
Made kebingungan melihat Siluh yang awal nya berada di ruangan ini tiba tiba menghilang begitu saja.
"Kemana perginya Siluh" ujar Made meletakkan secangkir teh itu di meja dan melihat disekitar ruangan itu kira kira kemana Siluh pergi.
Sementara gadis itu sudah memakan lumayan banyak bunga, tanpa dia sadari dirinya mengendalikan pikiran nya untuk memakan bunga 7 rupa itu.
"Luh Siluh" panggil nya mencari Siluh menuju ruang keluarga
Pria itu berhenti sejenak ketika ia, mendengar sesuatu yang aneh dari ruang keluarga yang hendak ia datangi.
"Apa mungkin itu suara Siluh ya,,, Luh " panggil nya pergi ke arah ruang keluarga, namun betapa terkejutnya ia, ketika dirinya menemukan gadis itu sedang memakan bunga yang berada di depan lukisan itu.
"Astaga, Luh Siluh kenapa Lo makan bunga ini " menghampiri nya dan menepuk pundak gadis itu.
Seketika Siluh langsung tersadar, dan ia memuntahkan kembali bunga yang ada di mulut nya.
"Lo kenapa bisa makan bunga ini" tanya Made terheran heran bagaimana teman nya itu bisa melakukan hal itu
"gue juga gtw De yang gue inget gue berdiri didepan lukisan ini , setelah itu gue ga inget apapun " ujar nya memegang kepala nya yang sedikit pusing, dirinya seperti habis dirasuki oleh roh lain.
Made kemudian membawa gadis itu untuk duduk dan beristirahat sejenak, walaupun dipikiran nya masih tak percaya dengan apa yang dilihat nya tadi.
Bahkan Siluh yang mengalami nya pun bingung dan tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya pada dirinya itu, kemudian dia teringat oleh tulisan buku tua itu jika gadis titisan itu memiliki ciri salah satu nya memakan kembang 7 rupa.
Itu semakin membuat nya gelisah mengapa semua ciri ciri yang ia baca sama persis dengan yang ia alami selama ini.
Gadis itu melamun memikirkan hal itu , Made yang melihatnya terdiam langsung menegur nya
"Luh Lo kenapa " tanya nya
"hmmm, gue mikirin Sari dan yang lainnya sampai sekarang mereka belum juga kembali" ujar nya berbohong, ia tak ingin ada yang tahu jika dirinya menemukan buku tua yang berjudul Titisan Leak.
Apalagi baru dua halaman ia baca dan semua yang di buku itu telah dia alami.
***
Sedangkan Sari, Radit dan Rian masih saja sibuk berusaha membenarkan senter yang rusak itu, kini hari semakin larut dan udara di hutan semakin terasa menusuk kulit.
"Dit udah belum , perasaan gue mulai ga enak" ujar nya melihat sekitar hutan itu.
"Bentar gue lagi nyari baterai buat ganti ini " sahut Radit
__ADS_1
Di kegelapan hutan yang lebat dan banyak semak belukar, Sari merasa ada yang mendekatinya dari arah belakang, namun ia tetap positif thinking bahkan ia sampai memegang baju Rian dengan erat.
"Ri Lo apa apaan sih narik baju gue" ucap Rian yang merasa risih karena baju nya dipegang erat oleh Sari
"Gue takut ,, udah GPP daripada gue teriak karena ketakutan" pukul Sari pada Rian yang selalu saja mempermasalahkan mengenai hal hal yang Sari lakukan.
Hari sudah semakin larut,suara burung hantu terdengar jelas di telinga mereka. Sari mencoba mengambil ponsel nya tetapi baterai nya sudah habis, bahkan ponsel Radit dan Rian juga mati.
Disini mereka bertiga saling berpegangan dan kebingungan bagaimana cara untuk kembali sedangkan tak ada penerangan apapun.
"Dit gimana nih, gue pengen pulang" ujar Sari mengeluh Gadis itu memegang erat tangan Rian seolah kalo dia adalah pacar nya.
"gue juga bingung, seharusnya kita dengerin Siluh waktu itu pasti ini tak akan terjadi" ucap Radit memegang kepalanya.
