
Sembari menunggu Mike bekerja, Masha teringat dengan kejadian semalam.
Entah mengapa, Masha justru merasa senang saat memikirkan kalau dia bisa merawat Mike dan Doni seperti itu.
Tidak ada rasa keberatan sama sekali dihati Masha, meski dia cukup dibuat kelelahan karena kurang tidur.
Apalagi kalau mengingat, sebelum Masha bisa sedikit membantu kedua pemuda itu, mereka sudah lebih dulu membantu Masha.
Baik Doni maupun Mike, juga tampak tidak menolak untuk memberikan perhatian akan keadaan Masha.
Lamunan Masha terganggu, ketika Doni berdiri dari tempat duduknya yang tadinya berada disamping Masha, dan berjalan menuju rak buku.
Doni terlihat memilih-milih buku disitu, lalu kembali sambil membawa dua buah buku yang tidak terlalu tebal, dan menyodorkan salah satunya kepada Masha.
"Aku suka buku tentang hukum," celetuk Doni, sambil duduk kembali didekat Masha, setelah Masha menerima buku pemberiannya.
"Begitu? Lalu kenapa buku tentang bisnis?" tanya Masha, ketika melihat judul buku yang sekarang sedang dipegangnya.
"Iya. Buku tentang hukum itu untukku," jawab Doni, sambil memperlihatkan judul yang tertera di sampul buku yang dia pegang.
"Kalau kamu, cocoknya membaca buku bisnis... Dengar-dengar, waktu kamu di sekolah dulu, kamu pintar dalam hitung menghitung," lanjut Doni.
"Hey! Bagaimana kamu bisa tahu tentangku?" tanya Masha.
"Aku 'kan sudah bilang kalau aku sudah menyukaimu sejak lama. Tentu saja, aku mencari informasi tentang apa yang kamu suka," jawab Doni.
"Hmmm... Kecuali tentang pemuda yang kamu suka. Aku tidak mau tahu itu, daripada aku mati karena cemburu," lanjut Doni, sambil melirik Masha dengan ujung matanya.
"Kamu meledekku!" ujar Masha.
Senyuman lebar mengembang diwajah Doni.
"Tidak. Tapi, aku memang tidak mau tahu, apa kamu sudah punya pacar atau belum. Karena aku takut sakit hati," ujar Doni, sambil menggenggam tangan Masha.
"Tidak usah membahas itu. Apa kamu tidak mau membaca?" tanya Doni.
Masha tidak menjawab pertanyaan Doni, dan hanya bersandar disandaran sofa, lalu membuka lembaran buku ditangannya.
Sambil membaca buku ditangannya, sesekali Masha melirik Doni dan Mike bergantian.
Doni tampak serius dengan bacaannya, begitu juga dengan Mike yang terlihat menatap layar laptopnya, meski sekertaris wanita disebelahnya sedang mengatakan sesuatu kepada Mike.
Kedua pemuda itu terlihat hebat.
Mungkin kalau Doni melanjutkan sekolahnya dan berkuliah sesuai minatnya, Doni bisa saja jadi orang sukses, dan bisa menutup mulut penggosip di perumahan.
Sedangkan Mike...
Masha tidak bisa mengatakan apa-apa.
__ADS_1
Mike memang sudah diberkahi dengan kesuksesan orang tuanya, ditambah lagi Mike tampak mau bekerja keras, dan tidak hanya menikmati keberhasilan ayahnya begitu saja.
Saat melihat Mike yang serius dengan pekerjaannya, dan Doni yang serius dengan bacaannya, Masha tidak habis pikir kenapa salah satu dari orang tua mereka, ada yang mau menyia-nyiakan anak-anaknya itu.
Dugaan Masha, Mike dan Doni, pasti juga berpikiran yang sama saat mereka melihat Masha, hingga mereka berdua tampak berusaha membantu Masha sebisanya.
"Doni! Kamu tidak mau berkuliah?" tanya Masha.
Doni menatap Masha lekat-lekat.
"Aku mau. Tapi, nanti saja... Aku mau uang tabunganku, dipakai untuk menikahimu saja dulu," jawab Doni.
"Ckckck..." Masha mendecakkan lidahnya.
"Aku bicara serius, tapi kamu malah jawabnya ngawur," ujar Masha.
"Eh! Aku serius! Awalnya tabunganku rencananya untuk kupakai kuliah. Tapi, karena aku bisa berpacaran denganmu, aku mengubah rencanaku sedikit," kata Doni.
