
"Kita akan pergi kemana?" tanya Masha, ketika membuka pintu kamar, dan melihat Mike dan Doni yang tampak sudah rapi dan segar.
"Maunya kemana?" Mike malah balik bertanya kepada Masha.
"Eh! Kenapa bertanya denganku?" tanya Masha bingung.
Mereka bertiga kemudian hanya terdiam, sambil berjalan menuruni tangga rumah Mike.
Kelihatannya, masing-masing dari mereka sedang memikirkan kemana mereka bisa pergi, yang tempatnya mungkin akan menyenangkan.
"Hmmm... Bagaimana kalau kita pergi ke pusat perbelanjaan? Mungkin kita bisa main di arcade," cetus Masha.
"Boleh! Daripada bingung mau kemana," sambut Doni.
"Oke! Berarti semua setuju pergi kesana," kata Mike.
Baik Masha maupun Doni, sama-sama menganggukkan kepala mereka.
Tanpa menunggu lama-lama, setelah mesin mobilnya menyala, Mike kemudian memutar kemudi, dan memacu mobilnya keluar dari halaman rumah.
Sudah malam, namun kepadatan dijalan raya seakan tidak ada tanda-tanda akan berkurang.
Untuk mobil Mike ikut masuk kedalam jalanan aspal didepan rumah Mike saja, mereka masih harus menunggu kesempatan dengan waktu yang cukup lama.
"Selalu seramai ini disini?" tanya Doni, yang tampak hampir kehilangan kesabarannya, ketika mobil Mike terjebak didalam kemacetan panjang.
Mike tertawa kecil, lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya. Setahu aku memang begini kondisinya. Jalanan bisa terlihat lengang, kalau sudah hampir tengah malam," jawab Mike.
"Sabar saja... Pusat perbelanjaan juga tidak jauh dari sini, kok!" lanjut Mike.
Masha hanya mendengarkan percakapan antara Mike dan Doni, tanpa mau menanggapi apa-apa.
Didalam kepala Masha sekarang, sedang memikirkan tentang selama sembilan belas tahun kehidupannya, baru kali ini dia bisa memberi ide mau kemana dia berjalan, dan disetujui oleh orang-orang disekitarnya.
Dan, rasanya menyenangkan...
Perkataan Mike tidaklah sekedar omong kosong belaka untuk sekedar menghibur Doni dan Masha, pusat perbelanjaan yang jadi tempat tujuan mereka, memang tidak terlalu jauh dari rumah Mike.
Kalau tanpa kemacetan panjang dijalanan itu, mungkin hanya sepuluh menit saja, mereka sudah bisa tiba disana.
Mike memarkirkan mobilnya dipelataran parkir terbuka, dihalaman pusat perbelanjaan yang tampaknya cukup besar itu.
"Ayo kita masuk!" ajak Mike sambil bergegas turun dari mobilnya, diikuti oleh Masha dengan Doni.
Pusat perbelanjaan itu dengan stand pedagang yang berjualan beraneka ragam barang, terlihat ramai dengan pengunjung, ketika mereka bertiga melangkah masuk kedalam sana.
__ADS_1
"Sebelum bermain di arcade, aku mau berbelanja dulu sebentar. Tidak apa-apa?" tanya Mike.
"Terserah kamu saja..." jawab Masha.
"Asalkan kamu tidak meminta aku yang membayar barang-barang belanjaanmu. Aku tidak punya uang banyak," kata Doni, yang ikut menjawab pertanyaan Mike.
"Kapan aku pernah memintamu membayarkan belanjaanku?" ujar Mike ketus, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu! Kartu domino! Aku membelinya pakai uangku sendiri. Padahal, kamu punya banyak uang," kata Doni, yang tampaknya tidak mau kalah.
Doni selalu saja memancing kekesalan Mike, tapi Mike tampaknya sudah terbiasa dengan candaan Doni, hingga selalu saja hanya berakhir dengan senyum yang mengembang lebar diwajah Mike.
Mike membawa mereka berjalan masuk kedalam stand yang menjual pakaian campuran, baik untuk laki-laki maupun perempuan, bahkan ada juga koleksi pakaian untuk anak-anak disitu.
Tampak beberapa pelanggan yang terlihat sibuk memilih-milih barang, diantara sela-sela pajangan toko.
Mike juga terlihat sibuk memilih kemeja dan celana jeans panjang untuknya, sementara Masha berdiri didekatnya.
"Kamu bisa melihat-lihat di sebelah sana!" kata Mike kepada Masha, sambil menunjuk kearah pajangan yang menampilkan pakaian wanita.
"Aku traktir!" lanjut Mike, sebelum Masha sempat berkata apa-apa.
