TOXIC : Story of Masha

TOXIC : Story of Masha
Part 23


__ADS_3

Rumah megah berdiri ditengah-tengah pekarangan yang luas, dikelilingi oleh pagar tinggi dengan cat berwarna putih, tampak mencolok dibandingkan dengan gedung-gedung tinggi disekitarnya, yang hanya berbentuk kotak lurus menjulang keatas.


Sekaya apa keluarga Mike, hingga bisa memiliki rumah seperti itu ditengah kota, didekat jalan raya utama, bersebelah-sebelahan dengan bangunan-bangunan perkantoran.


Rasanya, bukan hanya Masha yang takjub melihat rumah Mike itu, karena Doni juga terlihat seperti orang terkagum-kagum, ketika keluar dari Mike dan berjalan masuk ke rumah itu.


"Kamu belum pernah kesini?" tanya Masha kepada Doni.


"Belum. Aku hanya pernah ke apartemennya saja," jawab Doni.


"Rumah ini terlihat luar biasa! Sebanyak apa uang yang kamu miliki Mike?" tanya Doni enteng.


"Doni!" seru Masha, yang kaget dengan pertanyaan Doni kepada Mike.


Doni memang senang bercanda, tapi bagi Masha, terkadang candaan Doni agak sedikit kelewatan.


Mike hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan mengerucutkan bibirnya yang digerakkannya kesalah satu sisi wajahnya.


"Ini semua kepunyaan ayahku, bukan punyaku... Jadi bagaimana kamu bisa mengira, kalau aku memiliki banyak uang?" ujar Mike.


Halaman rumah itu saja bisa jadi satu lapangan olah raga, kalau dihilangkan semua tanaman, dan patung-patung hiasan yang tertata rapi disana.


Mike kemudian membuka pintu besar dibagian depan rumah, yang tampak seperti gerbang dengan kunci otomatis menggunakan sandi dan sidik jari.


"Ayo masuk!" ajak Mike.


Mike membiarkan pintu menganga lebar, hingga Masha dan Doni melewatinya, barulah kemudian Mike menutup pintu itu kembali.


Masha sampai-sampai merasa agak enggan untuk menginjak lantai rumah itu, yang bersih mengkilat dengan motif sederhana, tapi tetap memperlihatkan kemewahannya.


Bukan hanya bagian luar yang terlihat menakjubkan, bagian dalam rumah itu tidak kalah mencengangkannya.


Kelihatannya, ayah Mike penyuka hiasan tradisional dan barang antik, berikut juga dengan lukisan yang tampak bernilai seni tinggi.


Sehingga, hampir ditiap bagian rumah yang terjangkau pandangan Masha, beberapa pajangan yang rasanya tidak terbeli oleh kalangan orang dengan ekonomi menengah kebawah, tertata rapi, bersih dan tentu saja indah dipandang mata.


Perabotannya tidak terlalu padat, dan hanya furniture yang fungsionalis saja yang ada didalam situ.


Sebagian besar, bagian demi bagian ruangan, terlihat kosong dan lega.


"Kalian mau duduk disini dulu, atau mau langsung kekamar?" tanya Mike.


"Hmmm... Kamu mau kemana?" tanya Masha.

__ADS_1


"Aku mau mendatangi asisten rumah tangga, untuk meminta agar mereka menyiapkan makanan untuk kita," jawab Mike.


"Kenapa? Kalian mau ikut?" tanya Mike.


"Iya," jawab Masha.


"Aku menunggu disini saja," jawab Doni, yang kemudian duduk bersandar disalah satu sofa, yang terlihat sangat empuk.


"Ayo! Kalau kamu mau ikut," ajak Mike kepada Masha.


Masha kemudian ikut berjalan dengan Mike jauh kebagian dalam rumah.


Masha memang ingin melihat-lihat ruangan demi ruangan yang ada didalam rumah itu, atau lebih tepatnya, Masha ingin melihat-lihat pajangan yang unik yang berada disana.


Masha tidak bisa berhenti terkagum-kagum, saat melihat barang-barang antik yang cuma bisa dia lihat digambar, yang ada dibuku mata pelajaran sejarah.


Sesekali, Masha hampir berhenti berjalan, dan memandangi lukisan, atau benda antik yang bisa dilihatnya dengan jarak dekat.


"Kamu tertarik dengan benda-benda seperti itu?" tanya Mike, yang tampaknya lebih mengikuti langkah Masha, dari pada berjalan sesuai dengan tujuannya.


