
Hingga pagi di keesokan harinya, tidak ada satupun diantara Masha, Mike ataupun Doni, yang berminat untuk berjalan-jalan lagi dikota itu.
Terlebih lagi dengan Masha, yang lebih memilih untuk segera kembali ke kota asal mereka, dan menyelesaikan pekerjaannya yang diberikan Mike, yang tertunda selama dua hari belakangan ini.
Apalagi, perjalanan mereka untuk kembali, akan memakan waktu lama, dan cukup melelahkan, sedangkan Mike, sudah beberapa malam yang lewat, selalu kurang tidur.
Meskipun Mike hingga saat ini masih terlihat segar, tapi rasa khawatir dalam hati Masha tetap ada.
"Apa kamu masih sanggup menyetir lagi?" tanya Masha, ketika mobil Mike sudah berjalan keluar dari halaman rumah ayah Mike.
"Iya. Tenang saja. Asal kamu mengobrol denganku, jadi aku tidak bosan... Kalau aku lelah, kita juga bisa singgah biar sebentar dijalan," jawab Mike santai.
Belum terlalu lama mobil Mike melaju dijalanan, Doni yang tidak mau mengalami mabuk perjalanan lagi, memilih untuk buru-buru meminum obat anti mabuk perjalanan.
Dan tampaknya sudah mulai merasakan efek obatnya, karena sekarang Doni terlihat sudah tertidur dengan berbaring di jok belakang.
"Apa aku boleh tahu, apa yang kalian bicarakan malam itu?" tanya Mike.
"Kapan?" Masha balik bertanya untuk memastikan pertanyaan Mike.
"Malam ketika kita baru tiba dirumah ayahku," jawab Mike.
"Hmmm..." Masha bergumam ragu.
Apa mungkin tidak jadi masalah, jika Masha menceritakan tentang hal itu?
"Kalau kamu tidak mau mengatakannya, tidak apa-apa. Aku hanya mencari bahan pembicaraan saja," ujar Mike datar.
Masha memandangi Mike untuk beberapa saat.
"Doni memintaku untuk menikah dengannya..." kata Masha.
Seketika itu juga, Mike tampak mengerutkan keningnya, meskipun dia tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan didepannya.
"Lalu? Apa kamu setuju?" tanya Mike.
"Belum. Aku merasa kalau itu terlalu terburu-buru..." jawab Masha.
"Tapi... Apa kamu pernah berpikir untuk menjadi istrinya?" tanya Mike.
"Belum. Aku baru saja mengenalnya. Lagipula, aku merasa, kalau aku masih terlalu muda, untuk memikirkan tentang perihal pernikahan," jawab Masha.
"Bukannya, kamu menyayanginya?" tanya Mike.
"Iya. Aku memang sayang dengan Doni, tapi belum sampai membuatku berpikir untuk berkomitmen seserius itu," jawab Masha.
"Apa hanya itu alasanmu?" tanya Mike.
"Maksudmu apa?" tanya Masha.
__ADS_1
"Hmmm... Maksudku, apa mungkin ada orang lain yang kamu suka? Mungkin pacarmu waktu disekolah?" tanya Mike.
Masha menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan pelan.
"Tidak. Aku tidak pernah punya pacar. Doni pacar pertamaku," jawab Masha.
Mike tampak melihat Masha sebentar, lalu kembali menatap lurus kedepan.
"Serius? Kamu tidak lagi bercanda?" tanya Mike.
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Masha.
Mike tampak tertawa kecil.
"Aku rasanya kurang bisa percaya, kalau gadis secantik kamu, juga dengar-dengar dari Doni, kamu juga murid yang pintar. Lalu tidak pernah ada yang mengajakmu untuk berpacaran?" ujar Mike.
"Jadi kamu pikir, kalau aku sedang berbohong?" tanya Masha.
"Maaf... Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya merasa heran saja..." jawab Mike.
"Apa mungkin murid lelaki di sekolahanmu tidak percaya diri untuk mendekatimu?" tanya Mike.
Masha kembali menarik nafasnya panjang yang terasa berat.
"Aku tidak tahu. Yang jelas, sampai aku bertemu dengan Doni, aku tidak pernah merasakan yang namanya berpacaran. Aku memang punya teman lelaki, tapi benar-benar cuma sebatas teman," jawab Masha.
Mike tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hmmm... Iya. Aku masih bermimpi untuk bisa berkuliah," jawab Masha.
