
Nur Rahman mampir dulu ke beberapa tempat sebelum ia berangkat ke luar kota. Ia menitipkan motornya di salah satu tempat yang ia kunjungi. Sementara ia sendiri berangkat ke luar kota naik bus antar kota. Ia sengaja berangkat naik bus kota karena ia memiliki rencana tersendiri dengan naik bus antar kota.
Nur Rahman naik bus antar kota selama beberapa jam untuk sampai di kota tujuannya. Sesampai di sana, pemuda itu langsung naik ojek untuk bertemu dengan Pak Sukar di masjid. Kedatangan Nur Rahman di masjid tersebut disambut hangat oleh Pak Sukar. Setelah menunaikan salat, Pak Sukar mengajak Nur Rahman ke rumahnya.
“Mas Nur, ada keperluan apa sampean datang lagi ke sini?”
“Pak Sukar. Sebelumnya saya ingin menyampaikan kepada Bapak bahwa Rendi itu sudah meninggal dunia akibat kecelakaan beberapa hari yang lalu”
“Innalillahi wainnailaihi rojiuuun … Kok Mas Nur nggak bilang ke saya kemarin waktu ke sini?”
“Saya sebenarnya sudah mau bilang, Pak. Tapi, saya perlu merahasiakan terlebih dahulu tentang kematian Rendi karena kedatangan saya ke desa ini sebenarnya untuk menyelidiki kematian teman saya itu.”
“Loh, maksud Mas Nur, Rendi itu tidak meninggal karena kecelakaan biasa?”
“Iya, Pak Sukar. Ada orang yang memang merencanakan kematiannya.”
“Ya Tuhan!!! Siapa yang tega berbuat senista itu kepada pemuda sebaik Mas Rendi?”
“Ada, Pak. Nanti Bapak juga akan tahu sendiri.”
“Apakah pelakunya ada disekitar desa ini Mas Nur?”
“Pak Sukar … Bolehkah saya bertanya-tanya tentang pensiunan yag tinggal di pinggir sawah itu?”
“Maksud kamu Pak Hendri?”
“Iya, Pak Sukar.”
“Apa yang mau kamu tanyakan tentang pensiunan pegawai perkebunan tersebut?”
“Dia tinggal sama siapa saja di rumah itu, Pak?”
“Setahu aku dia itu tinggal sama istrinya yang bernama Bu Maya dan anaknya. Tapi, anak mereka itu sekarang sedang sakit. Sakitnya sudah lama sekali.”
__ADS_1
“Bagaimana hubungan mereka dengan masyarakat di sini, Pak?”
“Mereka cenderung tertutup, Mas. Jarang orang yang berkomunikasi dengan mereka. Jangan-Jangan Mas Nur mencurigai mereka, ya?”
“Mereka punya truk di rumahnya, Pak?”
“Hm … Kamu kok tahu, Mas Nur?”
“Iya, saya mendapatkan info dari seseorang. Oh ya? Maukah Pak Sukar mengantar saya untuk mengintai rumah Pak Hendri itu? Saya butuh gambar truk yang mereka miliki.”
“Duh, saya kok jadi takut begini ya, Mas?”
“Pak Sukar nggak perlu takut. Saya hanya perlu mengambil gambar truk Pak Hendri saja. Setelah itu kita langsung baik. Pak Sukar mau kan mengantar saya ke sana?”
“Hm … Iya deh, tapi saya jangan dilibatkan ya Mas?”
“Tenang! Pak Sukar cukup menemani saya saja.”
Pak Sukar pun mengantar Nur Rahman untuk mengintai rumah Pak Hendri. Pria itu benar-benar was-was. Takut Pak Hendri atau Bu Maya memergoki mereka. Di samping rumah Pak Hendri memang ada truk yang sedang diparkir. Nur Rahman buru-buru memotret truk yang sedang diparkir itu. Setelah itu ia pun mengajak Pak Sukar kembali ke rumahnya.
“Pak Sukar nggak usah takut. Yang penting Bapak tidak cerita-cerita ke siapapun tentang saya. Saya akan menyerahkan foto ini dan barang bukti yang lain ke pihak kepolisian. Nanti, biar polisi yang menganalisa apakah Rendi dibunuh oleh Pak Hendri atau tidak.”
