TITISAN MARANTI

TITISAN MARANTI
TUGAS


__ADS_3

Malam itu juga jenazah Mbah To dimakamkan. Sampai detik itu Kevin dan kawan-kawannya masih belum bisa mengidentifikasi siapa pelaku penyekapan terhadap ibunya Cak Warno. Motif penyekapannya juga masih menjadi misteri. Orang-Orang di sekitar Mbah To, termasuk Cak Warno dan Nur Rahman juga diinterogasi oleh polisi untuk mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya.


“Nur, kamu beneran tidak ada info lain lagi yang berkaitan dengan Mbah To?” Kevin menatap mata pemuda di depannya dengan tajam.


“Nggak ada, Vin! Aku sudah mengatakan semuanya,” jawab pria bermata cokelat itu dengan santai. Kebersamaannya dengan polisi muda itu selama di Puskesmas membuat mereka lebih akrab satu dengan lainnya.


“Kapten Suhermanto sudah bicara banyak tentang kamu. Termasuk kemampuan istimewamu yang telah mengungkap kematian anak Pak  Makhrus. Apa untuk kasus ini kamu tidak menemukan sesuatu yang lain dari penglihatan istimewamu itu?” Kevin tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat pemuda itu terkejut.


“Ja-di beliau sudah mengatakannya pada kamu, Vin?” suaranya terdengar terbata-bata.


“Tenang, Nur! Kapten Suhermanto itu sudah seperti kakakku sendiri. Dia hanya mengatakannya kepadaku saja. Aku juga tidak mungkin menyampaikan hal ini pada orang lain. Tapi, plis … kalau kamu merasakan atau melihat sesuatu yang berbeda dari kasus ini, sampaikan padaku. Aku tidak mau kasus ini menguap begitu saja.” Ucapan polisi muda itu terdengar sejuk di telinga Nur Rahman.


“Baiklah …,” jawaban terakhir yang diberikan oleh Nur Rahman pada Kevin. Setelah itu semua orang diperbolehkan pulang dan beristirahat di rumahnya masing-masing.


*


Keesokan harinya Nur Rahman dipanggil oleh Pak Ibnu ke ruangannya. Tidak biasanya pria yang usianya di atas Nur Rahman beberapa tahun itu melakukan hal formal seperti itu. Biasanya kalau ia ada keperluan dengan pemuda itu, cukup dengan mengirim pesan singkat atau mendatangi meja anak buahnya itu.


“Ada apa Bapak tiba-tiba memanggil saya?”


“Nur … saat ini kita kekurangan personel. Saya sudah menanyakan kepada Nizwar dan Karmin apakah kita mau menambah personel atau tidak? Mereka berdua tidak setuju kalau kita menambah personel. Mereka masih belum siap melihat posisi Rendi digantikan oleh orang lain. Bagaimana menurutmu, Nur?”


Pemuda itu menarik napas dalam-dalam. Ingatannya kembali pada momen-momen ketika masih ada Rendi di kantor itu.


“Sama, Pak. Saya juga belum siap ….”


“Tapi, Nur … Pekerjaan sekarang makin menumpuk. Kalau tidak menambah personel, saya khawatir akan mengganggu produktifitas perusahaan kita.”


“Bagaimana kalau untuk sementara kami bertiga diberi beban tambahan mengerjakan tugas Rendi?”


“Nah, itu yang saya maksudkan, Nur. Tadi, Nizwar dan Karmin juga usul seperti itu. Untuk sementara tugas-tugas Rendi yang di luar kota kamu yang kerjakan, ya? Untuk yang lain biar dikerjakan oleh kedua orang itu. Kamu setuju, kan?”


“Terus … kalau ada kunjungan di luar kota yang bersamaan dengan pembuatan desain, gimana?”

__ADS_1


“Aku bisa bantuin kamu nanti.”


“Okelah kalau begitu.”


“Oh ya Nur … Untuk hari ini kebetulan ada klien di kabupaten sebelah yang perlu untuk didatangi. Kamu mau kan berangkat ke sana sekarang?”


“Kabupaten sebelah?”


“Iya, Nur … Bisa, kan?”


“Siap, Pak!”


Pemuda itu menyambut baik perintah atasannya. Sepertinya pemuda itu memiliki rencana lain selain menjalankan tugas perusahaannya. Dan sepertinya hal itu tidak begitu diperhatikan oleh Pak Ibnu sebagai atasannya.


Lima belas menit setelah mereka mengakhiri percakapan itu, Nur Rahman pun berpamitan kepada teman-temannya untuk berangkat ke kabupaten sebelah.


“Kamu hati-hati di jalan ya, Nur! Akomodasinya sudah aku transfer ke rekeningmu. Bawa power bank dan cepat kabari kalau ada apa-apa selama di sana!” pesan Pak Ibnu pada pemuda itu.


“Terima kasih, Pak.”


“Pesen apa, Mase?” tanya ibu pemilik warung yang berada di jalanan gunung itu.