Masha hanya melihat bagian itu dari tempatnya berdiri sekarang, dan tidak merasa sedikitpun tertarik untuk berbelanja.
"Terimakasih... Tapi, aku tidak terlalu butuh pakaian baru," kata Masha.
"Doni! Jangan hanya mengacak-acak isi toko! Lihat dengan baik, lalu tentukan pilihanmu!" ujar Mike.
Doni yang berdiri agak jauh dari Masha dan Mike, terlihat sedang membongkar lipatan celana jeans panjang, yang tertata didalam rak-rak pajangan.
"Kamu bayarin?" tanya Doni.
"Iya," jawab Mike singkat, lalu kembali melihat-lihat koleksi kemeja didepannya.
"Bagus tidak yang ini?" tanya Mike kepada Masha, sambil menunjukkan kemeja lengan panjang polos dan ada juga yang bermotif kotak-kotak, dengan warna pastel.
"Aku rasa kalau kamu pakai warna bold, kamu akan terlihat lebih keren lagi dibandingkan yang sekarang," jawab Masha.
Masha kemudian mengambil beberapa kemeja dengan warna pekat, mulai dari biru malam, merah maroon, dan coklat tua.
"Mau mencobanya?" tanya Masha, sambil menyodorkan kemeja pilihannya kepada Mike.
Tanpa berkomentar apa-apa, Mike mengambil kemeja pilihan Masha, lalu membawanya kekamar ganti.
Tidak lama Mike lalu keluar lagi dari kamar pas, dan meminta Masha menilai satu persatu kemeja yang dia coba pakai.
"Bagaimana?" tanya Mike.
__ADS_1
"Bagus. Kamu terlihat lebih segar," jawab Masha, sambil tersenyum.
Masha tidak asal bicara.
Mike terlihat semakin tampan dan menarik, ketika memakai kemeja lengan panjang polos berwarna biru malam, dengan bagian lengannya yang dia gulung.
Bahkan, pegawai stand yang rata-rata perempuan tampak terpukau melihat Mike, ketika keluar dari dalam kamar pas dan berdiri didekat Masha.
Bagaimana tidak?!
Mike yang terlihat seperti pemain film Hollywood, mulai dari postur badan, garis wajahnya yang tegas, lengkap dengan hidung yang mancung, dan mata birunya, pasti saja menarik perhatian wanita-wanita yang melihatnya.
"Yakin kalau ini bagus?" tanya Mike lagi.
"Iya... Coba saja tanya kepada wanita-wanita disana! Kalau kamu tidak percaya," kata Masha, sambil menunjuk pegawai stand yang memandangi Mike.
Masha tersenyum lebar dan hampir tertawa, ketika melihat wanita-wanita pekerja toko yang tampak seperti sedang salah tingkah, ketika Mike melihat kearah mereka.
"Percaya sekarang, kalau kamu terlihat tampan?" tanya Masha, ketika Mike kembali melihat kearah Masha.
"Hmmm... Kamu meledekku?!" ujar Mike, yang terlihat seolah-olah sedang merasa gemas sambil melihat Masha.
Masha tertawa kecil.
"Tidak. Tentu saja tidak! Mereka yang mau memandangimu, dan bukan aku yang menyuruh mereka, 'kan?!" ujar Masha membela diri.
Mike tampak mendengus kesal, sambil kembali berjalan masuk kedalam kamar ganti.
"Cha! Bantu aku melihat celana yang bagus!" seru Doni.
Masha kemudian berjalan mendekat, menghampiri Doni diantara pajangan celana jeans panjang yang bergelantungan.
"Kamu juga?!" ujar Masha.
"Eh! Kenapa denganku?" tanya Doni yang terlihat bingung.
"Tidak apa-apa," jawab Masha, lalu melihat-lihat celana yang dipajang disitu.
"Kalau yang model begini, bagaimana?" tanya Doni.
Doni memperlihatkan celana jeans biru, yang bermotif sobek dibagian lutut dan pahanya, kepada Masha.
"Bagus. Itu saja!" jawab Masha, setelah memperhatikan celana yang dipegang Doni itu.
"Oke! Aku mencoba ukurannya dulu," kata Doni, lalu berjalan menuju kamar ganti.
Kini Masha tertinggal sendirian disitu, dan Masha memilih untuk duduk disalah satu bangku yang tersedia didekat situ, hingga kedua pemuda itu selesai memilih belanjaannya.
__ADS_1
"Kami sudah selesai. Sekarang giliranmu!" kata Mike, sambil memegang tangan Masha dan membawanya ke bagian yang memajang pakaian wanita.