
"Aku sudah bilang kalau aku tidak butuh pakaian baru," kata Masha.
"Tidak. Aku sudah membelikan apa yang aku butuhkan, juga apa yang Doni mau. Sekarang, aku mau membelikan pakaian yang kamu suka," ujar Mike tegas.
Dengan rasa enggan, Masha melihat-lihat pakaian wanita disitu, dan akhirnya memilih kemeja katun lengan panjang, dengan warna biru malam.
"Ternyata, kamu memang suka warna bold," celetuk Mike.
Kelihatannya, bukan cuma satu pilihan Masha saja yang dibelikan Mike, karena ketika kantong belanjaan Masha diambil Mike, isinya terlihat seperti berisi lebih dari satu lembar kemeja.
Tapi, entahlah...
Masha tidak terlalu memperhatikannya, dan hanya menduga-duga, karena Masha ingin buru-buru bermain di arcade yang ada disana, sebelum pusat perbelanjaan itu tutup.
Mereka bertiga kemudian menuju kebagian yang menyediakan tempat bermain, lalu mengisi kartu pembayaran, sebelum mereka memilih permainan yang ingin mereka mainkan.
Masha memilih bermain basket, begitu juga dengan Mike, yang akhirnya bermain basket disebelah Masha.
Sedangkan Doni, kelihatannya lebih suka untuk bermain di arena tembak-tembakan virtual.
"Kamu cukup bagus dalam bermain basket," celetuk Mike.
"Aku tidak serius dengan olahraga ini waktu sekolah," kata Masha.
Masha melempar bola masuk ke keranjang.
"Aku hanya lebih sering jadi penonton," lanjut Masha.
"Kenapa?" tanya Mike.
"Kamu tidak lihat tinggi badanku? Aku malu kalau ikut bermain diantara orang-orang yang jauh lebih tinggi dariku," jawab Masha.
"Hmmm... Tinggimu sedang saja... Bukannya rata-rata anak perempuan memang setinggi kamu?" ujar Mike, lalu kembali melempar bola basket kearah keranjang.
"Mau tanding? Yang mendapat nilai paling banyak, bisa membuat satu permintaan," ajak Mike, tampak bersemangat.
"Oke!" kata Masha menerima tawaran Mike.
Setelah memulai permainannya dari awal, Masha kemudian beradu kehebatan dengan Mike, memasukkan bola basket ke keranjang, untuk mendapat poin yang paling tinggi.
Ketika waktunya habis, Mike memenangkan permainan itu, dengan selisih poin yang cukup banyak.
Mike terlihat tertawa puas, karena memenangkan permainan itu dari Masha.
"Sudahlah! Salahku menerima ajakanmu untuk bertanding, sedangkan tanganmu jauh lebih panjang dariku," celetuk Masha kesal.
"Sekarang, kamu mau minta apa?" tanya Masha.
"Hmmm... Belum sekarang. Aku belum memikirkan, apa yang mau aku minta. Karena tadi aku mengira kalau aku akan kalah darimu," jawab Mike.
"Kamu mau membalas untuk meledekku, ya?!" ujar Masha ketus.
__ADS_1
"Tidak. Tapi, kamu harus berjanji agar tidak lupa kesepakatan kita tadi," kata Mike, sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"Kamu mau aku melakukan pinky swear?" tanya Masha.
"Tentu saja. Agar kamu tidak mengingkarinya nanti," jawab Mike.
Sambil menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya, Masha lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Mike.
"Aku janji!" ujar Masha.
"Bagus!" kata Mike, sambil tersenyum lebar.
"Mau coba permainan lain?" tanya Mike.
"Iya," jawab Masha, kemudian berjalan bersama Mike, dan ikut bermain permainan yang dimainkan oleh Doni.
Kelihatannya, mereka bertiga menikmati waktunya bersenang-senang ditempat itu, hingga mereka keluar dari pusat perbelanjaan, sesekali mereka bertiga tertawa kecil, sambil menceritakan ulang tentang kekonyolan mereka saat bermain tadi.
"Mau kemana lagi?" tanya Mike, ketika mereka bertiga sudah kembali kedalam mobil.
"Apa ada tempat duduk-duduk bersantai, di tempat yang terbuka?" tanya Doni.
"Ada... Ada satu taman dekat pantai, yang biasanya jadi tempat orang-orang duduk-duduk berkumpul santai," jawab Mike.
"Jauh tidak?" tanya Masha.
"Tidak terlalu. Mungkin lima belasan menit saja dari sini," jawab Mike.
