
Butuh waktu sekitar setengah jam untuk melewati gunung tersebut. Jalan itu sudah ada sejak jaman sebelum kemerdekaan dan sudah banyak digunakan oleh masyarakat luas. Nur Rahman yang sebenarnya tidak begitu hapal seluk beluk kota yang sedang ia tuju itu pun merasa takjub dengan aktifitas yang selalu dilakukan oleh Rendi. Ternyata, pekerjaan yang selama ini dikerjakan oleh temannya itu cukup berat. Butuh fisik yang kuat untuk melalui perjalanan yang cukup melelahkan itu. Selama ini Nur Rahman tidak pernah ikut campur urusan perjalanan ke luar kota seperti ini. Dia hanya fokus pada urusan di balik meja saja. Tapi, untuk ke depan sepertinya ia dan teman-temannya harus menggantikan perjalanan jauh seperti itu.
Sekitar pukul sebelas siang, barulah Nur Rahman sampai di tempat yang ia tuju. Di sana ia sudah ditunggu oleh beberapa orang. Ada orang yang memang sudah bekerja sama cukup lama dengan tempat ia bekerja. Tapi, ada juga satu dua orang baru yang ingin memulai kerja sama dengan perusahaannya.
“Mas Nur … saya turut berduka cita atas meninggalnya Mas Rendi,” ucap Pak Jefri salah satu rekanan lama yang sudah sering kontak lewat telepon dengannya.
“Terima kasih, Pak Jefri,” jawab Nur Rahman.
“Saya betul-betul tidak menyangka Mas Rendi akan pergi secepat itu. Padahal siangnya kami baru saja makan bareng di kafe. Saya, Pak Jefri, dan Mas Rendi. Iya kan, Pak Jef?” sela Pak Irwan.
“Iya benar Mas Nur! Kami berdua malahan sempat merundung almarhum. Kami bilang sama almarhum mau dikenalin sama salah satu karyawati di perusahaan Pak Irwan ini. Tapi, almarhum bilang mau menyekolahkan adik-adiknya dulu,” sahut Pak Jefri.
“Bapak-Bapak ini tahu nggak habis itu Rendi langsung pulang atau ke mana?” tanya Nur Rahman.
“Hm … Kayaknya dia nggak langsung pulang deh! Dia bilang mau ke desa sebelah. Ada sesuatu yang harus ia kerjakan di sana,” jawab Pak Irwan.
“Desa sebelah?”
“Iya. Kenapa Mas Nur?”
“Enggak … Nggak apa-apa.”
Selanjutnya Nur Rahman pun menandatangani MOU bersama orang-orang itu. Untuk orang-orang yang baru ia persilakan untuk mempelajari kontraknya terlebih dahulu dan kalau sudah deal bisa mengirimkannya lewat jasa ekspedisi.
Pukul setengah satu Nur Rahman sudah menyelesaikan semua urusannya di kota tersebut dan ia pun langsung menuju arah pulang. Di sepanjang jalan ia berpikir tentang desa sebelah yang diucapkan oleh Pak Jefri tadi.
“Ngapain Rendi pergi ke desa sebelah? Apakah ada hubungan antara desa sebelah dengan kematiannya?”
__ADS_1
Karena penasaran, ia pun memutuskan untuk main-main ke daerah tersebut. Ia pikir tidak ada salahnya ia mampir ke sana sebentar. Siapa tahu ada petunjuk tentang kematian temannya itu di sana. Toh, ia juga butuh untuk makan siang dan sholat Zuhur. Pemuda itu pun membelokkan motornya menuju ke jalanan desa yang diceritakan oleh Pak Jefri.
Begitu motornya sampai di desa itu, Nur Rahman langsung mencari keberadaan warung karena perutnya sudah tidak bisa dikompromi lagi. Untunglah tak jauh dari pintu masuk desa, ada sebuah warung yang cukup sepi pengunjungnya. Pemuda itu menepikan motornya di sana. Kedatangannya langsung disambut hangat oleh pemilik warung. Tanpa banyak bicara pemuda itu langsung memesan nasi pecel dan es teh kesukaannya.
“Bu, apa boleh saya menanyakan sesuatu?”
“Tanya apa, Mas?”
“Apa Ibu pernah melihat orang ini?”
