
Setengah jam kemudian sampailah mobil ambulans di sebuah toko swalayan yang buka dua puluh empat jam.
“Mas Nur, saya mau beli rokok dulu, ya?” ujar Pak Sanusi sambil memarkirkan kendaraan di pinggir jalan.
Tanpa menunggu jawaban dari Nur Rahman, pria itu pun langsung menyeberangi jalan karena toko swalayannya berada di seberang jalan. Nur Rahman kemudian mengintip ke arah kaca spion. Pak Ibnu juga menghentikan kendaraannya tepat di belakang mobil ambulans. Tampak Nizwar turun dari dalam mobil dan ikut menyeberang jalan. Bisa ditebak kalau temannya itu pasti disuruh membeli sirup pencegah masuk angin oleh Pak Ibnu. Nur Rahman senyum-senyum sendiri membayangkan Pak Ibnu yang tidak tahan terhadap angin malam.
“Duh, kakiku gatel sekali!” pekik Nur Rahman sambil menunduk untuk menggaruk kakinya yang kemungkinan besar digigit oleh nyamuk.
Pada saat Nur Rahman menggaruk kakinya, ia merasa udara di ruangan itu menjadi sesak. Perasaan pemuda itu langsung tidak enak seketika. Ekor mata pemuda itu pun menangkap pemandangan aneh di sebelahnya. Ia melihat sepasang kaki sedang ada di balik kemudi. Hal itu menandakan bahwa kursi di sebelahnya yang semula kosong telah diisi oleh seseorang. Nur Rahman yakin bahwa Pak Sanusi masih belum kembali dari toko swalayan. Dan pemuda itu juga yakin bahwa tidak mungkin ada orang yang bisa masuk ke ruangan itu tanpa membunyikan suara sedikitpun. Darah pemuda itu mengalir dengan cepat tatkala ia kemudian mengenali celana yang dipakai oleh seseorang yang sekarang sedang duduk di balik kemudi. Celana itu persis sekali dengan celana yang ada di kresek hitam itu. Dengan perasaan takut bercampur penasaran, pemuda itu pun secara perlahan mendongakkan kepalanya dan mengamati dengan teliti wajah seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
“Hh ….” Nur Rahman mendengkus dengan sangat kuat dan sudah siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Pemuda itu yakin kalau yang sedang duduk di sebelahnya saat itu adalah arwah Rendi. Meskipun ia sebenarnya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran arwah Rendi, tapi setelah mendengar cerita Pak Sanusi tadi, rasa was-was di hati pemuda itu kembali muncul.
Tok Tok
“Mas Nur, tolong bukain pintunya!” Pak Sanusi mengetuk-ngetuk kaca mobil dari luar.
“Eh, iya Pak!” sahut Nur Rahman senang karena Pak Sanusi sudah kembali.
Ceklek!
Pak Sanusi pun kembali melanjutkan menyetir sambil sesekali menghisap rokok kesukaannya itu.
“Kenapa kok keringetan begitu, Mas Nur?” tanya Pak Sanusi.
__ADS_1
“Nggak apa-apa, Pak! Sedikit kegerahan saja,” jawab Nur Rahman berbohong.
“Nggak ada yang ngusilin, kan?” tanya Pak Sanusi sambil menoleh ke arahnya selama satu detik.
“Ngusilin?” Nur Rahman mempertanyaan ucapan Pak Sanusi.
“Teman-Teman yang pernah saya ajak naik mobil ambulans ini rata-rata mengaku pernah diganggu oleh semacam hal mistik begitu,” sahut Pak Sanusi sambil mengernyitkan dahinya.
“Hm … Nggak ada, Pak!” jawab Nur Rahman masih berbohong.
Ia tidak mau mengatakan kepada pria itu bahwa ia barusan diganggu oleh arwah Rendi. Ia tidak mau hal itu akan mendatangkan fitnah bagi temannya itu.
Beberapa menit kemudian sampailah mereka di pelataran rumah Rendi. Ibunya Rendi dan kedua adiknya sudah menunggu di depan rumah dengan didampingi oleh para tetangga. Nur Rahman melihat istrinya Kapten Suhermanto masih berada di sana.
