
Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh banyak orang untuk beristirahat sejak dari kesibukan harian mereka dari mulai pelajar, sampai pekerja kantoran. Memanfaatkan waktu libur untuk berlibur atau sekedar berkumpul dengan keluarga.
Di suatu tempat lebih tepatnya di sebuah Mension ada seorang anak perempuan yang berumur 5 tahun memiliki senyuman manis yang tidak pernah luntur dari wajahnya karena merasa bahagia, ayahnya akan mengajak ia dan sang bunda untuk berlibur ke tempat yang sangat disukainya, yaitu pantai.
Dengan semangat yang menggebu, setelah selesai bersiap iapun langsung berlari dan berteriak memanggil ayah yang sedang bersantai sambil menikmati kopi diruang santai dan bundanya yang sedang berada di dapur menyiapkan bekal untuk mereka.
Tak tak tak suara seseorang berlari dari arah tangga dengan sangat cepat.
"Ayah, bunda Ara udah siap nih ayah sama bunda ada dimana" Ayyara Kartika Putri Mahesa atau kerap dipanggil Ara oleh kedua orang tua dan orang terdekatnya. Dengan suara nyaring dan penuh semangat mampu membuat sang ayah yang sedang meminum kopi panasnya terlonjak kaget.
"Ayah disini sayang kenapa kamu berlarian saat turun dari tangga bagaimana kalau Ara jatuh dan terluka hmm" jawab Danu Mahesa orang yang kerapkali dipanggil ayah olehnya, sambil mengelus pucuk kepala sang anak.
"Ara sayang kenapa kamu berteriak-teriak seperti itu bagaimana kalau tenggorokan Ara sakit" kata itu keluar dari mulut seorang wanita yang baru saja menyelesaikan urusannya didapur itu mampu mengalihkan atensi keduanya.
Ya, wanita itu adalah istri dari Danu Mahesa dan juga orang yang Ara panggil dengan sebutan bunda siapa lagi kalau bukan Kartika Putri. Wanita yang sudah menginjak umur kepala tiga itu masih terlihat cantik, tidak terlihat ada tanda-tanda penuaan ataupun yang menunjukkan bahwa ia sudah memiliki suami maupun seorang anak karena wajahnya masih terlihat seperti wanita dua puluhan.
"Hehehe bunda, habisnya Ara sudah tidak sabar ingin segera pergi ke pantai, kan jarang-jarang ayah ngajak Ara pergi kesana." ucapnya sambil menunjukkan senyum termanisnya pada sang bunda.
Ayah dan bunda hanya bisa menggeleng melihat tingkah anak perempuan mereka tersebut. Lalu sang ayah bertanya kepada sang bunda,
"Bun sudah selesai membuat bekalnya" tanya Danu kepada sang istri
"Udah yah, itu lagi dimasukan ke kotak bekal sama bi Yati" jawab Kartika
"Maaf nyonya ini kotak bekal yang anda minta saya sudah memasukan makanan, camilan dan juga minuman yang nyonya suruh saya kemas" jawab bibi Yati selaku art yang diperintahkan Kartika untuk menata bekal yang akan mereka bawa.
"Oh iya, terimakasih yah bi" ucap Kartika
"Sama-sama nyonya" jawabnya
"Baiklah karena semuanya sudah siap kita akan langsung berangkat" ucap sang ayah.
Ara yang mendengar penuturan sang ayah pun kembali bersemangat dan menjawab dengan teriakan dan tak lupa senyum manis yang selalu menghias wajahnya.
"Let's go" jawab Ara dengan semangat langsung berlari keluar menuju mobil yang akan mereka kendarai, yang ternyata sudah disiapkan oleh supir pribadi keluarga Mahesa yang bernama pak Diman atau sering disebut sebagai mang Diman.
(Hahaha Abi sampe ngakak sendiri sama nama karakternya, entah kenapa waktu nentuin nama tokohnya Abi langsung kepikiran sama nama tukang sayur yang biasa langganan mamah 🤣🤣🤣)
Mang Diman yang melihat anak majikannya keluar sambil berlaripun menyapanya dengan ramah.
