
Nur Rahman dan Bayu sama-sama terkejut karena aksi mereka diketahui oleh kondektur bus yang saat ini sudah berjalan mendekati mereka berdua. Keduanya menjadi panik dan tidak menyangka hal itu akan terjadi pada mereka berdua.
“Buruan kamu melompat ke ke luar sebelum terlambat?” Bayu menyuruh Nur Rahman.
“Bagaimana dengan kamu, Bayu? Mereka sudah mengetahui identitasmu? Kamu juga berada di dalam bahaya, Bayu?” protes Nur Rahman sambil berusaha mengajak Bayu untuk pergi.
“Aku tidak apa-apa … Aku sudah terperangkap di sini sejak lama. Mereka tahu atau tidak tentangku, tidak ada bedanya bagiku.” Bayu berusaha menenangkan Nur Rahman.
“Tidak, Bayu! Kamu tidak bisa selamanya berada di tempat ini. Kamu harus keluar dari tempat ini bersamaku. Aku tidak akan pergi kalau kamu juga tidak pergi!” teriak Nur Rahman dengan cukup kencang sehingga suaranya terdengar oleh semua arwah yang berada di dalam bus tersebut.
Setelah mendengar keributan yang ada di bagian belakang bus, semua penumpang bus tiba-tiba berdiri dan melangkah secara beriringan ke arah mereka berdua. Wajah-Wajah mereka terlihat sangat menyeramkan bagi siapa pun yang melihatnya. Mereka semua tidak rela Nur Rahman dan Bayu pergi dari bus tersebut.
“Cepat kamu pergi sebelum terlambat! Mereka semakin dekat!”
“Tidak, Bayu! Aku tidak akan pergi tanpamu!”
Bayu berusaha mendorong Nur Rahman sedangkan Nur Rahman berusaha menarik tangan Bayu. Dan arwah-arwah saat ini dekat posisinya dengan mereka berdua.
“Arrrrrrgh!” Arwah-Arwah itu akhirnya bisa menggapai tubuh Bayu.
Nur Rahman dengan segenap tenaganya menarik kuat-kuat lengan Bayu, sehingga pemuda itu pun kehilangan keseimbangan. Tangan Bayu terlepas dari pegangan beberapa tangan arwah itu. Tubuh Bayu pun terlempar keluar bus menyisakan Nur Rahman yang masih berada di dalamnya. Giliran Nur Rahman yang berjibaku melawan arwah-arwah menyeramkan itu.
“Tidaaaaaaaak!!!!” Bayu berteriak dengan kencang dari luar bus.
Pemuda itu tidak peduli dengan tubuhnya yang luka-luka akibat terjatuh menghantam aspal. Sambil menahan sakit yang luar biasa, pemuda itu mengejar bus yang sedang membawa Nur Rahman di dalamnya. Dari luar bus terlihat bahwa Nur Rahman terus berjuang menghadapi serangan-serangan arwah penasaran itu.
“Rasakan ini arwah sialan!” teriak Nur Rahman sambil melayangkan bogem mentah kepada salah satu arwah yang ampir menggigitnya.
__ADS_1
Bug!
Kepala arwah itu langsung penyok begitu mendapat serangan dari Nur Rahman. Pegangan tangannya pun terlepas dari leher pemuda itu. Namun, hilang satu masih ada arwah-arwah yang lain yang gantian menyerang pemuda itu. Kali ini Nur Rahman menggunakan kakinya untuk menendang perut arwah bertubuh tambun itu.
Bruak!
Kaki Nur Rahman berhasil mengkoyak isi perut arwah gendut itu, sehingga arwah itu pun terjerembap ke belakang. Tidak cukup waktu bagi pemuda itu untuk merayakan kemenangannya karena dua tangan arwah ibu-ibu sudah berhasil memegangi kaki pemuda itu.
“Wuaaaaaaa!!! Tidak sopan kalian berdua ini!” teriak Nur Rahman sambil menghentakan kakinya pada dada kedua perempuan itu.
Dengan mudah arwah kedua perempuan itu dibuat pingsan oleh Nur Rahman.
