
Tentu saja Bagus bingung dengan maksud perkataan Bayu tersebut. Ia menatap wajah pemuda itu dan tak sedikit pun ia menangkap nada bercanda dari raut wajah pemuda itu.
“Kenapa aku tidak boleh tidur lagi, Bay? Apa ada pencopet di dalam bus ini?” Pertanyaan itu meluncur dari mulut Bagus tanpa bisa ditahan lagi.
Bayu menatap balik mata Bagus dan kemudian ia pun menggeleng.
“Lebih dari itu, Gus. Nanti kamu akan tahu dengan sendirinya. Aku tidak bisa banyak membantumu. Tapi, tolong setelah ini kamu ikuti kata-kataku, ya? Aku tidak mungkin mencelakaimu.” Sahut pemuda itu sambil sesekali melirik ke arah kondektur yang sedang duduk di kursi paling belakang.
Saat itu Bagus masih belum bisa menangkap apa maksud dari semua perkataan Bayu. Semua terkesan misterius bagi pemuda itu.
“Gus … Habis ini ada tanjakan yang cukup tajam sebelum tikungan,” ucap Bayu kembali.
Bagus menyimak betul kata per kata yang keluar dari mulut pemuda itu. Ia ingin menyimak betul maksud dari omongan pemuda itu. Siapa tahu, tadi dia merasa blank karena kurang menyimak kata-kata pria di sebelahnya itu.
“Iya, aku tahu, Bay. Aku sudah sering lewat di sini. Sebentar lagi memang ada tanjakan curam. Dan setelah tanjakan curam itu ada turunan dengan jalan yang menikung. Memangnya kenapa dengan tanjakan itu?” Bagus berusaha mengorek informasi dari pemuda yang baru ia kenal itu.
Bayu tidak langsung menjawab. Ia malah mencolek lengan Bagus.
“Pura-Pura tidur, Gus! Kondekturnya mau memeriksa penumpang,” bisik Bayu secara tiba-tiba.
“Kenapa, Bay?” suara Bagus, tapi tercekat di tenggorokan karena ia melihat Bayu mendadak memejamkan matanya dan berakting tertidur di sebelahnya.
Bagus pun mengikuti omongan Bayu. Ia pun ikut berpura-pura tertidur. Tak ada yang bisa ia lihat dengan mata terpejam. Namun, ia dapat mendengar suara langkah kondektur itu lewat di sebelahnya. Entah kenapa, Bagus merasa takut ketika kondektur itu tepat berada di sebelahnya.
“Gus, buka matamu! Kondekturnya sudah ada di depan.” Suara Bayu dengan berbisik di dekat telinganya.
Bagus pun kembali membuka matanya. Lampu di dalam bis itu hanya beberapa watt saja, sehingga wajah-wajah penumpang yang lain tidak begitu terlihat dengan jelas. Tapi, dari posisinya Bagus dapat melihat kondektur bus saat ini sedang berada di dekat sopir.
“Ada apa sebenarnya, Bay?” tanya Bagus dengan berbisik.
Bayu menghela napas dalam.
“Gus, bus ini berbahaya!” jawabnya pelan.
__ADS_1
“Apa?” Bagus terbelalak mendengar jawaban Bayu. “Apa bus ini sedang dibajak, Bay?” tanya Bagus lagi.
“Bisa dibilang seperti itu, Gus. Maaf, aku tidak bisa mengatakannya dengan jelas kepada kamu karena hal itu akan membahayakanku. Mereka kalau sampai tahu tentang aku di sini maka aku bisa celaka.” Bayu berbisik dengan kalimat yang cukup panjang.
“Terus gimana, Bay?” Bagus bertanya dengan rasa takut.
“Aku sedang berusaha menyelamatkanmu, Gus! Kamu percaya sama aku, kan?”
“Kita bisa saling bekerja sama untuk sama-sama selamat, Bay. Siapa saja di sini yang harus kita waspadai?”
“Mereka banyak jumlahnya di sini, Gus. Bahkan aku sendiri tidak tahu yang mana dari mereka yang benar-benar penumpang atau komplotan penjahatnya.”
“Apa yang mereka kehendaki, Bay? Uang?”
“Bukan, Gus. Mereka menginginkan kematian para penumpang termasuk kamu.”
“APA????”
Bagus tercengang mendengar jawaban Bayu.
“Tidak, Bay! Aku yakin kalau penumpang di sini kompak, kita bisa melawan penjahat-penjahat itu!”
