TITISAN MARANTI

TITISAN MARANTI
PAK RW


__ADS_3

Awalnya Nur Rahman merasa curiga, kenapa bisa Mbah To sampai bela-belain berjalan kaki ke rumahnya hanya untuk mengingatkan ia untuk segera menghubungi Cak Warno, anak tunggalnya Mbah To yang tinggal di luar pulau Jawa. Tapi karena merasa kasihan terhadap perempuan tua itu, Nur Rahman pun buru-buru membuka pintunya lebar-lebar.


“Tunggu, Mbah!” ucap Nur Rahman sambil buru-buru membuka pintu rumahnya yang sudah ia kunci sebelumnya.


Begitu pintu sudah ia buka la dengan lebar, pemuda itu menjadi terkejut karena tidak ada siapa-siapa di balik pintu.


“Mbah To ….” Nur Rahman berusaha memanggil perempuan tua itu barangkali ia sudah pergi karena tidak sabar menunggu pemuda itu membukakan pintu untuknya.


Pemuda itu masih berusaha untuk mencari keberadaan Mbah To di sekitar rumahnya. Ia pikir selambat-lambatnya ia membuka pintu rumah barusan, tidak mungkin perempuan tua itu langsung menghilang begitu saja dari pandangan matanya.


“Sepertinya ada yang tidak beres,” pikir Nur Rahman beberapa saat kemudian setelah ia tidak menemukan sosok perempuan yang ia cari-cari.


Pemuda itu buru-buru menutup pintu rumahnya kembali setelah ia merasa merinding di tengkuknya.


“Aku harus segera menghubungi Pak RW.” Nur Rahman buru-buru berjalan masuk ke dalam kamarnya setelah mengunci pintu depan dengan rapat.


Dengan perasaan yang tidak menentu, pemuda itu mencoba menghubungi salah satu tokoh masyarakat di desanya itu.


“Assalamualaikum … ada apa, Mas Nur?”


“Waalaikumsalam … begini Pak RW. Saya mau minta nomornya Cak Warno. Apa Pak RW punya?”


“Hm … Warno anaknya Mbah To?”


“Iya, Pak RW. Saya ada perlu sama Cak Warno.”


“Ada perlu apa dengan Warno, Mas Nur?”


“Begini, Pak RW. Saya barusan kan mampir di warung Mbah To. Mbah To minta tolong kepada saya untuk menyampaikan kepada Cak Warno agar pulang menemui ibunya. Rencananya saya mau minta nomornya besok kepada Pak RW takut mengganggu malam-malam. Ealah … barusan pas saya mau tidur, Mbah To ketok-ketok pintu rumah saya untuk segera menghubungi Cak Warno.”

__ADS_1


“Apa Mas Nur tidak salah?  Seharian ini warung Mbah To tutupan. Mungkin beliau sedang tidak enak badan. Saya tadi juga lewat di depan rumahnya habis magrib dan warungnya masih tutupan. Kalau tidak salah lampu rumahnya juga tidak dinyalakan.”


“Tidak, Pak RW. Tadi itu saya lewat habis Isya dan warungnya buka. Lampu rumahnya juga menyala seperti biasa. Barusan Mbah To juga ke sini Pak RW, meskipun pas saya bukakan pintu orangnya sudah nggak ada.”


“Kayaknya Mas Nur salah deh. Ini istri saya juga bilang kalau warung Mbah To masih tutupan dan lampu rumahnya tidak dinyalakan. Kebetulan istri saya kan memang saya suruh ke sana untuk membeli gorengan. Lagi pula tidak mungkin Mbah To kuat berjalan jauh dari rumahnya ke rumah Mas Nur. Lah wong beliau itu punya penyakit asam urat. Mas Nur jangan bercanda deh!”


“Ti-dak, Pak RW. Sa-ya serius! Si-lakan Pak RW ke sini sekarang! Mumpung orangnya ada di depan sedang menggedor-gedor pintu saya!” Nur Rahman menjawab dengan terbata-bata karena kembali ia mendengar suara Mbah To memanggil-manggil namanya sambil menggedor-gedor pintu.


“Mana Warno, Le! Mana Warno, Le!” teriak Mbah To dari luar rumah.


“Mas Nur … Mas Nur … Kamu nggak apa-apa, kan?” Pak RW bertanya dengan panik.


