Transmigrasi (Gadis Licik) Christina

Transmigrasi (Gadis Licik) Christina
Part 29.


__ADS_3

...Happy Reading!!...


"JANGAN MENYENTUH GADISKU, SIALA*N" Teriak Gibran lalu membogem seorang pemuda yang mengurung Tina di dinding.


"Siapa nih bocah, ngaku ngaku jadi suami gue lagi. Punya pacar aja kagak apalagi suami"


"Dan kayanya dia bukan murid sekolah sini deh" Batin Tina setelah melihat seragam sekolah pemuda itu.


"Why? Ingat, dia milikku juga." Kata pemuda tadi lalu menepuk nepuk celananya yang terkena debu.


"In your dream" Sinis Gibran lalu mendekap Tina yang ada disampingnya.


"Kenapa ke sekolah?" Tanya Tina kepada Gibran yang masih memeluknya.


"Mungkin merindukankan mu?" Kata Gibran menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum manis kepada Tina.


"Kau tau aku sungguh gila karena kehilangan mu" Lanjut Gibran lalu mengecup kening Tina.


Sedangkan Tina hanya menatap polos Gibran. Namun beda lagi di dalam hati, meronta ronta.


"Oh my gosh, looks like I'm drunk handsome man."


(Ya ampun, sepertinya aku mabuk pria tampan)


"Ekhm" Dehem pemuda tadi yang merasa diacuhkan oleh keduanya.


"Pergi" Usir Gibran kepada pemuda itu.


"Ogah" Ucap pemuda itu.


"Dasar, ganggu aja lo" Lanjutnya sinis.


"Dasar bocah tengil!!"


"Pria tua--"


Drtt


Drtt


Ucapan pemuda itu terpotong oleh getaran cinta eh maksudnya getaran handphone di saku celananya.


"LUCAS BALIK SEKARANG JUGA, NGAPAIN KAMU BOLOS KE SEKOLAH LAIN HAH. UDAH BOSEN SEKOLAH DISIN--?!!"


"Maaf, mungkin anda salah sambung" Potong pemuda itu.


Tut


Panggilan pun di matikan sepihak oleh pemuda tadi.


"Maaf baby, sepertinya aku tidak bisa berlama lama disini"


Cup


"Ingat namaku, Lucas Pyazony Xycdreysworth"


"Second antagonist "


"BOCAH SIALAN!!!!"


...~♡~...


(Percepat aja ya. Masih panjang soalnya)


Beberapa bulan kemudian.


Banyak waktu yang telah dilewati oleh Tina. Seperti menjalankan banyak misi, mendapatkan pengalaman yang belum dia alami di kehidupan sebelumnya.


Banyak yang terjadi seperti perubahan pada mereka akankah bertahan selamanya?


Harapan bagi seorang Christina Aurora Smith adalah hidup dengan damai, santai, serta tentram. Apakah di sini dia akan mendapatkan semua itu atau tidak?.


"Reon tampilkan status" Kata Tina yang sudah lama tidak melihat statusnya.


Status Ditampilkan


Ting


Ting


...Nama : Chrisstina Althaia Catlyn...


...Pemeran : Figuran...


...Umur : 16 Tahun...

__ADS_1


...Kecantikan : 89%...


...Daya Tarik : 87%...


...Kelicikan : 99+%...


...Kepintaran : 98%...


...Keahlian : Multitalenta...


...Hadiah Misi : Sudah Terklaim...


...Poin : 56.000...


(Sistem Reon sudah terupgrade jadi lebih canggih dari sebelum sebelumnya.)


...~•~...


Beberapa bulan ini ada yang aneh dengan antagonis wanita, sepertinya sudah punya gebetan karena beberapakali berpapasan dengan protagonis pria tidak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan.


Protagonis wanita berada di kelas 11 IPA 2. Dan temannya, dia berada di kelas 11 IPS 1. Sayang sekali mereka tidak sekelas, padahal Tina sudah menantikan siaran langsung antara protagonis (pria - wanita) dan antagonis (wanita) serta beberapa figuran.


