TOXIC : Story of Masha

TOXIC : Story of Masha
Part 36


__ADS_3

"Aku memang akan tinggal disini. Jadi silahkan membiasakan diri untuk melihat wajahku setiap saat," ujar Mike datar.


"Eh! Maksudnya apa ini?" tanya Doni tampak heran, lalu mengangkat kaki Mike, kemudian duduk disofa itu bersamanya, dan membiarkan kaki Mike melintang diatas pahanya.


"Tuh! Mike mau tinggal disini bersamaku," jawab Masha.


"Kalian sedang bercanda?" tanya Doni, tampak tidak percaya dengan perkataan Masha dan Mike.


"Tidak. Kamu juga bisa tinggal disini saja. Kasur yang baru saja aku beli, ukurannya cukup besar. Kita bertiga bisa tidur bersama dalam satu kamar," jawab Mike, sambil tetap menatap buku ditangannya.


Doni mengerutkan alisnya, sambil menatap Masha, seolah-olah ingin memastikan sesuatu, namun Masha hanya mengangkat kedua bahunya, menandakan kalau Masha tidak tahu, dan terserah Doni saja.


"Kalau tahu begitu, aku tadi tidak membawa baju-bajuku pulang kerumahku," celetuk Doni.


"Terserah kalian saja. Aku mau melanjutkan pekerjaanku," kata Masha, lalu berbalik dan kembali menghadap layar komputer.


Masha masih bisa mendengarkan percakapan antara Doni dengan Mike, namun Masha tidak terlalu mau memperhatikan apa yang sedang mereka bicarakan.


Masha punya target agar paling tidak, dia bisa memasukkan data kedalam komputer, dari tiga lembar map sebagai jumlah minimal, sebelum dia beristirahat hari itu.


Setelah beberapa waktu lamanya Masha mengetik didepan komputer, akhirnya sesuai perencanaannya, tiga lembar map berisi berkas, akhirnya selesai juga dikerjakannya.


Masha mematikan komputer, kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu meregangkan tubuhnya dan berbalik.


Mike tampak masih dengan posisi yang sama, dan juga masih memegang buku ditangannya.


Sedangkan Doni, tidak terlihat lagi disitu.


"Dimana Doni?" tanya Masha.


Mike menurunkan bukunya dan meletakkannya diatas dadanya, sambil melihat kearah Masha.


"Dia pergi berbaring di kasur baruku," jawab Mike, lalu melambaikan tangannya seolah-olah memanggil Masha untuk mendekat.


"Ada apa?" tanya Masha, sambil menghampiri Mike.


Mike mengulurkan kedua tangannya kearah Masha.


"Tolong tarik aku! Bantu aku berdiri! Punggungku keram," kata Mike.


Sambil tertawa kecil, Masha memegang kedua tangan Mike, dan membantunya agar bisa berdiri dari sofa.


Mike lalu memeluk Masha dengan erat.


"Terimakasih... Baru terasa sakitnya, mengemudi terlalu lama," kata Mike, lalu melepaskan pelukannya dari Masha.


"Sudah lapar belum?" tanya Mike.


"Belum... Tapi, aku mau mengambil keripik," jawab Masha, lalu berjalan melewati Mike.


Masha sempat melihat kekamar saat dia berjalan kearah dapur, dan Doni tampak sedang berbaring bertelungkup diatas kasur yang baru saja dibeli Mike tadi.

__ADS_1


Ketika Masha kembali sambil membawa dua kaleng soda dan keripik, Doni masih berbaring dengan posisi yang sama.


Mungkin saja, kalau Doni sekarang sedang tertidur disana.


Dibagian depan, terlihat Mike sudah menggelar karpet dilantai.


"Duduk begini saja. Bisa sekalian meluruskan kaki," kata Mike kemudian duduk disitu.


Masha juga ikut duduk di karpet, dan menyodorkan sekaleng soda kepada Mike, lalu membuka kantong berisi keripik kentang.


Sambil berbagi keripik dengan Mike, Masha memakan camilan itu, sambil sesekali meminum soda untuk membasahkan tenggorokannya yang terasa kering.


Hampir saja Masha bertanya jam kepada Mike, namun dia teringat dengan arloji pemberian Mike kepadanya tadi.


Masha kemudian melihat arloji di pergelangan tangannya.


Sudah hampir pukul enam sore.


Pantas saja, diluar gudang sudah mulai terlihat gelap.


"Mau bermain domino? Sambil menunggu Doni bangun," tanya Mike.


"Hmmm... Oke!" jawab Masha.


Mike kemudian berdiri dan mengambil kartu yang tersusun diatas lemari arsip, dan membawanya sambil duduk kembali duduk didekat Masha.


