
Nur Rahman terus berjalan di antara kursi-kursi yang diduduki oleh sosok-sosok menyeramkan. Di antara para penumpang itu terdapat para arwah wanita dan juga anak-anak. Hampir saja Nur Rahman menghindar ketika ada anak kecil berlari ke arahnya. Namun, ia sadar bahwa ia harus berpura-pura untuk tidak melihat anak kecil itu. Arwah perempuan kemudian terlihat mengejar anak kecil yang tak kasat mata barusan. Ada perasaan tidak nyaman yang dirasakan oleh pemuda itu saat ia berpapasan dengan sepasang arwah ibu dan anak itu. Jantungnya menghangat saat kedua sosok itu menembus badannya.
Pandangan mata Nur Rahman kemudian tertuju pada kursi kosong yang letaknya agak ke belakang. Ia sudah bermaksud untuk memilih kursi kosong itu sebagai tempat duduknya. Tapi, ia baru sadar bahwa kalau ia sengaja memilih kursi itu maka seseorang yang sedang mengincarnya akan curiga bahwa ia memiliki mata batin. Untuk ia pemuda itu pun berpura-pura untuk memilih salah satu kursi yang diduduki oleh arwah dengan potongan tubuh sedikit gendut.
“Jangan duduk di situ, Mas!” teriak kondektur yang sedang duduk di kursi paling belakang.
Nur Rahman menoleh ke arah kondektur itu. Ia hampir terperanjat begitu melihat wujud asli kondektur itu. Mukanya hancur dan matanya hampir keluar. Ada satu hal yang membedakan wujud kondektur itu dibandingkan arwah yang lain. Bagian dadanya seperti ada cahayanya. Mungkin itu yang menyebabkan wujud kondektur ini bisa dilihat oleh orang yang tidak memiliki kemampuan melihat dengan mata batin.
“Di mana saya harus duduk, Pak?” Nur Rahman memberanikan diri menyahut.
“Duduklah di kursi ini!” jawab kondektur sambil menunjuk kursi kosong yang tadi sempat diincar oleh pemuda itu.
“Terima kasih,” jawab Nur Rahman sambil buru-buru berjalan menuju kursi kosong itu.
Setelah pemuda itu duduk di kursinya, kondektur berteriak kepada sopir untuk menjalankan busnya lagi. Selanjutnya Nur Rahman pun meletakkan barang bawaannya di sebelahnya. Tas pemuda tersebut memang sudah hilang, makanya ia menggunakan kantong plastik untuk menyimpan mainan dan barang-barangnya yang lain.
Nur Rahman kemudian menyandarkan punggungnya di kursi saat bus yang ia naiki kembali melaju. Ada satu keanehan yang dirasakan oleh pemuda itu. Meskipun ia sedang berada di dalam bus, entah kenapa terpaan angin malam seakan langsung menyentuh dadanya. Pemuda itu sampai kedinginan. Karena jaketnya sudah raib diambil pencuri, pemuda itu pun hanya bisa bersedekap untuk sedikit mengurangi rasa dingin yang ia rasakan.
“Dingin ya, Mas?” sapa kondektur bus secara tiba-tiba dari samping pemuda itu.
Hampir saja pemuda itu berteriak karena melihat wujud seram secara tiba-tiba di sebelahnya. Tapi, untunglah ia masih bisa menguasai dirinya sendiri. Tentu rencananya akan amburadul kalau sampai ia melakukan hal itu
“Saya kurang enak badan, Pak.” Nur Rahman berusaha menekan suaranya agar tidak terlihat seperti orang sedang ketakutan.
Kondektur itu pun kembali ke posisinya semula. Nur Rahman merasa sedikit lega setelah kondektur itu kembali ke tempat duduknya di belakang. Pemuda itu kemudian menyandarkan punggungnya kembali sambil sedikit menyipitkan matanya. Ia sadar betul bahwa ia tidak boleh tidur di dalam bus hantu itu karena kalau sampai ia melakukannya maka tubuhnya akan di bawa ke alam kematian mereka.
__ADS_1
Ciiiiiit!!!!
