TITISAN MARANTI

TITISAN MARANTI
MACAN PUTIH


__ADS_3

Nur Rahman dan Pak RW sudah sampai di depan rumah Mbah To. Turut hadir di tempat itu Pak RT dan salah satu warga yang lain bernama Karjo. Suasana di tempat itu cukup gelap karena lampu di ruma Mbah To padam. Mereka berempat hanya mengandalkan cahaya dari lampu senter dan cahaya dari Ponsel yang mereka bawa.


“Gimana, Pak RT? Apa kita langsung bergerak sekarang?” tanya Pak RW.


“Sebaiknya begitu, Pak!” jawab Pak RT.


Mereka berempat pun mulai beraksi memeriksa rumah tersebut. Pak RW dan Pak RT di depan. Menyusul di belakangnya Nur Rahman dan Karjo.


“Ternyata pintunya tidak dikunci, Pak RT!” pekik Pak RW.


“Semakin mencurigakan saja, Pak RW. Saya khawatir kejadian Mbok Painem terulang kembali,” sahut Pak RT dengan sedikit menggigil.


“Nadzubillah … Nyebut, Pak RT! Semoga Mbah To baik-baik saja,” sambar Pak RW.


Nur Rahman yang memiliki pengalaman traumatik dengan salah satu tetangganya itu pun kembali teringat dengan pengalaman buruknya saat masih duduk di bangku SMP itu. Ia pernah diganggu oleh arwah Mbok Painem kala itu. Bahkan ia tidak sadar kalau yang ia temui waktu itu adalah arwah tetangganya itu. Ia pikir perempuan tua itu masih hidup, sehingga ia berani mengantar makanan ke rumahnya.


Nur Rahman mencari saklar di ruang tamu janda tua itu dan ia berhasil menemukannya. Keberhasilannya dipuji langsung oleh ketiga orang yang sedang bersamanya.


“Bagus, Mas Nur! Akhirnya kita nggak perlu gelap-gelapan lagi sekarang,” puji Pak RT.


“Tunggu! Sepertinya saya mendengar suara …,” ucap pemuda itu sambil memusatkan pendengarannya.


Ketiga orang yang sedang berada di sekitarnya pun melakukan hal yang sama dengan pemuda itu. Mereka memusatkan pendengaran untuk mengetahui apa yan didengar oleh pemuda itu.


“Iya, Mas Nur. Saya seperti mendengar suara orang yang terengah-engah, tapi kecil,” sahut Pak RT kemudian.


“Iya, Mas Nur. Sepertinya suaranya dari arah sebelah sana,” tambah Pak RW.

__ADS_1


“Ayo, buruan kita periksa ke sana!” ajak Karjo.


“Ingat, Kita harus tetap berhati-hati!” sela Nur Rahman.


Mereka berempat pun berjalan menuju suatu kamar yang letaknya agak ke belakang. Untuk sampai ke ruangan tersebut mereka harus melewati ruangan tengah. Keadaan di ruang tengah sangat berbeda dengan di ruang tamu. Di ruang tengah barang-barangnya awut-awutan. Bahkan ada ceret yang biasa digunakan untuk menyeduh kopi tergeletak begitu saja di lantai.


“Loh, kok acak-acakan begini kayak habis ada perkelahian?” celetuk Pak RT.


“Jangan sentuh barang-barangnya! Kita konsentrasi untuk mencari Mbah To terlebih dahulu!” ujar Nur Rahman pada para tetua di desanya itu.


Mereka berempat kembali berfokus untuk mendekati sumber suara aneh yang mereka dengar. Secara perlahan mereka masuk ke dalam kamar yang letaknya bersebelahan dengan ruang tengah. Ketika mereka sudah berada di dalam kamar tersebut mereka semakin jelas mendengar suara orang terengah-engah dari bawah kolong tempat tidur.


Pak RW pun menjadi orang pertama yang memeriksa kolong tempat tidur.


“Ya Tuhan, Mbah To!” pekik Pak RW begitu ia melihat sesosok perempuan tua sedang dalam keadaan terikat di bawah kolong tempat tidur.


“Mbah To …,” pekik ketiga orang yang lain sambil ikutan memeriksa kolng tempat tidur.


