TITISAN MARANTI

TITISAN MARANTI
MEMBURU INFORMASI


__ADS_3

Bangun tidur Nur Rahman dikejutkan dengan kabar di sosial media yang menyebutkan bahwa ada seorang mahasiswa ditemukan dalam keadaan pingsan di pinggir jalan di sekitar jalanan gunung yang ia lewati kemarin. Mahasiswa tersebut dilarikan ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Nur Rahman yang saat itu memang sedang berkonsentrasi untuk memecahkan kasus kecelakaan Rendi pun menaruh perhatian lebih pada pemberitaan tersebut.


Ia langsung menghubungi Pak Makhrus yang merupakan salah satu petugas di Puskesmas yang pernah ia kunjungi itu.


“Pak Makhrus, apa benar mahasiswa yang ditemukan pingsan itu dirawat di sana?”


“Iya benar, Mas. Kenapa? Apa Mas kenal dengan orang itu?”


“Tidak, Pak. Saya tidak mengenalnya. Tapi, saya butuh informasi tentang mahasiswa tersebut dari Pak Makhrus. Bapak bisa membantu saya, kan?”


“Hm … sebenarnya saya tidak boleh memberikan informasi kepada siapapun, Mas. Tapi, karena Mas Nur sudah pernah membantu saya, rasanya tidak enak bagi saya kalau menolak permintaan Mas Nur.”


“Terima kasih atas kerja samanya, Pak. Saya janji tidak akan membocorkan informasi yang Bapak berikan kepada saya. Ini murni untuk kepentingan saya sendiri, Pak. Oh ya sampai lupa. Saya mau mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya putri Pak Makhrus.”


“Iya Mas, terima kasih.”


Nur Rahman pun selanjutnya menanyakan tentang identitas mahasiswa tersebut dan juga keterangan yang ia berikan kepada polisi dan dokter yang merawatnya. Nur Rahman menyimak baik-baik semua perkataan Pak Makhrus.


“Mas, sepertinya polisi dan dokter tidak ada yang percaya dengan cerita mahasiswa itu. Mereka pikir itu hanya karangan pemuda itu saja karena ceritanya terkesan tidak masuk akal.”


“Polisi yang bertugas memeriksa mahasiswa itu, apakah dua polisi yang kemarin?”


“Bukan, Mas. Lain lagi. Oh ya, Mas. Kalau dari penglihatan Mas Nur, bagaimana pendapat Mas tentang cerita mahasiswa itu?”


“Dia menceritakan yang sebenarnya, Pak. Untunglah pemuda itu masih selamat. Tidak seperti yang dialami oleh Rendi teman saya kemarin.”


“Loh, apa ini ada hubungannya dengan kematian teman Mas Nur kemarin?”


“Nanti saya ceritakan, Pak. Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih atas informasi yang Bapak berikan kepada saya.”

__ADS_1


“Sama-Sama, Mas Nur.”


Nur Rahman pun langsung menutup sambungan teleponnya. Setelah melakukan panggilan telepon itu. Pemuda itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Untunglah ibunya buru-buru mengetuk pintu kamarnya untuk mengingatkan pemuda itu agar tidak tertinggal waktu salat Subuh.


Seharian pemuda itu tidak bisa begitu berkonsentrasi di kantor. Berkali-Kali ia melakukan kesalahan dalam menggambar desain produk pesanan konsumen, sehingga ia harus mengulang-ulangnya sampai beberapa kali. Tidak biasanya ia seperti itu. Pikirannya masih tidak tenang dan selalu teringat dengan kematian Rendi dan juga kejadian yang menimpa mahasiswa yang ditemukan pingsan di jalanan gunung itu.


Malam harinya Nur Rahman tidak ikut tahlilan di rumah Rendi. Karena dia ingin ikut tahlilan di rumah Mbah To. Sebagai tetangga dekat, ia merasa tidak enak kalau tidak hadir sama sekali di acara tahlilan Mbah To. Ia sudah ijin ke teman kantornya perihal tersebut dan mereka memakluminya.


Setelah selesai acara tahlilan di rumah Mbah To, Nur Rahman tidak langsung pulang. Ia bersama tetangga yang lain, ikut membantu membereskan piring-piring dan sampah yang masih bertebaran. Bahkan ia sengaja pulang paling akhir untuk menemani Cak Warno mengobrol.


“Dik … saya ijn ke belakang dulu, ya?”


