
Beberapa saat kemudian Pak RW datang bersama Pak RT dengan
wajah sedih.
“Dokter ngomong apa, Pak RW?” tanya Nur Rahman.
Laki-Laki itu tidak langsung menjawab. Sejenak ia menarik
napas dalam-dalam. Pak RT yang berada di sebelahnya juga menunjukkan hal serupa.
Nur Rahman dan Karjo yang sejak tadi menunggu kabar tentang keadaan Mbah To pun
menjadi semakin cemas.
“Mas Nur … menurut dokter keadaan fisik Mbah To saat ini
sangat lemah. Alat-Alat medis yang dipasang di tubuhnya saat ini hanya bersifat
sementara saja. Tidak untuk memulihkan kondisi beliau yang sudah parah,” tutur
Pak RW dengan raut wajah sedih.
“Apa maksud Pak RW kita harus segera membawa Mbah To ke
rumah sakit saja agar beliau mendapat perawatan yang lebih baik?” sahut Nur
Rahman berusaha mengurai kebingungannya dengan perkataan Pak RW.
“Tidak, Nur. Menurut dokter, sekarang kita hanya menunggu Mbah To berpulang …,”
balas Pak RW dengan air mata terurai secara tidak sengaja.
“Pak RW jangan bilang begitu. Mbah To pasti akan segera
pulih. Cak Warno sudah berpesan agar kita mengupayakan yang terbaik untuk
ibunya. Biar saya yang ngomong ke dokternya, Pak RW!” sahut Nur Rahman dengan
nada emosional.
Pemuda itu pun berupaya untuk berjalan menuju ruangan
dokter, tapi Pak RT mencegahnya.
“Mas Nur … Dokter itu sudah mengatakan yang sebenarnya.
Sebaiknya sekarang kita mendoakan Mbah To agar dipermudah proses naja’nya!”
ucap Pak RT sambil menahan tubuh pemuda itu.
Nur Rahman pun hanya bisa tertunduk sedih setelah mendengar
ucapan Pak RT.
“Ayo, kita masuk ke dalam! Dokter sudah memberikan ijin
kepada kita untuk menemani Mbah To,” ajak Pak RT.
“Iya, Pak.” Lemah pemuda itu menyahut.
Ia membiarkan Pak RT dan Karjo masuk terlebih dahulu ke
dalam ruangan UGD. Ia hanya berdua saja dengan Pak RW.
“Seandainya tadi saya tidak pulang dulu dan langsung masuk
ke dalam rumah, mungkin Mbah To masih bisa tertolong ya, Pak?” suara Nur Rahman
terdengar lemah.
“Ini bukan kesalahanmu, Mas Nur. Semua sudah digariskan
oleh-Nya. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri. Bersyukurlah karena berkat
kemampuanmu kita semua masih bisa menolong Mbah To. Tidak bisa saya bayangkan
kalau sampai Mbah To meninggal di rumahnya tanpa ada yang mengetahui.” Pak RW merangkul pundak pemuda
itu dan berusaha menghibur kegundahan hatinya.
__ADS_1
Keempat orang itu pun secara bergantian berjaga di sebelah
Mbah To yang sudah dalam kondisi lemah. Hanya Nur Rahman yang dapat melihat
kehadiran harimau putih yang selalu setia menemani Mbah To. Nur Rahman tak
kuasa menahan kesedihan di hatinya tatkala melihat perempuan tua yang sering
menjadi tempat pemuda itu menceritakan masalah yang ia hadapi sejak masih
kuliah, kini perempuan itu itu terbaring lemah dan tak sanggup berkata apa-apa
lagi.
“Yang sabar, Mas Nur … Nanti kan juga selesai-selesai
sendiri masalahnya.” Kalimat itulah yang selalu terlontar dari mulut Mbah To
setiap kali Nur Rahman berkeluh kesah di warungnya.
Klise memang, tapi jawaban itu cukup meredam emosi pemuda
itu dalam menghadapi problem hidupnya.
Kesedihan itu tidak hanya dirasakan oleh pemuda itu, tapi
juga oleh harimau putih penjaganya. Makhluk yang mengatakan kepada pemuda itu
bahwa sudah cukup lama Mbah To tidak mengharapkan kehadirannya sebagai penjaga.
“Apa sebenarnya alasanmu memutuskan kontrak dengan harimau
putih ini? Apa kamu sudah lelah hidup? Apakah kamu tidak mau menerima
konsekuensi di akhirat nanti akibat kontrak tersebut? Entahlah! Aku yakin kamu
punya alasan kuat untuk melakukan ini.” Pemuda itu berusaha mengurai kebingungannya
sambil terus membisikkan kalimat-kalimat toyyibah di dekat telinganya.
