TITISAN MARANTI

TITISAN MARANTI
KRITIS


__ADS_3

Lokasi paling dekat dengan rumah Mbah To adalah Puskesmas. Kalau rumah sakit cukup jauh dari desa itu. Makanya Pak RW memilih untuk membawa perempuan tua itu ke Puskesmas saja. Dikhawatirkan kalau semakin lambat penanganannya maka akan membuat nyawa Mbah To semakin tidak tertolong. Toh, seandainya peralatan di Puskesmas tidak memadai maka dipastikan Mbah To akan dirujuk ke rumah sakit. Bedanya, Mbah To nantinya dipindahkan dengan pengawasan langsung dari pihak Puskesmas.


Selama di perjalanan, Pak RW juga menghubungi Cak Warno. Pria yang merupakan anak tunggal dari Mbah To itu pun terkejut setelah mendengar berita tentang kondisi ibunya tersebut. Bahkan pada detik itu juga Cak Warno memutuskan untuk pulang ke rumah untuk menemui ibunya.


“Pak RW, saya titip ibu, ya? Tolong berikan pertolongan terbaik untuk ibu saya! Saya langsung pulang ini, Pak RW. Saya akan pulang naik pesawat,” ucap Cak Warno sambil berderai air mata.


“Iya, No. Kamu hati-hati di jalan. Kami akan mengupayakan yang terbaik untuk ibumu. Kamu tenang di jalan, ya? Dan selalu berdoa untuk kesehatan ibumu!” sambung Pak RW.


“Iya. Terima kasih, Pak RW,” jawabnya.


Sesampai di Puskesmas, Mbah To langsung dimasukkan ke bagian gawat darurat. Tidak ada siapa pun dari keempat orang itu yang diperbolehkan masuk ke dalam unit gawat darurat tersebut. Mereka berempat hanya bisa menunggu di luar ruangan dengan perasaan yang tidak menentu. Dokter dan perawat nampak keluar masuk ruangan itu dengan raut wajah tegang dan tanpa senyuman. Sepertinya kondisi Mbah To saat itu sedang kritis.


Mereka berempat tidak ingin mengganggu konsentrasi para tenaga medis yang sedang bertugas. Mereka hanya menunggu kabar baik dari para tenaga kesehatan di sana. Setelah hampir satu jam-an berada di tempat tersebut, salah satu dokter memanggil perwakilan dari mereka berempat ke ruang dokter. Pak RW dan Pak RT yang berangkat, sedangkan Nur Rahman dan Karjo tetap menunggu di tempat tersebut.


“Nur, aku ke toilet dulu, ya?”ujar Karjo.


“Iya, Cak Jo,” sahut Nur Rahman.


Duduk sendirian di teras Puskesmas pada malam hari seperti itu cukup membuat perasaan tidak nyaman. Terlebih saat memikirkan kondisi Mbah To yang penuh ketidakpastian. Beberapa saat duduk sendirian seperti itu, tiba-tiba Nur Rahman dikejutkan dengan kemunculan harimau putih di sebelahnya.


“Auuuum ….” Suara auman harimau putih itu menggelegar di telinga pemuda itu.


“Astagfirullah!” pekik pemuda itu.

__ADS_1


Harimau putih itu dengan santainya berjalan mendekati pemuda itu. Terang saja pemuda itu langsung bersiaga untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Namun, pemuda itu sadar bahwa hanya ia yang bisa melihat sosok binatang buas itu. Jadi, kalau sampai ia berulah, maka orang-orang bisa menganggapnya sudah tidak waras.


Baru saja Nur Rahman akan menghindar dari harimau putih itu. Hewan gaib itu sudah merubah dirinya menjadi sesosok kakek tua yang tentunya jauh lebih menenangkan untuk dilihat oleh pemuda itu.


“Siapa Anda?” tanya Nur Rahman pada kakek tua itu.


“Tenang, Anak Muda! Saya tidak bermaksud jahat kepadamu. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu untuk kamu. Karena hanya kamu yang bisa melihat saya selain Mbah To,” sahut kakek tua itu sambil duduk dengan bersimpuh di depan Nur Rahman.


“Apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku?” tanya Nur Rahman dengan suara sengaja dipelankan karena ia takut ada orang yang tiba-tiba lewat di dekatnya.


