TITISAN MARANTI

TITISAN MARANTI
MENUNGGU


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Pak RW datang bersama Pak RT dengan


wajah sedih.


“Dokter ngomong apa, Pak RW?” tanya Nur Rahman.


Laki-Laki itu tidak langsung menjawab. Sejenak ia menarik


napas dalam-dalam. Pak RT yang berada di sebelahnya juga menunjukkan hal serupa.


Nur Rahman dan Karjo yang sejak tadi menunggu kabar tentang keadaan Mbah To pun


menjadi semakin cemas.


“Mas Nur … menurut dokter keadaan fisik Mbah To saat ini


sangat lemah. Alat-Alat medis yang dipasang di tubuhnya saat ini hanya bersifat


sementara saja. Tidak untuk memulihkan kondisi beliau yang sudah parah,” tutur


Pak RW dengan raut wajah sedih.


“Apa maksud Pak RW kita harus segera membawa Mbah To ke


rumah sakit saja agar beliau mendapat perawatan yang lebih baik?” sahut Nur


Rahman berusaha mengurai kebingungannya dengan perkataan Pak RW.


“Tidak, Nur. Menurut dokter, sekarang  kita hanya menunggu Mbah To berpulang …,”


balas Pak RW dengan air mata terurai secara tidak sengaja.


“Pak RW jangan bilang begitu. Mbah To pasti akan segera


pulih. Cak Warno sudah berpesan agar kita mengupayakan yang terbaik untuk


ibunya. Biar saya yang ngomong ke dokternya, Pak RW!” sahut Nur Rahman dengan


nada emosional.


Pemuda itu pun berupaya untuk berjalan menuju ruangan


dokter, tapi Pak RT mencegahnya.


“Mas Nur … Dokter itu sudah mengatakan yang sebenarnya.


Sebaiknya sekarang kita mendoakan Mbah To agar dipermudah proses naja’nya!”


ucap Pak RT sambil menahan tubuh pemuda itu.


Nur Rahman pun hanya bisa tertunduk sedih setelah mendengar


ucapan Pak RT.


“Ayo, kita masuk ke dalam! Dokter sudah memberikan ijin


kepada kita untuk menemani Mbah To,” ajak Pak RT.


“Iya, Pak.” Lemah pemuda itu menyahut.


Ia membiarkan Pak RT dan Karjo masuk terlebih dahulu ke


dalam ruangan UGD. Ia hanya berdua saja dengan Pak RW.


“Seandainya tadi saya tidak pulang dulu dan langsung masuk


ke dalam rumah, mungkin Mbah To masih bisa tertolong ya, Pak?” suara Nur Rahman


terdengar lemah.


“Ini bukan kesalahanmu, Mas Nur. Semua sudah digariskan


oleh-Nya. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri. Bersyukurlah karena berkat


kemampuanmu kita semua masih bisa menolong Mbah To. Tidak bisa saya bayangkan


kalau sampai Mbah To meninggal di rumahnya tanpa ada yang  mengetahui.” Pak RW merangkul pundak pemuda


itu dan berusaha menghibur kegundahan hatinya.

__ADS_1


Keempat orang itu pun secara bergantian berjaga di sebelah


Mbah To yang sudah dalam kondisi lemah. Hanya Nur Rahman yang dapat melihat


kehadiran harimau putih yang selalu setia menemani Mbah To. Nur Rahman tak


kuasa menahan kesedihan di hatinya tatkala melihat perempuan tua yang sering


menjadi tempat pemuda itu menceritakan masalah yang ia hadapi sejak masih


kuliah, kini perempuan itu itu terbaring lemah dan tak sanggup berkata apa-apa


lagi.


“Yang sabar, Mas Nur … Nanti kan juga selesai-selesai


sendiri masalahnya.” Kalimat itulah yang selalu terlontar dari mulut Mbah To


setiap kali Nur Rahman berkeluh kesah di warungnya.


Klise memang, tapi jawaban itu cukup meredam emosi pemuda


itu dalam menghadapi problem hidupnya.


Kesedihan itu tidak hanya dirasakan oleh pemuda itu, tapi


juga oleh harimau putih penjaganya. Makhluk yang mengatakan kepada pemuda itu


bahwa sudah cukup lama Mbah To tidak mengharapkan kehadirannya sebagai penjaga.


“Apa sebenarnya alasanmu memutuskan kontrak dengan harimau


putih ini? Apa kamu sudah lelah hidup? Apakah kamu tidak mau menerima


konsekuensi di akhirat nanti akibat kontrak tersebut? Entahlah! Aku yakin kamu


punya alasan kuat untuk melakukan ini.” Pemuda itu berusaha mengurai kebingungannya


sambil terus membisikkan kalimat-kalimat toyyibah di dekat telinganya.


