TOXIC : Story of Masha

TOXIC : Story of Masha
Part 21


__ADS_3

Siapa yang menyangka, kalau Doni yang tampak paling bersemangat untuk melakukan perjalanan mengikuti Mike, justru tidak tahan dengan perjalanan jauh menggunakan mobil seperti itu.


Mungkin karena Mike yang mengemudi terlalu cepat, dan dengan jalanan yang berkelok-kelok, yang membuat Doni tidak bisa mengendalikan rasa pusing dikepalanya lagi.


Belum berapa lama Mike mengemudi mobilnya, kurang lebih satu jam saja, Doni mengalami mabuk perjalanan, dan beberapa kali mengeluarkan isi perutnya.


Untung saja, ditengah perjalanan itu, ada warung pinggir jalan yang menjual obat untuk mengatasi mabuk perjalanan.


Setelah Doni meminumnya, tanpa berlama-lama, Doni tertidur di jok belakang mobil Mike, setelah bertukar tempat duduk dengan Masha, yang kini duduk di jok depan bersebelahan dengan Mike.


Mike juga mengurangi laju kendaraannya, agar Doni bisa istirahat dengan baik.


"Bagaimana perasaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mike kepada Masha.


"Aku baik-baik saja. Ini bukan kali pertama aku melakukan perjalanan yang jauh," jawab Masha.


Masha lalu menoleh kebelakang, dan memandangi Doni yang tertidur sebentar, sebelum kembali menatap kedepan.


"Aku baru datang kekota ini tiga tahun yang lalu," kata Masha.


"Apa memang kamu yang mau datang kesini?" tanya Mike.


Masha tersenyum sinis.


"Tidak. Aku dipaksa untuk ikut ayahku... Dengan alasan, ayahku hanya akan membiayai sekolahku kalau aku ikut dengannya," jawab Masha.


"Hmmm... Kamu menyesal datang kesini?" tanya Mike.


"Tanpa perlu bertanya, rasanya kamu sudah tahu jawabanku," kata Masha.


Mike kemudian mengambil salah satu tangan Masha, dan menggenggamnya dengan erat.


"Tenang saja... Ayahmu tidak akan bisa menyakitimu lagi," kata Mike, tampak berusaha untuk menenangkan Masha.


"Bagaimana sebelumnya? Sebelum kamu tinggal dengan ayahmu... Kamu mau bercerita? Mungkin bisa membuatmu sedikit merasa lebih lega, kalau ada tempatmu mengeluarkan unek-unek dari dalam hati," tanya Mike.


"Sebelum tinggal bersama ayahku, biasanya aku hanya akan mendengar omelan-omelan kasar. Kalau ada sesuatu yang dirasa tidak sesuai dengan kemauan orang tua," kata Masha.


"Tapi bagiku, itu semua masih jauh lebih baik dibandingkan saat aku bersama ayahku," lanjut Masha.


"Menurut Doni, kamu adalah siswa yang pintar disekolah. Pergaulanmu juga katanya tampak terbatas, lalu apa masalahnya hingga ayahmu menyakitimu?"


Masha menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan.


"Ayahku sering sibuk dengan pekerjaannya, dan tidak semua tentangku diketahuinya...

__ADS_1


Tapi, ibu sambung dan kakak tiriku terbiasa melaporkan hal buruk dan tidak benar tentangku kepada ayahku...


Meskipun nanti, mereka semua, termasuk ayahku, akan meminta maaf denganku, tapi aku sudah merasakan sakitnya dipukul lebih dulu," kata Masha.


Masha belum pernah menceritakan tentang hal itu semua kepada orang lain.


Tapi, entah mengapa, ketika Mike mengajaknya bicara sambil menggenggam tangannya erat-erat seperti itu, Masha bisa merasa aman dan tetap tenang untuk bercerita.


"Maafkan aku... Tapi, aku senang kamu datang kesini..." kata Mike, setelah mereka berdua sempat terdiam untuk beberapa saat.


Masha menatap Mike lekat-lekat, dan Masha yakin kalau saat ini alisnya sedang mengerutkan alisnya dalam-dalam, meskipun Mike hanya sesekali melihatnya, dan Mike lebih banyak menatap kearah jalanan.


"Maaf... Tapi, karena dengan begitu, kita bisa bertemu sekarang," lanjut Mike, sambil mengelus-elus tangan Masha dengan jari jempolnya.


"Aku juga senang bisa bertemu dengan kalian. Tapi itu, tetap tidak bisa menghilangkan rasa menyesalku, karena memiliki orang tua seperti ayahku," kata Masha.


"Aku tahu..." kata Mike.


"Kalau kamu bisa mengambil ijazahmu dari ayahmu, apa kamu mau melanjutkan sekolahmu?" tanya Mike.