"Iya, kalau tidak terjebak macet lagi," ujar Doni.
"Jadi, mau kesana?" tanya Mike.
"Oke!" jawab Masha dan Doni serempak.
Tanpa berlama-lama lagi, Mike kemudian memacu kecepatan mobilnya dijalan raya.
Diperjalanan, Masha sempat melihat kalau ada beberapa wanita dengan riasan tebal, dan berpakaian minim yang berdiri dipinggir jalan, dan bahkan ada beberapa dari mereka, yang sempat mencoba menghentikan mobil Mike.
Pemandangan itu, hampir ada disepanjang perjalanan kearah pantai yang dimaksud Mike.
Bukan cuma dijalanan.
Ketika mereka tiba dipantai, beberapa wanita dengan penampilan yang sama, sempat menggoda Mike dan Doni, meskipun ada Masha sedang duduk bersama kedua pemuda itu disitu.
Sebagian besar dari wanita-wanita itu, terlihat masih berusia muda, mungkin masih sebaya dengan Masha, hanya karena dandanan mereka yang membuat mereka terlihat jauh lebih dewasa daripada usia sebenarnya.
Meskipun ada beberapa wanita yang lain, yang tampak memang sudah dewasa, diatas usia dua puluhan tahun.
Untuk keseluruhannya, sebagian besar dari wanita-wanita itu terlihat berwajah cantik, dengan bentuk tubuh yang bagus dan menarik.
"Tidak ada yang kalian mau, diantara mereka?" tanya Masha, setelah kesekian kalinya ada wanita yang mencoba merayu Mike dan Doni.
__ADS_1
"Jangan bercanda!" ujar Mike ketus.
"Eh! Memangnya kenapa? Bukannya normal kalau laki-laki seperti kalian, tertarik melihat wanita-wanita yang cantik seperti itu?" tanya Masha.
"Aku sudah punya kamu. Untuk apa dengan wanita-wanita itu?!" ujar Doni.
"Aku juga tidak punya uang untuk membayar mereka. Kecuali, Mike mau mentraktir," lanjut Doni.
"Apa katamu?" tanya Mike dengan suara meninggi.
Doni tertawa terbahak-bahak, begitu juga dengan Masha, meskipun Masha masih berusaha menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kalian berdua menganggap itu lucu?" tanya Mike.
"Aku hanya bercanda. Kamu terlalu sensitif," ujar Doni, yang tampak berusaha keras agar berhenti tertawa.
"Tapi... Mungkin tidak? Kalau kalian menahan diri, hanya karena ada aku bersama kalian?" tanya Masha.
"Kalau kalian memang mau, silahkan saja! Aku bisa menunggu di mobil, sampai kalian selesai," lanjut Masha.
"Masha...! Itu bukan bahan candaan!" kata Mike pelan, tapi tetap terdengar tegas.
"Hmmm... Begitu? Oke! Yang penting bukan karena aku yang menghalang-halangi, ya?!" ujar Masha.
Mike kemudian menatap Masha lekat-lekat.
Sedangkan Doni, terlihat dengan santainya memandangi wanita-wanita yang duduk didekat mereka, dengan pakaian yang hampir sebagian besar terbuka itu.
"Setidaknya, Doni bisa menampakan dengan jelas, apa yang dia mau," ujar Masha lalu tertawa kecil.
Doni sempat terlihat salah tingkah ketika mendengar perkataan Masha, dan memperbaiki posisi duduknya, sebelum dia ikut tertawa kecil.
"Bagaimana denganmu Mike?" tanya Masha.
Mike kelihatannya benar-benar gemas dengan perkataan Masha, hingga dia mengambil salah satu tangan Masha, dan menggenggamnya dengan sangat erat.
"Aku tidak pernah terpikirkan untuk bermain-main seperti itu," lanjut Mike, dengan memasang wajah serius.
"Oh... Oke, oke..." ujar Masha, lalu tersenyum lebar.
"Kalian mau membeli minuman? Atau mungkin camilan?" tanya Mike.
Kelihatannya, Doni seolah-olah sedang ada yang dia pikirkan, hingga ketika Mike bertanya, Doni terlihat gelagapan.
"Ada apa denganmu?" tanya Masha kepada Doni.
"Tidak ada apa-apa," jawab Doni datar.
"Aku mau soda," lanjut Doni.
"Kalau cuma soda, kita tidak perlu membelinya. Aku punya beberapa kaleng didalam mobil," ujar Mike.
__ADS_1
"Kamu, Cha?" tanya Mike.
"Sama saja dengan Doni. Soda," jawab Masha.