"Iya. Mungkin, semua orang juga akan tertarik. Lukisan-lukisan dan barang antik ini terlihat indah, dan menarik perhatian," jawab Masha.


"Hmmm... Orang tertentu saja. Aku tidak tertarik dengan barang antik ataupun barang tradisional. Aku hanya senang melihat lukisan saja," ujar Mike.


"Apa ada alasannya?" tanya Masha.


Dengan tergesa-gesa, Masha kemudian menyusul Mike, dan berjalan disampingnya.


Sesekali, Masha melirik Mike yang berjalan tanpa mau berbicara apa-apa lagi dengan Masha, hingga mereka berdua tiba dibagian dapur rumah itu.


Beberapa orang pekerja yang ada disana, kemudian berdiri dan menghampiri Mike ketika melihat Mike membuka pintu ruangan itu.


"Apa ada yang mau kamu makan?" tanya Mike, sambil melihat Masha.


"Terserah kamu saja...!" jawab Masha.


"Hmmm... Kalau begitu, kamu mau minum apa?" tanya Mike lagi.


"Terserah kamu saja, aku bukan tipe orang terlalu suka memilih-milih," jawab Masha.


Mike kemudian bercakap-cakap dengan beberapa orang didalam sana, sementara Masha dengan tetap berdiri ditempatnya, melayangkan pandangannya kedalam ruangan itu.


Bukan seperti dapur biasa, melainkan mirip dengan dapur khusus untuk restoran.

__ADS_1


Apa memang begini caranya hidup orang yang memiliki banyak uang?


Terlihat agak sedikit berlebihan.


Bukannya Masha hendak menghakimi ataupun hendak menilai baik buruknya, dia hanya merasa heran karena tidak biasa melihat rumah keluarga yang seperti itu.


Cara menikmati hidup antara orang kaya dan orang biasa, tidak mungkin disamakan, bukan?


Mungkin bagi Masha itu terasa berlebihan, tapi bagaimana kalau keluarga Mike memang membutuhkannya?


"Ayo kita kembali kedepan!" ajak Mike, sambil memegang tangan Masha, dan berjalan bersamanya.


"Siapa saja yang tinggal dirumah ini biasanya?" tanya Masha.


"Ayahku saja..." jawab Mike.


Masha merasa bingung mendengar jawaban Mike, namun dia memilih untuk berdiam, tanpa mau menanyakan lebih jauh tentang keluarga Mike.


"Ayahku sudah bercerai dengan ibuku, semenjak aku masih kelas satu sekolah dasar," kata Mike, seolah-olah bisa membaca pikiran Masha.


"Sejak saat itu, aku menetap dengan ibuku di tempat yang jauh dari sini. Hingga aku naik kelas dua SMA, ayahku lalu membawaku ikut bersamanya," lanjut Mike.


"Hmmm... Maafkan aku, tapi aku penasaran... Kalau kamu tinggal disini, lalu bagaimana kamu bisa bersekolah di sekolah yang sama dengan Doni?" tanya Masha.


"Rasanya, aku tidak bilang kalau aku tinggal disini..." jawab Mike.


Masha lalu tertawa kecil, menertawakan kebodohannya yang salah memahami perkataan Mike.


"Aku hanya ikut bersama ayahku, dan meninggalkan ibuku. Tapi, aku tinggal dikota kita tadi, di apartemen yang kamu datangi bersamaku," lanjut Mike.


"Jadi, kamu di apartemen itu tinggal sendiri, sejak kamu masih kelas dua SMA? Begitu?" tanya Masha.


"Iya. Ayahku sesekali datang berkunjung, ketika dia memeriksa gudang," jawab Mike.


"Dulu, ada orang lain yang bekerja di gudang. Tapi, sejak aku selesai berkuliah, dan mengurus tempat itu, aku mengganti orang itu dengan Doni," lanjut Mike.


"Kamu sudah bergelar sarjana?" tanya Masha heran.


"Iya. Aku berkuliah di Inggris, mengambil jurusan bisnis. Hanya dalam waktu kurang lebih dua tahun, aku sudah bisa lulus," jawab Mike.


Sedikit perasaan iri, timbul didalam hati Masha.


Sebenarnya, itu juga menjadi impian Masha.

__ADS_1


Berkuliah jurusan bisnis, agar Masha bisa mendapat pekerjaan yang bagus, bisa hidup mandiri, dan benar-benar terlepas dari orang tuanya.


Masha menarik nafasnya yang terasa berat.


__ADS_2