“Sebelumnya … perkenalkan nama saya Moka. Saya adalah penjaga Mbah To semenjak bapaknya Mbah To meninggal. Saya adalah penghuni alas utara yang pernah diselamatkan oleh bapaknya Mbah To yang bernama Ki Jana. Ki Jana ini dulu adalah petani yang sering pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dan sayur pakis untuk dijual ke pasar. Sedangkan saya adalah jin yang ditugaskan untuk menjaga kayu oleh orang Belanda. Suatu hari saat perang terjadi, jin dari kalangan pribumi menyerang jin yang sudah lama ditugaskan oleh centeng-centeng Belanda untuk menjaga kayu-kayu di hutan. Alhasil, saat itu saya terluka dalam dan hampir mati. Untunglah ada Ki Jana yang menemukan saya dan ia juga menyembuhkan luka-luka yang saya alami. Sejak saat itu saya berjanji untuk melindungi Ki Jana seumur hidupnya dan anak keturunannya. Sebelum Ki Jana meninggal, beliau mengatakan yang sebenarnya kepada Mbah To bahwa saya akan menjaga Mbah To seumur hidup dan juga anak turunnya. Saat itu Mbah To bersedia. Dan sekarang, kalau melihat kondisi Mbah To, sepertinya beliau juga akan pergi menyusul Ki Jana. Jadi, saya butuh untuk berkomunikasi dengan anaknya Mbah To yang bernama Warno,” tutur harimau putih bernama Moka itu.


“Bagaimana kalau Cak Warno tidak mau kamu jaga?” tanya Nur Rahman.


“Kalau memang kamu benar-benar menjaga Mbah To, kenapa kamu tidak bisa melindunginya saat ada dua orang yang berbuat jahat pada perempuan tua itu?” cecar pemuda itu.


“Sudah setahun ini Mbah To menolak untuk saya jaga dua puluh empat jam. Bahkan ia marah kalau sampai ketauan kalau saya diam-diam menjaganya dari kejauhan,” jawab Moka.


“Kenapa beliau marah?”


“Entahlah … sepertinya beberapa waktu belakangan beliau aktif mengikuti pengajian. Beliau bilang tidak mau lagi dijaga oleh saya. Saya sebenarnya sudah memarahi beliau. Saya bilang sekarang banyak orang jahat. Tapi, beliau tetap menolak. Alasannya beliau sudah tua dan ingin menjadi manusia pada umumnya,” jawab Moka serius.


“Terus? Di mana kamu saat kejadian itu terjadi?”

__ADS_1


“Kemarin saya meninggalkan beliau sendirian karena saya sedang ngambek padanya. Saya tidak tahu kalau bakal terjadi seperti ini.”


“Apa kamu tidak bisa menggunakan kekuatanmu untuk menyembuhkan Mbah To?”


“Saya sudah mencobanya, tapi tidak bisa. Mbah To sudah mengembalikan cincin tanda ikatan kami berdua.”


“Kalau cincin itu dipasang lagi di jarinya, apa kamu bisa menyelamatkannya?”


“Tidak. Harus Mbah To sendiri yang memintanya dari saya. Sedangkan saya tahu, saat ia masih belum pingsan, ia menolak untuk dipasangkan cincin itu ke jarinya.”


“Ya sudah. Nanti kalau Cak Warno datang, saya akan mencoba mengkomunikasikannya dengan beliau. Tapi, saya juga berharap kalau Cak Warno juga akan menolakmu.”


“Jangan bilang begitu. Hal itu justeru membuat saya sedih.”


“Kamu ngomong sama siapa, Nur?” sapa Karjo secara mendadak.


Tentu saja Nur Rahman terkejut dengan kehadiran tetangganya itu.


“Eh … anu, Cak Jo. Aku sedang menghapalkan pertanyaan-pertanyaan untuk klien baruku di kantor.” Akhirnya pemuda itu pun terpaksa berbohong .


Kakek tua sudah menghilang dari pandangan Nur Rahman. Entah ke mana perginya. Mungkin ia sedang menjaga Mbah To di dalam ruang UGD.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Kalau kamu jadi Warno, mau atau tidak dijaga oleh Moka?


__ADS_2