"Terima atau tidaknya, itu terserahmu walaupun akhirnya tidak sesuai dengan ekspektasi"


Kata kata itu terngiang ngiang dikepalanya.


"Siapa yang mengatakannya?" Batin Tina sambil mengetuk ngetuk meja.


Sedangkan Lea dan Gita memperhatikan Tina dengan raut yang bingung.


"Ada apa dengannya?"


"Entahlah, mungkin sedang memikirkan sesuatu?"


"Mungkin saja"


"Ah iya, apakah kita harus memberitahukan itu kepadanya?" Tanya Lea lalu mulai mengetik sesuatu di handphonenya.


"Tunggu sampai kita menemukan waktu yang tepat " Ucap Gita serius.


"Baiklah, lagipula kendalinya berada di orang itu. Kita hanya mengikuti perintahnya saja." Kata Lea


"Lo gak keberatan dengan ini kan?" Tanya Gita


"Lo tau gue kan? Gue suka pemain yang handal" Lea


"Tentu saja." Lea


*Pulang Sekolah*


Sekarang Tina berada di mansion Dimas bersama kakak sepupunya, yaitu Dion. Mereka sedang membicarakan tentang penyerahan warisan orang tuanya, anaknya yang mana? Ya, di antara mereka.


Sedangkan Tina, tidak mau repot ikut campur urusan mereka dia hanya berjalan jalan di sekitar mansion untuk melihat lihat pemandangan. Alangkah terkejutnya dia menemukan harta karun yang langka.


'Jadi ayo kita meminta bantuan.' Pikir Tina lalu kembali ke ruang tamu sambil berlari meloncat loncat.


Jadi di mansion itu ada 5 orang yaitu terdiri dari Tina, Gibran, Dion, Dimas, dan Dion si dokter.


Dimas Marx Engelbert, asisten Gibran.


Geraldi Dional Mazland, si dokter alias sahabat Gibran.


"KAK DION, COME HERE!!" Teriak Tina memanggil Dion agar datang kemari, tapi sangat lama jadi dia yang menghampiri ke 4 pria itu.


Mereka yang mempunyai nama Dion pun langsung menoleh ke arah teriakan tersebut.


Bukan hanya double Dion saja, tetapi semua orang yang berada disana pun langsung menoleh pada teriakan itu.


"Nanti kita lanjutkan" Kata Gibran yang dibalas angukan kepala oleh mereka.


"Ada apa sayang?" Tanya Dion, sepupunya.


"Aku gak manggil kakak, tapi manggil kak Dion" Ucap Tina sambil menunjuk Dion si dokter.


Beberapa bulan yang lalu memang Tina sudah akrab dengan mereka semua. Jadi jangan heran dengan tingkahnya.


"Tapi, nama gue kan juga Dion." Batin Dion tertekan.


"Pfttt" Mereka yang mendengarnya pun menahan tawanya melihat muka Dion yang masam.


"Ayo kak Dion ikut aku." Kata Tina lalu menarik tangan besar Dion ke suatu tempat.


"Duh, ini bocil ngapain lagi pake narik narik segala. Mana serem lagi tatapan pawangnya." Batin Dion melirik mereka, tatapannya seakan akan menguliti dirinya hingga ke tulang sumsum. Hehe


"MAU KEMANA WOY?" Teriak Dimas yang tidak dihiraukan keduanya.

__ADS_1


"Dasar bocil" Kesal Dimas karena tidak dijawab pertanyaannya.


"Kak bantuin nangkap mereka yah?" Mohon Tina dengan mata anak anjing yang berbinar.


Sedangkan Dion hanya melongo. Dia kira bocil ini mau mengajaknya ke taman samping mansion karena mereka berjalan ke arah taman. Ternyata hanya melewati saja dan belok ke kiri kearah peternakan ayam kalkun milik Dimas.


