TOXIC : Story of Masha

TOXIC : Story of Masha
Part 28


__ADS_3

Bukannya Masha tidak mau menerima niat baik Doni, hanya saja bagi Masha, hal itu terlalu terburu-buru kalau harus dipikirkannya sekarang.


Dan kalau Masha bisa berterus-terang, Masha belum yakin kalau rasa sayangnya kepada Doni, sudah cukup untuk membuatnya berpikir sampai ke jenjang pernikahan.


Masha masih mau menjalaninya saja dulu, sebagai teman yang dekat, lebih dekat jika dibandingkan pertemanannya sekarang dengan Mike, sambil Masha belajar mengenali Doni lebih baik lagi.


Doni sudah berbaring di atas tempat tidur, dengan posisi menyamping membelakangi Masha yang duduk di sofa.


Masha memandangi pemuda itu.


Doni mungkin agak merasa kecewa, karena Masha mengatakan kalau dia menyayangi Doni, tapi Masha tidak mau menjawab tentang idenya untuk menikah.


Tapi, mau bagaimana lagi?


Masha tidak mau berbohong, dan memilih untuk mendiamkannya saja terlebih dahulu.


Masha lalu menghampiri Doni yang terlihat bergerak sedikit dalam tidurnya, dan memperhatikan Doni baik-baik.


Pemuda itu masih tertidur pulas, meskipun alisnya terlihat mengkerut, seolah-olah tidak nyaman dengan sesuatu yang mungkin mengganggu tidurnya.


Masha mengecup pipi Doni perlahan, lalu mengusap kepalanya sebentar, dan Doni tampaknya menyukainya, alisnya tidak lagi mengerut dan tampak lebih tenang.


Melihat Doni sudah lebih tenang, Masha kembali pergi ke sofa.


Baru saja Masha duduk, Mike terlihat berjalan masuk kedalam kamar itu, dan tampak memperhatikan Doni sebentar, sebelum dia menghampiri Masha dan ikut duduk disofa.


Mike hanya mengenakan kaus tanpa lengan yang tipis menerawang, dipadankan dengan celana pendek.


Pantas saja kalau Masha merasa seperti sedang bersandar di sesuatu yang keras, dan seakan-akan sedang dijepit dengan cabang kayu, saat Mike memeluknya.


Badan Mike terlihat padat berotot, dan Masha tidak pernah melihatnya sebelumnya karena kemeja yang biasa dipakai Mike.


Kali ini ketika Mike memakai kaus tipis seperti itu, bahkan otot perutnya yang kotak-kotak, bisa dilihat Masha meskipun samar-samar.


"Kenapa kamu belum tidur? Bukannya, tadi kamu tampak sangat mengantuk?" tanya Mike.


Mike berbicara dengan suara pelan, hingga terdengar seperti sedang berbisik, mungkin agar membangunkan Doni.


"Aku tidak bisa tidur..." jawab Masha.


"Aku tadi sudah kesini... Tapi, kelihatannya ada yang kalian bicarakan yang cukup serius. Jadi, aku kembali ke kamarku," ujar Mike.


"Apa karena bahan pembicaraan antara kalian itu, yang membuatmu tidak bisa tidur?" lanjut Mike.

__ADS_1


"Tidak ada hubungannya dengan itu. Aku hanya kehilangan rasa kantukku begitu saja," jawab Masha.


"Kenapa tidak coba berbaring di tempat tidur? Mungkin kamu bisa tertidur, daripada duduk disini," kata Mike.


"Aku tadi sudah berbaring dengan Doni, tapi aku tetap tidak bisa tidur, hingga Doni sudah terlelap lebih dulu... Aku baru saja pindah ke sofa ini," jawab Masha.


"Aku kira kamu akan tidur dikamarmu..." lanjut Masha.


"Rencananya tadi seperti itu, tapi aku bosan dikamar, saat aku tidak bisa tidur dan hanya berputar-putar diatas ranjang. Jadi, aku kesini. Sekalian memeriksa kalian berdua..." ujar Mike.


"Eh! Memangnya kamu pikir kami akan melakukan apa?" tanya Masha.


Mike tersenyum lebar, dan tertawa kecil.


"Jangan salah paham! Aku tahu kalau kalian tidak akan berbuat macam-macam yang berlebihan, dengan pintu kamar yang terbuka lebar seperti itu...


Aku hanya mau memeriksa, kalau-kalau ada yang kalian butuhkan. Mungkin tambahan selimut, atau bantal, atau apa saja..." jawab Mike panjang lebar.


"Hmmm... Begitu?!" ujar Masha.


"Iya..." jawab Mike, lalu terlihat sedang memandangi Doni.