“Seperti yang sudah aku bilang sama kamu barusan. Aku tidak tahu siapa saja di sini yang benar-benar penumpang. Bisa saja hanya kita berdua?”
Kalimat terakhir Bayu membuat nyali Bagus seketika ciut. Bayangan akan kematian tiba-tiba membayang di pelupuk matanya.
“Bay, kamu tidak sedang nge-prank aku, kan? Jangan-Jangan karena aku tidur cukup lama makanya kamu merancang sebuah lelucon untuk aku.”
“Baguuuuuus … Baguuuuus … ngapain aku ngerjain kamu? Aku serius ini, Gus. Kita ini sekarang berada dalam bahaya besar.”
Bayu berusaha menunjukkan ekspresi wajah serius di hadapan mata Bagus. Bagus mencoba untuk menelisik ekspresi wajah pemuda di depannya dan lagi-lagi ia tidak melihat lelucon di wajah Bayu.
“Oke, Bay … Apa yang harus kita lakukan agar bisa selamat dari mereka?” Sepertinya Bagus sudah sepenuhnya percaya dengan ucapan Bayu.
__ADS_1
“Kita harus turun dari bus ini begitu ada kesempatan, Gus.”
“Jangan gila kamu, Bay! Kita bisa mati konyol kalau harus melompat dalam keadaan bus berjalan.”
“Lantas kapan kita bisa ke luar?”
“Sebentar lagi ada tikungan di depan. Bus ini akan melambat di tikungan itu. Pada saat itu kamu buru-buru berlari ke arah pintu belakang dan melompat ke luar.”
“Aku? Kenapa kita melompat bareng saja?” Bagus mempertanyakan instruksi Bayu yang menurutnya aneh tersebut.
“Tidak bisa, Gus! Kalau kita melompat bareng, maka aku akan ketahuan kalau sudah membantumu dan itu akan sangat membahayakanku di masa depan. Mereka akan memburuku.”
“Terus, kamu akan melompat di mana?”
“Aku akan melompat di tikungan yang selanjutnya.”
“Bagaimana kalau dibalik? Kamu dulu yang melompat baru kemudian aku?”
“Kamu tidak percaya sama aku ya, Gus? Tikungan yang selanjutnya jauh lebih sulit. Aku yakin kamu tidak akan bisa melakukannya. Plis! Percaya sama aku. Kalau sampai aku membohongimu. Kamu cari aku seumur hidup kamu dan kamu hajar saja aku. Kamu sudah hapal wajahku, kan?”
“Oke … aku pegang kata-katamu, Bay! Awas kalau ternyata kamu hanya ngerjain aku. Aku akan mencarimu sampai ke ujung bumi sekali pun. Akan ingat kalau kamu pernah nge-prank aku sampai aku terdampar di atas jalanan gunung.”
“Oke … Kamu bisa pegang itu.”
Selanjutnya mereka berdua berkonsentrasi pada jalanan. Sebentar lagi bus yang mereka naiki akan sampai di tikungan yang dimaksudkan oleh Bayu. Bayu membantu Bagus untuk mengambil ancang-ancang dengan tasnya. Mereka berdua juga sambil memperhatikan kondektur dan penumpang yang lain.
Entah mengapa tiba-tiba Bagus mencium aroma tidak sedap dari dalam bus tersebut. Bus sudah sampai di tikungan tajam itu. Bagus dengan kecepatan penuh berlari menuju pintu. Kondektur dan beberapa penumpang terkejut dengan pergerakan pemuda itu.
“Hei …. Mau ke mana?” teriak kondektur dengan suara yang berat.
Sudah terlambat. Bagus sudah berhasil melompat keluar dari bus dan ia sempat berguling di pinggir aspal karena kurang keseimbangan. Namun, pemuda itu sempat menoleh ke arah Bayu dan penumpang yang lain. Saat itu barulah pemuda itu menyadari bahwa yang ada di dalam bus yang baru ia naiki bukanlah manusia biasa. Melainkan arwah-arwah bertampang pucat dan menyeramkan. Ia sempat melihat Bayu tersenyum kepadanya, tapi wajah bayu juga pucat meskipun tidak semenyeramkan yang lain.
Bus itu tidak berhenti, melainkan terus menanjak ke atas. Begitu sampai di puncak gunung, ada sebuah truk yang mendorong bus tersebut dari belakang dan nahasnya bus itu pun terguling dan jatuh ke bawah jurang yang dalam.
__ADS_1
BERSAMBUNG