
Sudah berminggu-minggu waktu yang berlalu, sejak Mike memutuskan untuk tinggal bersama Masha di gudang dekat pelabuhan itu.
Doni juga ikut tinggal disana, dan mereka bertiga jadi sering menghabiskan waktu bersama, saat tidak ada pekerjaan yang harus dikerjakan.
Sudah satu laci banyaknya berkas-berkas yang sudah selesai di ketikan data-datanya oleh Masha, dan Mike baru saja memberikan upah kerja Masha untuk bulan itu.
"Di tabung saja! Kalau ada yang kamu perlukan untuk sehari-hari, kamu cukup beritahu aku saja, aku akan membelikannya untukmu, oke?!"
Begitu kata Mike, ketika dia menyerahkan amplop berisi sejumlah uang kepada Masha.
Saking sibuknya dengan pekerjaan, atau barjalan-jalan, dan bersenda gurau dengan Mike dan Doni, Masha sudah melupakan tentang perkataan Doni tentang mencoba mengambil ijazah milik Masha.
Hingga di sore itu, Doni yang baru saja kembali ke gudang setelah beralasan kalau ada sesuatu yang harus dia kerjakan di rumahnya, sejak siang tadi setelah makan siang bersama-sama.
Doni terlihat senyum-senyum sendiri sambil menatap Masha, sejak melewati pintu depan gudang.
"Dimana Mike?" tanya Doni.
"Mandi," jawab Masha.
"Kalau begitu, nanti saja," ujar Doni.
Doni kemudian duduk diatas sofa bersebelahan dengan Masha, yang menandai berkas-berkas baru yang sedang dia periksa.
Harum parfum Mike yang maskulin menyebar didalam tempat itu, tidak berapa lama setelah Doni duduk.
Mike kemudian terlihat berjalan kedepan, menghampiri Masha dan Doni, lalu memilih untuk duduk di kursi kerja.
Masha berhenti memeriksa berkas-berkas, meskipun kertas-kertas itu masih dipegangnya, dan memperhatikan gerak-gerik Mike dan Doni disitu.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Mike sambil melihat Doni.
Senyum di wajah Doni, semakin lebar.
"Mike! Aku mau kamu menjadi saksi hari ini," ujar Doni.
"Eh! Apa maksudmu?" tanya Mike yang terlihat bingung.
Doni tampak mengambil sesuatu dari punggungnya, dan menyerahkannya kepada Masha.
"Ini ijazahmu!" kata Doni.
Mata Masha terbelalak, dan tanpa segera mengambil selembar map dari tangan Doni, Masha menatap Doni lekat-lekat.
"Ambil!" ujar Doni lagi.
"Kamu tidak sedang bercanda, 'kan?" tanya Masha dengan rasa tidak percaya, dan mengambil map itu dari tangan Doni.
Masha membuka lembaran map, dan memang benar saja apa yang dikatakan oleh Doni.
Masha tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, hingga meneteskan air matanya, saat melihat ijazah sekolah menengah atas miliknya, yang sekarang sedang dia pegang.
__ADS_1
"Jangan menangis...!" ujar Doni pelan, lalu memeluk Masha.
"Terimakasih..." ujar Masha sambil terisak-isak.
Mike menghampiri Masha dan Doni.
"Bisa aku lihat?" tanya Mike, sambil mengambil map itu dari tangan Masha, lalu kembali duduk dikursi kerja, dan tampak memperhatikan isi map itu.
"Jangan menangis lagi, sayang...!" ujar Doni, berusaha menenangkan Masha.
Doni mengelap wajah Masha yang masih basah dengan air mata, dengan lembut dan perlahan-lahan.
"Kamu jadi jelek kalau menangis..." celetuk Doni, sambil tertawa kecil.
Masha ikut tertawa, lalu kembali berpelukan dengan Doni.
"Terimakasih banyak," ucap Masha lagi.
"Tidak masalah sayang... Aku 'kan sudah bilang, kalau aku akan berusaha membantumu sebisaku," kata Doni.
Doni lalu melepaskan pelukannya, dan memegang kedua bahu Masha untuk memberi jarak antara mereka berdua.
"Mike! Kamu harus lihat ini!" ujar Doni, sambil melihat melihat kearah Mike sebentar.
Ketika Mike sudah mengarahkan pandangannya kepada Doni dan Masha, Doni tampak berusaha mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah kotak perhiasan kecil, yang kemudian dibuka Doni, dan memperlihatkan isinya kepada Masha.