"Oh jadi Lo mau nyalahin gue gitu" sahut Rian ketus
"Engga gitu juga " sahut Radit
"Udah udah kalian ini , bukannya cari solusi malah ribut"
Saat mereka berdebat tiba tiba terdengar suara dari semak semak dibelakang Sari
"Guys itu suara apa" ujar Sari yang memperdekat jarak nya dengan Rian.
"Rian Lo bisa ga sih jangan terlalu menyepelekan sesuatu, jelas jelas itu bukan suara hewan" tegas Sari yang kesal dengan perilaku Rian dan ucapan nya selalu aja membuatnya geram.
"Arghhhhhh,,,,,Arghhhhh" suara itu seperti Auman raksasa dengan suara menggema dan desisan yang keras.
"Dit mending Lo cek deh" ucap Sari. Saat ini posisi Sari berada di paling belakang, sedangkan Radit berjalan menuju semak yang mengeluarkan suara aneh.
Sari bersembunyi dibalik badan Rian.
Sementara Radit semakin dekat dengan suara itu,,, ia melangkah dengan perlahan lahan
Kini jarak nya sudah sangat dekat, ia kemudian membuka semak semak itu dan kemudian apa yang dilihatnya...
"Aaaaa...." tiba tiba Sari berteriak dan tubuh nya seperti ada yang menarik nya ke arah semak semak, bahkan tubuh Rian pun seketika ikut tertarik, karena Sari memegang erat tangan Rian.
Radit yang mendengar teriakan itu langsung menengok dan melihat kedua temannya yang sudah tertarik ke arah semak belukar.
"Dit tolong " ujar Rian menahan tubuh nya agar tak ikut tertarik sedangkan tubuh Sari sudah tak terlihat hanya terlihat tangannya saja yang masih memegang erat tangan Rian.
__ADS_1
"Tolong gue Dit ,Rian " ujar Sari sekuat tenaga
Radit yang melihat hal itu langsung berusaha menarik tubuh Rian, sedangkan Rian berusaha mempertahankan tangan Sari.
"Siapa yang narik Lo Sar" tanya Rian
"Gue gtw tolong gue,,, gue takut" ujar nya menangis
Sari akhirnya melihat tangannya yang seperti mulai tersedot ke alam lain,
Gadis itu terkejut ketika ia melihat ada sepasang tangan berbulu dengan kuku yang panjang beserta darah di sekujur lengannya, namun tak terlihat siapa tubuh nya.
Tiba tiba angin kencang menyelimuti hutan itu sehingga sangat sulit rasanya untuk mereka menolong Sari. gadis itu sudah mengeluh dan berteriak ketakutan
"Dit ,Gue mohon tolong gue,,, ini ada tangan yang narik gue, tapi ga ada wujud nya tolong gue " rintih nya ia sudah mulai tidak kuat menahan tangannya, Bahkan Rian pun semakin hampir memasuki semak semak itu.
Radit semakin bingung bagaimana caranya menyelamatkan kedua temannya itu.
"Ini gue udah tarik kalian, tapi tenaga gua hampir habis bagaimana caranya" ujar Radit yang sembari menarik keluar sahabat nya itu yang tersedot ke balik semak belukar.
"Dit Lo ambil bawang dan garam yang gue simpan di tas Rian cepetan" ujar nya
Akhirnya Radit mulai mencari barang itu, sembari terus menarik sahabat nya agar tidak terbawa oleh makhluk itu.
"Dit gue udah ga tahan tangan gue sakit banget ,,, buruan" ujar nya
Radit langsung mengambil Bawang merah dan garam yang Sari katakan kemudian dia melemparkan nya dari balik semak semak, dan akhirnya Sari terlepas dari cengkeraman tangan misterius itu , dan mereka bertiga terlempar cukup jauh akibat dampak nya.
"Jangan...." teriak Siluh yang terbangun dari tidurnya rupanya ia tertidur di sofa itu sembari menunggu kedatangan mereka.
"Luh Lo kenapa,,," tanya Made yang tertidur di sofa tepat di samping gadis itu ia terkejut mendengar teriakkan Siluh.
Keringat dingin memenuhi kening gadis itu, serta nafas nya yang tak beraturan seperti orang yang berlari cukup jauh.
"Guee, gue lihat Sari, Radit dan Rian dijadikan tumbal oleh makhluk itu" ujar Siluh terbata bata
"mending Lo minum dulu Luh, lalu jelaskan sebenarnya apa yang Lo liat" ujar Made memberikan Siluh secangkir teh.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.