
Karena harus mampir-mampir dulu di beberapa tempat, Nur Rahman sampai di rumahnya pukul lima sore. Ia pun memutuskan untuk sholat Magrib di rumah saja. Ia sudah memutuskan untuk ikut tahlilan di rumah Rendi saja mengingat kemarin malam ia sibuk mengurusi Mbah To. Toh, hari ini Bapak dan ibunya sudah datang. Jadi biar mereka berdua yang pergi ke rumah Mbah To.
“Nur, ibu dan ayah berangkat duluan ke rumah Mbah To, ya?” teriak ibunya Nur Rahman dari balik pintu kamar.
“Malam ini saya mau tahlilan di rumah Rendi, Bu!” sahut Nur Rahman dari dalam kamarnya.
“Nggak telat, kah?”
“Nggak apa-apa telat sedikit, Bu.”
“Ya sudah. Ibu bawa kunci serep kalau begitu. Nanti kalau kamu berangkat pintunya dikunci, ya? Sekarang pintunya nggak ibu kunci.”
“Iya, Bu.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Nur pun ditinggal sendirian di rumah itu. Ia menunaian salat Magrib di dalam kamar kemudian mempersiapkan diri untuk berangkat ke rumah Rendi. Sepertinya ia harus sedikit mengebut agar tidak terlalu terlambat mengikuti acara tahlilan di rumah sahabatnya itu. Dengan sangat terbutu-buru ia membuka pintu rumahnya kemudian menguncinya dari luar. Dan ketika pemuda itu membalikkan badannya, ia dikejutkan dengan kemunculan arwah Rendi yang begitu mendadak di hadapannya.
“Kenapa kamu muncul di saat yang tidak tepat, Ren? Apa kamu marah karena semalam aku tidak ikut tahlilan di rumahmu? Atau karena malam ini aku terlambat datang ke sana? Maafkan aku, Ren. Banyak hal yang harus aku kerjakan sejak kemarin.” Hal itu tiba-tiba saja tersirat di benak pemuda itu.
Namun, sepertinya arwah Rendi tidak mempedulikan hal itu. Tampilan menyeramkan sekaligus menyedihkan yang ditunjukkan oleh arwah tersebut membuat Nur Rahman memberanikan diri untuk berusaha bersentuhan dengan sosok tak kasat mata itu. Sayangnya, kali ini upaya pemuda itu tidak semudah saat ia melakukannya pada arwah gadis kecil anaknya Pak Makhrus. Energi Rendi terlalu lemah. Sekeras apapun pemuda itu mencoba menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh arwah sahabatnya, usahanya tetap gagal. Bahkan pemuda itu sampai mengeluarkan segenap energinya saat itu, tapi tetap gagal. Akhirnya pemuda itu hanya bisa menangis sambil berlalu pergi menuju motornya.
Jangan ditanya seberapa cepat Nur Rahman mengendarai motor dalam kondisi hati yang tidak karuan seperti itu. Siapapun yang melihatnya pasti merasa ngeri. Nizwar yang pernah dibonceng pemuda itu dengan kecepatan seperti itu bahkan sempat menyindirnya,
“Malaikat Pencabut Nyawa mungkin nunggu kita memelankan kendaraan dulu, kalau mau mencabut nyawa kita. Biar nggak repot!”
Nur Rahman yang mendengar kalimat itu pun langsung mengurangi kecepatannya sambil tersenyum mendengar sindiran temannya yang terkesan lucu itu.
Tapi kali ini tidak ada yang menasehati pemuda itu untuk memelankan kendaraanya. Ia tetap stabil berkendara dengan kecepatan tinggi. Ketika sudah hampir sampai di rumah Rendi, barulah pemuda itu mengurangi kecepatannya. Kedatangannya disambut oleh ketiga rekannya di kantor.
__ADS_1
“Kami pikir kamu nggak datang lagi, Nur?” tegur Nizwar.
Pemuda itu tidak menanggapi omongan temannya itu. Ia masih merasa kesal atas kegagalannya menangkap pesan dari arwah Rendi. Nizwar dan kedua rekan kerja yang lain sudah paham dengan karakter pemuda itu. Pasti ada yang sedang ia pikirkan makanya sejutek itu. Daripada sakit hati, mereka lebih memilih ikut berdoa secara khusyu untuk sahabat mereka yang sudah meninggal beberapa hari yang lalu itu.
