TOXIC : Story of Masha

TOXIC : Story of Masha
Part 22


__ADS_3

Mike memeluk Masha dengan erat, bahkan sambil agak membungkuk hingga dagunya mencapai bahu Masha.


"Kalau merasa tidak sedang baik-baik saja, kamu mau mengatakannya kepadaku?" tanya Mike.


"Iya," jawab Masha.


"Tapi, kalaupun sampai terjadi apa-apa padaku, seperti kenalanmu itu, jangan pernah kamu menyalahkan dirimu sendiri!" lanjut Masha.


"Apa kamu sempat berpikir kesana?" tanya Mike.


"Tidak. Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu," jawab Masha.


Masha kembali berbohong kepada Mike.


Sebenarnya, ketika Masha melihat jurang tadi, sempat terlintas dalam benaknya, kalau saja dia meloncat disitu, mungkin dia tidak akan merasa sakitnya, karena pasti dia akan pingsan ditengah-tengah jatuhnya, lalu langsung mati saat tiba didasar jurang.


Tapi, Masha tidak mau membuat Mike semakin *khawatir.


( *Meskipun mereka baru saja kenal, namun bagi Masha, dibandingkan semua anggota keluarganya yang dia tahu tidak menyayanginya sebagai manusia, namun kedua pemuda itu baik Doni maupun Mike, tampaknya sungguh-sungguh menyayangi Masha.


Bagi orang lain, bisa saja berpikiran buruk kalau mungkin kedua pemuda itu menginginkan 'sesuatu' dari Masha.


Dengan melihat beberapa hari ini, tidak ada satupun dari mereka yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan hal buruk kepada Masha, meskipun sebenarnya mereka bisa saja melakukannya.


Tapi tidak demikian.


Doni bahkan bisa menahan diri, saat Masha sudah tenggelam dalam nafsu.


Berarti, wajar saja kalau Masha berpikir kalau mereka sungguh-sungguh menyayangi Masha, dan bisa merasa khawatir dengan keadaannya, bukan? )


"Kamu berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu?" tanya Mike.


"Mike bagaimana aku bisa mencoba bunuh diri, kalau kalian berdua bergantian menempel seperti ini?!" ujar Masha beralasan.


Masha memang tidak bisa menjanjikan hal itu, dan hanya bisa mengusahakannya saja, agar dia tetap kuat dan tidak sampai menghabisi nyawanya sendiri.


"Eh! Apa kamu mau aku melepaskan pelukanku?" tanya Mike.


"Hmmm... Tidak apa-apa. Kamu bisa memelukku sebentar lagi. Meskipun badanmu keras, tapi pelukanmu cukup nyaman," jawab Masha.


Mike tertawa kecil, lalu mempererat pelukannya sebentar, kemudian mencium pipi Masha, dan melepaskan Masha.


"Hey! Aku hanya mengizinkanmu memelukku, bukannya mencuri kesempatan untuk mencium pipiku!" kata Masha.


Mike tampak tersenyum lebar, lalu tertawa kecil.


"Kamu bisa memelukku kapan saja, saat kamu sedang ingin dipeluk," kata Mike.


"Hmmm... Bisa-bisa nanti, Doni merajuk," kata Masha.


Mike tertawa lagi.

__ADS_1


"Dia tidak akan cemburu, kalau kamu hanya memelukku saja," kata Mike.


Mike lalu terdiam sebentar, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.


"Apa aku bisa sering menginap di gudang?" tanya Mike.


"Eh! Kenapa?" tanya Masha heran.


"Tempat itu memang milikmu. Tapi... Kamu bisa bilang alasannya apa? Hingga kamu mau menginap disana," lanjut Masha.


"Sebenarnya aku malu mengakui hal ini..." kata Mike, lalu kembali terdiam sebentar.


"Aku merasa nyaman, saat aku tahu ada kamu menjagaku, juga menenangkanku seperti pagi tadi...


Itu kali pertama aku bisa tertidur untuk waktu yang cukup lama, tanpa meminum obat," lanjut Mike.


Masha terdiam, dan kebingungan harus berkata apa.


"Maafkan aku... Aku pasti terdengar seperti sedang memanfaatkanmu saat ini," kata Mike.


"Hmmm... Aku rasa tidak ada masalah kalau kamu hanya tidur disana," kata Masha.


"Tapi, kita harus bicarakan hal ini dengan Doni. Agar tidak ada kesalah pahaman," lanjut Masha.


"Aku yang akan bicara dengannya. Asalkan kamu mengizinkan aku tidur di gudang," kata Mike.


