TITISAN MARANTI

TITISAN MARANTI
KENANGAN BURUK


__ADS_3

Pak Sanusi kemudian menceritakan pengalaman paling aneh yang pernah ia alami selama menjadi sopir ambulans.


“Begini, Mas Nur. Waktu itu kebetulan aku piket malam di Puskesmas. Seperti biasa di Puskesmas hanya ada Satpam, dokter piket, Pak Makhrus, dan saya sebagai sopir ambulans. Tapi mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Pukul sebelas malam, tiba-tiba ada telepon dari kantor Polres. Kalau tidak salah yang menelpon namanya Kapten Yosi.


“Kapten Yosi? Hm … saya kenal beliau,” sela Nur Rahman.


“Wah, hebat kamu bisa kenal dengan polisi dengan segudang prestasi itu. Entah dapat nomor dari mana, Kapten Yosi menelpon saya. Beliau meminta tolong kepada saya untuk menjemput jenazah di RSUD dan  mengantarkan jenazah tersebut ke sebuah desa yang letaknya di kaki gunung. Menurut Kapten Yosi, jenazah tersebut adalah korban kecelakaan yang tidak memiliki sanak saudara dekat. Jadi, tidak ada yang menjemputnya ke rumah sakit,” tutur Pak Sanusi dengan tempo sedang.


“Kenapa Kapten Yosi meminta tolong kepada Bapak? Bukankah Bapak hanya bertugas mengantar pasien di Puskesmas ini. Kalau RSUD kan ada ambulansnya sendiri?” protes Nur Rahman.


“Harusnya sih begitu, tapi menurut Kapten Yosi, stok mobil ambulans di RSUD sudah habis karena harus mengantar korban kecelakaan yang lain juga. Menurut Kapten Yosi juga, yang dilibatkan tidak hanya mobil ambulans di Puskesmas tempat saya bertugas, tapi hampir seluruh mobil ambulans Puskesmas di kota ini dilibatkan, mengingat korban kecelakaan waktu itu banyak sekali dan menyebar ke seluruh desa di kota ini,” jawab Pak Sanusi cukup panjang lebar.


“Kecelakaan apa kok sampai sebanyak itu korbannya?” tanya Nur Rahman dengan mengernyitkan dahinya.


“Kecelakaan bis jatuh ke jurang. Konon semua penumpangnya adalah karyawan di suatu perusahaan yang pulang berdarmawisata ke kota sebelah,” jawab Pak Sanusi sambil tetap fokus pada jalanan.


“Tragis sekali ya, Pak?” timpal Nur Rahman.


“Yah, begitulah … Akhirnya saya pun langsung berangkat ke RSUD untuk mengambil jenzazah korban kecelakaan tersebut dan saya pun hanya dibekali secarik kertas yang berisi alamat yang diperoleh polisi dari KTP yang bersangkutan. Setelah itu saya pun langsung berangkat untuk mengantar jenazah tersebut menuju ke alamat yang ditulis oleh polisi … sendirian,” tutur Pak Sanusi.

__ADS_1


“Sendirian? Malam-Malam begitu?” tanya Nur Rahman tidak percaya.


“Ya, Mas Nur. Saya memang jarang ditemani orang lain kalau mengantar jenazah. Lebih sering sendirian. Ya, paling-paling ditemani Pak Makhrus kalau pas dia nggak ada kerjaan. Saya pun begitu, kalau menganggur sering membantu tugas Pak Makhrus memandikan jenazah,” jawab Pak Sanusi.


“Terus, Pak? Jauh nggak alamat yang dituliskan oleh polisi?” tanya Nur Rahman lagi.


“Bukan hanya jauh, Mas Nur. Tapi, jaaaaaauh banget. Alamatnya itu di daerah perkebunan di kaki gunung di sebelah utara Puskesmas tempat saya bertugas ini. Masih satu kecamatan dengan saya, tapi jauh banget, Mas.” Pak Sanusi membelalakkan matanya untuk menunjukkan betapa jauhnya lokasi pengantaran jenazah tersebut.


“Iya, Pak. Terus gimana kelanjutannya?” Nur Rahman mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.


“Saya pun akhirnya berangkat sendirian mengantar jenazah korban kecelakaan itu hanya berbekal kertas catatan alamat yang diberi oleh polisi. Meskipun sudah cukup lama tinggal di kota ini, terus terang saya tidak tahu pasti letak desa yang tertulis di kertas tersebut. Tapi, saya hanya tahu jalan besarnya saja. Kalau masuk-masuknya saya nggak paham. Dan perlu kamu tahu, malam itu jalanan sepi banget. Setahu saya meskipun jam satu malam, kalau di desa itu masih ada orang-orang yang sekedar duduk-duduk begadang di pinggir jalan. Tapi, dini hari itu nggak ada sama sekali orang yang saya temui. Sepi sekali … Hanya mobil saya yang lewat di jalanan tersebut. Setelah berkendara cukup lama, sampailah mobil ambulans di batas antara jalan raya dengan jalan menuju ke dalam perkebunan. Nah, di situlah suasananya kerasa benar-benar berbeda. Saya itu sudah bolak-balik mengantar jenazah sendirian. Siang maupun malam, tapi perasaan saya tidak serisau waktu itu. Bayangkan, jalannya rusak terus tidak ada rumah sama sekali di kiri dan kanan jalan. Yang ada hanya pohon karet,” tutur Pak Sanusi dengan dramatis.


