Transmigrasi Clarissa

Transmigrasi Clarissa
Tak tau?


__ADS_3

Alvaro yang masih marah besar mengepalkan kedua tangannya dan pandangannya kini mengarah pada sang bunda


"Sudah puas sekarang, bunda sudah puaskan melihatku bertunangan dengan wanita pilihan bunda, sudah puaskan. Atau bunda masih belum juga puas setelah membohongiku untuk datang dan bertunangan dengan wanita yang bahkan tidak kukenal, apa sudah puas. Sudah puaskan melihat putramu ini hancur dengan keputusan yang bunda ambil sepihak, sudah puas kah. Kenapa bunda, kenapa? Al bertanya pada bunda kenapa, kenapa bunda melakukan hal ini, Al sudah pernah bilang Al akan memilih pasangan hidup Al sendiri, kenapa bunda selalu saja ikut campur dengan keputusan yang Al ambil. Katakan mengapa bunda" ucapnya sambil memandang sendu kearah wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu


Zara tak bisa berkata apapun, lidahnya terasa kelu untuk hanya sekedar mengucapkan kata maaf pada putranya itu.


Alvaro yang tak mendapatkan jawaban dari Zara kembali berteriak marah


"KENAPA,KATAKAN PADAKU. APA ALASANMU SAMPAI MELAKUKAN SEMUA INI. JAWAB AKU. KENAPA?"


Teriakan keras itu membuat semua penghuni mansion dibuat kaget, pasalnya semarah apapun Al pada Zara, dia tidak akan pernah sampai berteriak padanya.


Zara hanya mampu menangis, hatinya terasa begitu sakit melihat anak yang dia besarkan dengan penuh kasih sayang berteriak kearahnya. Apa keputusannya salah jika dia menjodohkan anaknya dengan gadis dengan latar belakang keluarga dan pendidikan yang baik. Apa dia salah ketika ingin melihat anaknya bahagia. Begitu besarkah kesalahannya, sampai-sampai putranya itu berteriak karena keputusan yang ia ambil.

__ADS_1


Alex yang melihat sang istri menangis langsung meminta kepada putri bungsunya untuk menenangkan sang ibu.


"Apa begitu caramu berbicara kepada orang yang lebih tua terlebih pada bundamu sendiri, aku tak pernah mengajarkanmu bersikap kurang ajar seperti itu"


"Dan anda juga tak pernah ngajari saya ataupun adik saya apapun"


Jleb...


Perkataan dari Alvaro mampu membungkam Alex maupun Zara. Mereka sadar dan tau apa arti dari ucapan itu.


Alvaro yang saat itu berumur delapan tahun dan Angel yang berumur empat tahun tak pernah mengenal yang namanya kasih sayang kedua orangtuanya. Angel bahkan hampir tak mengenali wajah kedua orang tuanya jika saja mereka tak memiliki foto dari keduanya. Alvaro didik keras sejak kecil untuk menjadi seorang pemimpin yang tegas dan pandai, dia dituntut menjadi seorang yang sempurna tanpa celah. Alvaro kecil tak pernah merasakan namanya sekolah, memiliki teman ataupun bermain. Kesehariannya selalu diisi dengan belajar, latihan, belajar dan latihan. Hanya itu saja kesehariannya, perlakuan itu membuat sosok anak yang penuh senyum berubah menjadi anak yang berkarakter tegas, dingin, cuek pada sekitar, dan tak suka dibantah. Karakter dan sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat dari Alvaro yang selalu tersenyum manis pada siapapun.


Flash back off:

__ADS_1


"Apa kamu masih belum bisa memanfaatkan bunda, Al" ucap Zara sambil menangis


Alvaro melihatnya dengan wajah datar tanpa ekspresi dan tatapannya hanya memandang dingin kerah sang bunda dan berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Zara kembali menangis menatap kepergian putranya yang bahkan tak mengucapkan sepatah kata apapun sebelum pergi. keputusan yang dia ambil untuk putranya itu ternyata adalah kesalahan yang besar, namun mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur dan Alvaro tak pernah ingin kembali lagi pulang kerumah.


(Oke sampai sini dulu cerita nya, jangan lupa like, komen, favorit kalau bisa tolong vote juga)


(Oh ya jangan lupa mampir ke novel baru Abi yah dan tinggalkan jejak juga)



Jangan lupa mampir

__ADS_1


stay healthy and stay happy buat pembaca semua


I love you 💕


__ADS_2