“Jujur, saya takut, Mas Nur!”
“Tenang, Pak Sukar! Oh ya, saya menumpang salat Magrib di sini, ya? Nanti saya mau pulang setelah sala Magrib.”
“Iya, Mas. Menginap juga tidak apa-apa.”
“Tidak, Pak Sukar. Lain kali saja karena foto dan barang bukti yang saya bawa ini harus saya serahkan segera ke kantor polisi.”
Setelah azan Magrib berkumandang, mereka pun bersama-sama berjalan menuju masjid untuk menunaikan salat Magrib. Pada saat itu cukup banyak warga yang ikut salat berjamaah. Nahasnya, ketika Nur Rahman selesai menunaikan salat Magrib, ia kehilangan tas ranselnya. Semua warga yang ikut salat berjamaah membantu pemuda itu mencari tas ranselnya, tapi hasilnya nihil.
“Loh, gimana Mas Nur? Ada barang apa saja yang hilang?” tanya Pak Sukar.
__ADS_1
“Nggak apa-apa, Pak. Namanya juga apes. Yang hilang ada pakaian dan beberapa dokumen kantor. Untung handphone saya bawa masuk, jadi tidak ikut hilang.”
“Mas Nur jadi pulang sekarang atau mau menginap dulu di rumah?”
“Pulang saja, Pak! Kebetulan saa sudah mengirim pesan ke ojek yang tadi untuk menjemput saya.”
“Ya sudah kalau begitu. Hati-Hati di jalan, Mas Nur!”
“Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih atas bantuan Bapak.”
“Sama-Sama.”
Beberapa menit kemudian, ojek yang sudah dihubungi Nur Rahman datang untuk menjemput pemuda itu. Ia pun langsung naik ke atas boncengan dan meninggalkan desa tersebut. Ia naik ojek sampai di pinggir jalan raya. Ia sengaja minta diantar sampai di toko mainan yang pernah dikunjungi oleh Rendi. Ia membeli mainan untuk kedua adik Rendi.
“Pak, CCTV-nya itu berfungsi,ya?”
“Iya, Mas. Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Setelah itu Nur Rahman pun menunggu bus di pinggir jalan. Ia sengaja memilih jalanan yang sepi. Ada beberapa bus Bombay yang menawarinya, tapi ia menolak. Pemuda itu tidak ingin mabuk di perjalanan. Ia menunggu bus yang kualitasnya bagus.
“Mas, ayo naik! Ini bus terakhir!” teriak seorang kondektur bus Bombay.
“Maaf, Pak. Saya sedang menunggu tumpangan.” Nur Rahman berbohong supaya tidak dipaksa lagi untuk naik ke atas bus Bombay.
Benar saja … setelah bus Bombay terakhr tadi, tidak ada lagi bus yang lewat di sana. Pemuda itu hampir berputus asa. Hingga akhirnya pemuda itu melihat bus mewah muncul dari tikungan di sebelah timur. Mata pemuda itu berbinar, tapi entah kenapa perasaan pemuda itu tiba-tiba tidak enak. Bulu kuduknya juga merinding.
“Ber … Taluuun!!!” teriak kondektur dari dalam bus saat bus itu berhenti tepat di sebelah pemuda itu.
Nur Rahman menoleh ke arah bus mewah tersebut. Tapi, saat ini yang dilihat oleh pemuda itu bukanlah bus yang masih bagus, melainkan bus yang sudah pecah kacanya dan banyak darah berceceran di seluruh bagian luar bus tersebut. Bau anyir tercium di hidung pemuda itu, tapi ia berusaha untuk tidak menampakkan wajah ketakutan. Dengan penuh keberanian, pemuda itu naik ke atas bus melalui pintu depan yang terbuka lebar. Semakin ia masuk ke dalam. Semakin anyir bau yang tercium di hidungnya. Tidak hanya itu, ia dibuat tekejut saat melihat penumpang di dalam bus tersebut. Semuanya memilki wajah yang pucat dan luka menganga di beberapa tempat. Pemuda itu berusaha untuk tidak terpengaruh dengan pemandangan yang ia lihat. Ia menghindari bertatapan mata dengan para penumpang itu karena ia tidak mau mereka curiga bahwa ia dapat melihat wujud asli mereka.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Like dan komentar teman-teman aku tunggu, ya?