TITISAN MARANTI

TITISAN MARANTI
SUAMI ISTRI


__ADS_3

Nur Rahman pulang menuju ke rumahnya dengan perasaan yang tidak menentu. Jalan dari rumah Mbah To menuju ke rumahnya cukup sepi kalau sudah malam. Di satu sisi ia ingin mendapat info yang lebih banyak dari Rendi, tapi di sisi lain ia juga tidak nyaman kalau harus bertemu dengan arwah Rendi di tempat sepi begitu.


“Mas Nur ….” Tiba-Tiba ada seseorang yang memanggil pemuda itu dari arah belakang.


Ia sepertinya sudah hapal dengan suara itu, tapi untuk memastikannya ia pun menoleh ke belakang.


“Loh, Pak RT dari mana?” sapa balik pemuda itu.


“Dari rumah keponakan, Mas. Kebetulan istrinya baru melahirkan.”


“Wah, Titin sudah punya anak lagi?”


“Bukan, Mas. Ini Nining yang habis babaran.”


“Ealah … adik kelasku sudah punya anak.”


“Lah iya. Mas Nur kapan? Ntar keburu karaten loh!”


“Pak RT ada-ada saja. Masih belum ada calonnya, Pak.”


“Masa pemuda seganteng Mas Nur ini belum ada calon? Apa saya bantu nyarikan?”


“He he he … ntaran dulu, Pak. Saya masih mau konsen kerja dulu.”


“Ya sudahlah kalau begitu. Oh ya Mas Nur. Kemarin Mas Nur ingat nggak waktu Mbah To seperti bicara sendiri kalau ada dua orang pria dan wanita yang berbuat jahat padanya?”


“Iya, Pak RT. Saya ingat. Kenapa?”


“Tadi anak saya cerita kalau kemarin lusa itu dia memang melihat ada sepasang pria dan wanita asing sedang duduk-duduk di warung Mbah To. Menurut anak saya, keduanya sudah tidak muda lagi. Nah, anak saya tidak melihat Mbah To ada di warungnya. Mungkin Mbah To sedang ke dalam, anak saya juga kurang paham. Cuma kata anak saya itu mereka membawa mobil. Sepertinya bukan orang sekitar sini. Kalau orang sini anak saya pasti tahu. Dan yang bikin anak saya curiga itu suaminya itu seperti sibuk menelpon seseorang terus. Kayak orang bingung begitu.”


“Apa kedua orang itu pelakunya ya, Pak?”


“Bisa jadi, Mas Nur. Tapi, apa alasannya? Mas Nur tahu sendiri, kan? Mbah To itu orangnya nggak neko-neko? Di rumah Mbah To juga tidak ada barang satu pun yang hilang meskipun rumahnya cukup acak-acakan.”

__ADS_1


“Itu dia, Pak RT. Mbah To juga sempat bilang kalau kedua orang itu mencari barangnya yang ketinggalan di sana. Barang apa, ya?”


“Saya juga bingung Mas Nur. Oh ya, saya pulang dulu, ya?”


“Iya, Pak RT.”


Mereka berdua pun berpisah di pertigaan dan berjalan menuju rumahnya masing-masing. Perasaan was-was pemuda itu baru hilang ketika dia sudah sampai di rumahnya. Ayah dan ibunya sudah menunggunya untuk bercengkrama. Mereka berdua sudah kangen dengan anak semata wayang mereka itu.


*


Di suatu daerah yang cukup terpencil, sepasang suami istri sedang duduk di hadapan seorang dukun.


“Mbah, kapan anak kami bisa siuman? Bukankah kami sudah memberikan beberapa tumbal sesuai petunjuk Mbah?” ucap sang istri.


“Sabar, Nduk. Seharusnya anak kalian sudah siuman kemarin, tapi karena peristiwa yang di luar dugaan makanya anak kalian tidak jadi siuman. Bukankah sudah saya bilang, kalian saja yang bergerak sendiri untuk meghabisi tumbalnya. Jangan mengandalkan aku?”


“Iya, Mbah. Kami masih takut pengalaman kemarin terjadi kembali. Hampir saja kami ikut menjadi korban, Mbah. Karena tumbalnya tidak mau nurut dan hampir mencelakai kami sendiri.”