“Hm … Pria ini cukup sering lewat depan warung ini. Kalau beli-beli di sini cuma satu kali, tapi sudah lama. Kenapa Mas? Mas mau nagih hutang sama dia? Kayaknya dia itu bukan orang sini Mas.”
“Tidak, Bu! Kebetulan saya ada transaksi jual beli sama dia. Tapi dua harian ini saya kehilangan kontak sama dia. Saya sengaja mencari dia ke sini karena saya pernah lihat dia masuk ke daerah sini.” Nur Rahman berbohong pada perempuan itu agar kedatangannya ke desa tersebut tidak dicurigai.
“Hati-Hati sekarang Mas! Banyak modus penipuan di mana-mana. Coba Mas main-main ke mesjid sana! Kayaknya dia kalau ke sini pasti mampir di masjid itu. Mungkin takmir masjid di sana ada yang punya info tentang orang itu.”
“Tenang Mas! Saya ini bukan orang yan suka gosip kayak ibu-ibu yang lain.”
“Siap, Bu. Kalau gitu saya mau ke masjid itu mau sholat Zuhur.”
Masjid yang terletak di kiri jalan itu ukurannya cukup besar untuk sebuah desa. Ornamennya pun sangat bagus. Tidak kalah dengan masjid-masjid yang pernah Nur Rahman lihat di kotanya sendiri. Yang bikin Nur Rahman betah di sana adalah kesejukan airnya. Setelah selesai menunaikan kewajiban, pemuda itu pun menyamperi salah satu warga yang kebetulan duduk santai di sana.
“Assalamualaikum …”
“Waalaikumsalam …”
“Lagi santai, Pak?”
__ADS_1
“Ya, sekalian nunggu Asar, Mas. Mas dari mana?”
“Saya dari kota sebelah, Pak. Kebetulan mampir ke sini. Oh ya, Kalau boleh saya tahu apakah Bapak pernah bertemu dengan orang ini?”
Nur Rahman menunjukkan foto Rendi yang kebetulan ada di galeri Ponselnya.
“Mas Rendi … Kenapa, Mas? Dia temannya Mas, ya?”
“Kita ada urusan sedikit lah. Bapak sering ketemu sama Rendi, ya?”
“Ya, tiap dia ke sini dia pasti mampir di sini dan ngobrol sama saya. Kalau tidak salah dia kerja di perusahaan percetakan di kota sebelah. Seru sih ngobrol sama Mas Rendi. Orangnya baik sekali. Pas lebaran kemarin anak-anak saya malah dibelikan baju baru oleh Mas Rendi.”
Nur Rahman terharu mendengar cerita orang tersebut tentang Rendi.
“Pak … Apa Bapak tahu kedatangan Rendi ke sini untuk keperluan apa?”
Pria tersebut tertegun sejenak. Ia seperti memikirkan sesuatu. Nur Rahman sengaja merahasiakan kematian Rendi dari pria itu karena ia tidak ingin kedatangannya ke desa itu mengundang pembicaraan banyak orang di sana.
“Entahlah, Mas. Saya tidak pernah menanyakan hal itu. Saya pikir dia ke sini untuk sekedar beristirahat saja di tengah perjalanan jauhnya. Konyolnya, saya sempat mikir kalau Mas Rendi ke sini untuk menemui saya.”
“Kalau Rendi ke sini, dia mendatangi tempat mana saja, Pak?”
Lagi-Lagi pria itu berpikir sejenak. Mungkin ia berusaha mengigat-ingat memori tentang Rendi.
“Kalau tidak salah, tiap ke sini dia selalu duduk menyandari di dinding sambil memperhatikan kendaraan yang lewat. Dan sebelum pulang biasanya dia foto-foto dulu di pinggir sawah sana.”
Nur Rahman menyimak betul penjelasan pria itu. Sebelum pergi, ia menyempatkan diri untuk pergi ke sawah bersama pria bernama Pak Sukar itu. Nur Rahman tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sawah. Hanya ada rumah besar di dekat sawah itu. Rumah yang pintunya selalu tertutup dan di halaman depannya banyak ditanami buah-buahan. Kata Pak Sukar rumah itu milik seorang pensiunan.
__ADS_1
BERSAMBUNG