
Masha tidak tahu jam berapa dia tertidur semalam, yang dia ingat hanya waktu berbincang-bincang dengan Mike sambil duduk disofa, memakan waktu cukup lama.
Kemudian seolah-olah pembaringannya berguncang, membuat Masha terburu-buru membuka matanya, dan mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Ternyata, tubuh Mike yang gemetar hebat.
Masha kebingungan melihat keberadaan Mike yang berbaring menyamping disebelahnya.
Tempat tidur yang luas, bisa untuk tiga orang tidur dengan lega, tapi pemuda itu malah memaksa ikut berbaring disofa, walaupun memang sofa itu cukup besar dan panjang.
Mike kelihatannya tenggelam dalam mimpi buruknya lagi.
Masha menarik nafas panjangnya yang terasa berat.
Untuk apa memaksakan diri untuk menolak memakai obat, hanya demi merasa seperti orang normal, tetapi malah hanya membuatnya semakin terlihat aneh.
Dan Masha yakin, kalau bermimpi buruk seperti itu, pasti menyakitkan mental maupun fisik.
Keringat yang membasahi kening Mike, sudah seperti disiram dengan air se-gayung.
Masha mengusap kening Mike dengan perlahan, sambil berbisik ditelinga pemuda itu,
"Mike... Tenang saja. Kamu tidak apa-apa... Semua hanya mimpi..."
Beberapa kali Masha mengusap kepala Mike, barulah pemuda itu bisa terlihat lebih tenang.
Pendingin udara didalam kamar itu lebih dari cukup untuk membuat orang didalam sana menggigil kedinginan.
Sedangkan Mike, kausnya terlihat basah dengan keringat hingga menempel kekulitnya.
Kalau Masha membiarkannya begitu saja, Mike mungkin akan masuk angin.
Perlahan-lahan, Masha bergerak turun dari sofa, namun Mike tiba-tiba menahan gerakan Masha.
"Jangan pergi...! Jangan tinggalkan aku...!" kata Mike, dengan suara bergetar.
"Tunggu sebentar... Aku hanya pergi mengambilkan selimut untukmu," kata Masha, lalu lanjut beranjak turun dari sofa.
Masha mengambilkan selembar selimut yang masih terlipat, dan sebelum kembali ke sofa, Masha menutupi Doni yang terlihat tidur meringkuk dengan lembaran selimut yang lain.
Masha mencium pipi Doni dengan perlahan, lalu berjalan kembali ke sofa.
Rasanya, Masha kali ini sudah seperti seorang ibu yang menjaga dua orang anak.
Masha menggeleng-gelengkan kepalanya, karena rasa tidak percaya dengan apa yang sedang dia lakukan sekarang ini.
__ADS_1
Mike tampaknya masih menunggu Masha kembali ke sofa, dan terlihat sedang memandangi gerak-gerik Masha dikamar itu.
Masha menutup Mike dengan selimut, lalu duduk disampingnya, dan membiarkan Mike memegang tangannya, hingga Mike kembali tertidur.
Ketika dirasa Masha kalau genggaman Mike tidak lagi terlalu erat, Masha kemudian berdiri dari sofa itu dan berbaring diatas tempat tidur, dengan memberi jarak yang cukup jauh dari Doni.
Masha memang masih sangat mengantuk, dan rasanya tidak berapa lama dia berbaring disitu, Masha sudah tidak ingat apa-apa lagi.
Ketika Masha terbangun, dan terduduk diatas tempat tidur, Doni terlihat sedang duduk diatas sofa, dan melihat keluar jendela.
Sedangkan Mike, sudah tidak ada lagi didalam kamar itu.
Dari yang bisa dilihat Masha, menembus keluar jendela, sudah terang dengan cahaya matahari.
Masha beranjak turun dari atas tempat tidur, dan berjalan ke kamar mandi.
"Sudah lama bangunnya?" tanya Masha sekedar menyapa Doni, dan tidak terlalu mengharapkan jawaban dari pemuda itu.
Masha hampir melewati pintu kamar mandi, ketika dia mendengar jawaban Doni.
"Lumayan lama... Aku bahkan sudah mandi..." kata Doni.
"Oke!" ujar Masha asal, sambil menutup pintu kamar mandi, dan melepaskan pakaiannya disana.
"Eh! Kapan kamu kembali kesini?" tanya Masha kepada Mike.
"Baru saja. Aku mau mengajak kalian ikut denganku ke kantor," jawab Mike.
