TITISAN MARANTI

TITISAN MARANTI
SOPIR AMBULANS


__ADS_3

Tatapan Nur Rahman tertuju pada brankar yang sedang digunakan untuk menopang jenazah Rendi. Benda itu masih terpasang kokoh di tengah-tengah ruangan. Jenazah Rendi pun masih terbaring di atasnya dengan keadaan sama seperti waktu ia meninggalkannya tadi di ruangan tersebut. Ekor mata Nur Rahman pun menyapu seluruh isi ruangan tersebut dan ketika pandangan matanya mengarah ke kiri, barulah pemuda tersebut mengetahui sumber suara keras yang ia dengar barusan.


“Oalah, suara botol airnya Pak Makhrus yang jatuh ternyata penyebabnya,” gumam Nur Rahman sambil berjalan menuju ke arah botol yang terbanting ke lantai tersebut.


Nur Rahman memungut botol yang terbuat dari logam tersebut dari lantai dan meletakkannya di tempat semula. Teman-Temannya yang semula takut akhirnya sudah berani masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Nur, bajunya Rendi gimana itu?” tanya Nizwar sambil berjalan mendekati Nur Rahman.


“Kita bawa pulang saja untuk ketenangan hati keluarganya. Mungkin nanti mereka juga akan mengubur pakaian terakhir yang dipakai oleh Rendi itu,” jawab Rendi sambil berjalan ke arah timba yang tadi digunakan sebagai tempat pakaian temannya itu.


“Kebetulan ini ada kresek, Nur! Mungkin memang sengaja disediakan oleh pihak Puskesmas,” sela Karmin sambil menyodorkan kresek berwarna hitam kepada Nur Rahman.


“Terima kasih,” jawab Nur Rahman sambil memunguti satu persatu pakaian Rendi dari dalam timba untuk dimasukkan ke dalam kresek pemberian Karmin barusan.


Sementara Nur Rahman membungkus pakaian Rendi ke dalam kresek hitam, Pak Ibnu dan kedua anak buahnya kembali menghadap ke arah jenazah Rendi yang sudah dikafani. Mereka mengirimkan doa kepada arwah Rendi tersebut.


Nur Rahman yang sedang memasukkan satu persatu pakaian Rendi ke dalam kresek hitam menjadi terkejut karena ia menemukan benda aneh di dalam saku celana Rendi. Karena penasaran ia pun memasukkan tangannya ke dalam saku celana milik temannya yang sudah meninggal itu dan ia pun mengeluarkan isinya yang berbentuk bulat.


“Ya Tuhan! Ternyata ini mainan lato-lato. Mungkin Rendi ingin membelikan mainan lato-lato ini untuk kedua adiknya,” gumam Nur Rahman dengan perasaan sedih.


Pemuda itu tak bisa membayangkan betapa kehilangannya ibu dan kedua adiknya atas kepergian Rendi untuk selama-lamanya.


Nur Rahman pun memasukkan kedua mainan lato-lato itu ke dalam tas selempangnya. Ia berencana untuk memberikan mainan itu nanti setelah bertemu dengan kedua adik almarhum.


Setelah menemukan mainan tersebut, Nur Rahman pun penasaran dan merogoh semua saku yang ada di pakaian temannya itu dan usahanya tidak sia-sia karena ia menemukan secarik kertas yang merupakan struk pembelian kedua mainan lato-lato tersebut. Di dalam struk tersebut tertulis dengan lengkap alamat dan nomor telepon toko yang menjual kedua mainan tersebut. Nur Rahman juga memasukkan struk pembelian tersebut ke dalam tasnya. Setelah itu pemuda itu pun melanjutkan mencari benda-benda yang lain, tapi ia tidak menemukan apa-apa lagi.


Tepat setelah ia berhasil memasukkan semua pakaian terakhir yang dikenakan oleh Rendi ke dalam kresek, mobil ambulans yang akan mengantarkan jenazah Rendi datang ke Puskesmas tersebut. Alarmnya memang tidak dinyalakan, tapi lampu sirinenya tetap dinyalakan sehingga kedatangan mobil ambulans tersebut ke Puskesmas langsung diketahui oleh orang-orang yang berada di sana karena melihat pantulan sorot lampunya yang berkedap-kedip.


Lima menit kemudian, polisi temannya Kevin datang bersama seorang petugas Puskesmas ke ruang jenazah untuk menjemput jenazah Rendi. Nur Rahman dan ketiga temannya pun membantu memindahkan jenazah Rendi dari ruang jenazah menuju ke dalam mobil ambulans.


“Monggo langsung berangkat saja, Pak Sanusi!” perintah polisi yang bertugas di sana kepada sopir ambulans tersebut.

__ADS_1


“Siapa yang mau menemani saya naik ambulans? Pak Ridwan atau Mas-Mas ini?” tanya Pak Sanusi.


“Biar saya saja, Pak Sanusi,” jawab polisi yang biasa dipanggil ‘Pak Ridwan’ itu.


“Pak Ridwan tahu lokasi tujannya?” tanya Pak Sanusi.


Pak Ridwan menggelengkan kepalanya.


“Saya tidak tahu, Pak Sanusi. Tapi, kita berangkanya bareng mereka ini, kan?” tanya Pak Ridwan.


“Iya sih, Pak Ridwan. Tapi alangkah lebih baik kalau yang menemani saya yang sudah tahu lokasi pengantarannya biar lebih cepat sampai. Ngomong-Ngomong, apakah Mas-Mas ada yang mau menemani saya naik ambulans karena Pak Ridwan ini tidak tahu lokasi pengantarannya?” ucap Pak Sanusi pada Nur Rahman dan ketiga temannya.


