TITISAN MARANTI

TITISAN MARANTI
MAHASISWA KOTA SEBELAH


__ADS_3

Pukul setengah delapan malam, seorang remaja sedang berdiri di pinggir jalan dengan membawa tas ransel yang isinya cukup berat. Beberapa menit sebelumnya remaja tersebut diantar oleh salah satu tetangganya dari rumahnya menuju jalan raya.


“Hati-Hati di jalan ya, Gus! Naik bis yang enak saja biar kamu nggak mabuk,” pesan ibunya.


“Inggih, Bu.”


Bagus adalah sala satu mahasiswa yang berasal dari kabupaten di luar kampusnya. Dua minggu sekali Bagus memilih untuk menghabiskan akhir pekan di kampung halamannya. Toh, jarak antara rumah dan kampusnya bisa ditempuh dalam waktu dua jam saja. Sebenarnya Bagus lebih senang naik kereta api. Selain tiketnya murah, ia juga tidak perlu takut mengalami mabuk kendaraan. Penyakit yang satu itu sulit untuk dihindari pemuda itu meskipun ia sudah mengkonsumsi pil anti mabuk sebelumnya. Makanya ibunya berpesan untuk naik bis yang bagus agar ia bisa meminimalisir penyakitnya itu. Kenapa ibunya berpesan begitu? Karena Bagus sudah kehabisan tiket kereta api. Memang, tiket kereta api lokal di hari Minggu sangat sulit didapat dan sering kehabisan stok.


Suasana di jalan raya tempat Bagus menunggu bis saat itu cukup sepi. Selain penerangan jalan yang minim, rumah-rumah yang tak berpenghuni juga menambah kesunyian tempat tersebut. Bagus juga sebenarnya tidak betah berlama-lama berdiri di tempat itu, tapi demi menunggu kendaraan ia rela melakukannya.


Tiiiiiin … Tiiiiiiiiin …..


“Ber …. Taluuuun …,” suara kondektur bis dengan sangat keras memanggil-manggil Bagus yang sedang berdiri di pinggir jalan.


Pemuda itu melirik sejenak ke arah bis antar kota yang terlihat jelek tersebut. Orang-Orang di sana sering menjuluki bis tersebut dengan nama ‘Bis Bombay’ yang mengingatkan orang yang mendengarnya terhadap kendaraan umum di film Bollywood.


Bagus menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda penolakannya terhadap tawaran kondektur tersebut. Tampak raut wajah kekecewaan ditunjukkan oleh kondektur bis melihat reaksi cuek pemuda itu.


“Mas, ini bis terakhir! Di belakang sudah tidak ada bis lagi,” teriak kondektur bis dengan cukup keras. Sementara bis sengaja berhenti tepat di sebelah pemuda itu.


Sudah menjadi hal yang biasa bagi calon penumpang itu tidak menggubris ajakan kondektur bis apabila ingin menolak tawarannya. Begitu pula dengan Bagus, ia tidak menoleh sedikit pun ke arah kondektur bis yang sedang berusaha merayunya. Pandangannya tetap lurus ke depan menunggu bis bagus yang ia idam-idamkan itu.


“Berangkat, Pir! Dibilangi nggak percaya!” omel kondektur bis sambil menyuruh sopir bis untuk berangkat.


Entah sengaja atau tidak, asap yang keluar dari knalpot bis tersebut sangat banyak saat meninggalkan Bagus. Asam berwarna hitam pekat itu terang saja membuat Bagus mual.


“Duh, untung saja aku tidak naik Bis Bombay barusan. Wong, kena bau asapnya saja aku langsung mual,” ucap Bagus pada dirinya sendiri.

__ADS_1


“Terakhir … Terakhir … dipikirnya aku nggak tahu kalau itu hanya trik kondektur bis untuk mengelabui calon penumpang supaya mau ikut,” gumamnya.


Satu jam pun berlalu dan saat ini sudah pukul setengah sembilan malam. Namun, tak juga muncul bis yang ia tunggu. Sementara suasana di sekitar tempat tersebut semakin mencekam saja. Pemuda tersebut mulai berpikir apakah ucapan kondektur bis tadi benar adanya.


“Duh, bagaimana kalau kondektur bis tadi tidak berbohong? Bagaimana aku bisa kembali ke kosan malam ini? Apakah aku harus kembali ke rumah? Tapi, besok ada kuliah pagi dan killer banget dosennya. Bisa dimakan mentah aku kalau sampai tidak ikut kuliah.” Pemuda tersebut kalut dengan pikirannya.


Angin berhembus dengan semilir menembus pori-pori kulit pemuda itu. Ada perasaan tidak nyaman mulai dirasakan oleh pemuda itu berdiri terlalu lama di tempat sepi itu. Terlebih kendaraan yang lalu lalang di tempat tersebut mulai sepi. Dalam rasa keputusasaan yang mulai mendera, tiba-tiba muncul kendaraan roda empat dengan ukuran besar dan lampu sorot yang sangat jauh jangkauannya memecah kegelapan jalan yang ada di hadapan kendaraan tersebut sejauh belasan meter.


