
Malam sudah semakin larut, dan dipantai itu sudah mulai sepi dari pengunjung.
Suara deburan ombak yang teratur, membuat Masha jadi mengantuk.
Dengan menyandarkan kepalanya di bahu Doni, Masha hampir saja tertidur.
"Kita pulang sekarang? Belum ada dari kita yang makan malam. Dan kelihatannya Masha sudah mengantuk," ujar Mike.
"Iya. Aku hanya menunggu ada dari kalian yang mengajak kita pulang," kata Doni.
Doni merangkul Masha, dan berjalan bersamanya menuju ke mobil Mike yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Aku duduk dibelakang bersama Masha," ujar Doni, lalu masuk dibagian belakang mobil Mike.
Mike kemudian membawa mereka semua kembali ke rumahnya, dengan memacu mobilnya dalam kecepatan sedang.
Berkali-kali, Masha hampir terlelap diperjalanan yang singkat itu.
Perjalanan panjang antar kota siang tadi, memang melelahkan.
Apalagi, Masha yang sudah terbangun sejak subuh tadi, sedangkan semalam mereka sempat bergadang sambil bermain domino.
Doni masih merangkul Masha ketika mereka masuk kedalam rumah Mike, setelah Mike memarkirkan mobilnya di garasi.
"Jangan tidur dengan perut kosong! Kita makan sama-sama saja dulu," ujar Mike, lalu berjalan kearah ruang makan dirumahnya itu.
"Aku sudah mengantuk... Aku juga tidak lapar... Aku mau langsung tidur saja," kata Masha, lalu menguap sambil menutup mulutnya yang menganga lebar, dengan tangannya.
"Masha...! Makan saja dulu! Kamu masih ada obat yang harus kamu minum, bukan?" ujar Mike, yang terdengar memaksa.
"Tidak baik kalau minum obat, tanpa mengalas lambungmu dengan makanan biar sedikit," lanjut Mike.
"Iya, benar kata Mike. Kalau sesudah makan, kamu terlalu lemas untuk naik kekamar diatas, nanti aku menggendongmu," kata Doni, yang ikut-ikutan memaksa.
"Aku masih bisa berjalan sendiri..." ujar Masha, lalu kembali menguap.
Masha kemudian duduk disalah satu kursi diruang makan itu, begitu juga Doni yang ikut duduk disana, bersebelahan dengan Masha.
Sedangkan Mike, tampak berjalan kearah dapur, dan tak lama, dia sudah terlihat kembali, kemudian mengambil tempat duduk bersama Doni dan Masha disitu.
Tidak perlu menunggu terlalu lama, beberapa pekerja dirumah Mike, terlihat sudah membawa makanan, berikut juga dengan peralatan makan dan minum, dan menyajikannya diatas meja.
"Dimakan! Kalau sudah makan dan minum obat, kamu bisa langsung pergi tidur kekamar," kata Mike.
Mereka bertiga makan disitu, tanpa ada yang berbicara apa-apa, dan hanya suara peralatan makan yang bersentuhan saja yang terdengar disana.
Masha rasanya tidak terlalu berselera untuk makan, karena lebih banyak rasa mengantuk yang menguasai kepalanya, dan mengalahkan rasa lapar diperutnya.
Dengan memaksakan agar matanya tetap terbuka, Masha berusaha agar bisa memakan makanannya.
"Sudah! Aku sudah kenyang! Aku kekamar duluan ya?!" ujar Masha, dan tanpa menunggu komentar dari Mike dan Doni, Masha berjalan pelan, pergi dari ruang makan itu.
__ADS_1
Baru saja Masha mencapai anak tangga pertama, baik Mike maupun Doni sudah menyusulnya disitu.
"Eh! Kalian sudah selesai makan?" tanya Masha bingung.
"Sudah! Aku buru-buru menyusulmu, takutnya kamu saking mengantuknya lalu terjatuh ditangga," jawab Doni.
Masha lalu menoleh kesisi sampingnya yang berbeda, dan melihat Mike yang berjalan didekatnya.
"Sama saja, seperti doni. Kalau kamu sampai terjatuh, Doni mungkin tidak akan sanggup mengangkatmu sendirian," kata Mike, meski Masha tidak berkata apa-apa.
Sebenarnya dalam hati Masha, dia merasa agak bingung melihat Mike yang tampak masih segar, seolah-olah tidak ada rasa lelah.
Padahal, Mike hanya tidur beberapa jam subuh ke pagi hari tadi, dia juga yang mengemudi disepanjang perjalanan, tanpa ada sekalipun singgah beristirahat untuk tidur.
"Kamu tidak lelah?" tanya Masha akhirnya, karena tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Tidak. 'Kan aku sudah bilang kalau aku sudah biasa tidak tidur beberapa hari," jawab Mike.
"Tapi itu tidak baik untuk kesehatanmu... juga akan jadi berbahaya, kalau sampai kamu kehilangan konsentrasi saat kamu sedang menyetir," tukas Masha.
