TOXIC : Story of Masha

TOXIC : Story of Masha
Part 34


__ADS_3

Semakin lama dan semakin sering Masha menghabiskan waktu bersama kedua pemuda itu, Masha merasa kalau dia semakin mengenal karakter masing-masing pemuda itu dengan lebih baik.


Baik Doni maupun Mike memiliki kelebihannya masing-masing, dengan kekurangan yang hampir persis sama.


Mental health disorder.


Tapi, sayangnya itu bukan hanya menjadi kekurangan dan masalah bagi Mike dan Doni saja, Masha pun begitu adanya.


Dan mereka bertiga sama-sama berusaha menutup-nutupi keadaan mereka, dengan banyak bersenda gurau.


Mungkin, Masha akan mengubah cita-citanya.


Kalau ada kesempatan untuk berkuliah, Masha akan memilih sekolah dengan jurusan psikologi.


Bukan hanya untuk mencari kesuksesan bagi dirinya sendiri, tapi juga untuk teman-teman Masha itu, dan Masha akan berusaha semaksimal mungkin agar dia bisa berhasil, kalau sampai kesempatan itu datang.


Setibanya mereka di gudang, tanpa berlama-lama disana, Mike hanya membantu menurunkan barang-barang bawaan Masha dan Doni, lalu pergi lagi dari situ.


Begitu juga Doni.


Tidak berapa lama setelah Mike pergi, Doni dengan sepeda motornya juga bergegas pulang kerumahnya.


Kini Masha tertinggal sendirian di gudang itu.


Saat merapikan barang-barang bawaannya kedalam lemari, karena semua pakaian kotornya sudah dicucikan asisten rumah tangga Mike, Masha memperhatikan kantong belanjaan yang semestinya berisi satu lembar kemeja pilihannya waktu itu.


Dan sesuai dugaan Masha.


Mike memang membelikan Masha lebih dari satu lembar kemeja.


Beberapa lembar kemeja katun polos lengan panjang, dengan warna yang sama seperti pilihan Masha untuk dipakai Mike, berada didalam kantong kertas itu.


Masha menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mike terlalu royal, meskipun Masha tidak memintanya, dia tetap saja membelikan Masha barang-barang itu.


Pantas saja Mike menolak, ketika Masha meminta untuk membawa barang belanjaan itu sendiri, bahkan Mike lebih suka untuk menitipkannya ditempat penitipan barang, ketika mereka bermain didalam arcade.


"Kamu sedang apa?"


Tanpa melihat pun, Masha tahu kalau itu suara Mike yang sedang bertanya kepadanya.


"Aku lagi menyimpan pakaianku," jawab Masha, lalu berdiri dan berbalik, setelah dia selesai menyimpan lembaran pakaiannya yang terakhir kedalam lemari dikamar itu.


"Aku pikir kamu tadi sudah pergi beristirahat di apartemen. Kenapa kembali kesini lagi?" tanya Masha.


"Hmmm... Apa kamu lupa dengan perkataanku waktu itu?" tanya Mike.


Masha berpikir keras.

__ADS_1


Apa perkataan Mike hingga dia kembali ke gudang, dan bukannya beristirahat di apartemennya?


"Apa?" tanya Masha kebingungan, karena dia sama sekali tidak ingat apa-apa.


"Aku sudah minta izin denganmu, agar aku bisa tinggal di tempat ini bersamamu. Dan waktu itu setuju dengan permintaanku," jawab Mike.


"Hmmm... Begitu, ya?! Terus, sekarang apa?" tanya Masha.


"Aku tadi pergi membeli kasur, sekalian mengambil beberapa pakaianku dari apartemen," jawab Mike, tanpa terlihat terbeban.


"Padahal kamu tidak perlu membelinya. Kamu bisa pakai yang ini, dan aku bisa tidur di sofa," kata Masha, lalu berjalan keluar dari kamar, melewati Mike yang berdiri didekat pintu kamar.


"Tidak. Sudah cukup aku merepotkanmu, dengan mengganggu tempat tinggalmu," kata Mike.


"Eh! Jangan bicara seperti itu! Tempat ini milikmu, justru aku yang hanya menumpang disini," kata Masha, sambil terus berjalan mengarah ke sofa di depan.


Belum sempat Masha duduk, Mike memeluk Masha dari belakang.


"Kenapa kamu memelukku?" tanya Masha datar.


"Aku berniat untuk berhenti total dari obat tidurku. Dan aku tahu, itu pasti akan menyulitkanmu nanti, kalau aku setiap malam bermimpi buruk...