“Tidak, Mas Nur. Jalannya sudah benar masuk ke pohon karet itu. Saya ingat kata orang-orang yang pernah pegi ke desa itu. Memang desanya letaknya setelah melewati kebun karet. Nah, saya pun terus mengikuti jalan yang rusak itu hingga sampai di sebuah persimpangan jalan. Ada yang ke kiri dan ada yang ke kanan. Di situlah saya bingung harus memilih jalan yang mana. Pas saya menghidupkan Ponsel ternyata tidak ada sinyal sama sekali. Mau cari tempat bertanya


, tidak ada orang sama sekali. Akhirnya saya pun bertaruh untuk memilih jalan yang belok ke kanan. Dan kamu tahu, nggak? Jalan ke sebelah kanan ini ternyata licin. Karena kurang berhati-hati, salah satu roda mobil ambulans yang saya bawa masuk ke parit. Saya berusaha untuk mengeluarkan rodanya dari parit, tapi nggak bisa-bisa. Akhirnya terpaksa saya keluar dari mobil. Bisa kamu bayangkan, Mas Nur? Di tengah kebun karet yang super gelap. Saya hanya sendirian dalam keadaan ban mobil masuk ke parit. Bawa jenazah lagi. Saya benar-benar bingung waktu itu. Mau minta tolong sama siapa? Telepon juga nggak ada sinyalnya. Saya masih mencoba mengeluarkan bannya dari parit, tapi nggak bisa. Untunglah, dalam keadaan panik seperti itu, tiba-tiba ada seorang pemuda yang lewat di sana dengan membawa sak. Pemuda itu menyapa saya duluan.”


“Terperosok ya, Pak?” sapa pemuda tersebut.


“I-i-iya, Mas,” jawab saya kaget karena kemunculan pemuda itu secara tiba-tiba.

__ADS_1


“Nggak usah takut, Pak! Saya orang asli sini. Saya sudah terbiasa keluar tengah malam begini menuju ke atas. Saya mau panen kopi di atas sana. Kalau berangkat siang, nggak nutut karena lokasinya jauh” jawab pemuda itu.


“Iya, Mas. Saya ini mau mengantar jenazah ke desa Rogo Ilang, tapi ban mobil ambulansnya tiba-tiba keprosok begini,” jawab Pak Sanusi.


“Sampean ini salah jalan, Pak. Harusnya di pertigaan jalan tadi sampean belok kiri. Nggak sampek satu kilo pean akan temui desa Rogo Ilang. Biar sekarang saya bantu ganjel bannya dengan kayu yang saya bawa ini. Pean setir saja mobilnya!” jawab pemuda tersebut.


“Setelah dibantu oleh pemuda tersebut, akhirnya ban ambulansnya bisa keluar dari parit dan dengan susah payah saya pun membelokkan mobilnya menuju ke persimpangan jalan yang tadi. Dan benar saja kata pemuda itu. Nggak sampai satu kilo, saya sudah berhasil menemukan desa Rogo Ilang yang tertulis di catatan polisi yang saya pegang. Lega sekali waktu saya berhasil menyerahkan jenazah koran kecelakaan itu kepada warga desa Rogo Ilang. Saya pun kembali ke kota lagi setelahnya,” lanjut cerita Pak Sanusi panjang lebar.


“Untung ada pemuda tadi yang membantu Pak Sanusi, sehingga bisa sampai di alamatnya, ya?” sela Nur Rahman.


“Tunggu! Kamu tahu nggak siapa pemuda itu?” potong Pak Sanusi dengan ekspresi wajah yang membuat Nur Rahman penasaran.


“Siapa, Pak?” tanya Nur Rahman.


“Besoknya waktu saya santai di Puskesmas kan ada koran yang memberitakan tentang kejadian kecelakaan bis tersebut. Di koran tersebut ditampilkan foto para korban sebelum mengalami kecelakaan. Kebetulan saat berdarma wisata mereka sempat foto bareng. Dan saya langsung syok karena di deretan foto itu ada foto pemuda yang malam harinya telah menolong saya di kebun karet itu,” ujar Pak Sanusi dengan mata melotot.


“Ya Tuhan!” pekik Nur Rahman kaget.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Mana nih yang baca novel ini? Tulis komentar dong bar aku semangat


__ADS_2