"Selamat pagi non Ara, udah gak sabar yah mau ke pantai sampe lari-lari gitu" tanya mang Diman kepada sang nona mudanya itu
"Iya nih mang Diman Ara seneng banget ayah ajak Ara sama bunda buat liburan ke pantai, kan jarang-jarang tuh ayah ngajak Ara liburan soalnya sekarang ayah sibuk terus sama kerjaannya" jawab Ara sambil cemberut dan bersedekap dada dan itu sangat terlihat imut di mata orang yang melihatnya, karena ekspresi yang memajukan bibir kedepan dengan pipi yang chubby yang senantiasa menambah tingkat kaimutannya.
(Abi gak tau bahasa Indonesia nya "bersedekap" itu apa tapi itu posisi saat menyilangkan tangan didepan dada, untuk yang perempuan pasti tau karena sering ngambek sama pacarnya atau posisi mamah kalau lagi marahin papah 😆 silahkan komen yah kalau ada ada typo ataupun kesalahan penggunaan kata harap maklumi karena Abi baru belajar menulis novel dan ini novel pertama Abi mohon dukungannya 🙏)
Ok back to story'
mang Diman yang melihat anak majikannya yang cemberut itupun hanya mampu terkekeh gemas dengan tingkahnya itu. Tak berselang lama, kedua orang tua gadis itupun menyusul keluar sang anak yang sudah berlari keluar terlebih dahulu karena saking semangatnya.
"Mobilnya sudah siap mang" tanya sang ayah
"Sudah tuan dan sudah saya cek juga" jawab mang Diman
"Baiklah kalau begitu terimakasih mang diman, ayo kita berangkat bunda. Ara sayang ayo kita berangkat" ucap sang ayah
Ara pun naik ke mobil dengan semangat dan dibantu sang bunda untuk memasang sabuk pengaman agar Ara tidak jatuh nantinya.
Setelah semuanya siap ayah pun langsung menjalankan mobil menuju kepantai. Disana Ara sangat senang dapat bermain air dan pasir. Sambil berlarian dipinggir pantai menikmati ombak bersama sang bunda dan ayah yang mendampinginya.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain yaitu di sebuah panti asuhan, terlihat ada seorang anak perempuan berusia sekitar 7 tahun yang memilih untuk menghabiskan waktu weekend nya dengan berlatih beladiri dari pada menghabiskan waktu senggangnya untuk hal yang tidak penting, toh pikirnya dia tidak memiliki keluarga seperti anak pada umumnya yang bisa menghabiskan waktu bersamanya.
Dia berlatih dengan keras selama dua tahun ini dan karena kegigihannya itu ia sudah menguasai satu ilmu beladiri yaitu taekwondo. Sekarang ia sedang berlatih jurus baru yang diajarkan oleh sang guru beladiri rahasianya itu.
Dia mencoba menghapal apa yang diajarkan gurunya itu, ya siapa lagi kalau bukan Clarissa Putri seorang anak yatim piatu yang sejak iya bayi tak pernah melihat wajah kedua orang tuanya. Clarissa atau kerap dipanggil Risa ini pernah bertanya kepada ibu panti (kita sebut saja dengan nama bunda Niken) kemana kedua orang tua dan mengapa mereka tidak pernah menjemputnya untuk pulang.
flash back:
"Bunda Niken kemana perginya ayah dan bunda risa, kenapa mereka tidak pernah datang ataupun mengabari Risa kapan mereka akan menjemput Risa" tanya Clarissa kecil bertanya dengan mata dan wajah polosnya kepada bunda Niken
Belum bunda Niken menjawab Risa kecil kembali bertanya kepada bunda Niken yang membuat bunda Niken bingung harus menjawab apa untuk pertanyaannya itu
"Kenapa ayah dan bunda belum menjemput Risa apa mereka sudah tidak sayang sama Risa atau Risa anak yang nakal karena itu bunda dan ayah tidak menjemput Risa pulang juga" tanya Risa kini dengan derai air mata yang sudah membasahi pipinya yang chubby itu.
Melihat Risa yang mulai menangis membuat bunda Niken kelabakan, gelisah, dan juga khawatir bahwa apa yang akan dia katakan bisa saja menghancurkan hati anak manis itu.
Dengan perlahan bunda Niken membawa Risa kedalam pelukannya untuk menenangkan tangisan Risa yang terdengar pilu itu.
