
Seorang gadis berdiri di atas balkon kamar sambil menatap matahari pagi yang begitu indah. Cuaca yang begitu cerah, burung berkicauan yang menandakan ia sedang bernyanyi menyambut pagi. Vella seketika tersenyum, senyumnya yang sangat manis, sangat jarang senyuman ini dimiliki oleh seorang gadis lainya, seketika senyumannya hilang karena mendengar seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk" jawab Vella tanpa menoleh, karena dia tahu yang mengetuk pintu kamarnya adalah ayahnya.
"Vella, tuan Dirga sudah menunggumu, ayah mohon bantulah ayahmu ini" ia mendekati Vella yang masih menatap langit pagi.
"Kenapa harus aku ayah, kenapa aku harus menikah dengannya, aku bahkan tidak mengenalnya" Vella sambil menitikan air matanya
__ADS_1
"Ayolah lah nak, apakah kau tidak kasihan kepada ayahmu ini, ayah tidak bisa membayar semua hutang hutang ayah kepada tuan Dirga hanya kamu yang bisa ayah korbankan demi perusahaan kita, ayah kan sudah membiayai kehidupanmu selama ini jadi anggap saja balas budi kepada ayah" Sungguh sakit saat mendengar perkataan ayahnya yang berarti menjualnya demi melunasi hutang hutang perusahaan dan berkata untuk membalas budinya
"Biarkan aku berfikir dulu ayah" Vella masih memalingkan wajahnya yang enggan menampakan wajah kepada ayahnya.
"Oke baiklah, ayah tunggu kamu,, jika sudah cepatlah turun kebawah" ayah Vella menutup pintu kamar dengan kuat yang membuat Vella tambah menagis dan langsung menemui Dirga di ruang tamu.
*******
__ADS_1
"Maaf tuan sepertinya waktu yang tuan muda berikan untuk nona Vella sudah habis, jadi mulai sekarang perusahaan tuan akan di tutup kecuali nona vella menyetujui syarat yang telah kami berikan" Bram berbicara dengan nada datar tanpa ekspresi apapun. Bram adalah seketaris Dirga yang dingin namun sangat patuh kepada Dirga, perawakannya yang tinggi besar sedikit menyeramkan dengan wajah datarnya namun wajahnya tampan sama seperti Dirga. Saat Dirga dan Bram sudah melangkah menuju pintu keluar, terdengar suara yang menghentikan langkahnya.
"Tunggu, aku menyanggupi persyaratan tersebut, namun tuan juga harus menepati janji tuan" Vella menuruni anak tangga dan berjalan kearah Dirga. Mendengar hal itu, Dirga langsung membalikan badannya sama halnya dengan Bram yang langsung membalikan badanya secepat mungkin.
"Baiklah" Dirga tersenyum tipis sambil menoleh kearah Bram, dengan cepat Bram memberikan selembar berkas yang di lengkapi matrai.
"Silahkan nona tanda tangani" sambil menyuguhkan selembar berkas kelada Vella. Tanpa membaca lembaran berkas tersebut ia langsung menandatanganinya.
__ADS_1
"Bagus, bersiap-siaplah beberapa hari lagi kita akan menikah" Dirga membalikan badannya langsung pergi tanpa pamit kepada Bastian yang di ikuti oleh Bram. Sementara Vella masih menatap punggung Dirga sampai menghilang di balik pintu mobilnya. Bastian langsung mendekati Vella.
"Baguslah kalau kau setuju, ayah berterima kasih kepadamu" Bastian tersenyum tipis dan langsung meninggalkan Vella yang masih berdiri di tengah tengah ruangan. Vella menagis langsung menjatuhkan dirinya kelantai, mengapa tega ayahnya menjualnya untuk menutupi semua hutang hutang perusahaan, semenjak dulu ayahnya tidak pernah menyayanyinya sedikitpun hanya ibunya lah yang sangat menyanyanginya namun ia telah meninggalkan dunia beberapa tahun lalu saat ia masuk kuliah. Melihat nonanya menangis bik minah langsung menenangkan nonanya dan membujuknya untuk istirahat karena beberapa hari lagi ia akan menikah, vella pun menurut kepada bik minah, bik minah pun langsung memapah tubuh Vella yang lemas karena terlalu lama menagis.