
Pukul sepuluh pagi, Pak Dirga datang ke kantor yang dipimpin oleh Pak Ibnu untuk mengambil pesanannya. Untunglah semalam Nur Rahman sudah mengirimkan hasil setingannya untuk dicetak di beberapa cabang percetakan milik Pak Ibnu. Usaha yang digeluti oleh Pak Ibnu adalah usaha percetakan yang hanya menangani pesanan dalam jumlah besar saja seperti banner partai, sticker logo perusahaan, buku, tabloid, dan sebagainya. Usaha percetakan tersebut tidak menangani pesanan dalam jumlah kecil. Nur Rahman bekerja di bagian desain dan juga marketing.
“Wah … ternyata kamu bisa menyelesaikannya tepat waktu dan hasilnya bagus sekali, Nur! Kalau seperti ini atasanku dijamin tidak akan mengadakan kerja sama dengan percetakan lain. Cukup di kamu saja,” puji Pak Dirga sambil memeriksa satu persatu barang pesanannya.
“Terima kasih banyak Pak Dirga atas pujiannya. Kami hanya ingin memberikan yang terbaik untuk customer. Semoga perusahaan Pak Dirga puas dengan pelayanan tempat percetakan kami,”jawab Nur Rahman dengan sikap rendah hati.
“Siapa, Nur?” sapa Pak Ibnu yang baru saja mengetahui kedatangan Pak Dirga.
“Eh, Pak Ibnu. Kenalkan ini customer baru kita. Namanya Pak Dirga. Dan ini atasan saya Pak Ibnu.” Nur Rahman memperkenalkan mereka berdua.
“Dirga … senang bertemu dengan Anda.”
“Ibnu … senang juga bertemu dengan Anda.”
“Pak Ibnu! Anda harus bersyukur memiliki anak buah seperti Nur Rahman ini. Hasil garapannya halus dan bisa diajak kerja cepat,” puji Pak Dirga di hadapan Pak Ibnu.
“Ya … Nur Rahman ini memang salah satu karyawan terbaik di sini,” jawab Pak Ibnu sambil tersenyum kepada Nur Rahman.
Perasaan Nur Rahman cair seketika karena Pak Ibnu sudah tidak marah lagi terhadapnya.
“Sisa uangnya sudah aku transfer ke rekening yang kamu berikan kemarin lusa,” ujar Pak Dirga.
“Iya, Pak. Notifikasinya sudah masuk barusan. Sekali lagi terima kasih atas kepercayaan Bapak kepada kami,” jawab Nur Rahman dengan sopan.
“Aku yang berterima kasih sama kamu, Nur. Berkat kerja kerasmu, perusahaan tempa aku bekerja nggak perlu jauh-jauh lagi untuk memesan produk ini. Oh ya … aku pamit dulu, ya? Soalnya habis ini aku sudah harus mendistribusikan barang ini,” timpal Pak Dirga
“Loh, mau kemana, Pak Dirga. Di sini dulu lah kita mengobrol sambil minum kopi,” bujuk Pak Ibnu.
“Maaf, Pak Ibnu. Sepertinya lain kali saja kita ngopinya. Sekarang saya sudah ditunggu sama orang-orang,” jawab Pak Dirga.
__ADS_1
“Terima kasih banyak ya, Pak Dirga!” ucap Pak Ibnu sambil menerima jabatan tangan dari Pak Dirga.
“Aku pamit dulu, Nur!” ucap Pak Dirga sambil menjabat tangan Nur Rahman.
“Sama-Sama, Pak Dirga. Hati-Hati di jalan!” jawab Nur Rahman.
Kemudian Nur Rahman dan Pak Ibnu mengantar Pak Dirga sampai ke depan. Setelah Pak Dirga pergi, Pak Ibnu berkata kepada anak buahnya itu.
“Maafkan sikapku semalam, Nur!”
“Sama-Sama, Pak. Aku juga minta maaf.”
“Mulai bulan ini, setiap orderan yang masuk akan kita sisihkan untuk membantu keluarga Rendi.”
“Iya, Pak.”
“Iya, Pak. Lumayan untuk biaya hidup mereka.”
Setelah itu Nur Rahman pun melanjutkan pekerjaannya sampai sore hari. Pemuda itu sudah sampai di rumahnya pukul empat sore dan bersiap-siap untuk pergi ke acara selamatan di rumah Rendi. Sebelum berangkat ia sudah janjian dengan semua rekan kantornya termasuk Pak Ibnu. Mereka sengaja datang ke rumah Rendi lebih awal agar bisa membantu untuk menggelar alas dan juga menjadi penerima tamu bersama tetangga-tetangga dekat keluarga Rendi. Seperti biasa Nur Rahman tidak berani makan hidangan yang ada di rumah Rendi karena itu sudah menjadi pantangan yang harus ia jaga.
