
Kejadian yang berlanjut di malam itu, tidak ada yang terlalu dipusingkan oleh Masha.
Bukan tanpa sebab.
Mike meskipun baru kembali ke gudang, jauh di tengah malam, tapi dia tidak berkata apa-apa, atau bertingkah yang berlebihan, yang membuat Masha merasa kalau ada sesuatu dengannya.
Hari demi hari berlalu dengan kegiatan yang berulang, bahkan tidak ada lagi yang ingat dengan tingkah Mike yang mau menyendiri saja malam itu.
Semua tampak kembali seperti biasa, bekerja, diwaktu-waktu tertentu mereka bertiga bersenda gurau, atau sekedar berjalan-jalan santai ditengah kota.
Mike sempat beberapa kali membawa Masha dan Doni, ke kota dimana kantor utama Mike berada.
Kalau Masha tidak salah menghitung, hampir setiap sebulan sekali Mike akan pergi kekantor utama.
Dengan adanya ijazahnya ditangannya, Masha jadi bersemangat untuk bekerja, dan menyimpan upah kerjanya dari Mike, sebagai tabungan untuk dipakai kalau-kalau ada yang mendesak nanti.
Apalagi, dalam kurun waktu kurang dari dua bulan lagi, Masha akan mulai berkuliah.
Pendaftarannya sudah selesai dia lakukan, dan dengan bantuan Mike, Masha mendapatkan bantuan dari kantor Mike untuk biaya kuliahnya.
Program beasiswa untuk karyawan di kantor Mike, salah satunya diberikan kepada Masha.
Mike sempat menawarkan agar Masha mengambil studinya di Inggris seperti Mike, tapi Masha menolak, karena merasa kalau bantuan Mike sudah lebih dari cukup.
Sebenarnya, bukan hanya Masha yang ikut tes untuk program beasiswa di kantor Mike, Doni juga ikut.
Hanya saja, Doni tidak berhasil lulus tes, dan akhirnya Doni harus berkuliah seperti biasa, dengan biaya yang ditanggungnya sendiri.
Tapi, Doni tampaknya tidak berkecil hati.
Doni memilih universitas yang sama seperti Masha, dan universitas itu berada di kota dimana kantor utama Mike berada.
Doni mengambil jurusan hukum, sedangkan Masha mengambil jurusan bisnis manajemen.
Perjanjian yang ditandatangani oleh Masha dengan kantor Mike, juga dianggap Masha kalau tidak akan merugikannya sama sekali.
Dalam perjanjian penerimaan beasiswa itu, Masha akan terikat untuk bekerja di kantor Mike dalam waktu kurang lebih lima tahun, setelah Masha selesai berkuliah.
Kalau begitu keadaannya, berarti Masha tidak perlu khawatir untuk mencari pekerjaan, setelah mendapat gelar sarjananya.
Kurang apa lagi?
Dewi Fortuna tampaknya memang mulai berpihak kepada Masha, bukan?!
Lemari arsip yang berisikan berkas-berkas yang semestinya dikerjakan Masha, sudah beres diperiksa dan di masukkan data-datanya kedalam komputer.
Hari ini, Masha hanya akan membantu mengerjakan pekerjaan yang semestinya dilakukan oleh Doni.
Mike kelihatannya cukup sibuk, dan sering keluar dari gudang, hingga Masha jadi lebih sering tertinggal berdua saja dengan Doni.
__ADS_1
Layar komputer sudah menyala, dan Masha mulai mengetik-ngetikkan data kedalam situ.
"Tidak perlu kamu yang mengerjakannya..." celetuk Doni yang tampaknya baru saja terbangun, setelah beberapa waktu tadi, dia tertidur di sofa.
Memang bukan hanya Mike yang sibuk.
Dalam beberapa hari belakangan ini, barang-barang yang masuk keluar dari pergudangan milik Mike sedang ramai-ramainya, hingga data-datanya pun ikut menumpuk.
Sedangkan komputer yang ada ditempat itu hanya ada satu saja, hingga akhirnya, mau tidak mau, mereka berdua harus bergantian memakai komputer.
Doni yang mengalah dari Masha, beberapa kali harus bergadang menginput data, yang tidak bisa dia tunda, kalau tidak mau berkas-berkas itu semakin banyak.
Doni tampak kelelahan, meskipun dia sama sekali tidak terdengar mengeluh akan pekerjaannya itu.
