
Malam itu Siluh terbangun dari tidur nya , entah apa yang membuat nya terbangun malam malam begitu.
rupanya gadis itu masih teringat mengenai Gendis dan perubahan tubuh nya yang aneh pada saat malam itu.
Gadis itu duduk di depan cermin tua itu sembari menyisirkan rambut nya yang terlihat terurai dan sedikit kusut.
"Sebenernya apa yang terjadi dengan ku" ujar Siluh berkaca di depan cermin itu
Setelah ucapan itu ia keluarkan tiba tiba lemari tua yang berada disebelah mengeluarkan suara berisik yang aneh, itu membuat nya terkejut.
Ia mulai penasaran dengan suara yang dikeluarkan dari dalam lemari, seperti ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam lemari itu.
Karena rasa penasaran nya yang semakin menjadi, ia kemudian mendekati nya tetapi suara itu semakin jelas terdengar , tanpa berpikir panjang gadis itu membuka nya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Lemari itu kini sudah terbuka. Tapi apa yang dilihat nya ada sebuah buku kuno yang terdapat didalam nya, itu adalah lemari tua mendiang sang nenek.
setelah ia membuka nya lemari itu berhenti mengeluarkan suara suara aneh, Gadis itu mengambil buku itu dan menutup kembali lemari tua itu.
"Buku! apakah ini buku milik nenek" ujar nya kembali duduk didepan cermin itu
buku itu sudah terlihat sangat tua, bahkan luar nya saja terlihat usang dan berdebu. tetapi aneh nya ketika gadis itu membuka buku itu angin kencang tiba tiba berhembus diluar, rasanya hingga masuk ke dalam kamarnya.
Ada sebuah tulisan yang sangat aneh di depan buku itu
"Titisan Leak" baca Siluh , gadis itu mulai membuka halaman selanjutnya.
"Titisan Leak adalah orang orang yang terpilih sesuai waktu kelahiran, cucu keturunan pertama dan gadis yang lahir pada bulan purnama merah" Baca Siluh dengan perlahan
Saat ia hendak melanjutkan ke halaman selanjutnya tiba tiba terdengar suara teriakan Radit dari lantai bawah
"Aaaaa....." teriak nya keras membuat Siluh terkejut dan langsung meletakkan buku itu dan pergi ke keluar kamar.
disaat ia keluar dari kamar Made dan Rian pun terlihat hendak sedang menuruni anak tangga setelah mendengar teriakan temannya itu.
"De De kenapa Radit berteriak " tanya Siluh mengehentikan Made untuk menuruni tangga
",Gue juga gtw ,,,tadi dia bilang ingin memasak sesuatu"
"udah hayuk ,,,kita liat " menarik tangan Made dan mereka bertiga menuruni anak tangga secara bersamaan
__ADS_1
ketika Made dan Rian berlari ke arah dapur, justru pandangan mata Siluh tertuju pada lukisan yang ia bakar waktu itu.
Gadis itu terkejut bagaimana lukisan itu bisa ada disini ,padahal dia sendiri yang telah membuang dan membakar nya waktu itu.
Mengingat sahabat nya yang tadi nya berteriak Siluh mengabaikan lukisan itu terlebih dahulu, dan mengutamakan Radit, sesampainya di lokasi Made dan Rian melihat Radit tengah menutup kedua mata nya di pojok dinding, disusul dengan kedatangan Siluh.
"Dit dit Lo kenapa?,,,,Dit" ujar Made menyadarkan pria itu yang sedari tadi masih saja berteriak
"Hey Dit ini kita temen Lo" pukul Rian dengan keras
baru setelah itu Radit berhenti berteriak dan mulai membuka mata nya perlahan lahan.
"Dit Lo kenapa?" tanya Siluh
Radit terlihat seperti orang ketakutan dahi nya bahkan di penuhi oleh keringat dingin, kedua tangannya masih terlihat bergetar.
"Eh Dit Lo kenapa?" tanya Rian
Namun ia masih saja tak menjawab , nafas nya terlihat tak beraturan seperti baru saja ketemu sesuatu yang menakutkan.
"Itu tadi gue,,,,," suara nya terbata bata
"Tadi gue ngeliat makhluk seperti raksasa dan menyeramkan seumur hidup gue belum pernah liat begituan" ujar Radit menjelaskan kepada mereka
"Gue gtw tapi ,,,,iya iya wajah nya mirip sekali seperti yang ada di lukisan itu" ujar nya
" Bukannya lukisan itu udah Siluh bakar tadi" sahut Rian
"Engga tadi gue liat lukisan itu ada disana terpampang jelas" ucap nya
Pengakuan Radit itu membuat Siluh semakin yakin jika ada sesuatu yang aneh dilukiskan itu serta rumah mendiang sang nenek ini.
Ditambah saat ini teror itu bukan saja menghantui dirinya tetapi juga teman temannya, ini adalah masalah yang sangat serius. Apalagi Gendis juga telah menjadi korban dari roh jahat itu.
"Guys kalian semua ikut gue" Siluh mengajak ketiga temannya itu untuk naik dan pergi ke kamar nya.
Sesampainya dikamar Siluh membangunkan Sari yang tengah tertidur pulas
"Sari bangun ,, ada yang mau gue omongin" ucap nya
__ADS_1
Kini mereka semua telah berkumpul di satu ruangan , mereka ber empat bingung sebenarnya apa yang ingin Siluh lakukan dengan mengumpulkan mereka.
"Jadi gini gue ngerasa kalo rumah nenek gue, dan desa ini udah ga aman, banyak sekali teror dan kejadian yang ga masuk akal" ucap nya
"Tapi itu cuma kebetulan aja Luh, gue masih pengen nikmati keindahan desa ini" ujar Rian
"Tapi ini masalah keselamatan, kalian mau terus terusan kena teror?" tanya Siluh serius
"Tapi Luh kami ga ada yang kena teror, cuma Radit aja mungkin yang halusinasi" ujar Sari sependapat dengan Rian.
Siluh ingin menjelaskan kepada mereka jika semua ini bukan kebetulan karena sudah ada korban jiwa yang berjatuhan.
"Tapi kalian liat Gendis, itu adalah korban mereka" ujar Siluh mencoba meyakinkan sahabat nya itu
"Hahaha,,,,mana ada setan yang makan organ dalam manusia,,, gue yakin itu binatang buas, liat saja bekas robekan seperti kuku macam" ucap Rian yang selalu menyepelekan hal hal yang terjadi.
"Udah lah Luh , pokoknya gue mau disini jugaan liburan masih panjang " ujar Rian yang lantas pergi dari kamar Siluh ia sama sekali tak memperdulikan apapun yang dikatakan oleh Siluh.
Disusul Radit yang masih dalam kondisi ketakutan, tetapi ia sama sekali tak mendukung apapun yang dikatakan Siluh , kemudian Sari yang kembali tidur.
Siluh semakin takut dengan semua temannya karena tak ada yang percaya kepada dirinya, ia melihat usaha nya untuk membuat mereka mengerti menjadi sia sia.
Tetapi Made tetap berdiri didepan gadis itu memandang nya dengan tulus, disaat Siluh sedih dan bingung Made selalu ada untuk nya
"Kenapa,,,,kenapa Lo disini sana pergi seperti Rian dan Radit " ucap Siluh pada laki laki itu
Made tersenyum ia bersimpuh dihadapan gadis itu dan mengatakan
"Gue selalu percaya sama Lo,,, gue bakal bantu Lo buat yakinin mereka" ujar Made memegang tangan gadis itu yang terlihat sudah tak ada semangat lagi.
Siluh memandang Made dengan penuh hati
Sepertinya Made terlihat menaruh hati pada gadis cantik itu.
"Makasih De,,,,besok gue bakal kerumah Pak RT untuk menanyakan sesuatu dengan desa ini" ucap Siluh tersenyum
Bersambung
.
__ADS_1
.
.