Tidak berapa lama, Masha dan Mike sudah asyik bermain domino disitu, memakai aturan akan diselentik jarinya saat ada yang kalah.


"Kalian tidak mengajakku bermain," celetuk Doni.


"Hmmm... Kami tidak mau membangunkanmu. Karena kamu terlihat tertidur nyenyak," ujar Masha.


"Kita berhenti saja dulu, mainnya! Sekarang, lebih baik kalau kita pergi mencari makan," kata Mike, sambil mengembalikan sisa kartu di tangannya, keatas tumpukan kartu yang tersusun rapi.


"Apa bisa kalian saja yang pergi?" tanya Masha.


"Kenapa?" tanya Mike.


"Aku mau mandi dulu," jawab Masha.


"Kalian mau makan apa? Biar aku saja yang keluar membelinya. Pakai sepeda motor lebih cepat juga ringkas daripada kamu harus memakai mobil," ujar Doni.


"Terserah kalian saja, ya?! Aku pergi mandi dulu," kata Masha, lalu berjalan pergi meninggalkan Doni dan Mike disitu.


Masha benar-benar menikmati waktu sendirinya didalam kamar mandi, mulai dari mencuci pakaiannya, hingga mandi dibawah air pancuran yang dingin tapi menyegarkan.


Ketika keluar dari sana dan berpakaian, Masha masih tidak memperhatikan apa saja yang sedang dilakukan Mike dan Doni didepan.


Sambil menyisir rambutnya, Masha kemudian menyusul kedua pemuda itu di ruang depan.


"Aku tadi membeli seafood. Mike mau makan kepiting," ujar Doni.

__ADS_1


Masha manggut-manggut mengerti.


"Lauk yang lain, aku membeli udang dan cumi-cumi. Kamu mau yang mana?" tanya Doni.


"Apa saja tidak masalah," jawab Masha.


"Tapi, sekarang aku belum lapar. Kalian bisa makan duluan saja," lanjut Masha, sambil duduk di atas karpet dan bersandar di dinding.


"Aku juga belum merasa lapar. Aku hanya mau membelinya saja, agar nanti waktu aku mau makan, makanannya sudah ada," ujar Mike.


"Kalau kamu mau makan duluan, makan saja!" lanjut Mike kepada Doni.


"Tidak. Aku buru-buru pergi membelinya, karena aku pikir kalian semua sudah kelaparan," ujar Doni.


Masha menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ada apa dengan kedua orang ini?


Semua terdengar seperti sedang beralasan, karena Masha menolak untuk makan sekarang.


Doni mendekat kearah Masha, lalu mengambil sisir dari tangan Masha.


"Kenapa?" tanya Masha.


"Biar aku bantu menyisir rambutmu," kata Doni, kemudian mulai menyisir rambut Masha dengan perlahan.


Doni bahkan mengarahkan Masha agar duduk menyamping, dan sedikit menjauh dari dinding, agar dia bisa duduk dibelakang Masha.


"Aku tadi bertemu kenalanku di perumahan..." celetuk Doni.


"Oh... Terus? Untuk apa kamu memberitahuku?" tanya Masha.


"Aku meminta bantuannya, untuk mendekati Kinan... Aku rasa, mungkin dia bisa meminta Kinan mengambilkan ijazahmu," jawab Doni.


"Tapi, kamu jangan terlalu banyak berharap dulu! Soalnya, dia baru saja mau mencobanya," lanjut Doni buru-buru.


"Kenapa kenalanmu mau saja diminta bantuannya, untuk mengambilkan ijazahku?" tanya Masha.


"Aku pernah membantunya dulu. Jadi sekarang, anggap saja dia sedang membalas budi," jawab Doni.


"Hmmm... Tapi, kamu masih ingat janjimu 'kan?" tanya Doni.


"Janji apa?" tanya Masha dengan alis mengerut.


"Kalau aku berhasil mendapatkan ijazahmu, kamu akan menerima lamaranku," jawab Doni.


"Doni..." ujar Masha pelan.


"Aku sudah bilang kalau kita tidak perlu segera menikah. Aku hanya mau kamu jadi tunanganku," kata Doni.


Masha tidak bisa melihat bagaimana raut wajah Doni, karena sekarang dia sedang dibelakang Masha, namun Masha bisa melihat wajah Mike dengan jelas.

__ADS_1


Mike tampak memasang wajah datar, dengan pandangannya yang menatap kearah pintu depan yang terbuka, seolah-olah dia tidak mau memperhatikan pembicaraan antara Masha dengan Doni.


__ADS_2