TITISAN MARANTI

TITISAN MARANTI
HUTANG BUDI


__ADS_3

Mbah dukun tiba-tiba terpental dari tempat duduknya bersamaan dengan kembang tujuh rupa yang bertebaran entah ke mana. Bagian wajah pria tua itu juga rusak seperti terkena luka bakar.


“Arrrrrrrgh!!!!,” teriak kesakitan pria tua dengan pakaian serba kumuh tersebut sambil memegangi mukanya yang menghitam.


“Kenapa, Mbah?” teriak Bu Maya panik melihat orang tua di depannya mengalami hal di luar dugaannya.


“Apa yang terjadi, Mbah?” Pak Hendri juga panik melihat pemandangan tak lumrah di depannya itu.


“Arrrrrrgh!!!” Mbah dukun tidak menggubris ucapan kedua orang muridnya itu.


Ia berkonsentrasi pada rasa sakit tak terkira yang sedang ia rasakan saat itu. Belum terjawab rasa penasaran di hati Bu Maya dan Pak Hendri, tiba-tiba terdengar pintu didobrak oleh seseorang dari belakang.


Bruak!


“Angkat tangan! Kalian bertiga ditangkap atas dugaan pembunuhan!” teriak seorang pria tegas dari arah belakang mereka.


Bu Maya dan Pak Hendri terkejut dengan kemunculan beberapa petugas polisi di tempat tersebut. Mereka berdua berusaha untuk lari dari tempat tersebut, tapi polisi-polisi itu dengan mudahnya mematahkan perlawanan mereka.


“Kami tidak bersalah!” Bu Maya meronta berusaha lepas dari pegangan para petugas.


“Diam! Silakan kalian berikan kesaksian kalian di kantor! Kalian ini sudah banyak menghabisi nyawa orang masih mau ngeles saja!” teriak Kapten Suhermanto membentak Pak Hendri dan Bu Maya.


*.


Sementara itu Pak Sukar sedang membonceng Nur Rahman di jalanan atas gunung yang tampak sepi tersebut.

__ADS_1


“Mas Nur … Kamu tidak takut berada di tempat sepi ini?” tanya Pak Sukar sambil mempercepat laju motornya.


“Kenapa Pak Sukar menanyakan hal itu?”


“Jawab saja, Mas! Mas Nur pasti takut, ya?”


“I-i-iya, Pak … Pak Sukar sendiri bagaimana?”


“Kalau aku sudah terbiasa, Mas. Saya sudah beberapa kali melakukannya. Jadi, saya sudah sedikit terbiasa.”


“Melakukan apa, Pak?”


“Dulu ada sepasang suami istri yang menjadi tangan kanan perusahaan perkebunan di kota sebelah. Nasib perusahaan berada di tangan sepasang suami istri tersebut. Suatu hari ada masalah keuangan pada perusahaan perkebunan tersebut dan berujung pada demonstrasi yang dilakukan oleh seluruh karyawan. Mereka menuntut pembayaran berbagai tunjangan yang sulit dihindari oleh perusahaan tersebut. Akhirnya sepasang suami istri tersebut ditugaskan oleh segenap petinggi perusahaan untuk menangani hal tersebut. Perusahaan berpura-pura melunak dan berjanji akan memberikan tunjangan sebagai tuntutan mereka. Pembayaran tuntutan mereka itu akan diberikan setelah mereka pulang dari kegiatan darmawisata tahunan.”


“Suami istri tersebut pun mengatur rencana agar bus yang dinaiki oleh karyawan dan keluarganya itu jatuh dari jurang di gunung ini. Mereka berdua berpura-pura ikut di dalam rombongan tersebut agar tidak dicurigai. Namun, mereka sengaja pergi dengan kendaraan terpisah. Mereka membawa serta anak mereka yang masih kecil. Sayangnya sesuatu di luar dugaan terjadi. Pada saat bus itu pulang dari kegiatan darma wisata, anak sepasang suami istri itu diam-diam pindah ke bus karena tertarik untuk bareng dengan anak-anak yang usianya sepantaran dengannya. Sepasang suami istri itu mengira anaknya sedang tidur di jok belakang. Padahal itu hanya tas ransel yang sengaja diserupakan seperti dirinya oleh anak itu agar ia tidak dimarahi oleh kedua orang tuanya.”