"Doni masih bisa tertidur tanpa bermimpi buruk. Meskipun sering mengalami *mood swing... Sikapnya juga terkadang juga over protective... Kurang lebih sama denganku," celetuk Mike.


"Aku juga sering over protective... Saat ada orang yang aku sayang, atau dekat denganku, aku selalu ingin terus menerus menjaganya... Dan aku sadarnya belakangan, kalau sikapku sudah berlebihan," jawab Mike.


"Waktu aku konsultasi dengan terapis, katanya dari sekian banyak gejalanya, memang ada yang begitu...


Ketika seseorang pernah mengalami trauma, siapa saja yang dekat dengan orang itu, akan dijaganya baik-baik agar orang itu tidak terluka...


Meskipun, niatnya untuk menjaga sudah kelewat batas, bahkan hampir seperti orang posesif," lanjut Mike.


Masha terdiam sambil memikirkan perkataan Mike.


Menurut apa yang ditangkap Masha waktu mereka beristirahat di pos jaga waktu diperjalanan siang tadi, Mike bahkan seolah-olah menyalahkan dirinya sendiri, waktu kenalannya bunuh diri.


Mungkin saja Doni juga begitu, hingga Doni berpikir untuk menikah dengan Masha, agar bisa terus menerus menjaga Masha.


Entah itu hal yang bagus, atau hanya akan menyulitkan Masha nanti.


"Sebenarnya bagiku, menemui terapis rasanya sia-sia... Meskipun aku memang merasa sedikit lebih baik, tapi kemungkinan besar, aku merasa kalau aku memang tidak akan bisa pulih sepenuhnya," celetuk Mike.


"Tapi, bukannya kamu menyarankan aku untuk ikut terapi?" tanya Masha.

__ADS_1


"Iya, lumayan saja untuk bisa membuatmu merasa lebih tenang. Walaupun tetap harus menjalani hidup dengan obat-obatan terus menerus..." ujar Mike.


"Eh! Bukan begitu maksudku! Kalau pengalaman burukmu tidak terlalu berpengaruh di keseharianmu, mungkin kamu masih bisa pulih total...


Aku berharap kamu memang bisa begitu, dan tidak seperti aku yang benar-benar kacau, kalau aku sampai melewatkan obat-obatanku," lanjut Mike.


"Lalu kenapa kamu meninggalkan obatmu di apartemen?" tanya Masha.


"Hanya obat untuk membantuku tidur saja yang biasanya aku lewatkan...


Kalau aku bisa jujur, aku memang sengaja tidak mau sering meminumnya. Aku mau mencoba berusaha sendiri, agar paling tidak, aku bisa tidur seperti orang normal," jawab Mike.


"Jadi, maksudmu orang-orang seperti kamu, Doni, dan aku, itu tidak normal? Orang sakit jiwa, begitu?" tanya Masha.


"Iya. Mau tidak mau, memang sudah begitu adanya. Dan, aku tidak malu mengakuinya. Nobody's perfect, right?!" ujar Mike.


Masha kembali terdiam, ketika mendengar perkataan Mike.


"Hmmm... Mike, apa aku boleh tahu? Sekacau apa kamu kalau kamu melewatkan obat-obatanmu," tanya Masha.


"Aku tidak akan bisa bicara dengan baik denganmu seperti sekarang ini. Mungkin aku bisa tiba-tiba menangis, atau tertawa sendiri," jawab Mike.


"Lalu bagaimana kamu melewati masa-masa sekolahmu dulu?" tanya Masha.


"Hmmm... Waktu itu, sampai aku kuliah, gejalanya tidak terlalu parah. Makanya, aku masih bisa sekolah dan melanjutkan kuliah dengan baik...


Tapi, sejak aku selesai kuliah dan kembali lagi kesini, mood swing-ku memburuk...


Aku bisa menangis, dan mengurung diri sendiri selama berhari-hari. Tidak mau makan, tidak mau minum, sampai-sampai membersihkan diri sendiri, aku juga merasa enggan...


Bahkan, aku sempat berpikir untuk menghabisi nyawaku sendiri," jawab Mike.


"Ayahku kemudian membawaku ke psikiater, karena kelakuanku yang dianggapnya tidak biasa," lanjut Mike.


Saat mengalami *disorientasi saja, rasanya Masha sudah kewalahan.


Bagaimana kalau Masha sampai mengalami mood swing seburuk itu?


Masha menarik nafasnya yang terasa berat, sambil berharap agar Masha tidak akan mengalami gejala buruk seperti Mike.


________________________


(*Mood swing \= perubahan suasana hati atau keadaan emosional secara mendadak)

__ADS_1


(*Disorientasi \= perubahan kondisi mental yang membuat seseorang kebingungan dan tidak mengetahui lokasinya berada, identitas dirinya, dan tanggal atau jam di situasi tersebut.)


__ADS_2