Pak RT dengan dibantu oleh Nur Rahman dan Karjo pun mengangkat kasur dan penopangnya terlebih dahulu dan memindahkan ke sudut kamar sebelum mereka bertiga akhirnya menyelamatkan perempuan tua yang sedang diikat kaki dan tangannya. Tidak hanya itu mulut Mbah To juga disumpal dengan kain sehingga ia tidak bisa bersuara.


Ketika semua ikatan terlepas dari tubuh perempuan tua itu, perempuan tua itu sudah dalam keadaan lemas dan tak bertenaga. Pak RW pun buru-buru menghubungi sopirnya untuk mengantarkan mobil ke depan rumah Mbah To. Mereka berusaha memindahkan tubuh Mbah To ke atas kasur yang digelar di atas lantai.


“Mbah … Bangun, Mbah!” panggil Nur Rahman berusaha menyadarkan perempuan tua itu.


Mbah To tidak menyahut. Matanya masih saja terpejam sementara suhu tubuhnya semakin dingin. Pak RT dan Karjo berusaha untuk mengoleskan minyak angin yang mereka dapatkan di rumah itu ke tubuh Mbah To. Upaya yang dilakukan mereka tidak kunjung membuahkan hasil. Untunglah tak lama kemudian mobil Pak RW datang. Mereka pun buru-buru membawa Mbah To ke rumah sakit dengan menggunakan mobil tersebut. Pak RW dan Pak RT menghubungi warga yang lain untuk mengabarkan kejadian tersebut. Dan mereka berdua mengingatkan kepada warga untuk tidak masuk ke rumah Mbah To dulu karena dapat mengganggu penyelidikan polisi nantinya.


“Pak RW … Gimana kalau sampai terjadi sesuatu pada Mbah To?” Nur Rahman bertanya dengan terisak.

__ADS_1


Nur Rahman memijati tubuh Mbah To yang sengaja dibaringkan di jok tengah mobil tersebut. Nur Rahman dan Karjo mengalah untuk tidak duduk di jok agar bisa menjaga keseimbangan tubuh Mbah To.


“Tenang, Mas Nur. Sebentar lagi kita akan sampai di Puskesmas. Semoga Mbah To bisa tertolong,” jawab Pak RW yang duduk di kursi depan bersebelahan dengan Pak RT. Keduanya sama-sama bertubuh ceking.


Sopir Pak RW pun buru- buru menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Nur Rahman dan Karjo tidak berhenti untuk berusaha menyadarkan Mbah To dari pingsannya. Pada saat itu Nur Rahman melihat harimau putih yang tadi datang ke rumahnya sedang berlari di belakang  mobil tersebut. Sesaat kemudian tiba-tiba Mbah To bersuara.


“Duduk Nur sing nganu aku! Sing nganu aku wong loro lanang wedok. Wong loro iku goleki barange sing keri nang warung. Wong loro iku jahat (Bukan Nur yang menganiaya aku. Yang menganiaya aku dua orang cowok dan cewek. Dua orang itu mencari barangnya yang ketinggalan di warung. Dua orang itu orang jahat)….” Tiba-Tiba Mbah To bersuara dengan suara lemah.


“Loh, Mbah … Sudah bangun sampean, Mbah?” sambar Pak RW begitu mendengar Mbah To bersuara.


“Mbah … Mbah …,” panggil Karjo dan Nur Rahman sambil menggoyang-goyangkan tubuh Mbah To agar terbangun. Tapi, Mbah To tetap saja tidak bangun.


“Mbah … bangun, Mbah!” panggil Pak RT.


“Kayaknya Mbah To masih pingsan, Pak,” sela Nur Rahman.


“Loh, barusan dia bangun, kan?” tanya pak RW tidak percaya.


“Barusan itu suara Mbah To kan, Nur?” tanya Pak RT.


“Iya. Saya juga medengarnya barusan. Tapi, posisi Mbah To kayaknya tidak berubah, Pak RW. Masih sama seperti sebelumnya.” Jawab Karjo.


“Kamu barusan mendengar suara Mbah To kan, Mas Nur?” tanya Pak RW masih tidak percaya.


“I-iya, Pak. Tapi, keadaan Mbah To masih sama seperti tadi, Pak RW. Malah sekarang suhu badannya semakin dingin saja,” jawab Nur Rahman semakin cemas.


“Ayo buruan, Pak! Jangan sampai kita terlambat menyelamatkan nyawa Mbah To!” ujar Pak RW pada sopirnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Mau nulis komentar atau mau bayari biaya berobatnya Mbah To?


__ADS_2