"Tidak apa-apa. Berkas yang harus aku kerjakan sudah selesai. Sekarang aku bisa membantumu, agar pekerjaanmu cepat selesai," ujar Masha.
"Tidur saja dulu kalau kamu masih mengantuk!" lanjut Masha.
Tidak berapa lama, suasana tempat itu menjadi hening kembali, dan Doni mungkin tertidur lagi di sofa.
Masha yang juga tenggelam dalam pekerjaannya, tidak lagi memperhatikan apa saja yang terjadi dibelakangnya.
Cukup lama Masha menghadap layar komputer, hingga pinggangnya terasa pegal, dan membuatnya meregangkan tubuh, sambil berbalik dengan memutar kursinya.
Doni tidak terlihat di sofa.
Dengan rasa penasaran, sekalian meluruskan badannya, Masha berjalan sambil melihat-lihat dimana Doni sekarang.
Didalam kamar terlihat kosong.
Masha kemudian terus berjalan sampai ke dapur, namun Doni tetap tidak terlihat disana.
Masha mencoba mengetuk pintu kamar mandi, dan rasanya sama saja, tidak suara apa-apa dari dalam sana.
Masha kembali berjalan kedepan, tapi sandal yang biasa dipakai oleh Doni, terlihat ada didepan pintu.
Berarti, Doni masih berada didalam gudang itu.
Apa Doni sedang di kamar mandi?
Tapi, kenapa dia tidak menjawab ketukan Masha tadi?
Mendadak, perasaan Masha jadi tidak enak.
Setengah berlari, Masha kembali kedepan pintu kamar mandi, dan mengetuknya.
"Doni! Apa kamu didalam?" tanya Masha.
Hening, tanpa ada sahutan apa-apa dari dalam sana, Masha coba menempelkan telinganya ke daun pintu.
__ADS_1
Kembali Masha mengetuk pintu, dan kali ini Masha mengetuknya dengan cukup keras.
"Doni! Kamu ada didalam?" panggil Masha lagi.
Hasilnya sama saja.
Tetap tidak ada suara balasan dari dalam kamar mandi.
Merasa tidak puas, Masha mencoba membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci.
Dan benar firasat Masha.
Doni terlihat berjongkok disalah satu sudut kamar mandi, dan kelihatannya dia tidak sedang baik-baik saja.
Mata Doni terpejam, dengan rahang yang mengencang, begitu juga tubuhnya yang gemetar hebat.
Doni tampaknya sedang terkena serangan panik.
"Doni! Kamu tidak apa-apa!" kata Masha pelan, sambil berusaha untuk memeluknya.
Doni tidak bereaksi dengan perlakuan dan suara Masha, dan tubuhnya masih saja gemetaran, dengan keringat yang membasahi keningnya.
"Doni! Dengarkan aku!" kata Masha sambil memegang kedua sisi wajah Doni.
Doni tampak pucat pasi dengan bibirnya yang membiru.
"Doni! Kamu membuatku takut!" kata Masha.
Melihat Doni masih tetap seperti itu, Masha jadi semakin panik.
Entah apa yang ada dipikiran Masha, hingga mengambil sedikit air, dan membasuh wajah Doni.
"Doni!" panggil Masha.
Setelah beberapa kali, Masha melakukan hal yang sama, sambil memanggil namanya, Doni akhirnya membuka matanya.
Doni kemudian tampak menangis sesenggukan, ketika bertatapan dengan Masha untuk beberapa saat.
Sambil berlutut, Masha membuka kedua tangannya lebar-lebar, agar bisa memeluk pemuda itu.
Doni lalu berpelukan dengan Masha, dan menyandarkan wajahnya di salah satu bahu Masha.
"Kamu tidak apa-apa... Aku bersamamu..." kata Masha pelan, sambil mengusap-usap punggung Doni.
Doni masih menangis sesenggukan, untuk beberapa waktu lamanya.
"Sudah... Jangan menangis lagi!" ujar Masha yang sebenarnya juga sudah ikut meneteskan air matanya, meski dia tidak mengeluarkan suara tangisannya.
Masha benar-benar tidak tega melihat keadaan Doni seperti itu, laki-laki yang dia sayangi, saat ini tampak sangat rapuh, membuat hati Masha terasa sangat sedih.
__ADS_1