TOXIC : Story of Masha

TOXIC : Story of Masha
Part 24


__ADS_3

Hingga Masha dan Mike mendekat ditempat Doni duduk, Mike masih saja memegang tangan Masha erat-erat.


"Hey! Jangan sampai kamu berebutan denganku, oke?! Aku yang lebih dulu mengenal Masha!" ujar Doni.


Masha lalu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Mike.


"Tidak apa-apa. Doni hanya bercanda saja denganku," kata Mike, lalu perlahan melepaskan pegangannya dari tangan Masha.


"Aku hanya memegangnya agar dia tidak tertinggal. Karena dari tadi, dia terlalu sibuk melihat pajangan dirumah ini," lanjut Mike, kemudian duduk disebelah Doni.


"Eh! Kalau begitu, apa hiasan dirumah ini lebih menarik dari aku?" tanya Doni, sambil menatap Masha lekat-lekat.


"Ada-ada saja kamu ini," ujar Masha.


Masha ikut duduk didekat Doni.


Sesuai dengan yang terlihat, sofa itu memang terasa nyaman untuk diduduki.


"Mike biasanya kesulitan untuk dekat dengan orang lain, tapi dia bisa akrab denganmu. Berarti, aku tidak salah memintamu untuk jadi pacarku," kata Doni, sambil memegang tangan Masha.


Masha tersenyum lebar, ketika mendengar perkataan Doni, dan Mike terlihat mengedipkan sebelah matanya kearah Masha, sambil tersenyum.


"Apa yang mau kalian lakukan malam ini?" tanya Mike.


"Soalnya, besok aku baru bisa pergi kekantor. Jadinya, kita punya banyak waktu lengang," lanjut Mike.


"Hmmm... Kita pulangnya kapan?" tanya Masha.


"Mungkin lusa... Seharusnya, kita tiba disini masih siang. Tapi karena kita terlalu banyak singgah diperjalanan tadi, kita tiba disini saat kantor sudah tutup," kata Mike.


"Tidak masalah, bukan?!" lanjut Mike.


"Tidak apa-apa. Asalkan ada yang bisa kita lakukan yang tidak akan membuat kita merasa bosan," kata Masha.


Dua orang asisten rumah tangga Mike, kemudian terlihat menghampiri tempat mereka duduk, sambil membawa tiga cangkir minuman, dan beberapa potong kue cake.


Setelah menyajikannya keatas meja, mereka kemudian kembali berjalan pergi meninggalkan Mike, Masha dan Doni disitu.


"Silahkan, dinikmati dulu minuman dan kuenya! Setelah itu, kita bersiap-siap untuk jalan-jalan," kata Mike, sambil mengangkat salah satu cangkir berisi coklat panas dan menyesapnya sedikit.


Masha dan Doni juga melakukan hal yang sama.


Sepotong kue didalam piring kecil diambil Masha, dan menyuapkan sedikit potongannya kedalam mulutnya.

__ADS_1


Rasa keju di kue itu yang langsung lumer didalam mulut Masha, benar-benar enak dan memanjakan lidah.


"Enak? Kamu menyukainya?" tanya Mike kepada Masha.


"Iya. Cakenya memang enak!" jawab Masha.


"Aku mau mencobanya!" kata Doni, sambil membuka mulutnya, seolah-olah meminta Masha menyuapkannya untuknya.


Meskipun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Masha mau saja menyuapkan sedikit kue ke mulut Doni.


"Mungkin selera kita sama, karena aku juga suka cake keju," celetuk Mike, lalu menyuapkan sepotong kecil kue kedalam mulutnya sendiri.


"Hmmm... Aku tidak terlalu suka keju. Tapi, kue ini memang enak," kata Doni.


"Aku tidak sedang bicara denganmu!" kata Mike ketus.


"Eh! Jadi kamu mau bilang, kalau seleramu sama dengan Masha?" tanya Doni.


Mike dan Masha hanya tertawa melihat Doni yang tampak seperti orang linglung.


"Buruan makannya! Biar aku tunjukan kamar yang bisa kalian pakai untuk istirahat. Aku juga mau mandi dulu, sebelum kita jalan-jalan," kata Mike.


Dengan terburu-buru, Masha menghabiskan sisa kue di piringnya, dan kembali menyesap cairan coklat panas dari cangkirnya.


"Apa aku nanti bisa makan kue ini lagi?" tanya Masha malu-malu.