Masha tertawa kecil.
"Semestinya aku melamar untuk menikahimu, tapi aku rasa kamu nanti akan menolaknya. Kalau cuma bertunangan kamu mungkin mau menerimanya," kata Doni yang tampak seperti sedang salah tingkah.
"Iya, aku mau..." jawab masha, lalu mengangkat tangannya, dengan jari-jarinya yang menjulur.
Doni tersenyum lebar, lalu tampak terburu-buru mengeluarkan cincin dari dalam kotak perhiasan, dan memasangkannya di jari tangan Masha.
Masha cukup terkejut, karena cincin pilihan Doni, ukurannya benar-benar pas di jari manis tangan Masha.
"Cocok!" ujar Doni tampak sangat senang saat melihat tangan Masha, lalu mendekatkan wajahnya dan mencium Masha disitu.
"Bagaimana bisa ukurannya pas seperti ini?" tanya Masha yang masih bingung, setelah Doni berhenti menciumnya.
Doni lalu mengangkat jari kelingkingnya.
"Aku hanya memakai ukuran ini saja..." jawab Doni.
"Kata orang, kalau memang jodoh, maka ukuran kelingking laki-laki akan jadi ukuran untuk jari manis jodohnya," lanjut Doni yang terlihat percaya diri.
Masha tertawa kecil, karena wajah Doni saat ini terlihat konyol.
Masha lalu melihat kearah Mike.
__ADS_1
Pemuda itu tampak wajah serius, sambil menatap lembaran ijazah Masha yang terbuka ditangannya.
"Mike!" seru Masha.
Mike mengangkat pandangannya, dan melihat kearah Masha.
"Sebentar! Aku masih mau melihatnya," kata Mike, lalu kembali melihat lembaran kertas itu, meskipun Masha tidak berkata apa-apa.
"Kamu bisa berkuliah nanti," celetuk Doni.
"Bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan ijazahku itu?" tanya Masha.
"Temanku membodohi Kinan..." jawab Doni.
"Dia berpura-pura mengajak Kinan untuk berpacaran dengannya...
Lalu dia beritahu Kinan, kalau Kinan tidak mau mengulang sekolahnya lagi, dia bisa membantu membuatkan ijazahmu menjadi atas nama Kinan," lanjut Doni.
"Lalu Kinan percaya begitu saja?" tanya Masha dengan rasa tidak percaya, dengan apa yang diceritakan Doni.
"Itu buktinya!" jawab Doni.
"Hmmm... Sebenarnya, aku sedikit merasa kasihan dengan Kinan. Keterlaluan bodohnya..." lanjut Doni.
Benar kata Doni.
Kinan yang terlalu lambat cara berpikirnya, memang patut dikasihani.
Tapi, dengan kebodohannya itu juga, akhirnya Masha bisa mendapatkan ijazahnya kembali.
Kali ini, Masha bisa melanjutkan mimpinya untuk berkuliah, meskipun dia harus menundanya sampai tahun depan.
Kesempatan sebelum Masha mendaftar kuliah, dia akan tetap bekerja dengan Mike, dan kalau seperti ini terus keadaannya, Masha bisa menabung upah kerjanya, dan dipakai untuk biaya kuliahnya nanti.
Entah bagaimana caranya, Masha berterimakasih kepada kedua pemuda itu, yang telah banyak membantunya.
"Nilai-nilaimu bagus semua. Kamu bisa dengan mudah masuk di universitas yang kamu suka," celetuk Mike.
Mike kemudian menyodorkan map itu kepada Masha.
"Kita patut merayakannya. Apa ada yang mau kamu lakukan?" ujar Mike.
"Tidak perlu berbuat apa-apa. Kita bermain domino saja sudah cukup. Aku sudah lebih dari senang. Aku perlu berterimakasih kepada Doni dan temannya, juga kepadamu mike," kata Masha.
"Tetap saja. Kalian mau sesekali kita pergi ke tempat hiburan malam?" tanya Mike.
Masha dan Doni bertatap-tatapan.
"Kita tidak perlu minum alkohol. Cukup menikmati musiknya saja," ujar Mike.
"Kamu mau pergi?" tanya Doni, sambil menatap Masha.
__ADS_1
"Terserah kalian saja kalau begitu," jawab Masha.