“Yang mengantar duduk di depan apa di belakang?” tanya Nizwar dengan polosnya.


“Mau duduk di depan boleh, mau duduk di belakang juga boleh! Suka-Suka masnya saja. Tapi, kalau duduk di belakang ntar ngasih tahu arahnya gimana?” sahut Pak Sanusi dengan nada ramah.


“Biar saya saja yang menemani Pak Sanusi!” Nur Rahman menawarkan diri kepada sopir ambulans tersebut.


“Alhamdulillah. Ya sudah ,monggo! Kita langsung berangkat saja, ya? Takutnya nanti ada pasien lain yang membutuhkan mobil ambulans ini. Maklum Puskesmas pinggiran hanya mendapatkan jatah satu mobil ambulans untuk semua kebutuhan pasien Puskesmas ini,” ucap Pak Sanusi dengan ramah.


“Monggo!” sahut Nur Rahman.’


Akhirnya mereka pun berangkat mengantarkan jenazah Rendi ke rumahnya. Pak Sanusi naik ambulans ditemani oleh Nur Rahman, sedangkan Pak Ridwan yang semula mau menemani Pak Sanusi pun beralih ikut naik mobil Pak Ibnu.


Mobil ambulans pun melaju memecah dinginnya jalan pada saat dini hari di kota kecil tersebut. Setelah berjalan selama beberapa waktu, akhirnya mobil ambulans tersebut sampai di Intermart yang berangkatnya tadi disinggahi oleh Nur Rahman dan teman-temannya. Di seberang jalan Intermart tersebut terdapat sebuah rumah sederhana yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya selama dua tahun lebih. Pada saat mobil ambulans itu lewat di depan rumah tersebut, kondisi di sana yang biasanya sepi dan gelap pada saat itu menjadi ramai dan terang. Keramaian itu terjadi karena ada polisi dan tim forensik yang sedang berada di sana atas perintah Kapten Suhermanto.


Pak Kevin dan Pak Makhrus telah berhasil menemukan tulang kerangka berukuran anak kecil di dalam lemari tua yang sudah mulai dimakan oleh rayap di dalam rumah tersebut. Tentu saja Pak Makhrus mejadi histeris saat pertama kali melihat tulang-tulang kerangka itu. Ternyata informasi yang ia terima dari arwah anaknya melalui raga Nur Rahman terbukti benar adanya. Tim forensik pun langsung mengumpulkan tulang kerangka itu untuk diobservasi lebih lanjut. Apa dan siapa yang telah tega melakukan kejahatan pembunuhan terhadap anak kecil tersebut.


Pada saat mobil ambulans lewat di depan rumah tersebut, Nur Rahman melihat arwah anak Pak Makhrus itu melambaikan tangan ke arahnya dari kejauhan. Nur Rahman pun hanya bisa membalas tersenyum kepada arwah anak kecil itu. Ia senang karena melihat wujud arwah anak kecil itu sudah tidak seburuk sebelumnya. Malah semakin lama arwah anak kecil itu semakin transparan. Nur Rahman menyimpulkan bahwa tidak lama lagi arwah anak kecil itu akan pergi meninggalkan dunia ini.


“Senyum sama siapa, Mas?” tanya Pak Sanusi.

__ADS_1


“Nggak ada, Pak,” jawab Nur Rahman berbohong.


“Oh ya, siapa nama Mas?” tanya Pak Sanusi lagi.


“Nur Rahman, Pak,” jawab pemuda itu.


“Teman atau saudaranya mas yang di belakang?” tanya Pak Sanusi lagi.


“Teman, Pak. Oh ya, Pak Sanusi sudah lama menjadi sopir ambulans?” Nur Rahman balik bertanya.


“Hm … baru dua belas tahun, Mas Nur,” jawab Pak Sanusi sambil melempar senyuman.


“Dua belas tahun itu bukan baru lagi, Pak. Ibaratnya sudah lebih tua dari usia mobil ambulans ini,” protes Nur Rahman.


“Iya, Mas. Mobil ambulans yang lama sudah rusak makanya diganti dengan yang ini. Tapi, sopirnya tetap saya. Yah, mau gimana lagi, cita-cita saya sebenarnya mau jadi sopir pribadi pengusaha atau pejabat. Ealah malah jadi sopirnya orang mati,” jawab Pak Sanusi berkelakar.


“Ya, disyukuri saja, Pak. Pengusaha atau pejabatnya nanti kalau sudah mati, Pak Sanusi juga yang antar, kan?” ledek Nur Rahman.


“Ya ya ya … masuk akal, Mas Nur!” sahut Pak Sanusi dengan renyahnya.


“Oh ya, Pak! Selama menjadi sopir ambulans, apakah Pak Sanusi pernah mengalami kejadian aneh?” tanya Nur Rahman.


“Hm … ada, sih. Kenapa, Mas?” tanya Pak Sanusi.


“Cerita dong, Pak! Biar nggak ngantuk di jalan. Perjalanan kita masih lama,” jawab Nur Rahman.


“Saya sebenarnya malas mengungkit-ungkit kejadian seram itu. Soalnya kalau ingat kejadian itu saya jadi merasa ngeri lagi, Mas!” timpal Pak Sanusi.


Nur Rahman tidak menyahut. Ia hanya memandangi wajah Pak Sanusi saat berbicara. Ia berharap pria di depannya tidak mengurungkan  niatnya untuk menceritakan pengalamannya selama menjadi sopir ambulans terhadapnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya, ya?


__ADS_2