“Ya Tuhan … tega banget sepasang suami istri itu! Kenapa mereka sampai hati melakukannya?” Nur Rahman berseru dengan terkejut.


“Awalnya sepasang suami itu senang karena rencananya berjalan dengan matang. Namun, mereka baru sadar bahwa anak mereka satu-satunya juga turut menjadi korban di dalam bus tersebut. Mereka berdua pun menuruni jurang itu dan mencari keberadaan anak mereka. Dan, mereka menemukan anak semata wayang mereka sedang terluka parah. Mereka pun berusaha untuk membawa anak mereka itu menuju ke rumah sakit. Sayangnya, akibat kejadian itu anak semata wayang mereka harus mengalami koma yang sangat panjang. Bahkan sampai saat ini.”


“Apakah sepasang suami istri itu adalah …”


“Iya … Dia adalah Pak Hendri dan Bu Maya. Dan anak mereka itu bernama Bayu. Sejak saat itu Bayu tidak sadarkan diri di rumah sakit. Jiwanya terperangkap di gunung ini bersama arwah-arwah para korban itu.”


“Bagaimana Pak Sukar bisa mengetahui hal itu? Kenapa Pak Sukar tidak menceritakan hal tersebut kepada saya?”

__ADS_1


“Mas Nur … Perlu kamu tahu … sejak kecil saya ini sudah terbuang. Beruntung ada sepasang suami istri yang mau merawatku sejak kecil dan menganggap saya sebagai bagian dari keluarga mereka. Saya sudah berjanji untuk membalas semua kebaikan mereka sekeluarga kepada saya. Dan orang yang merawat saya itu adalah ayah dan ibu Pak Hendri.”


“Apaaaa???”


“Iya … Perlu Mas Nur ketahui. Sayalah sopir truk itu dan juga saya jugalah yang selalu membantu Pak Hendri dan Bu Maya untuk mendapatkan tumbal sebagai pengganti jiwa Mas Bayu. Termasuk jiwa temanmu, Mas Rendi.”


“Tidaaaaaak!”


“Mas Nur tidak perlu kaget begitu. Sebentar lagi Mas Nur juga akan menyusul Mas Rendi ….”


lanjut ucap Pak Sukar sambil berusaha melompat dari joknya.


Sayangnya usaha pria tersebut sia-sia karena ada sepasang tangan yang tiba-tiba memegangi tubuh pria tersebut agar tetap tertahan di jok.


“Rendi?????” Nur Rahman memekik heran karena arwah sahabatnya tiba-tiba muncul di hadapannya.


“Buruan kamu melompat, Nur! Sebelum kamu juga ikut jatuh ke jurang bersama pria sialan ini!” ucap arwah Rendi sambil mendorong Nur Rahman agar melompat dari tempat duduknya.


Bruaaaaak!


Akibat dorongan arwah Rendi, tubuh pemuda itu pun jatuh terguling-guling di atas aspal. Sedangkan sepeda motor yang ditumpangi oleh Pak Sukar jatuh ke jurang dengan benturan yang sangat keras dan membuat Pak Sukar langsung tewas seketika saat itu juga.


*


Pukul enam pagi, dokter dikejutkan dengan siumannya seorang remaja yang sudah sekian tahun terbaring koma di rumah sakit tersebut. Pemuda itu tidak menyadari bahwa kedua orang tuanya saat ini sedang ditangkap oleh polisi dengan tuntutan berlapis.

__ADS_1


Sebelum berangkat, Nur Rahman sudah memberikan bukti-bukti kejahatan Pak Hendri dan Bu Maya kepada Kapten Suhermanto. Salah satunya Simcard yang ia temukan di warung Mbah To. Simcard tersebut adalah milik Pak Hendri yang jatuh tanpa sengaja di warung Mbah To saat ia dan istrinya mampir di sana setelah merekayasa pembunuhan Rendi. Tanpa sengaja saat ia menghubungi Pak Sukar, Mbah To mendengar pembicaraan mereka dan ia pun marah-marah pada Pak Hendri dan Bu Maya. Karena kesal dan tidak ingin rahasianya terbongkar, kedua orang itu pun mengikat Mbah To di bawah tempat tidurnya. Sementara mereka berusaha untuk melarikan diri. Dan dari sanalah kejahatan mereka pun terbongkar.


TAMAT


__ADS_2