TOXIC : Story of Masha

TOXIC : Story of Masha
Part 38


__ADS_3

Asap rokok yang mengepul disana sini, suara musik yang menggetarkan gendang telinga.


Aroma parfum bercampur dengan keringat, memenuhi ruangan tertutup dan pengap, yang hanya di terangi lampu warna-warni, yang hampir tidak ada gunanya sama sekali.


Pengunjungnya cukup padat, dan sebagian dari mereka tampaknya menikmati musik yang berirama cepat dan menghentak, hingga mereka berjoget-joget ria ditengah-tengah ruangan itu.


Bercampur aduk laki-laki dan perempuan, tanpa ada batasan yang pasti di antara mereka.


Pakaian yang minim dan seksi, sebagian besar jadi pilihan wanita yang ada ditempat itu sekarang.


Masha mungkin akan menyesali keputusannya, untuk ikut dengan Mike dan Doni ketempat hiburan malam itu.


Akan tetapi, Masha juga cukup bosan kalau hanya berdiam diri di gudang, dan sebagian besar waktunya hanya dihabiskan bersama kedua pemuda itu.


Masha menggulung lengan kemejanya, ketika dia duduk di kursi yang ada disalah satu petakan, yang berbatas dengan kursi pengunjung yang lain.


Gerah.


Itu yang pertama kali Masha rasakan, ketika dia berjalan masuk dengan Mike dan Doni tadi.


Mike dan Doni tampak pergi memesan minuman untuk mereka, dan baru kembali sambil membawa beberapa botol minuman.


Ketika Masha memperhatikan salah satu botol yang dipegang dan di teguk sedikit oleh Mike, Masha merasa kalau lambang yang menempel dibotol itu terlihat asing.


"Minuman apa itu?" tanya Masha.


"Bir," jawab Mike.


"Bukannya kamu bilang kita tidak akan meminum minuman beralkohol?!" ujar Masha.


"Ini kalau cuma diminum sedikit tidak akan membuatku mabuk," kata Mike datar.


Masha kemudian memperhatikan minuman Doni, dan kelihatannya itu sama saja dengan yang diminum Mike saat ini.


Masha tidak mau banyak berkomentar, kedua pemuda itu bukannya masih anak-anak.


Apapun pilihan yang mereka buat, mereka pasti tahu konsekuensinya.


Berbeda dari minuman Mike dan Doni, Masha diberikan minuman bersoda biasa.


Setelah beberapa saat mereka disitu, Masha merasa kalau ditempat itu sama sekali tidak ada menariknya, dan justru membosankan dibandingkan saat Masha sedang di gudang.


Masha tidak suka mendengarkan musik, yang sedari tadi dimainkan oleh disc jockey.


Warna musik yang hanya mengandalkan beat, selain hanya menyakitkan telinga, tidak ada sedikitpun tanda-tanda bisa memuaskan Masha yang lebih suka dengan aliran musik rock.


Meskipun begitu, Masha tidak mau mengajak Mike ataupun Doni untuk pergi dari situ.


Apalagi, Mike tampak beberapa kali di goda wanita-wanita yang kelihatannya tertarik dengannya.

__ADS_1


Bisa saja, kalau Mike memang ingin bertemu wanita untuknya, hingga sengaja mengajak Masha dan Doni untuk pergi ke tempat itu.


Menit demi menit berlalu, hingga akhirnya sudah hampir satu jam mereka berada di sana, tanpa ada yang saling bicara, selain pertanyaan tentang minuman tadi.


Bukan tanpa alasan.


Selain karena mungkin tidak tahu harus membahas apa, bisingnya tempat itu, akan membuat orang harus setengah berteriak di telinga lawan bicara, agar bisa terdengar apa yang sedang dibicarakan.


Dan itu tentu saja melelahkan.


Sekarang ini, Masha sudah merasa benar-benar bosan.


Dengan kakinya, Masha menyenggol kaki Doni yang duduk tidak jauh darinya.


Doni kemudian mencondongkan badannya kearah Masha.


"Ada apa?" tanya Doni.


"Aku bosan! Apa kita bisa pergi dari sini?" tanya Masha.


Doni kembali meluruskan badannya, dan tampak hanya terdiam untuk beberapa saat, sebelum dia terlihat mencondongkan badannya lagi kearah Mike.


Doni tampak berbicara dengan Mike, dan Mike tampak melihat kearah Masha.