“Bodoh, Kalian! Makanya, kalau milih tumbal itu yang lemah. Jangan yang kuat seperti kemarin. Untung kalian masih bisa selamat. Kalau tidak? Kalian bisa mati sendiri.”


“Bagaimana dengan benda yang kalian hilangkan itu? Apa sudah ketemu?”


“Belum, Mbah. Padahal kami sudah mencarinya dengan teliti. Bahkan perempuan tua yang kami kira menyembunyikan barang itu juga sampai kami sekap, Mbah. Kabarnya dia sudah meninggal dunia karena kekurangan oksigen.”


“Duh, kalian ini benar-benar bodoh! Awas kalau sampai benda itu jatuh ke tangan polisi. Kita semua bisa tertangkap. Kalian yang harus bertanggung jawab!”


“Sepertinya polisi juga tidak menemukannya, Mbah. Buktinya, sudah berapa hari dari kejadian itu, tapi tidak ada pemanggilan terhadap kami.”


“Kalian jangan terlalu menggampangkan! Bagaimana kalau ada orang lain yang bergerak diam-diam menyelidiki hal tersebut?”


“Maksud Mbah seperti pemuda itu? Kalau sampai ada orang lain yang melakukan hal itu, berarti dia harus siap-siap kami jadikan tumbal terakhir.”


“Bagus! Saya senang kalau kalian senekad itu.”

__ADS_1


“Tapi, Mbah … anak kami nanti bakal siuman beneran, kan? Kami sudah kangen dengan anak itu. Sudah terlalu lama kami menunggu keajaiban itu. Kami sampai banyak kehilangan harta untuk perawatannya di rumah sakit.”


“Kalian berdua tidak percaya dengan saya?” Dukun itu berkata dengan mata melotot pada perempuan tua itu.


“Kami percaya, Mbah! Maafkan kelancangan omongan kami.” Sang suami akhirnya yang menjawab agar dukun itu tidak marah.


*


Keesokan harinya Nur Rahman bermain ke rumah Mbah To. Sayangnya ia tidak bertemu dengan Cak Warno. Kata tetangganya, Cak Warno sedang menunggu kedatangan istri dan anaknya di terminal bus. Tapi pemuda itu tidak langsung pulang. Ia berusaha mencari-cari sesuatu di sekitar warung Mbah To.


“Benda apa sebenarnya yang ditinggalkan oleh sepasang suami istri itu di tempat ini? Mengapa mereka sampai menyekap Mbah To? Apa Mbah To memang menyembunyikan benda itu? Hm … Tunggu! Apa itu? Aku harus mengambilnya … Loh, ini kan? Apakah benda ini yang sedang dicari-cari oleh sepasang suami istri itu? Tapi, apa mungkin hanya karena benda ini mereka berdua sampai melakukan hal sejahat itu? Sebaiknya aku bawa pulang dulu benda ini untuk aku periksa di rumah.”


Sesampai di rumah, pemuda itu langsung memeriksa benda yang ia temukan di warung Mbah To. Ia sangat terkejut setelah memeriksa benda itu. Memori di otaknya langsung berputar-putar dengan sendirinya. Sesuatu yang tertinggal pada benda itu ternyata berkaitan erat dengan informasi-informasi yang selama ini ia kumpulkan. Bahkan hal itu dapat menjawab kekosongan-kekosongan informasi yang ia peroleh dari arwahnya Rendi.


Pemuda itu gugup sekali saat memeriksa benda tersebut. Ia teringat dengan almarhum Rendi dan Mbah To.


“Berarti Rendi dan Mbah To itu dibunuh oleh orang yang sama …”


Pemuda itu buru-buru mengemasi barang-barangnya ke dalam tas ransel. Ibunya yang melihat aktifitas pemuda itu pun langsung menegurnya.


“Kamu mau ke mana, Nur? Bukankah sekarang harusnya kamu libur bekerja?”


“Bu … Nur minta ijin mau ke luar kota.”


“Kamu mau ke mana, Nur? Sepertinya kamu terbur-buru sekali?”


“Ada sesuatu yang harus aku kerjakan di luar kota.”


“Tapi, Nur-“


“Plis, Bu! Doakan Nur saja.”


Perempuan itu tidak bisa berbuat banyak menghadapi anaknya yang cukup keras kepala itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2