“Kopi, Bu,” sahut Nur Rahman dengan sedikit terkejut karena suara pemilik warung tersebut ia dengar saat ia memperhatikan keadaan di sekitarnya.


“Tunggu ya, Mas! Monggo gorengannya mumpung masih hangat,” sahut perempuan paruh baya itu sembari menyiapkan pesanan Nur Rahman.


“Mau ke kota sebelah ya, Mas?” sapa perempuan itu lagi berusaha memecahkan keheningan di antara mereka.


Saat itu perempuan itu memang hanya bekerja sendirian. Tapi, hal itu sudah biasa ia lakukan tanpa rasa takut sedikit pun. Toh, masih banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan dekat warungnya.


“Iya, Bu. Apa Ibu sudah lama jualan di sini?”


“Ya, sudah sepuluh tahun lebih, Mas.”

__ADS_1


“Wah, sudah lama, ya? Enak ya Bu jualan di sini?”


“Namanya jualan ya enak nggak enak, Mas. Tapi, di sini enaknya nggak usah bayar biaya sewa. Paling-Paling ya ngasih sekedarnya kalau ada aparat yang datang ke sini.”


“Biasanya Ibu jualan sampai jam berapa?”


“Tergantung, Mas. Biasanya sih sebelum magrib sudah dijemput sama suami. Tapi, kalau pas rame ya bisa sampai jam sembilan malam.”


“Loh, emangnya kalau malam ada penerangannya di sini? Nggak takut. Bu?”


“Ya kalau sendirian takut lah, Mas. Kan ada suami yang menemani jadi nggak takut. Kalau malam saya pakai penerangan lampu emergency, Mas. Lah, lampu-lampu jalanannya pada hilang dicuri orang. Kalau nggak pakai lampu emergency ya gelap, Mas”


“Dua hari yang lalu ada kecelakaan ya Bu di sekitar sini?”


Ibu pemilik warung  yang awalnya santai tiba-tiba menjadi kaget mendengar pertanyaan Nur Rahman. Ia menyerahkan kopi pesanan pemuda itu dengan tangan gemetar.


“Ibu kenapa? Kok kayak kaget begitu?”


“Maaf ya, Mas. Jangan ngomongin itu. Semenjak kejadian itu saya nggak berani pulang sore-sore.”


“Loh! kenapa, Bu?” tanya Nur Rahman dengan penasaran.


“Anu, Mas. Tiap selepas magrib para pemilik warung di sini mendengar suara-suara aneh dari lokasi penemuan jenazah itu. Malah, ada yang mengaku didatangi oleh arwah korban kecelakaan itu. Sudah ya, Mas! Jangan ngomongin itu lagi, saya jadi merinding, Mas.”


Nur Rahman cukup terkejut dengan pengakuan ibu pemilik warung. Ia menjadi teringat dengan arwah Rendi yang masih sering muncul di dekatnya. Ia bertanya-tanya di dalam hati. Apakah sahabatnya itu menjadi arwah penasaran yang mengganggu warga di sekitar lokasi penemuan jenazahnya.


“Bu, waktu terjadinya kecelakaan itu ibu sedang berada di rumah apa masih di sini?”


“Saya sudah di rumah, Mas. Kebetulan yang menemukan jenazahnya adalah pemilik warung yang letaknya paling ujung. Dia memang sering pulang malam. Maklum, orangnya memang pemberani, Mas. Jadi, ketika kecelakaan itu terjadi. Semua warung sudah tutup. Hanya orang itu yang masih buka. Nah, pas dia pulang itulah ia melihat pagar pembatas itu ambrol. Karena curiga ia pun turun dari motornya dan menengok ke bawah. Ternyata di bawah sana sudah tergeletak pengendara motor itu.”


“Untung ada bapak itu ya, Bu. Jadi jenazahnya cepat ditemukan.” Nur Rahman menyeruput habis kopinya sambil bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya.


“Iya, Mas. Dia itu memang sering jadi orang yang pertama kali mengetahui setiap ada kecelakaan di sekitar sini. Dulu waktu kejadian ada bis jatuh ke jurang juga begitu. Korbannya banyak waktu itu, Mas. Satu bis meninggal semuanya. Lokasinya sama persis dengan kejadian yan kemarin. Waktu itu yang jualan di sini masih almarhum kakak saya. Sebulan kakak saya nggak jualan waktu itu. Takut ….”

__ADS_1


Setelah membayar pesanannya, pemuda itu pun pamit pergi kepada ibu pemilik warung. Tak lupa ia berhenti di lokasi penemuan jenazah Rendi yang masih diberi tanda garis polisi. Ia mengirim doa kepada Rendi di tempat tersebut. Di akhir doanya, Nur Rahman merasa bulu tengkuknya berdiri. Perasaan tidak nyaman membuat ia memutuskan untuk buru-buru meninggalkan tempat itu.


BERSAMBUNG


__ADS_2