luh, lukisan bisa nyabut nyawa seseorang?" ujar Sari


"Iya Luh kami semua ga ngerti sama apa yang Lo omongin" jawab Radit.


"Kalian tau lukisan ini yang buat Gendis meninggal" teriak nya didepan mereka semua


"Kalau saja malam itu gue bisa cegah, ini semua ga akan terjadi" ia sudah tak bisa lagi menahan semuanya, ingin rasanya ia berteriak sekencang mungkin dan ingin rasanya ia mengulang waktu.


Mereka semua hanya terdiam mendengar penjelasan gadis itu, mereka tak mengerti apa yang dikatakan nya mengenai lukisan ini.


"Gue yakin kalian semua pasti bingung, tapi Siluh ga mungkin sembarangan kalo ngomong apalagi soal Nyawa seseorang" ujar Made yang tahu mengenai ini semua, karena Siluh menceritakan nya kepada dirinya.


"Eh Luh mau dibawa kemana lukisan itu" tanya Radit, mereka semua lantas mengikuti Siluh.


Ternyata Siluh hendak membuang lukisan itu keluar dari rumah ini, ia melemparkan nya di teras rumah.


"De gue minta korek api" pinta nya ke Made


Made memberikan korek api kepada Siluh dan kemudian gadis itu membakar lukisan itu dihadapan mereka semua, ia merasa keberadaan nya membuat ancaman bagi warga dan teman temannya.


setelah meras puas akan kemarahan nya gadis itu lantas pergi menaiki tangga, dan ia kembali ke kamar nya.


"gue ga ngerti, sebenernya ada apa sih" ucap Sari kebingungan


"Entah udahlah gue cape mau mandi dulu" ujar Rian yang sudah lelah sedari tadi, satu persatu mereka akhirnya meninggalkan lukisan itu dan menutup pintu rumah itu.


Namun ketika mereka semua sudah pergi, api yang semula membakar lukisan itu tiba tiba padam, dan lukisan itu bisa utuh kembali seperti tidak terjadi apapun, sungguh mengerikan!!


****


Malam itu setelah semua nya mereka berlima berada dikamar nya masing masing, ketiga lelaki itu sedang asyik bermain game player.

__ADS_1


"Gantian dong gue bosen nih" ucap Radit sedari tadi ia tak dapat bagian untuk bermain game.


"bentar bentar lagi seru nih" ucap Rian


"yaudah gue turun aja laper,,,nungguin kalian lama banget" sahut Radit ia lantas keluar dari kamar nya.


kondisi rumah itu memang agak gelap walaupun sudah ada penerangan, letak rumah yang dekat dengan hutan dan pohon tinggi membuatnya selalu terlihat gelap.


"Hmm daripada gue nungguin mereka, mending gue masak mie" ujar Radit yang berjalan menuju dapur,


Saat ia melewati ruang keluarga,pria itu tiba tiba terkejut.


"Wihhh,,,kaget gua( mengelus dada nya) perasaan nih lukisan udah Siluh bakar tapi kok masih disini sih" menggaruk garuk kepala nya ia bingung bagaimana lukisan ini ada disini


"Ah paling kerjaan si Rian ini ,, dasar" pria itu mengabaikan lukisan itu, ia berpikir itu adalah ulah dari Rian yang suka usil.


Radit telah sampai di dapur, tanpa berpikir lagi ia mengambil Supermi dan memasak air, sembari menunggu pria itu memainkan sendok sayur yang ada ditangannya.


Tiba tiba sendok itu terjatuh dari tangan nya, kemudian ia mengambil nya tetapi ketika ia mengambil sendok itu, ada penampakan kaki yang amat menyeramkan, kuku kaki nya begitu panjang dan lancip serta betis nya yang dipenuhi oleh bulu.


Radit yang melihat itu kemudian menegukkan air liur nya dan dia perlahan melihat siapa yang ada didepannya itu


"Astaga,,," ia memejamkan matanya dan mencoba menengok ke atas


Tetapi saat ia menengok dan melihat nya tak ada siapapun yang berdiri didepannya.


"Lo perasaan tadi gue liat kaki yang besar, kok ga ada ,,,apa jangan jangan" ujar nya mengusap bulu kuduk nya yang mulai merinding, ia mulai menggerutu ketakutan.


Pria itu kemudian melihat ke setiap sudut dapur sebenarnya siapakah yang ia liat tadi.


merasa bahwa ada yang tidak beres Radit, lantas langsung menuangkan air yang baru ia masak ke dalam mangkuk berisi mie.


Namun lagi lagi ada sosok hitam gelap yang melintas dibelakang nya, tentu saja membuat Radit langsung menoleh ke arah belakang.


"Siapa itu, ( ia kemudian tersenyum) gue tau itu Lo kan Rian ga usah nakut nakutin gue deh" ucap nya dengan pede.


namun tak ada sahutan apapun, jika itu adalah Rian dia pasti agar segera menunjukkan batang hidung nya


merasa tak ada yang menjawab ucapannya itu


pria itu kemudian berjalan ke arah bayangan hitam yang melintas tepat dibelakang nya tadi, tetapi apa yang dilihat tiba tiba....


Bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2