
Keinginan Masha untuk makan diwarung pinggir jalan, tampaknya menjadi pilihan yang tepat dan cocok bagi mereka bertiga.
Sajian makanan rumahan, memuaskan lidah dan mengenyangkan perut mereka bertiga, juga dengan harga terjangkau.
Meskipun mereka sempat hampir hilang kesabarannya, karena warung makan yang disinggahi Mike, penuh dengan pengunjung yang lapar, dan membuat mereka harus menunggu cukup lama, hingga mereka bisa kebagian tempat duduk.
Selesai makan pun, mereka bertiga tidak bisa berlama-lama disitu, karena masih banyak pelanggan lain yang mengantri agar bisa makan ditempat itu.
"Untung enak! Kalau tidak... Aku memang akan sangat menyesal pernah singgah disitu!" celetuk Doni, ketika mereka semua sudah masuk kedalam mobil Mike, dan bersiap-siap untuk pergi dari sana.
"Hmmm... Kalau tidak enak, mana mungkin pembelinya bisa sampai sebanyak itu?!" tukas Mike, yang tampak sibuk melihat kaca spion dibagian luar jendela disisinya.
"Kamu bilang ada tempat yang mau kamu singgahi. Apa kita langsung kesana?" tanya Doni.
"Iya. Kita sebentar saja disitu. Ada yang mau aku beli," jawab Mike.
"Setelah itu, terserah kalian mau kemana. Karena besok pagi-pagi kita kembali ke gudang," lanjut Mike.
Kendaraan roda empat yang dikendarai Mike, sudah masuk dijalan raya dan berjalan beriringan dengan kendaraan bermotor yang lain.
Seperti waktu-waktu sebelumnya, kemacetan panjang yang membuat kendaraan hanya bisa berjalan sangat lambat, sudah jadi kegiatan yang biasa dijalan raya kota itu.
Dengan matahari yang bersinar dengan terik, mata Masha seakan-akan bisa menjadi buta, saking silaunya pantulan cahaya matahari dari kaca belakang mobil, yang berjalan didepan mereka.
Selama mereka dijalanan itu, Masha memilih untuk melihat kesamping jendelanya, dan memperhatikan semua gedung-gedung yang mereka lewati.
Benar-benar kota yang padat dan sibuk.
Dari sekian banyak yang bisa dilihat Masha, memang langka kalau bisa melihat sela antara bangunan yang cukup lega.
Apalagi mencari bangunan rumah yang memiliki pekarangan yang luas, seperti rumah ayah Mike.
Kalau pun ada bangunan rumah yang terlihat megah, halaman dan pagar pembatas dengan bangunan lain terlihat masih sangat rapat.
Perkataan Doni tentang membantu Masha mengambilkan ijazah Masha, terlintas dalam benak Masha, dan membuatnya agak sedikit berharap kalau Doni memang bisa membantunya.
Masha mau melanjutkan sekolahnya, berkuliah kalau sampai ada kesempatan itu.
"Disini tempat kita singgah!" ujar Mike tiba-tiba, sambil membelokkan kemudi, hingga mobilnya masuk ke pelataran parkir didepan salah satu toko.
Kelihatannya, tempat itu adalah sebuah toko yang khusus menjual jam.
"Ayo turun!" ajak Mike, setelah mobilnya terparkir.
Didalam toko terlihat banyak pilihan jam, mulai jam dinding modern, hingga yang bermodel antik yang terlihat mewah dan unik.
__ADS_1
Begitu juga arloji yang terpajang didalam etalase-etalase kaca.
Mulai dari model yang sederhana, hingga yang terlihat sangat mewah, lengkap untuk perempuan, laki-laki, bahkan ada yang cocok bagi anak-anak.
Masha berjalan-jalan didalam situ sambil melihat-lihat bersama Doni dan Mike.
Tapi, Mike tampak hanya mengikuti langkah Doni dan Masha, dan tidak terlihat seolah-olah sedang mencari sesuatu didalam situ.
Masha tidak terlalu menghiraukannya, karena dianggap Masha, mungkin saja memang belum ada yang menarik perhatian Mike disana.
Doni berhenti berjalan dan berdiri didepan salah satu etalase, sambil melihat-lihat didalamnya.
"Kamu mau membeli arloji? Yang itu terlihat bagus," kata Doni kepada Mike, sambil menunjuk salah satu arloji yang terpajang disana.
Mike tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa berkata apa-apa.