"Apa memang benar-benar tidak ada cara, untuk mengambil ijazahmu dari ayahmu?" tanya Mike.
"Aaah... Aku tidak tahu. Tidak ada ide sama sekali yang terlintas dikepalaku," jawab Masha.
Membicarakan tentang ayahnya, hanya membuat perasaan Masha menjadi tidak enak, hingga Masha akhirnya mencoba berpikir untuk mencari bahan pembicaraan lain.
Oh, iya...
"Kamu kemarin membeli hadiah untuk siapa?" tanya Masha.
"Kenapa kamu bertanya?" tanya Mike.
"Hmmm... Apa kamu punya pacar yang tidak pernah kamu pertemukan dengan kami? Soalnya, Doni juga tidak tahu kalau ada seorang perempuan yang dekat denganmu," ujar Masha.
"Apa kamu mau tahu saja? Atau mau tahu banget?" tanya Mike, sambil tersenyum lebar.
"Heh! Sudahlah, kalau kamu memang tidak mau memberitahuku!" ujar Masha ketus.
"Aku jadi menyesal, karena aku tadi mau saja menceritakan tentang hal pribadi, antara aku dan Doni..." lanjut Masha.
__ADS_1
Mike tertawa kecil.
"Nanti saja, kamu akan aku perlihatkan kemana dan kepada siapa, arloji sebagai hadiah itu akan aku berikan," kata Mike.
"Jadi, kamu memang sedang dekat dengan seseorang?" tanya Masha penasaran.
"Hmmm... Memangnya kenapa? Kalian ada yang cemburu?" tanya Mike sambil tertawa.
"Tentu saja tidak. Hanya penasaran saja," jawab Masha.
"Sayang sekali, kalau tidak ada satupun dari kalian yang cemburu. Berarti, mungkin kalau aku menghilang, kalian tidak ada yang akan rindu denganku," ujar Mike.
"Eh! Bukan begitu... Maksudku, kalau kamu senang, kami pasti juga ikut senang," kata Masha.
"Ooh... Jadi, kalau aku punya pacar, tidak ada dari kalian yang akan kecewa?" tanya Mike.
"Iya. Bukannya itu hal yang bagus? Kami sebagai teman-temanmu, pasti mendukung pilihanmu," jawab Masha.
"Oke! Aku pegang ucapanmu!" ujar Mike.
"Kapan aku bisa melihatnya?" tanya Masha.
Mike tertawa kecil, lalu mengambil salah satu tangan Masha, dan menggenggamnya dengan erat.
"Sudah setidak sabaran itu?" tanya Mike.
"Aku hanya bertanya..." jawab Masha datar.
"Hmmm... Tunggu saja...! 'Kan aku sudah bilang, kalau kamu pasti akan tahu?!" ujar Mike.
"Iya, iya..." kata Masha.
"Oh, iya! Kenapa kamu tampak terburu-buru untuk kembali ke gudang?" tanya Mike.
"Apa kamu bosan jalan dengan kami?" tanya Mike lagi.
"Bukan begitu... Aku bukannya bosan bersama kalian. Tapi, pekerjaan yang kamu suruh aku kerjakan, baru sedikit saja yang aku selesaikan," jawab Masha.
"Itu alasanmu? Tidak perlu kamu memikirkan hal itu! Aku yang meminta kalian menemaniku. Jadi, pasti aku sudah tahu kalau pekerjaan itu pasti akan tertunda," ujar Mike.
"Santai saja... Itu bukan pekerjaan yang mendesak," lanjut Mike.
Masha menatap tangannya yang masih digenggam Mike, yang kini terasa kalau Mike seakan-akan semakin mempererat genggamannya.
Kelihatannya, Mike adalah orang yang suka mengekspresikan dengan sentuhan fisik, rasa sayangnya kepada setiap orang yang dekat dengannya.
Karena Masha juga beberapa kali melihat Mike merangkul pundak Doni, dan ketika Mike dan Doni sedang berbincang-bincang berdua, Mike sesekali menyentuh bahkan memegang bahu Doni.
Sedangkan Doni, tampak sering mengekspresikan perasaan sayangnya dengan *act of service.
__ADS_1
(*act of service merupakan cara seseorang yang memperlakukan, dan menunjukkan rasa cinta dan sayang kepada pasangan, atau kepada orang terdekatnya, dengan berbagai macam tindakan langsung daripada dengan kata-kata.)