Tidak ada reaksi apa-apa memang saat pemuda itu berusaha
membimbing Mbah To menjemput ajalnya. Tapi, pemuda itu yakin di alam bawah sadar
Tidak mungkin bagi Nur Rahman untuk menemani Mbah To secara
terus menerus karena ia juga butuh beristirahat. Untunglah ada ketiga orang
tadi yang bisa secara bergantian. Ditambah lagi dengan kedatangan anak buah
Kapten Suhermanto yang bernama Kevin yang diutus oleh atasanya itu untuk
menindaklanjuti laporan tentang usaha penyekapan terhadap Mbah To.
Keesokan harinya Nur Rahman ijin kepada Pak Ibnu untuk tidak
bekerja karena harus menunggu kedatangan anaknya Mbah To yang diperkirakan
datang hari ini. Kondisi Mbah To semakin lama semakin parah saja. Napasnya
sudah tinggal satu-satu sejak pukul sepuluh pagi tadi. Bagi yang melihat
keadaan MbahTo seperti itu tentu saja tidak tega. Dokter pun berusaha untuk
memberikan penanganan medis kembali, tapi sia-sia belaka. Pak RW sampai
mendatangkan ustad untuk menangani hal tersebut.
“Warno sampai di mana, Pak RW?” tanya Ustad.
“Masih dua jam-an lagi, Ustad,” suara Pak RW lemah karena
energinya terkuras habis setelah berjaga semalaman.
“Mungkin Mbah To menunggu kedatangan Warno, Pak RW,” balas
Ustad.
Pak RW hanya bisa mengangguk lemah dan mengusap air matanya
__ADS_1
kembali. Mbah RW memang bukan keluarganya, tapi ia tahu dengan pasti perempuan
tua itu adalah sahabat baik almarhum kedua orang tuanya. Mbah To juga adalah
tetangga dan tetua yang baik di desa tempat ia tinggal.
Tepat pukul lima sore, Warno tiba di Puskesmas dan disambut
tangisan haru oleh orang-orang yang berjaga di sana.
“Bagaimana kondisi ibu saya, Pak RW?” tanya Warno dengan
berderai air mata.
“Segeralah masuk ke dalam dan temui ibumu!” jawab Pak RW
sambil mengambil alih barang bawaan pria tersebut.
Warno pun langsung menghambur ke dalam ruangan UGD dan ia
kemudian syok saat melihat perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya
terbaring tidak berdaya.
“Maaaaaaak … bangun, Mak! Maafkan Warno Mak!” suara Warno
membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu semakin sedih.
Cukup lama Warno memeluk erat tubuh ibunya menumpahkan
segala perasaan yang ada di hatinya. Napas Mbah semakin lama semakin dalam dan
jarang. Nur Rahman yang mengetahui keadaan saat itu pun buru-buru berbisik di
telinga Warno.
“Cak, ada hal penting yang harus aku sampaikan sama sampean,”
bisik pemuda itu.
“Apa, Nur?” Warno bertanya-tanya.
Nur Rahman menarik Warno menjauhi orang-orang yang berada di
tempat itu. Warno pun mengikutinya dengan penuh rasa penasaran. Akhirnya mereka
berdua menemukan tempat yang aman untuk berbicara. Nur Rahman melihat harimau
putih itu juga turut mendekat. Pemuda itu tidak merasa terganggu dengan
kedatangannya. Pemuda itu pun menceritakan tentang kondisi ibunya terkait
dengan proses naja’nya yang cukup sulit. Selain menunggu kedatangan Warno,
kemungkinan juga menunggu keputusannya apakah mau meneruskan kontrak dengan
harimau putih itu atau tidak.
Setelah mendengar semua penjelasan dari Nur Rahman, Warno
buru-buru masuk ke dalam ruangan UGD kembali dengan berderai air mata. Warno tak
kuasa melihat ibunya dalam keadaan seperti itu. Kemudian ia membisikkan sesuatu
di telinga ibunya. Tidak ada yang bisa mendengar apa yang diucapkan pria itu
pada ibunya. Yang jelas setelah mendengar suara bisikan itu, deru napas Mbah To
semakin lemah saja. Dan Nur Rahman melihat harimau putih itu mengaum dengan
sangat keras. Setelah itu Warno membimbing ibunya mengucap kalimat tahlil. Pada
detik itulah semua orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut karena mulut
Mbah To yang awalnya tertutup rapat ternyata bisa mengucapkan kalimat tahlil
itu dengan sempurna. Tangis Warno pun terdengar menyayat hati tatkala Mbah To
melepaskan napasnya untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Maaf sudah membuat Kakak-Kakak menunggu. Semoga ke depan bisa lebih rutin lagi update-nya, ya!