"Itu bukan sedikit, tahu?!" tukas Masha, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Doni tertawa kecil.
"Kalau kamu belum mau menikah, aku mungkin akan kuliah dalam beberapa bulan kedepan nanti," kata Doni.
"Tapi, paling tidak, kamu harus menerima lamaranku dulu, baru aku mau kuliah," lanjut Doni.
"Hmmm... Kamu mau aku membantumu mengambilkan ijazahmu?" tanya Doni.
Masha terdiam sambil memikirkan perkataan Doni, yang dianggapnya hanya sekedar omongan basa basi.
"Bagaimana caranya?" tanya Masha skeptis.
"Aku masih memikirkan caranya. Jadi, aku tidak bisa berjanji. Aku hanya bisa mencoba mengusahakannya," jawab Doni.
"Kalau aku berhasil mengambil ijazahmu, kamu mau menerima lamaranku?" tanya Doni.
"Doni..." kata Masha pelan.
"Eh! Itu 'kan agar aku semangat mencari idenya," ujar Doni.
"Aku tidak akan memaksamu untuk langsung menikah denganku. Yang penting kita bisa bertunangan saja dulu, jadi aku bisa sedikit lebih yakin kalau kamu akan istriku nanti," lanjut Doni.
Masha menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Kita lihat saja nanti..." ujar Masha.
"Oke!" jawab Doni santai, lalu lanjut membaca bukunya.
"Kamu kalau lanjut kuliah nanti, cita-citamu mau jadi apa?" tanya Masha.
__ADS_1
"Hmmm... Aku mau jadi pengacara," jawab Doni, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku didepannya.
Masha mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu kembali fokus membaca buku yang sempat terbiar begitu saja beberapa waktu tadi, karena berbincang-bincang dengan Doni.
Setelah beberapa waktu lamanya mereka tenggelam didalam bacaannya, Mike tiba-tiba sudah berdiri didepan mereka berdua.
"Ayo kita pergi! Aku sudah selesai! Kalian pasti sudah lapar 'kan?" tanya Mike.
"Iya," jawab Doni, lalu berdiri dari tempat duduknya, dan mengambil buku dari tangan Masha, kemudian mengembalikan buku-buku ke tempatnya semula.
"Jam berapa sekarang?" tanya Masha, sambil berdiri dari tempat duduknya.
Mike menarik lengan jasnya, dan melihat arloji ditangannya.
"Sudah hampir jam satu," jawab Mike.
"Kita makan di restoran didekat sini saja, daripada harus kembali ke rumah," lanjut Mike.
"Hmmm... Mike! Apa kita bisa makan di warung pinggir jalan saja?" tanya Masha sebelum mereka berjalan keluar.
Mike terdiam sebentar sambil menatap Masha.
"Kamu mau makan di warung seperti warteg begitu?" tanya Mike.
"Iya," jawab Masha.
"Oke! Ayo kita pergi!" ajak Mike lalu berjalan keluar dari ruang kerja itu, disusul oleh Masha dan Doni yang tetap berjalan dibelakang Mike.
"Lama kelamaan aku malah jadi kesal melihat tingkah kalian berdua," celetuk Mike, yang tiba-tiba berhenti berjalan.
"Eh! Kenapa?" tanya Doni.
"Kalian bukan pelayanku. Kalian berdua itu teman-temanku. Untuk apa kalian sejak tadi berjalan dibelakang ku terus?" tanya Mike, dengan raut wajah tidak senang.
"Oh... Coba beritahu saja... Tidak perlu marah-marah," ujar Doni enteng.
Mereka kemudian berjalan bersamping-sampingan hingga memasuki elevator, dan tiba di basement.
"Kita singgah makan, lalu ada tempat yang mau aku datangi sebentar," ujar Mike, ketika mereka semua sudah duduk didalam mobil.
"Oke!" jawab Doni dan Masha serempak.
Tidak berlama-lama disitu, mobil Mike sudah masuk dijalan raya.
Masha memandangi Mike dari kaca spion.
Kalau Doni berpakaian serupa seperti yang dipakai Mike sekarang, Doni juga akan terlihat keren.
Mike kelihatannya menangkap basah Masha yang memandanginya dari kaca spion, dan mengedipkan sebelah matanya, lalu tersenyum lebar, sambil melihat Masha dipantulan cermin itu.
__ADS_1