Ibunya Rendi dipegangi oleh istrinya Kapten Suhermanto untuk bisa berjalan menuju bagian belakang mobil ambulans. Pak Sanusi dan Nur Rahman pun keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju bagian dalam mobil. Pak Sanusi langsung mengeluarkan brankar khusus dari dalam mobil ambulans. Kedua adik Rendi dan ibunya langsung membuka bagian penutup kepala Rendi untuk memastikan apakah itu benar jasad Rendi atau bukan. Nur Rahman pun membuka tali pocong bagian atas agar keluarga Rendi bisa yakin bahwa jenazah itu memang Rendi.
“Ibu … Adik-Adik … Rendi ini sudah disucikan tadi. Aku mau buka wajahnya sebentar saja, ya? Setelah itu tali pocongnya akan aku pasang lagi,” pesan Nur Rahman pada ibu dan kedua adik Rendi itu.
Tidak menunggu jawaban dari mereka, Nur Rahman pun membuka tali pocong bagian atas dan membuka kapas yang menutupi beberapa alat indera di wajahnya.
“Rendiiiiiiii … Kenapa kamu tinggalkan ibu, Nak?” pekik histeris ibunya Rendi sambil memeluk anak kesayangannya itu.
“Mas Rendiiiiiii … Jangan tinggalin kami, Mas!” teriak dan tangis kedua adik Rendi sambil memeluk jasad kakaknya itu.
Semua tetangga Rendi pun ikut terharu menyaksikan peristiwa itu. Mereka tidak menyangka bahwa tulang punggung keluarga itu akan meninggal duluan meninggalkan ibunya yang sudah tua dan kedua adiknya yang masih kecil-kecil. Setelah dirasa cukup Nur Rahman pun memasang kembali kapas dan tali pocong jenazah sahabatnya itu. Ia berusaha menguatkan dirinya saat itu, tapi akhirnya ia pun tak kuasa untuk membendung air matanya. Dipelukanya kedua adik sahabatnya itu dengan penuh kesedihan. Di dalam hati pemuda itu berusaha untuk menerka hikmah apa yang sedang disiapkan oleh Tuhan bagi keluarga Rendi atas kepergian sahabatnya yang merupakan satu-satunya tulang punggung keluarganya.
__ADS_1
“Sabar ya, Doni … Sabar ya, Alya …,” ucap Nur Rahman di sela-sela isak tangisnya yang kesekian kali.
Ketiga rekan kerja Nur Rahman dan juga istri Kapten Suhermanto pun turut menangis menyaksikan peristiwa itu.
Setelah itu jenazah Rendi pun dibaringkan di atas tempat tidurnya sendiri yang sengaja dipindahkan ke ruang tamu oleh para tetangga. Para tetangga pun secara bergantian membacakan surat yasin di sekeliling jenazah Rendi. Sekitar pukul tujuh pagi, jenazah Rendi dibawa ke pemakaman untuk dikuburkan. Kesedihan masih menyelimuti hati dan perasaan keluarga dan sahabat Rendi.
Sebelum pulang, Nur Rahman dan ketiga sahabatnya memberikan sejumlah uang kepada ibunya Rendi.
“Bu, maafkan kami berempat yang tidak bisa menjaga Rendi dengan baik, ya?” ucap Nur Rahman pada ibunya Rendi.
“Tidak, Nur! Ini sudah garisan tangan Rendi. Ini bukan salah siapa-siapa,” jawab ibunya Rendi yang sudah terlihat lebih tegar dari sebelumnya.
“Terima kasih banyak ya, Bu. Doakan kami selalu ya, Bu. Kami janji akan membantu kebutuhan ibu, Doni, dan Alya untuk ke depannya,” ucap Pak Ibnu.
“Terima kasih, Ibnu. Maafkan kalau selama ini Rendi punya salah sama Ibnu,” ucap ibunya Rendi.
“Tidak, Bu. Rendi itu teman dan juga karyawan yang baik. Dia tidak punya salah apapun kepada kami,” jawab Pak Ibnu.
Mereka pun pulang dengan diantar oleh ibunya Rendi dan kedua adiknya yang asyik bermain lato-lato. Dari dalam mobil, Nur Rahman memandangi kedua adik Rendi yang sedikit terobati rasa sedihnya setelah mendapat hadiah dari almarhum kakaknya. Nur Rahman mengeluarkan struk pembelian lato-lato itu dari dalam sakunya.
“Rendi, aku harus belajar mengikhlaskan kepergianmu agar kamu bisa beristirahat dengan tenang,” gumam Nur Rahman sambil mengamati alamat dan nomor telepon di struk pembelian itu.
BERSAMBUNG
Tuh, kan? Aku rajin update kalau banyak yang menuliskan komentar.
__ADS_1