Tidak ada reaksi apa-apa memang saat pemuda itu berusaha


membimbing Mbah To menjemput ajalnya. Tapi, pemuda itu yakin di alam bawah sadar


Tidak mungkin bagi Nur Rahman untuk menemani Mbah To secara


terus menerus karena ia juga butuh beristirahat. Untunglah ada ketiga orang


tadi yang bisa secara bergantian. Ditambah lagi dengan kedatangan anak buah


Kapten Suhermanto yang bernama Kevin yang diutus oleh atasanya itu untuk


menindaklanjuti laporan tentang usaha penyekapan terhadap Mbah To.


Keesokan harinya Nur Rahman ijin kepada Pak Ibnu untuk tidak


bekerja karena harus menunggu kedatangan anaknya Mbah To yang diperkirakan


datang hari ini. Kondisi Mbah To semakin lama semakin parah saja. Napasnya


sudah tinggal satu-satu sejak pukul sepuluh pagi tadi. Bagi yang melihat


keadaan MbahTo seperti itu tentu saja tidak tega. Dokter pun berusaha untuk


memberikan penanganan medis kembali, tapi sia-sia belaka. Pak RW sampai


mendatangkan ustad untuk menangani hal tersebut.


“Warno sampai di mana, Pak RW?” tanya Ustad.


“Masih dua jam-an lagi, Ustad,” suara Pak RW lemah karena


energinya terkuras habis setelah berjaga semalaman.


“Mungkin Mbah To menunggu kedatangan Warno, Pak RW,” balas


Ustad.


Pak RW hanya bisa mengangguk lemah dan mengusap air matanya

__ADS_1


kembali. Mbah RW memang bukan keluarganya, tapi ia tahu dengan pasti perempuan


tua itu adalah sahabat baik almarhum kedua orang tuanya. Mbah To juga adalah


tetangga dan tetua yang baik di desa tempat ia tinggal.


Tepat pukul lima sore, Warno tiba di Puskesmas dan disambut


tangisan haru oleh orang-orang yang berjaga di sana.


“Bagaimana kondisi ibu saya, Pak RW?” tanya Warno dengan


berderai air mata.


“Segeralah masuk ke dalam dan temui ibumu!” jawab Pak RW


sambil mengambil alih barang bawaan pria tersebut.


Warno pun langsung menghambur ke dalam ruangan UGD dan ia


kemudian syok saat melihat perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya


terbaring tidak berdaya.


“Maaaaaaak … bangun, Mak! Maafkan Warno Mak!” suara Warno


membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu semakin sedih.


Cukup lama Warno memeluk erat tubuh ibunya menumpahkan


segala perasaan yang ada di hatinya. Napas Mbah semakin lama semakin dalam dan


jarang. Nur Rahman yang mengetahui keadaan saat itu pun buru-buru berbisik di


telinga Warno.


“Cak, ada hal penting yang harus aku sampaikan sama sampean,”


bisik pemuda itu.


“Apa, Nur?” Warno bertanya-tanya.


Nur Rahman menarik Warno menjauhi orang-orang yang berada di


tempat itu. Warno pun mengikutinya dengan penuh rasa penasaran. Akhirnya mereka


berdua menemukan tempat yang aman untuk berbicara. Nur Rahman melihat harimau


putih itu juga turut mendekat. Pemuda itu tidak merasa terganggu dengan


kedatangannya. Pemuda itu pun menceritakan tentang kondisi ibunya terkait


dengan proses naja’nya yang cukup sulit. Selain menunggu kedatangan Warno,


kemungkinan juga menunggu keputusannya apakah mau meneruskan kontrak dengan


harimau putih itu atau tidak.


Setelah mendengar semua penjelasan dari Nur Rahman, Warno


buru-buru masuk ke dalam ruangan UGD kembali dengan berderai air mata. Warno tak


kuasa melihat ibunya dalam keadaan seperti itu. Kemudian ia membisikkan sesuatu


di telinga ibunya. Tidak ada yang bisa mendengar apa yang diucapkan pria itu


pada ibunya. Yang jelas setelah mendengar suara bisikan itu, deru napas Mbah To


semakin lemah saja. Dan Nur Rahman melihat harimau putih itu mengaum dengan


sangat keras. Setelah itu Warno membimbing ibunya mengucap kalimat tahlil. Pada


detik itulah semua orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut karena mulut


Mbah To yang awalnya tertutup rapat ternyata bisa mengucapkan kalimat tahlil


itu dengan sempurna. Tangis Warno pun terdengar menyayat hati tatkala Mbah To


melepaskan napasnya untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


 Maaf sudah membuat Kakak-Kakak menunggu. Semoga ke depan bisa lebih rutin lagi update-nya, ya!


__ADS_2