“Iya, Cak. Saya nggak pulang dulu, kok.”


“Iya, Nur.”


Pemuda itu mengedarkan pandangan ke sekeliling penjuru ruang tamu tersebut. Sayangnya, netranya tidak menangkap benda apapun yang mencurigakan. Dan betapa terkejutnya pemuda itu tatkala ia mendapati sosok arwah Rendi ternyata sedang berada tepat di sebelahnya. Jadi, mereka duduk dalam satu kursi kayu panjang milik Cak Warno.


“Re-e-en ….” Nur Rahman menggigil ketika menyebut nama temannya yang sudah meninggal itu.


Rendi tidak menyahut. Arwah teman pemuda itu tampak menangis dan menunjukkan eksresi kesedihannya. Nur Rahman dapat merasakan kegetiran yang sedang dirasakan oleh arwah sahabatnya itu.


“Maafkan aku ya, Ren ….” Nur Rahman terisak karena tak tega melihat arwah sahabatnya tidak tenang seperti itu.


Rendi tidak menjawab apa-apa seolah-olah ia tidak menghiraukan perkataan sahabatnya itu. Nur Rahman yang sebenarnya masih takut berada di sebelah arwah Rendi itu pun mencoba berkomunikasi dengan arwah temannya itu. Kemarin ia sengaja melanggar pantangannya untuk makan makanan selamatan orang mati karena ia memang ingin berkomunikasi dengan arwah temannya itu. Dan kali ini arwah Rendi benar-benar datang meskipun di waktu yang kurang tepat.


Nur Rahman mencoba bersentuhan dengan arwah itu. Ada energi yang mengalir ketika tangan Nur Rahman mencoba meraba arwah tersebut. Bayangan-Bayangan aneh muncul di kepala Nur Rahman dan membuat pemuda tersebut terkejut dengan sesuatu yang ia lihat dengan mata batinnya.


“Ayaaaaaaah …” teriak Rendi yang masih remaja sambil memeluk jenazah seseorang yang diturunkan dari ambulans.

__ADS_1


“Maaaaaas … Maaaaaas … Jangan tinggalkan saya, Mas! Anak kita masih kecil-kecil.” Ibunya Rendi memeluk jenazah laki-laki itu sambil menggendong bayi.


Beberapa tetangga membantu menenangkan mereka berdua.


Pada detik selanjutnya Nur Rahman ditampakkan Rendi yang diam-diam mengumpulkan berita tentang kecelakaan sebuah bus di gunung. Di mana ayahnya menjadi salah satu korban pada kecelakaan itu. Ibunya Rendi menegur Rendi yang bersikukuh untuk menyelidiki peristiwa itu.


“Jangan, Ren! Ikhlaskan kepergian ayahmu! Berhentilah menyelidiki kecelakaan itu. Ibu tidak mau terjadi apa-apa denganmu.”


“Tidak, Bu! Aku ingin mengungkap motif kecelakaan itu. Aku tidak yakin itu murni kecelakaan. Pelakunya harus bertanggung jawab atas kejahatan yang telah mereka lakukan. Kecelakaan itu sudah merebut kebahagiaan banyak keluarga, Bu.”


Selanjutnya Nur Rahman juga ditampakkan oleh sosok Rendi yang sedang magang di kantor perkebunan. Ia sibuk mencari berkas-berkas lama perusahaan tersebut. Setelah itu ia menyalin semua nama-nama karyawan yang satu angkatan dengan ayahnya. Kemudian nama-nama itu ia cocokkan dengan nama-nama korban kecelakaan bus yang ia peroleh dari surat kabar lama.


“Nur …. Nur … kamu kenapa?” tegur Cak Warno menghentikan proses pertukaran informasi dari arwah Rendi kepada pemuda itu.


“Nggak apa-apa, Cak!” sahut pemuda itu dengan ekspresi wajah sengaja pura-pura tidak terjadi apa-apa.


“Tapi, barusan kamu-“


“Aku kurang tidur, Cak. Badanku juga kurang enak.”


Sepertinya jawaban itu dipercaya oleh Cak Warno.


“Ya sudah, Nur … Sekarang kamu pulang saja dan buru-buru istirahat daripada ntar kamu malah sakit.”


“Iya, Cak. Aku pamit dulu kalau begitu.”


Nur Rahman pun meninggalkan rumah Cak Warno dengan perasaan tak menentu. Sepertinya ia mulai menemukan titik terang misteri kematian Rendi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2