Bukan tempat ini yang penting untukku, tapi kamu..." ujar Mike.


"Mike...! Kalau kamu seperti ini, aku bisa salah menduga, dan mengira kalau kamu jatuh hati padaku..." kata Masha.


Masha melepaskan pelukan Mike lalu berbalik.


"Apa tidak ada orang lain yang mungkin bisa membantumu, selain daripada aku?" tanya Masha.


Mike terdiam sesaat.


"Apa kamu tidak mau membantuku?" tanya Mike.


"Aku mau saja. Tapi, aku juga mau tahu, apa memang tidak ada orang lain lagi yang bisa membantumu," jawab Masha.


"Untuk saat ini, hanya kamu dan Doni saja yang mengerti keadaanku. Juga hanya kamu yang bisa membuatku merasa sedikit lebih tenang, saat aku bermimpi buruk..." kata Mike pelan.


"Hmmm... Ya sudah. Lakukan saja apa yang kamu mau. Aku akan membantumu sebisaku," ujar Masha.


Mike kembali memeluk Masha.


"Terimakasih... Aku berjanji akan memberikan apa saja bantuan yang kamu butuhkan," kata Mike sambil mempererat pelukannya.


"Oke, Mike! Tapi, aku tidak bisa bernafas, kalau kamu memelukku se-erat ini!" ujar Masha.


Mike tertawa kecil, lalu sedikit mengendurkan pelukannya, meski dia tidak benar-benar melepaskan Masha.


Masha bisa merasakan kalau Mike sedang mengecup kepalanya.

__ADS_1


"Mike...?!" ujar Masha.


"Kenapa?" tanya Mike, sambil tertawa.


"Untuk apa kamu kamu mengecup kepalaku? Apa tidak cukup dengan memelukku seperti ini?" tanya Masha.


"Aku menyayangimu... Apa tidak boleh?" tanya Mike enteng.


"Iya, boleh-boleh saja. Tapi, bukannya aku sudah bilang, kalau begini caramu memperlakukan aku, bisa membuatku salah paham," kata Masha.


Mike kembali tertawa kecil, lalu melepaskan Masha dari pelukannya.


Masha kemudian duduk disofa, dan Mike berjalan keluar dari situ tanpa berkata apa-apa.


Ketika Mike kembali, senyum lebar mengembang diwajah pemuda itu, dan tampak seperti menyembunyikan sesuatu, yang sedang dipegangnya dibalik punggungnya.


"Ada apa lagi ini?" tanya Masha curiga.


"Ini aku belikan untukmu..." jawab Mike,


Mike menunjukkan sebuah kotak berlambang sebuah merek arloji, lalu membuka tutupnya dan mengeluarkan sebuah arloji yang dipilih Masha, di toko yang menjual jam kemarin.


"Eh! Untuk apa kamu memberikan ini? Bukannya, kamu bilang ini hadiah untuk pacarmu?" tanya Masha kebingungan.


"Siapa bilang untuk pacarku? Aku tidak pernah bilang begitu," ujar Mike.


Mike kemudian memakaikan arloji itu ke salah satu pergelangan tangan Masha.


"Jangan salah paham...! Aku memberikan ini tanpa bermaksud apa-apa, selain rasa terima kasihku karena kamu mau membantuku," kata Mike.


"Juga karena aku sayang denganmu, dan kamu butuh ini agar tahu waktu," lanjut Mike.


Jam tangan yang bagus.


Masha kebingungan, karena tidak tahu harus berkata apa, dan memaksa otaknya untuk berpikir keras, tentang apa yang patut Masha katakan, agar tidak menyinggung perasaan Mike.


"Terimakasih... Tapi, kamu harus berhenti memberikan aku ini dan itu. Karena aku rasa, pemberianmu sudah agak berlebihan," kata Masha pelan.


"Tidak ada yang berlebihan. Materi hanya terlihat bagus dan memuaskan tampilan fisik. Sedangkan rasa sayang yang kamu perlihatkan kepadaku, bisa memuaskan hatiku," ujar Mike.


"Mike...! Kamu memulainya lagi..." kata Masha, sambil membesarkan matanya kearah Mike.


"Tenang saja...! Aku tahu batasanku... Aku tidak akan menikung Doni," ujar Mike sambil tertawa.


"Mike! Kata-katamu itu, justru bisa membuatku semakin salah paham!" ujar Masha ketus.


Mike kembali tertawa, dan tampak puas menggoda Masha.


Masha hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, tanpa mau menanggapi tingkah Mike lebih jauh.

__ADS_1


__ADS_2