"Risa sayang dengarkan bunda, ayah dan bunda risa tidak bisa menjemput Risa karena sekarang ayah dan bunda risa sedang sibuk, jadi masih belum ada waktu untuk menjemput risa" jawab bunda Niken
Risa yang mendengar penuturan bunda Niken pun melepaskan pelukan itu dan melihat orang yang sudah merawatnya sejak kecil tersebut dengan mata yang masih menumpahkan airnya.
"Bunda bohong teman-teman ku bilang kalau aku itu yatim piatu jadi aku tidak memiliki orang tua dan aku juga tinggal di panti asuhan, mereka bilang anak yang tinggal di panti asuhan pasti tidak memiliki ayah dan bunda, mereka juga bilang kalau aku anak yang tidak diinginkan maka dari itu Risa ada disini bersama dengan bunda dan yang lainnya juga kan" jawab Risa sambil menangis dan berteriak dihadapan bunda Niken.
Bunda Niken yang melihat hal itu tidak bisa menahan air matanya hatinya juga seperti merasakan apa yang dirasakan oleh Risa, terlebih dia yang membesarkan dan merawat Niken selagi ia masih bayi.
Risa yang melihat bunda Niken yang menangis dan tidak menjawab pertanyaannya semakin menangis kencang, terdiamnya bunda Niken membuktikan bahwa apa yang teman Risa katakan adalah sebuah kebenaran. Risa yang merasa tidak terima kemudian berlari keluar dari panti dan berlari tak tentu arah.
Bunda Niken yang melihat itu langsung berteriak memanggil nama Risa sambil berlari mengejarnya namun sayang, Risa yang sudah terlanjur kecewa itu terus berlari tanpa mendengarkan sang bunda yang terus memanggilnya untuk berhenti dan mendengarkan penjelasannya.
"Risa sayang berhenti dengarkan bunda dulu, Risa" teriak bunda sambil berlari untuk menyusul Risa
"Dika kenapa kamu mengikuti bunda sayang" tanya bunda Niken dengan nafas tersengal dan menyamakan tingginya dengan bocah laki-laki itu
"Itu bunda Anita dan suren bertengkar mereka saling memukul dan menjambak rambut masing-masing, Dika tidak berani memisahkan mereka karena takut bunda" jawab Dika
Bunda Niken yang mendengarnya semakin dibuat pusing masalahnya dengan Risa belum selesai ditambah anak yang lain membuat masalah, ia harus memprioritaskan kedua anak yang berkelahi dulu setelahnya ia akan mencari dan menjelaskan pada Risa agar ia mengerti.
"Baiklah ayo kita kembali ke panti" ajak sang bunda
"Baik bunda" jawab Dika
Merekapun berbalik menuju panti dan sesekali bunda Niken menengok kebelakang ketempat dimana Risa menghilang di persimpangan itu.
sedangkan disisi lain Risa terus saja berlari tanpa menghadap ke depan ataupun menengok ke belakang karena kecerobohannya itu Risa tidak sengaja menabrak seorang pria.
"Aww" ringis Risa saat ia terjungkal karena berlari tanpa melihat kearah depan
Pria yang tidak sengaja Risa tabrak itu menoleh ke belakang dan melihat seorang anak perempuan (Risa) sedang menangis sambil meringis kesakitan, pria itupun berjongkok dan membantu Risa berdiri dan membersihkan pakaiannya.
"Apa kau baik-baik saja adik kecil" tanyanya sambil membersihkan baju Risa
"Sakit hiks hiks tangan Risa berdarah" jawab Risa
Pria itu langsung mengalihkan pandangannya pada siku tangan Risa dan melihat bahwa ada darah yang keluar dari luka itu.
"Hiks hiks hiks sakit paman" adunya pada pria itu
Ia yang melihat Risa menangis tanpa pikir panjang langsung menggendong dan membawanya pulang untuk diobati.
__ADS_1
Sesampainya dirumah pria tersebut langsung mendudukkan ria disofa dan bergegas mengambil air hangat didalam wadah, handuk dan juga kotak P3K untuk mengobati luka risa.