"Tentu saja. Kamu tinggal memintanya, aku akan mengambilkannya untukmu," jawab Mike.


Setelah semua sudah cukup puas menikmati kue dan minumannya, Mike lalu mengajak Doni dan Masha untuk pergi kelantai dua rumah itu.


"Bagaimana dengan itu?" tanya Masha, sambil menunjuk sisa kue, dan cangkir yang masih berantakan diatas meja.


"Tinggalkan saja! Nanti mereka mengangkatnya," kata Mike, lalu berjalan menuju ke tangga.


Ketika mereka sudah dilantai dua rumah itu, Mike kemudian menunjukkan kamar masing-masing untuk Doni dan Masha.


"Kamu bisa pakai kamar ini! Masha pakai kamar yang sana!" kata Mike.


"Eh! Aku mau sekamar dengan Masha!" ujar Doni.


"Doni!" seru Masha ketus.


"Kamu bercanda? Bagaimana mungkin aku membiarkanmu sekamar dengan Masha, dengan pintu tertutup?" tanya Mike sambil menatap Doni lekat-lekat.

__ADS_1


Doni tertawa terbahak-bahak.


"Aku memang hanya bercanda, kawan!" kata Doni, lalu membuka pintu kamar yang tunjukkan Mike untuknya.


"Kalau ada yang kalian butuhkan, beritahu saja aku! Yang ini kamarku!" ujar Mike, sambil menunjuk pintu kamar yang lain, yang masih bersebelah-sebelahan dengan kamar Masha dan Doni.


"Oke!" jawab Masha dan Doni serempak.


Mereka bertiga kemudian masuk kekamar mereka masing-masing.


Didalam kamar, Masha kembali tercengang.


Jika dibandingkan dengan kamarnya dirumah ayahnya, jauh sekali perbedaannya dengan kamar itu.


Kamar yang Masha masuki sekarang, lebih mirip kamar-kamar hotel yang biasanya dilihat di film-film yang pernah Masha tonton.


Luas, dengan tempat tidur berukuran besar, sofa didekat jendela kamar, pendingin udara, dan cermin yang sekalian menjadi penutup lemari.


Kamar mandinya tidak kalah menarik.


Handuk bersih yang terlipat rapi di rak khusus, lengkap dengan jubah mandi, pancuran air, wastafel, kloset duduk, dan bath tub untuk berendam, berikut juga dengan pengaturan air, mau yang panas maupun dingin.


Masha mungkin ingin berendam dalam air hangat sebentar, sebelum ikut Mike dan Doni jalan-jalan.


Buru-buru, Masha mengisi bath tub dengan menyalakan keran air, campuran air panas dan air dingin, juga sedikit bubuk busa mandi.


Masha lalu melepaskan pakaiannya, kemudian berendam didalam situ.


Luka-luka yang ada dikulit yang hampir memenuhi bagian tubuhnya, sudah mengering dan terasa jauh lebih baik, hingga Masha tidak lagi merasa kesakitan saat berendam di air sabun seperti itu.


Setelah berendam cukup lama, sambil menggosok-gosok perlahan kulitnya, kulit kering bekas luka, terlihat terlepas dari badannya, dan menyisakan bekas berwarna putih, disetiap bagian luka.


Kalau bekas luka itu tidak menghilang, meskipun tidak terlalu kentara karena kulit Masha yang pada dasarnya memang cerah, tetap saja akan terlihat buruk, jika ada yang memperhatikannya baik-baik.


Rasa geram, amarah yang memuncak, yang seolah-olah akan meledak begitu saja, bercampur dengan rasa takut, membuat Masha gemetaran saat berusaha mengendalikan emosinya itu.


Tapi, Masha tidak mau terlalu berlarut-larut dalam pikirannya yang kalut.


Masha kemudian memilih untuk keluar dari bath tub, dan mengguyur kepalanya dengan air dingin di bawah pancuran, dan menyelesaikan mandinya, setelah merasa sedikit lebih tenang.


Masha masih belum selesai memakai pakaiannya, tapi ketukan dipintu kamarnya membuatnya berjalan mendekat kepintu.


"Iya?!" ujar Masha.

__ADS_1


"Kamu belum siap?" Terdengar suara Mike yang bertanya dari balik pintu.


"Sebentar lagi! Aku tinggal menyisir rambutku saja," jawab Masha, sambil memasang kancing baju atasannya.


__ADS_2