“To-long kesini, Pak RW!” sahut Nur Rahman dan buru-buru menutup panggilannya.


Kali ini Nur Rahman tidak langsung berlari dan membukakan pintu untuk Mbah To. Bulu kuduk pemuda itu semakin merinding saja mendengar suara Mbah To yang terdengar aneh di telinga pemuda itu. Benar kata Pak RW, tidak mungkin perempuan tua itu bisa berjalan jauh dari rumahnya dengan keadaan seperti itu. Dan tidak mungkin juga perempuan tua itu bisa bersuara sekeras itu.


Nur Rahman mengumpulkan segenap energi dan keberaniannya untuk berjalan menuju ruang tamu. Di satu sisi ia mencurigai Mbah To, tapi di sisi lain nurani pemuda itu yang berbicara. Ia tidak tega membiarkan perempuan tua itu kedinginan berada di luar rumahnya. Akhirnya, nurani pemuda itu yang menang. Ia pun berjalan secara perlahan dan sampailah di balik pintu. Suara gedoran di pintu dan teriakan Mbah To tentu saja makin jelas terdengar di telinga pemuda tersebut.


“ASTAGFIRULLAH!” pekik pemuda itu tatkala ia melihat sosok yang sedang berdiri di balik pintu.


Ternyata yang sedang berdiri di balik pintu bukanlah Mbah To. Melainkan sesosok harimau putih yang sedang menggedor-gedor pintu.


“Pantas saja suara gedorannya sangat keras! Ternyata itu adalah jelmaan jin,” pikir pemuda yang sudah cukup terbiasa bersentuhan dengan sesuatu yang mistis itu.


“Pergi kamu! Berani-Beraninya kamu menyamar menjadi Mbah To! Kalau kamu tidak pergi sekarang, akan kuhancurkan kamu!” ancam Nur Rahman pada harimau putih itu denga suara keras.


“Auuuuuuum ….” Akhirnya harimau putih itu menunjukkan suara aslinya sebelum pergi meninggalkan rumah pemuda itu.


Baru saja harimau putih itu pergi, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk secara sopan oleh seseorang.

__ADS_1


“Assalamulaikum …”


Nur Rahman mendengar suara Pak RW dari balik pintu. Ia pun melakukan hal yang sama dengan sebelumnya. Mengintip melalui jendela dan ternyata di depan rumah sudah menunggu Pak RW.


“Waalaikumsalam …”


Nur Rahman membukakan pintu untuk Pak RW.


“Kamu nggak apa-apa, Mas Nur?” Pak RW langsung memegang pundak pemuda di depannya.


Ia sudah mengenal betul keistimewaan pemuda yang berada di depannya itu. Kebetulan ia mengenal baik kedua orang tuanya. Dan ia tahu sejak kecil Nur Rahman sudah sering mengalami hal-hal aneh yang berhubungan dengan mistis.


“Tidak, Pak RW. Saya tidak apa-apa.”


“Apa Mas Nur masih bisa melihat hal gaib? Kata bapaknya Mas Nur, penglihatan Mas Nur sudah ditutup.”


“Iya, Pak RW. Sudah ditutup, tapi tidak bisa ditutup sempurna. Entahlah, saya juga heran kenapa tadi bisa mengalami hal itu padahal Mbah To kan masih hidup.”


“Tunggu, Mas Nur! Saya curiga terjadi sesuatu sama Mbah To. Soalnya lampu rumahnya masih dimatikan sampai sekarang. Barusan saya pas lewat sana juga merasa agak gimana begitu.”


“Benar begitu,Pak RW? Kalau begitu, sebaiknya kita ke rumahnya saja sekarang. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Mbah To. Kasihan … anaknya jauh dari rumah.”


“Iya, Mas Nur. Mas Nur mau ikut ke sana? Kebetulan saya sudah menghubungi Pak RT juga untuk bareng-bareng melihat keadaan Mbah To.”


“Iya, Pak RW. Saya mau ikut.”


“Kalau begitu, ayo kita segera berangkat!”


Nur Rahman pun ikut Pak RW memeriksa keadaan Mbah To. Di dalam hati pemuda itu berharap semoga Mbah To dalam keadaan sehat walafiat.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Yang tidak menulis komentar berarti siap diajak ke rumah Mbah To


__ADS_2