"Tidak tahu. Untuk sekarang aku sudah tidak bisa bermimpi apa-apa lagi," jawab Masha.


Masha lalu menatap keluar jendela disampingnya, dan Mike juga melepaskan genggamannya dari tangan Masha.


Masha ingin melanjutkan sekolahnya, mendapat pekerjaan yang bagus, hidup mandiri, tanpa menunggu bantuan dari siapa-siapa.


Tapi bagaimana caranya?


Tidak akan semudah itu, Masha bisa pulang kerumah ayahnya lalu meminta kembali ijazah Masha yang dipegang ayahnya.


Tidak mungkin kalau tanpa terjadi drama didalam rumah itu.


Untuk beberapa waktu mobil Mike melaju, rasanya jalanan yang mereka lewati kini semakin ekstrim.


Jalanan yang sempit, berkelok-kelok hampir tidak ada henti-hentinya, dengan bagian sisi-sisi jalan yang memperlihatkan jurang yang dalam.


Mike tampaknya benar-benar berkonsentrasi mengemudikan mobilnya didaerah itu, hingga meski hanya sesekali, tidak pernah Masha melihat Mike melihat kearahnya.


Mike menatap lurus kearah jalanan, dengan tangannya yang bergerak lincah mengendalikan setir mobilnya.


"Didepan sana, kita istirahat sebentar. Tidak lucu, kalau nanti kamu juga iku-ikutan mabuk perjalanan," celetuk Mike, sambil tertawa kecil.


"Terserah kamu saja... 'Kan kamu yang menyetir?!" kata Masha.


Dari kejauhan terlihat sebuah bangunan kecil seperti pos jaga, tanpa dinding, hanya berpagar rendah dan beratap genteng tanah liat.

__ADS_1


Mike memelankan laju kendaraannya, hingga akhirnya benar-benar berhenti dipinggir jalan, keluar dari aspal, tepat didepan bangunan itu.


"Aku meluruskan pinggangku dulu. Kamu tidak keluar?" tanya Mike, sambil mengangkat tuas rem parkir mobilnya.


"Iya. Aku juga mau berdiri sebentar..." kata Masha.


"Eh! Bagaimana dengan Doni?" tanya Masha buru-buru lalu melihat kebelakang.


Doni tampaknya masih tertidur pulas, dengan berbaring sambil meringkuk di jok, yang memang tidak sesuai dengan ukuran tinggi tubuhnya.


"Biarkan saja dia istirahat. Pasti sakit rasanya, kalau sampai berkali-kali muntah seperti tadi," kata Mike lalu membuka pintu, dan beranjak turun dari mobilnya yang dibiarkannya menyala.


Masha kemudian ikut keluar dari mobil, dan berjalan pelan kearah bangunan yang mirip pos jaga itu.


Dengan berdiri didekat pagar, Masha bisa melihat dalamnya jurang dibelakang pos jaga itu.


Kalau saja ada yang berniat meloncat untuk bunuh diri disitu, mungkin orangnya akan langsung mati ketika mencapai dasar jurang.


Betapa terkejutnya Masha, ketika merasa kalau ada yang memeluknya dengan erat dari belakang.


"Jangan sekalipun berpikir untuk mencoba meloncat kesana...!" kata Mike.


"Ada apa denganmu? Selalu saja menganggapku seolah-olah hendak menghabisi nyawaku sendiri," kata Masha.


"Kamu memelukku tiba-tiba seperti itu, malah bisa membuatku mati karena terkejut, tahu?!" lanjut Masha ketus.


Mike tertawa kecil, lalu terdiam untuk beberapa saat.


"Ada seseorang yang cukup dekat denganku. Kami bertemu di tempat terapi grup...


Sebulan yang lalu, dia bunuh diri, dengan meloncat dari balkon apartemennya..." kata Mike.


Mata Masha terbelalak.


Masha bisa merasakan kalau Mike mempererat pelukannya dibadan Masha.


"Kalau saja aku ada disana saat itu, aku akan memeluknya erat-erat, agar dia tidak bisa melewati pagar," kata Mike, dengan suara bergetar.


"Kamu menyalahkan dirimu sendiri? Itu bukan salahmu..." kata Masha, sambil melepaskan pelukan Mike lalu berbalik.


Mereka berdua kini berhadap-hadapan, dengan memberi sedikit jarak, agar bisa melihat Mike yang kini matanya tampak berkaca-kaca, seolah-olah sedang menahan tangis.


"Kamu tahu kalau itu bukan salahmu, bukan?!" ujar Masha lagi, lalu mendekati Mike dan memeluknya dengan erat.


Sekarang, Masha mengerti kenapa Mike selalu memeluknya, saat Masha merasa rapuh, atau mungkin sedang terlihat seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2