"Iya," jawab Masha singkat.


"Sama-sama..." kata Masha.


Mike masih memeluk Masha lagi sebentar, sebelum dia melepaskan Masha, dan bersiap untuk kembali ke mobil.


"Ayo kita pergi! Masih cukup jauh perjalanan yang harus kita tempuh," ajak Mike, sambil mengulurkan tangannya kepada Masha.


Masha hanya mendorong tangan Mike, tanpa mau memegangnya, lalu berjalan disampingnya.


"Tidak perlu memegangku. Untuk apa? Kamu mau menyeret aku? Kamu pikir aku tidak akan kembali ke mobil?!" ujar Masha ketus.


"Mana tahu, waktu aku berbalik, lalu kamu meloncat melewati pagar," kata Mike, sambil merangkul pundak Masha, dan berjalan pelan bersamanya menuju ke mobil.


Masha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan tetap berjalan mengikuti langkah Mike.


Ketika mereka masuk kembali kedalam mobil, Doni akhirnya terbangun, mungkin karena bunyi pintu tertutup yang membangunkannya.


"Kita sudah tiba?" tanya Doni, sambil mengucek-ngucek matanya.


"Dalam mimpimu!" jawab Mike, lalu tertawa kecil.


"Masih jauh! Mendingan kamu tidur lagi saja dulu!" lanjut Mike.


"Kami hanya singgah beristirahat sebentar tadi disitu," kata Masha, sambil menunjuk kearah bangunan, tempat dia dan Mike berada tadi.

__ADS_1


"Ooh... Kalau begitu, aku tidur lagi, ya?!" kata Doni dengan wajah lemas.


Masha hampir tertawa, namun dia menahan dirinya sebisanya agar tidak menertawakan Doni, yang tampak tidak nyaman dengan perjalanan, yang masih akan dilanjutkan mereka itu.


Mike lalu menjalankan kendaraannya, kembali menaiki jalan aspal, dan melaju dengan kecepatan yang sama, seperti sebelum mereka singgah tadi.


Mereka masih sempat singgah beberapa kali lagi untuk beristirahat, dan juga makan siang di salah satu warung, yang tersedia disepanjang perjalanan mereka itu.


Hingga akhirnya mereka tiba dikota tujuan Mike.


Kota yang besar, lebih besar dari kota asal mereka tadi.


Gedung-gedung tinggi pencakar langit, tampak hampir memenuhi sepanjang pinggiran jalan raya, yang juga tidak kalah padat dengan kendaraan bermotor.


Sudah sore, bahkan hampir gelap malam.


Lampu-lampu penerang jalan, dengan tiang-tiangnya yang tinggi, dibagian tengah jalan, membelah aspal, sebagian besar sudah menyala.


"Kita menginap dirumah ayahku," celetuk Mike.


"Oh... Apa tidak masalah meskipun ada aku dan Doni?" tanya Masha.


"Itu rumah ayahku, tapi tidak ada yang tinggal disana, selain asisten rumah tangga," jawab Mike.


"Hmmm... Begitu... Lalu, ayahmu tinggal dimana?" tanya Masha.


"Ayahku sedang diluar negeri. Bulan depan baru dia kembali kesini," jawab Mike.


Doni tampaknya sudah merasa jauh lebih baik, dan memilih duduk mendekat kearah jok depan, dengan meletakkan kedua siku-siku tangannya di sandaran jok tempat Masha dan Mike duduk.


"Sudah tidak pusing lagi?" tanya Masha.


"Tidak. Tapi, masih lemes rasanya," jawab Doni.


"Kakiku juga sakit, karena tertekuk terlalu lama..." lanjut Doni.


"Sebentar lagi kita tiba," kata Mike.


"Buruan...! Aku mau secepatnya berbaring lurus, sambil memeluk Masha," ujar Doni.


"Doni...!" ujar Masha pelan.


"Tidak apa-apa kalau cuma memeluk saja, 'kan?!" ujar Doni dengan santainya.


Mike hanya tersenyum lebar, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya. Tapi, tetap saja harus sabar... Memangnya, kamu mau aku menerobos di kemacetan panjang seperti ini?" tanya Mike.


"Hmmm... Tidak juga sih... Sayang kalau mobilmu sampai lecet," jawab Doni.


Masha dengan Mike lalu saling tersenyum, sambil mereka berdua bertatap-tatapan sebentar.

__ADS_1


"Itu rumah ayahku!" kata Mike, sambil menunjuk kesalah satu arah.


__ADS_2