Sekarang pemuda itu memiliki cukup jeda waktu untuk menarik napas karena arwah-arwah yang berada di dekatnya sudah binasa semuanya. Namun, ia tidak punya banya waktu lagi karena arwah-arwah yang lain sudah mulai berdatangan dengan gerakan lebih cepat ke arahnya. Pemuda itu sudah tidak memiliki banyak tenaga lagi untuk melawan mereka. Arwah-Arwah yang sedang berjalan ke arahnya saat ini jumlahnya jauh lebih banyak dari yang sudah ia kalahkan dan terlihat dari postur tubuhnya, mereka semua lebih kuat dan membahayakan. Arwah kondektur yang bertubuh tinggi besar berada di antara mereka.
Nur Rahman tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkna dirinya. Tiba-Tiba ia mengeluarkan sebuah botol dari tas kresek yang ia bawa sejak tadi. Pemuda itu kemudian menuangkan cairan dari dalam botol tersebut ke arah depan menuju ke tubuh salah satu arwah itu. Tercium aroma bensin yang menyengat di hidung tatkala semua is botol itu sudah dituangkan oleh pemuda itu. Kemudian dengan tersenyum pemuda itu menoleh ke arah arwah kondektur.
“Selamat tinggal, Pak Kondektur!” teriak Nur Rahman sambil menyalakan korek dan melemparkannya ke arah salah satu arwah yang ia siram dengan bensin.
“Arrrrrgh!!!” teriakan keras terdengar dari dalam bus sebelum akhirnya keseluruhan bus terbakar.
Nur Rahman berguling-guling di atas aspal setelah berhasil melompat dari dalam bus. Dengan tubuh yang kesakitan, pemuda itu menyaksikan bus itu terbakar dan meledak dengan hebat diiringi dengan teriakan arwah-arwah di dalamnya. Di dalam hati pemuda itu bersyukur karena usahanya untuk melenyapkan teror bus hantu yang sudah banyak menelan korban jiwa itu pun akhirnya usai juga.
Suasana gelap dan sunyi kemudian dirasakan oleh pemuda itu saat semuanya sudah berlalu. Ia berusaha mencari keberadaan Bayu , tapi ia tidak melihat batang hidung pemuda itu.
“Baaaaaay!!!!” teriak Nur Rahman memanggil-manggil nama pemuda yang sudah menolongnya barusan.
Tidak ada tanda-tanda kemunculan Bayu di tempat tersebut. Namun, tiba-tiba dari kejauhan pemudaitu melihat ada sorot lampu sepeda motor yang sedang berjalan menuju ke arahnya.Pemuda itu tidak punya waktu untuk bersembunyi dari motor itu. Tiba-Tiba pengendara motor itu menghentikan kendaraannya tepat di depan pemuda itu.
__ADS_1
“Mas Nur?” teriak seseorang yang suaranya cukup dikenal oleh pemuda itu.
Pengendara motor turun dari motornya dan menghampiri pemuda itu.
“Pak Sukar?” pekik Nur Rahman tidak percaya dengan kemunculan orang itu.
“Apa yang terjadi dengan Mas Nur?”
“Nanti saya ceritakan,Pak. Bapak mau ke mana?”
“Saya mau ke kota sebelah. Saudara saya sakit keras di sana. Sebaiknya Mas Nur ikut saya. Saya bawa Mas Nur ke Puskesmas. Mas Nur membutuhkan pertologan medis segera.”
“Iya, Pak Terima kasih.”
“Monggo, Mas Nur! Naik ke boncengan!”
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Pak Sukar pun membawa pemuda itu menuju Puskesmas yang letaknya di balik gunung tersebut. Pemuda itu sangat senang karena pertolongan datang tepat waktu. Ia tidak bisa membayangkan seandainya tidak ada pak Sukar. Ia harus berjalan menyusuri jalanan sepi gunung itu dalam keadaan terluka seperti itu. Sebenarnya ia juga kepikiran dengan Bayu, tapi ia tahu Bayu bukanlah manusia sepertinya, makanya ia tidak begitu memikirkan teman barunya itu.
“Mas Nur … Takdir itu sulit ditebak, ya?” ucap Pak Sukar sambil menyetir.
“Iya, Pak. Saya tidak menyangka akan bertemu Pak Sukar dalam keadaan seperti ini.”
“Begitulah, Mas Nur. Setiap melihat Mas Nur saya jadi teringat dengan Mas Rendi …”
“Apa maksud Pak Sukar berkata seperti itu?”
__ADS_1
Pak Sukar menyungging senyuman. Bulu kuduk Nur Rahman tiba-tiba merinding.
BERSAMBUNG