"Oh... Oke! Sebentar aku berpakaian dulu," ujar Masha, sambil mengeluarkan sepasang pakaian ganti, dan membawanya kembali kedalam kamar mandi, dan berpakaian disana.
Ketika Masha keluar lagi dari kamar mandi, Mike terlihat berdiri didepan cermin, sambil merapikan jas yang kelihatannya baru saja dia pakai.
Mike terlihat jauh lebih tampan saat memakai setelan jas seperti itu, meski dia tidak mengenakan dasi.
"Doni! Bisa bantu aku mengambilkan pengering rambut dikamar mandi?" tanya Masha.
"Bisa!" jawab Doni, dan tidak berapa lama sudah mengambilkan pengering rambut, dan menghampiri Masha.
"Apa aku bisa mengeringkan rambutmu?" tanya Doni.
"Iya," jawab Masha, sambil tersenyum.
Doni sekarang sudah terlhat seperti seorang penata rambut profesional, menggunakan pengering rambut yang sudah menyala, mengarahkan anginnya ke rambut Masha.
"Rambutmu panjang sekali juga tebal. Apa tidak sulit merawatnya?" tanya Doni.
__ADS_1
"Tidak juga... Aku hanya mencucinya seperti biasa. Kalau ingat, aku pakai conditioner. Kalau tidak, ya sudah, kubiarkan begitu saja..." jawab Masha.
"Aku rasa sudah cukup kering..." lanjut Masha.
Doni kemudian mematikan daya pengering rambut ditangannya itu, dan meletakkannya diatas meja.
"Aku minta bayaran, karena sudah membantu mengeringkan rambutmu," celetuk Doni, sambil tertawa kecil.
"Eh! Bukannya ka..."
Masha tidak sempat meneruskan kalimatnya, Doni sudah mendaratkan ciumannya, sambil memegang kedua sisi wajah Masha dengan kedua tangannya.
"Imbalan yang harus aku bayar terlalu mahal, kalau cuma membantu mengeringkan rambutku saja," ujar Masha.
Doni hanya tertawa kecil, lalu memegang Masha agar berdiri berhadap-hadapan dengannya, kemudian memeluk Masha dengan erat.
"Apa kalian sudah selesai bermesraannya?" tanya Mike datar.
"Kita masih harus kekantor, sedangkan kita belum sempat sarapan," lanjut Mike.
"Ah! Kamu memang pengganggu saja!" ujar Doni, sambil merangkul pundak Masha dan membawanya berjalan keluar dari kamar bersamanya.
Mereka tidak sempat sarapan lagi, dan langsung bergegas pergi dari rumah Mike, menuju kekantor yang Mike maksud, dengan menggunakan mobil Mike.
Di sebuah gedung tinggi, Mike memarkirkan mobilnya dipelataran parkir basement, dan bergegas masuk kedalam elevator, menuju kelantai atas.
Ketika mereka tiba didalam area perkantoran di gedung itu, Masha dan Doni yang berjalan dibelakang Mike, hanya bisa terkagum-kagum, saat melihat Mike yang tampak dihormati para pegawai di kantor itu.
Setiap ada pegawai yang melihat Mike, pasti membungkuk, dan mengucapkan salam.
Mike terlihat berbeda yang tidak bisa Masha gambarkan, saat dia mengangkat tangannya sedikit, membalas salam dari pegawai-pegawai disitu.
Bersama Mike, mereka semua masuk kesalah satu ruangan yang diatas meja kerjanya, terdapat papan nama dari kaca yang bertuliskan 'M. Haris'.
Ruangan yang besar dan lega, tanpa banyak barang didalam sana.
Rak berukuran besar menempel bersandar di dinding yang dipenuhi dengan buku-buku, sofa lengkap dengan set meja, dan satu meja sudut kecil.
Mike kemudian terlihat duduk dikursi kerja, dan menyalakan laptop disana.
"Kalian bisa duduk menunggu di sofa. Atau kalau mau membaca buku, bisa pilih saja disitu," kata Mike tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Dan tidak berapa lama, seorang wanita sambil memegang beberapa map, tampak berjalan masuk dan menemui Mike, sambil berdiri didekat meja.
Masha tidak mau mengganggu pekerjaan Mike, dan tampaknya Doni juga berpikiran yang sama, memilih duduk di sofa, dan membiarkan Mike berbicara dengan wanita yang baru masuk tadi, yang diduga Masha adalah seorang sekretaris.
__ADS_1