Pria tersebut langsung menghampiri Risa dan duduk disebelahnya,
"Berikan tanganmu biar paman bersihkan dan obati lukanya" ucap pria itu dengan lembut takut membuat Risa tidak nyaman dengannya
Risa dengan ragu mengulurkan tangannya untuk diobati. Pria itu langsung membersihkan luka risa dengan air hangat dan handuk secara perlahan karena takut menyakiti risa.
Dia mengobati luka risa dan sesekali meliriknya untuk melihat ekspresi gadis kecil itu, pria itu sedikit kagum dengan Risa yang hanya diam saat diobati dan hanya terdengar sedikit Isak tangis yang menandakan bahwa Risa mulai tenang dan berhenti menangis tapi setelah melihat mata gadis kecil itu dia terkejut karena tatapan Risa yang menatap tangannya yang sudah selesai diobati dengan tatapan kosong.
Pria itu merasa aneh dengan tatapan dan prilaku yang Risa tunjukan, karena penasaran iapun bertanya
"Adik kecil apa yang membuatmu menangis dan berlari tanpa melihat kedepan seperti tadi. Syukur saja kau berlari di terotoar bukan di jalanan yang ramai kendaraan, karena bisa saja kau tertabrak kendaraan" ucap pria itu menanyakan apa yang terjadi pada Risa gadis kecil yang berlari dan tanpa sengaja menabraknya itu.
Risa yang mendengar penuturan pria asing itu kembali menangis karena Risa bisa merasakan terselip nada khawatir dari kata yang diucapkan pria asing yang ia tabrak itu.
"Hiks hiks paman, teman-temanku bilang aku anak yang tidak diinginkan karena itu hiks hiks karena itu mereka mengejekku dan berkata aku tidak memiliki ayah dan bunda ka- hiks ka-rena aku hiks tinggal dipanti asuhan.' Risa menangis dan kemudian kembali bercerita, aku bertanya kepada bunda Niken tapi bunda bilang ayah dan bunda sibuk, aku tau dan aku tidak bodoh bunda saat itu tengah berbohong kepadaku hiks hiks jadi a-ku lari dari sana dan tidak melihat kedepan jadi tidak sengaja menabrak paman hiks maafkan risa, Risa memang nakal karena itu ayah dan bunda membuang Risa" jelas Risa sambil terus terisak menangis
Pria asing yang mendengar cerita risa itu merasa kasihan dan mengerti bagaimana perasaan Risa karena iapun adalah seorang yatim piatu hanya bedanya ia pernah merasakan kasih sayang orang tua sedang Risa tidak pernah merasakannya.
Ia membawa Risa kedalam pelukannya membiarkan gadis kecil itu menangis sepuasnya, setelah 15 menit menangis kini Risa mulai tenang dan melepaskan pelukan pria asing itu. Risa melihat bahwa pakaian orang yang dia sebut paman itu telah basah karena air mata dan ingusnya.
Risa merasa malu wajahnya memerah dan langsung meminta maaf karena ia sudah tidak sopan padanya.
"Maafkan risa paman baju paman menjadi basah dan kotor" ucap Risa dengan masih sesegutan" ucap Risa yang merasa malu itu sambil memalingkan mukanya ke samping
pria itu justru malah tersenyum dan terkekeh geli
"Tidak papa kau tak perlu meminta maaf seperti itu lagi pula baju ini bisa dicuci" jawab pria itu
Risa menengok kepada pria itu dan bertanya,
"Paman aku belum tau namamu siapa. kalau boleh tau siapa namamu" tanya Risa
"Hmm nama paman adalah .......?
kira-kira siapa ya nama pria asing itu, ada yang bisa nebak 😂
kalau penasan lanjut ke episode selanjutnya yuk!!!
tapi sebelum itu
jangan lupa:
like
komen
vote
dan klik favorit yah
kalau ada typo atau pemilihan kata yang tidak sesuai silahkan tinggal komen untuk Abi kedepannya agar bisa jadi semakin baik, semoga pembaca semua merasa terhibur dan tidak terasa saya sudah mengetik lebih dari dua ribu kata 😅
kalau begitu sampai jumpa di episode selanjutnya sehat-sehat semuanya
I love you 💕
terimakasih sudah mampir
__ADS_1