Tidak berapa lama, Mike lagi yang terlihat seperti sedang berbicara kepada Doni.


Sesudah itu, Doni berdiri dari tempat duduknya, dan mengulurkan tangannya kearah Masha.


Doni berjalan keluar dari tempat itu, sambil membawa Masha bersamanya.


Ketika mereka sudah di area yang tidak terlalu berisik, Doni kemudian berkata kepada Masha,


"Kita bisa pakai taksi atau ojek untuk kembali ke gudang lebih dulu. Mike masih mau menghabiskan waktunya ditempat itu."


"Hmmm... Oke!" ujar Masha.


"Oh iya! Apa kamu tidak lapar?" tanya Doni.


"Kita bisa singgah makan saja dulu, sebelum kita kembali ke gudang," lanjut Doni lagi.


"Aku mau nasi goreng," jawab Masha.


Doni tampak manggut-manggut mengerti.


Sebelum mereka mencari tumpangan untuk kembali ke gudang, Doni dan Masha berjalan kaki menyusuri trotoar, sambil mencari pedagang yang berjualan makanan disekitar situ.


"Ada apa dengan Mike?" tanya Masha.


"Kenapa kamu bertanya?" Doni balik bertanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa kalau malam ini dia agak berbeda dari biasanya," jawab Masha.


"Biasanya kalau kita tidak mau bertahan ditempat yang kita datangi, dia juga akan ikut pergi dari sana bersama dengan kita," lanjut Masha.


"Hmmm... Mungkin ada sesuatu yang sedang dia pikirkan sekarang," ujar Doni datar.


Dari kejauhan, terlihat beberapa tenda pedagang-pedagang makanan yang berdiri dipinggir jalan, diatas trotoar.


Masha dan Doni memilih untuk singgah di salah satu tenda pedagang, yang pertama kali mereka temui.


Dinginnya suhu malam itu baru terasa, setelah Masha duduk menunggu cukup lama, hingga pesanan makanannya matang.


Aroma tumisan bumbu yang menyebar di hampir segala arah, memancing rasa lapar Masha, hingga membuatnya merasa agak tidak sabaran untuk segera makan.


Akhirnya pesanan mereka diantar, dan disajikan diatas meja tempat mereka berdua duduk menunggu.


"Bukannya aku tidak menghargai cincin pemberianmu, tapi... Apa itu tidak mengganggu tabunganmu untuk biaya berkuliah?" tanya Masha setelah mengunyah dan menelan sesendok makanannya.


"Tidak... Aku masih ada waktu beberapa bulan lagi, untuk menyimpan uang tambahan," jawab Doni.


"Hmmm... Tapi, kamu menyukai cincin pilihanku?" lanjut Doni.


"Tentu saja. Cincin ini sangat cantik," jawab Masha.


Doni tampak tersenyum lebar, lalu lanjut memakan makanannya.


"Kita bisa berkuliah di waktu yang sama nanti..." celetuk Doni.


"Kamu sudah bisa memikirkan, mau berkuliah di universitas mana," lanjut Doni.


"Hmmm... Aku mungkin akan mencoba mendaftar lagi di universitas, yang semestinya aku bisa berkuliah dengan beasiswa waktu itu," kata Masha.


"Dimana itu?" tanya Doni.


Masha kemudian menyebutkan nama sebuah kota, yang cukup jauh dari kota yang sekarang mereka tinggali.


"Tempat itu jauh dari sini..." ujar Doni dengan alis mengerut.


"Boleh aku tahu apa alasannya, hingga kamu memilih kesana?" tanya Doni.


"Aku berniat mencoba lagi, kalau-kalau aku bisa mendapatkan beasiswa disana," jawab Masha.


"Dengan begitu, biaya kuliahku tidak akan terlalu membuatku kesulitan," lanjut Masha.


Doni menundukkan pandangannya, dan tampak menatap piring makannya.


"Bukan untuk menjauh dariku, bukan?" tanya Doni.


"Tidak. Jangan berpikiran seperti itu...! Kamu 'kan bisa ikut mendaftar disana, kalau kamu kita tetap tinggal berdekatan," jawab Masha.

__ADS_1


"Universitas cukup besar, dengan banyak pilihan jurusan yang hampir lengkap," lanjut Masha.


Doni terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, dan sama seperti Masha, lanjut memakan makanannya sampai habis.


__ADS_2