"Kamu membawa obatmu tidak?" tanya Masha.
"Hmmm... Tidak. Aku meninggalkannya di apartemen," jawab Mike.
"Kamu memang benar-benar... Ah, sudahlah!" ujar Masha geregetan.
"Kalau kamu memang khawatir, apa aku bisa tidur bersamamu malam ini?" tanya Mike dengan santainya.
"Kalau Mike bisa tidur sekamar denganmu, aku juga mau," lanjut Doni.
Masha menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rasanya, dia tidak bisa percaya dengan apa yang jadi bahan pembicaraan antara Mike dan Doni sekarang ini.
"Bagaimana? Kami berdua bisa tidur denganmu?" tanya Mike.
"Bisa, ya?" ujar doni yang ikut-ikutan bertanya.
Bagi Masha, dari nada suara Mike, pemuda itu seolah-olah hanya sedang bercanda, saat bertanya hal itu kepada Masha.
Tapi, kalau dipikir-pikir mungkin tidak akan menjadi masalah kalau mereka hanya tidur saja.
Doni dan Mike bisa tidur diatas ranjang, dan Masha bisa tidur di sofa dekat jendela.
"Iya, kalian bisa tidur sekamar denganku. Asalkan hanya tidur, dan jangan coba-coba menggangguku!" kata Masha.
Mereka sudah dilantai atas, dan Mike tampak memasuki kamarnya sendiri.
"Kamu tidak jadi tidur dikamar Masha?" tanya Doni.
"Tidak!" jawab Mike datar.
__ADS_1
"Baguslah! Jadi aku bisa berdua saja dengannya," lanjut Doni buru-buru.
"Matamu! Kamu pikir aku mau membiarkan kamu berdua saja dengannya. Aku mau mandi dulu, nanti aku menyusul kesitu. Jadi, sebaiknya kamu jangan berbuat apa-apa kepada Masha," ujar Mike dengan nada sinis.
Doni terlihat manggut-manggut, seolah-olah mengerti dan menyetujui perkataan Mike.
Masha membuka pintu kamarnya, dan tetap membiarkan pintu itu terbuka lebar, meski Doni sudah ikut menyusul kedalam situ.
"Aku mau menciummu sebentar, mumpung Mike belum kesini," kata Doni sambil memeluk Masha.
"Doni...!" ujar Masha, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Habis, kamu kelihatannya malu-malu, kalau aku menciummu didepan Mike," tukas Doni, lalu tanpa menunggu lama-lama lagi, menundukkan kepalanya dan mencium Masha disitu.
"Siapa menyangka, kalau laki-laki seperti aku bisa jadi pacarmu..." celetuk Doni, setelah berhenti mencium Masha, sambil mempererat pelukannya dibadan Masha.
"Memangnya kamu laki-laki seperti apa?" tanya Masha.
"Aku tahu kalau kamu pasti menilaiku sebagai laki-laki konyol, bukan? Bukan laki-laki keren seperti Mike," jawab Doni.
"Hmmm... Sayangnya, aku baru mengenal kalian berdua. Pasti ada laki-laki lain yang lebih menarik lagi, dibandingkan kamu atau Mike," ujar Masha, sambil tertawa kecil.
"Kamu meledekku?" tanya Doni gemas.
"Kamu saja masih jelalatan melihat wanita-wanita dipantai tadi," jawab Masha.
"Kalau cuma melihat tidak apa-apa 'kan?!" ujar Doni.
"Eh! Apa kamu cemburu?" tanya Doni buru-buru.
"Tidak. Siapa bilang aku cemburu?" ujar Masha tidak mau kalah.
"Hmmm... Kamu tidak tahu saja... Aku sudah tertarik denganmu, sejak kamu baru saja pindah diperumahan...
Kamu terlihat sangat cantik, waktu pertama kali aku melihatmu memakai seragam putih abu-abu, lalu berjalan pergi ke sekolahan," kata Doni.
"Lalu, kenapa kamu tidak pernah menyapaku sebelumnya?" tanya Masha.
"Aku tidak percaya diri... Aku tahu kalau gadis secantik kamu pasti banyak yang suka. Apalah dayaku yang hanya remahan rempeyek..." jawab Doni.
"Hmmm... Begitu, ya?! Padahal aku tidak punya pacar. Kamu pacarku yang pertama," ujar Masha.
"Serius?" tanya Doni, seolah-olah tidak percaya dengan perkataan Masha.
"Iya," jawab Masha.
"Aku sangat beruntung kalau begitu. Tunggu tabunganku sudah cukup, aku berniat menikahimu nanti," ujar Doni.
"Eh! Jauh amat mikirnya?!" kata Masha.
"Aku bersungguh-sungguh. Aku juga merasa heran, kenapa aku bisa secepat itu bisa merasa yakin, kalau aku mau kamu jadi istriku nanti," kata Doni lalu mencium kening Masha.
__ADS_1
"Aku menyayangimu... Bagaimana denganmu?" lanjut Doni.