Nur Rahman pulang dari rumah Rendi setelah salat Isya di musala dekat rumah Rendi. Karena tidak ada agenda untuk kumpul-kumpul, Rendi dan teman-temannya pun pulang secara berpencar. Lima ratus meter sebelum sampai di rumahnya, Nur Rahman menghentikan motornya di sebuah warung yang tampak sepi. Itu adalah warung kopi langganan pemuda tersebut semenjak ia kuliah sampai bekerja. Pemilik warung kopi itu adalah seorang nenek-nenek berusia tujuh puluh tahunan yang tinggal sendirian. Namanya Mbah To. Sebenarnya ia masih punya satu anak yang tinggal di luar jawa. Tapi, nenek tersebut tidak mau diajak ikut ke luar jawa karena ia tidak mau kehilangan kenangan hidup bersama suami dan anaknya di rumah yang dihuninya sekarang.
“Kopinya satu, Mbah!” teriak Nur Rahman sambil duduk di atas amben.
Mbah To tidak menyahut, tapi ia langsung masuk ke dalam untuk membuatkan pesanan pemuda itu. Kompornya memang diletakkan di dalam karena Mbah To sudah tua. Tenaganya sudah tidak mampu untuk memindah-mindahkan kompor dan tabung gas.
“Tumben gorengannya nggak ada, Mbah? Nggak sempat belanja, ya?” tanya Nur Rahman saat Mbah To kembali dari dalam dengan membawa segelas kopi pesanan pemuda itu.
Kembali Mbah To tidak menyahut saat ditanya oleh Nur Rahman. Pemuda itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat mengetahui bahwa Mbah To tidak menggubris perkataannya. Pikirnya, maklum Mbah To sudah sepuh, jadi wajar kalau pendengarannya sudah banyak berkurang.
__ADS_1
“Kopi buatan Mbah ini memang nomor satu!” puji Nur Rahman sesaat setelah menyeruput minumannya.
Tentu saja Mbah To lagi-lagi tidak menyahut. Nur Rahman tersenyum simpul sendiri menyadari kekonyolannya yang mengajak perempuan tua yang pendengarannya sudah kurang awas itu berkomunikasi.
“Aku pingin mulih, Le! (Aku mau pulang, Nak)” Tiba-Tiba Mbah To berkata sabil menatap wajah Nur Rahman.
Nur Rahman yang sedang menikmati kopi pahit kesukaannya itu pun tersedak karena tekejut mendengar suara MbahTo yang terkesan mendadak.
“Iya, Mbah? Pulang? Loh, Mbah To kan sudah ada di rumah sendiri? Masa masih minta pulang?” sahut Nur Rahman sambil menatap ke arah Mbah To.
“Aku pingin mulih, Le! (Aku mau pulang, Nak!)” ucap Mbah To mengulangi kata-katanya.
Nur Rahman menjadi kebingungan dengan tingkah Mbah To itu.
“Apa maksudnya Mbah To mau ikut Cak Warno tinggal di luar jawa?” tanya Nur Rahman untuk memperjelas ucapan perempuan renta di depannya.
“Enggak, Le! Warno kongkon mulih ben ngerti ibuke! (Tidak, Nak! Warno suruh pulang biar tahu ibunya)” jawab Mbah To.
“Oalah, gitu maksudnya? Iya, Mbah. Ntar aku minta nomornya Cak Warno ke Pak RW. Aku nggak punya nomor HP-nya Cak Warno, Mbah!” sahut Nur Rahman mengerti.
Setelah mendapat jawaban dari Nur Rahman, Mbah To pun diam dan tidak bersuara lagi. Perempuan tua itu hanya menatap pemuda yang sedang menikmati kopi buatannya itu. Setelah menenggak habis minuman buatan Mbah To, Nur Rahman pun berpamitan pulang untuk beristirahat pada Mbah To. Tak lupa pemuda itu juga membayar pesanannya dengan uang lebih. Pemuda itu pun pulang ke rumahnya menyusuri jalanan di desanya yang malam itu terlihat jauh lebih lengang dari biasanya.
Sesampai di rumahnya, Nur Rahman langsung memarkir motornya dan menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Ia ingin istirahat lebih cepat malam itu untuk menghilangkan penat dua harian ini. Lagi pula malam itu tidak ada orang tuanya di rumah yang bisa ia ajak mengobrol. Sayangnya, keinginan pemuda itu untuk beristirahat lebih awal harus tertunda karena pintu depan digedor-gedor dengan keras oleh seseorang.
*“*Endi Warno, Le! (mana Waro, Nak?)” suara Mbah To dari balik pintu.
BERSAMBUNG
Pintu depan sudah ditutup apa belum, Readers?
__ADS_1