Ya, selain menjadi asisten Gibran, Dimas juga memelihara peternakan ayam kalkun milik kakeknya. Yang sengaja dititipkan kepada Dimas agar bisa mengurus dengan baik.


"Tunggu apa lagi, ayo tangkap ayamnya kak. Nanti kita goreng" Perintah Tina dengan polos lalu menunjuk ayam ayam yang berlarian itu.


"Hiks, gue ini dokter, bukan tukang ayam. Mana bisa nangkep ayam" Batin Dion tertekan dan pasrah lalu mulai menangkap seekor ayam kalkun jantan.


"AYO KAK SEMANGAT. ITU AYAMNYA LARI KEARAH KANAN JANGAN SAMPE KABUR. AYO SEMANGAT AYO KEJAR LAGI!!!"


"HAP"


"HAP"


"YEAHH, AKHIRNYA AYAMNYA KETANGKEP JUGA KAK DION HEBAT BANGET!!! JADI MAKIN SAYANG DEH"


"Sabar" Batin Dion yang masih memeluk 2 ayam kalkun jantan agar tidak bisa lepas dan kabur.


"Sini kak ayamnya, masukin kesini" Kata Tina sambil memegang kandang kucing persegi panjang berwarna hitam.


Sementara Dion pun hanya menuruti perintah Tina, walaupun bingung seharusnya kan dimasukin ke kandang ayam bukan ke kandang kucing.


"Yam, jangan kabur yah. Soalnya nanti mau di goreng" Tutur Tina sambil menepuk nepuk bagian atas kandangnya.


"Ini kak minum dulu" Kata Tina sambil menyodorkan botol minum.


Darimana Tina mendapatkan kandang dan botol minum? Tentu dari Reon dong. Hehehe


Hosh


Hosh


Hosh


Glek


Glek


"Ah, segernya. Mana cape banget lagi" Kata Dion sambil mengelap keringat di dahi dan pelipisnya menggunakan sapu tangan yang di berikan Tina.


"Ayo kak, kita kedapur" Ajak Tina sambil membawa kandang ayam dengan sebelah tangannya, lalu menarik tangan Dion menuju dapur.


"Yuk" Ujar Dion lalu mengikuti Tina dari belakang.


"BIBIIII, WHERE ARE YOU!!?" Teriak Tina sambil melihat ke kanan dan kiri.


Seorang maid pun datang menghampiri Tina dengan tergesa gesa. Dan setelah sampai dihadapkan Tina maid itu pun syok melihat 2 ayam di tangannya.


"Non, itu ayamnya mau diapain?" Tanya maid itu.


"Mau digoreng dong bi. Bibi tolong bersihin ayamnya ya, nanti aku yang goreng ayamnya deh, tapi lain kali aja deh. Hehehe" Kata Tina meminta tolong kepada maid yang bernama Weni.


"Ah iya bi, jangan lupa kalo udah matang langsung bawain ke taman yah"


"T-tapi non?"


"Tenang aja nanti bibi juga bakal dikasih kok. Ini bi ayamnya" Ucap Tina sambil menyerahkan ayam itu kepada bi Weni.


Sedangkan bi Weni hanya menuruti Tina dan mulai membersihkan kedua ayam itu setelah di sembelih. Sesudah di potong potong dan dimarinasi bumbu, setelah itu digoreng.


Beberapa menit kemudian bi Weni pun membawa ayam goreng itu kepada Tina dan Dion yang berada di tanam.


"Ini non, ayamnya" Kata bi Weni sambil menyerahkan nampan besar berisi kan ayam goreng dan saus sambal.


"Woah, makasih bi. Nih buat bibi" Ujar Tina sambil memberikan ayam itu kepada bi Weni.


"Gak usah non, bibi masih kenyang" Tolak halus bi Weni.


"Oke, makasih bi" Ucap Tina.


Bi Weni pun hanya mengangguk dan kembali ke dapur.


"Ini kak makan aja. Gak usah malu malu"


Nyam


Nyam


Nyam


"YA AMPUN AYAM GUE!!!!"

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2