Ada pemandangan tak lajim yang dilihat oleh Nizwar pada acara tahlilan tersebut. Mereka melihat Nur Rahman ikut menyantap makanan yang disajikan oleh para tetangga Rendi.
“Tumben, Nur ikut makan? Biasanya dia selalu menolak makanan selamatannya orang mati.” bisik Nizwar pada Karmin.
“Dia lapar kali, Nizwar. He he he …,” jawab Karmin dengan nada meledek.
Entah kenapa meskipun suara mereka tidak mungkin didengar oleh Nur Rahman, tapi pemuda itu secara mendadak menoleh ke arah mereka berdua dengan tatapan ketus. Seolah-olah pemuda itu mendengar perbincangan mereka.
“Kalian pulang duluan saja! Aku masih ingin mengobrol dengan ibunya Rendi.” ucap Nur Rahman datar saat keempat orang itu sudah selesai membantu membersihkan halaman dan ruang tamu rumah Rendi dari sisa-sisa air mineral dan tumpukan piring kotor.
“I-iya, Nur. Ka-lau begitu kami pamit dulu,” sahut Nizwar dengan suara lemah. Dari nada bicaranya ia sudah paham kalau sahabat mereka itu tidak mau ditemani oleh mereka.
“Nur … terima kasih sudah menemui para klien di kota sebelah. Berkat kamu perusahaan kita mendapatkan rekanan baru di sana,” ucap Pak Ibnu.
“Sama-Sama, Pak,” sahut pemuda itu pelan.
Sepeninggal ketiga rekannya, Nur Rahman langsung menghampiri kedua adik Rendi yang sedang bermain lato-lato di ruang tamu. Untung ada mainan itu. Jadi mereka sedikit terhibur dan tidak terus-terusan ingat dengan kepergian kakak mereka.
“Assalamualaikum, Doni …. Alya …”
“Waalaikumsalam. Mas Nur ….”
Kedua anak kecil itu langsung menghambur menuju sahabat almarhum kakaknya. Nur Rahman pun langsung merangkul mereka berdua. Kedua anak kecil itu langsung menangis begitu melihat pemuda itu.
“Loh … kok malah nangis? Mas Nur sedih loh kalau lihat kalian menangis begini.”
“Alya kangen sama Mas Rendi ....”
__ADS_1
“Doni juga ….”
Pemuda itu tercekat suaranya ketika mendengar reaksi polos kedua anak kecil itu. Ia diam sejenak untuk memberi waktu bagi kedua adik Rendi itu meluapkan kesedihannya.
“Apa Mas Nur bilang kemarin? Kalau kangen sama Mas Rendi, harus berdoa kepada Allah.”
“Iya ….”
Mereka berdua pun mengusap air matanya masing-masing. Para tetangga yang ikut membantu di rumah Rendi pun satu per satu pulang ke rumahnya seiring dengan selesainya tugas mereka di dapur. Ibunya Rendi yang sejak tadi sibuk di belakang pun akhirnya mendatangi Nur Rahman yang sedang bermain dengan kedua anaknya.
“Loh, Nak Nur datang? Mana yang lain?”
“Yang lain pulang duluan, Bu.” Sembari bersalaman dengan perempuan tua itu.
“Makan lagi, ya?”
“Sudah kenyang, Bu. Saya sengaja tidak pulang dulu karena ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada Ibu …”
“Tanya apa Nak Nur?”
“Sebelum Rendi meninggal, apa dia sempat ngomong sesuatu kepada Ibu?”
Ibunya Rendi merenung sesaat.
“Ngomong apa, ya? Kayaknya nggak ada. Ibu juga tidak menyangka dia akan pergi secepat ini.” Kembali perempuan itu meneteskan air mata.
Nur Rahman sengaja diam sejenak untuk memberikan kesempatan kepada perempuan itu meluapkan emosinya.
“Bu, apa boleh saya masuk ke kamar Rendi?”
“Bo-leh, Nak … Boleh …”
__ADS_1
Nur Rahman pun langsung diantar oleh perempuan tua iu masuk ke kamar sahabatnya. Pada saat ibunya Rendi membuka pintu kamar anaknya itu, Nur Rahman merasakan bahwa ada kehadiran Rendi di tempat itu. Bulu kuduknya merinding seketika.
BERSAMBUNG