Bagus langsung bersorak hatinya begitu melihat datangnya kendaraan tersebut dari kejauhan. Semakin dekat dengan posisinya berdiri semakin jelas pula bahwa itu adalah bis ber-AC yang memang sudah ia harapkan kehadirannya sejak sejam yang lalu. Bagus pun langsung memberi tanda untuk berhenti kepada bis tersebut dengan menggunakan tangan kirinya. Dan bis ber-AC itu pun berhenti tepat di sebelah pemuda itu.


Bagus naik ke atas bis melalui pintu depan. Saat ia naik ke atas bis, tidak ada kondektur yang membantunya untuk naik ke atas kendaraan tersebut. Ternyata di dalam bis itu tidak ada penumpang sama sekali. Hanya ada seorang sopir yang duduk di belakang kemudi dan seorang kondektur bus yang duduk di kursi paling belakang. Bagus pun dengan bebas memilih kursi yang ia inginkan. Pemuda itu pun memilih untuk duduk di kursi nomor dua dari depan.


“Jangan duduk di situ, Mas! Sudah ada yang pesan.” Teriak kondektur bis sambil berjalan mendekat ke arahnya.


Bagus cukup terkejut dengan teguran kondektur itu. Tapi, ia harus menuruti ucapan pria itu. Di samping karena ia tahu yang berkuasa di dalam bis adalah kondektur, ia juga khawatir kalau harus berselisih paham dengan pria tersebut. Mengingat tidak ada penumpang lain di kendaraan itu.


“Iya, Pak. Terima kasih.” Bagus menyahut pelan.


“Jalan, Pir!” teriak kondektur dengan keras kepada pak sopir.


Bagus pun meletakkan tas ranselnya di sebelah kursinya. Toh, masih belum ada penumpang lain di sebelahnya. Nanti kalau sudah ada orang yang mau memakai kursi di sebelahnya, tentunya pemuda itu harus memindahkan tas ranselnya itu. Bis pun berjalan dengan kecepatan cukup tinggi. Ya, bis yang harga tiketnya dua kali lipat dari tiket ‘Bis Bombay’ itu memang terkenal dengan kecepatannya yang luar biasa. Bagi calon penumpang yang menginginkan efektivitas waktu, maka akan lebih memilih naik bis ini meskipun harus membayar lebih mahal.


Bagus masih merasa belum nyaman menjadi penumpang satu-satunya di bis tersebut. Ia masih khawatir akan keselamatannya. Jadi, meskipun ia sebenarnya sudah sangat mengantuk, ia memilih untuk tetap terjaga. Sesekali ia menoleh ke arah belakang untuk memperhatikan gerak-gerik kondektur yang duduk di kursi paling belakang.


“Ciiiiiit ….” Bis tiba-tiba mengerem dan berhenti di tepi jalan.


Nur Rahman menoleh ke arah pintu belakang. Ada seorang pemuda yang sedikit lebih tua darinya naik ke atas bis. Pemuda itu melempar senyuman ke arah Bagus. Bagus pun membalasnya dengan ramah.

__ADS_1


“Saya duduk di sini saja …,” pinta pemuda tersebut kepada kondektur.


“Silakan …,” sahut kondektur dengan nada dingin.


Bagus sebenarnya merasa agak aneh karena dari sekian banyak kursi kosong, kenapa pemuda itu harus memilih untuk duduk di sebelahnya. Tapi, ia tidak berani protes kepada kondektur karena takut kondektur itu akan marah kepadanya. Dengan berat hati, Bagus pun memindahkan ranselnya ke depan kakinya.


“Mau ke kampus di kota sebelah, ya?”


“Iya …,”


“Masih jauh perjalanannya. Perkenalkan nama saya Bayu …”


“Nama saya Bagus.”


Entah kenapa mengobrol dengan pemuda itu membuat Bagus merasa nyaman dan rasa takutnya pun semakin lama semakin berkurang. Dari obrolan itu Bagus pun megetahui bahwa Bayu usianya empat tahun di atasnya dan saat ini dia bekerja di salah satu perusahaan perkebunan di kota tempat kampusnya berada.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, Bagus pun merasa mengantuk sekali dan ia tidak mampu untuk menahan dirinya untuk tidak tertidur. Entah berapa lama pemuda itu tertidur, ia terbangun karena goncangan kendaraan yang sedang ia naiki. Saat pemuda itu membuka matanya ia baru sadar bahwa saat ini bis yang ia naiki sedang menapaki jalan berliku di gunung. Yang membuat pemuda itu lebih heran lagi, bis yang semula hanya berisi dua penumpang sudah penuh semua kursinya.


Bagus pun mencoba memperhatikan satu per satu penumpang yang posisinya dekat dengannya. Semuanya tertidur pulas. Hanya dia, Bayu, dan kondektur itu yang masih terjaga.


“Senyenyak apa sih tidurku sampai aku tidak sadar ketika penumpang sebanyak ini naik ke atas bis?” pikir Bagus.


Saat pemuda itu berpikir dengan keras, tiba-tiba Bayu berbisik di telinganya.


“Gus, jangan tidur lagi!”


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2