"Kalau untuk perempuan, yang mana yang terlihat bagus?" tanya Mike, sambil melihat etalase disebelahnya yang berisi arloji untuk perempuan.
"Masha! Menurutmu yang mana yang bagus untuk jadi hadiah?" tanya Mike.
Baik Masha dan Doni sempat bertatap-tatapan sebentar, sebelum Masha mendekat ke etalase yang jadi tempat Mike melihat-lihat.
"Aku tidak tahu kalau kamu sudah punya wanita yang cukup dekat denganmu, hingga kamu mau membelikannya hadiah..." ujar Doni berbisik kepada Mike, meski Masha masih bisa mendengarkan perkataan Doni.
Mike hanya tersenyum dan sama seperti tadi, dia tidak berkata apa-apa untuk menanggapi perkataan Doni.
"Terimakasih sudah membantuku memilih. Kalian bisa menunggu di mobil? Aku tidak akan lama, hanya hendak membayar belanjaan ini saja," kata Mike.
Masha bersama dengan Doni lalu berjalan kembali ke mobil, meninggalkan Mike didalam sana.
"Apa Mike pernah bicara, kalau ada wanita yang dia suka?" tanya Doni, ketika mereka hampir masuk ke dalam mobil Mike.
"Tidak. Bukannya kalau dia mau bicarakan itu, kamu yang akan dia beritahu lebih dulu?" ujar Masha.
"Aku tidak pernah melihat Mike bersama seseorang. Dia juga tidak pernah bercerita tentang hal itu," kata Doni.
Doni dan Masha membuka pintu mobil Mike hampir bersamaan, dan segera masuk kedalam sana, tanpa menutup pintu-pintu mobil itu kembali.
Tidak berapa lama mereka menunggu, Mike tampak sudah berjalan kearah mobil, sambil membawa satu kantong kertas ditangannya.
Dan tanpa banyak berbicara, Mike hanya meletakkan kantong belanjaannya di sela kosong di jok belakang, tempat Masha sedang duduk sekarang.
"Kalian mau kemana?" tanya Mike, sambil menyalakan mesin mobilnya kembali.
"Tidak ada. Aku lelah membayangkan terjebak macet lagi," jawab Doni.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu, Cha?" tanya Mike.
"Sama saja... Apalagi aku tidak tahu apa-apa tentang kota ini," jawab Masha.
"Kalau begitu, kita kembali kerumah saja?" tanya Mike.
"Terserah kamu saja..." kata Masha.
Mike kemudian membawa mereka kembali kerumahnya.
Setibanya mereka bertiga dirumah Mike, pemuda itu mengajak mereka pergi ke bagian belakang rumah yang ternyata ada kolam renangnya.
"Ada tempat seru begini, untuk apa kita jalan jauh-jauh?!" celetuk Doni tampak bersemangat.
"Kalian mau berenang?" tanya Mike.
"Tentu saja!" jawab Doni cepat.
"Tapi, aku tidak membawa celana pendek," lanjut Doni, dengan wajah kecewa.
"Kamu bisa pakai celanaku," kata Mike.
"Heh! Sudah pasti kebesaran. Kamu mau celananya melorot waktu aku berenang?" tanya Doni.
Mike tertawa kecil.
"Tidak. Tentu saja tidak. Nanti aku berikan kamu celana pendek yang ada tali pinggangnya," ujar Mike.
"Masha bagaimana?" tanya Doni.
"Hmmm... Tidak usah. Aku cukup melihat kalian berenang saja," jawab Masha, sambil menunjuk kearah bangku yang ada payungnya, didekat kolam renang.
"Aku bisa mencarikan pakaian ganti yang bisa kamu pakai," kata Mike.
"Tidak usah repot-repot. Aku juga tidak bisa berenang," jawab Masha.
"Eh! Kalau begitu, kamu harus ikut masuk ke kolam. Biar aku ajari berenang," ujar Doni.
"Tidak. Aku takut..." ujar Masha, lalu berjalan kearah bangku dan duduk bersantai disana.
Mike dengan Doni terlihat berjalan masuk kedalam rumah Mike, dan untuk beberapa waktu kemudian mereka berdua sudah kembali, hanya dengan memakai celana pendek tanpa kaus.
Kedua pemuda itu terlihat bersenda gurau, sampai satu persatu dari mereka meloncat kedalam kolam renang.
Memang pemandangan yang bagus.
__ADS_1
Masha menepuk jidatnya sendiri, karena sempat sedikit berpikiran nakal saat melihat Mike dan Doni disitu.