Bus malam itu tiba-tiba mengerem dan lajunya melambat. Nur Rahman menarik napas panjang dan berusaha menerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan ekor matanya pemuda itu melihat bahwa ada seorang laki-laki muda sedang naik ke dalam bus melalui pintu belakang. Belum lama ia berpikir, laki-laki itu sudah berada di sebelahnya dan berusaha untuk melangkahinya.
“Permisi, Mas!” seru laki-laki itu sambil berusaha untuk melangkahi kakinya.
“Biar aku yang duduk di dekat jendela, Bay!” jawab Nur Rahman sambil menggeser bokongnya.
Tentu saja laki-laki yang baru datang itu terkejut mendengar jawaban Nur Rahman.
“Dari mana kamu tahu namaku?” bisik Bagus.
“Eh … tidak! Aku asal ngomong saja.” Nur Rahman mulai kelabakan mendapat pertanyaan tidak terduga seperti itu.
“Tidak! Kamu pasti mengetahuinya dari seseorang. Atau jangan-jangan kamu ini temannya Bagus,ya?”desak Bayu.
“Gila kamu! Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Kamu tahu hal ini sangat berbahaya buatmu! Kamu bisa mati seperti orang-orang itu!” Bayu berbisik dengan nada emosi.
“Aku ke sini karena aku ingin tahu yang terjadi dengan temanku yang bernama Rendi.”
“Rendi? Dia itu teman masa kecilku? Kamu kenal dengan dia?”
“Ya. Dia itu sahabatku. Dia ditemukan meninggal di jalanan perbukitan di sekitar tempat ini. Apa kamu tidak berusaha menolongnya?”
“Kamu jangan asal nuduh, ya? Aku selalu berupaya untuk menyelamatkan orang yang duduk di kursi ini. Ya, meskipun hanya sedikit yang percaya denganku. Rata-Rata menganggapku gila atau tidak waras, sehingga pada akhirnya mereka menjadi korban bus ini.”
__ADS_1
“Apakah Rendi juga tidak percaya denganmu?” tanya Nur Rahman sambil memandangi wajah pemuda di depannya. Pucat, tapi tidak mengerikan seperti yang lain.
“Tentu tidak! Dia sangat percaya kepadaku. Meskipun dia heran kenapa bisa bertemu denganku di sini. Akhirnya dia berhasil lolos dari bus ini.”
“Terus, kenapa temanku itu bisa terbunuh?”
“Ada seseorang yang mencelakainya ketika ia turun dari bus ini dan membuatnya seolah-olah mengalami kecelakaan.”
Nur Rahman tercengang dengan penjelasan Bayu. Sudut hatinya merasakan sakit saat itu. Ia merasakan sangat rindu dengan temannya saat itu. Momen-Momen kebersamaan dengan Rendi terbayang dengan jelas di pelupuk matanya.
“Hei, kamu jangan melamun! Sebentar lagi kamu harus turun dari bus ini kalau kamu tidak ingin mati seperti Rendi.”
“Iya … ya …” Nur Rahman terkejut dengan teguran Bayu.
“Aku kasih tahu ya? Sebentar lagi kan ada tikungan tajam. Bus ini akan bergerak dengan sedikit melambat. Kamu harus segera melompat pada saat itu. Kamu pindah duduk di sini saja supaya lebih mudah melompatnya.”
“Tidak apa-apa. Aku di sini saja.”
Bus malam pun memperlambat lajunya karena memasuki tikungan yang cukup tajam. Bayu memindakan kakinya ke samping untuk memberikan ruang kepada Nur Rahman untuk lewat. Nur Rahman malah menyuruh Bayu untuk berdiri terlebih dahulu agar ia mudah untuk keluar. Bayu tampak memperhatikan pergerakan kondektur yang sedang berada di bagian tengah bus itu.
Saat ini Nur Rahman dan Bayu sudah sama-sama berdiri di dalam bus dengan kondisi bus yang berjalan sangat lambat. Nur Rahman memegang tangan Bayu untuk mempertahankan keseimbangan sementara tangan kirinya berusaha untuk membuka pintu belakang bus yang tidak terkunci.
“Hei, Mas! Mau ngapain kalian?” teriak kondektur dari arah depan.
Nur Rahman dan Bayu pun panik karena menyadari rencana mereka ketahuan oleh kondektur bus itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG