
Pulang dari kantor, Austin langsung pulang ke mansionnya. tibalah mobilnya di halaman mansion, dan seperti biasa para pelayan dan pekerja mansion berbaris dan menyambut nya pulang.
sama hal nya dengan Sofia dan Maria yang ada di depan pintu menyambut kepulangan Austin.
dengan Asisten Leo yang senantiasa berada di belakang Austin.
Melihat suaminya berjalan medekatinya segera lah Sofia menghampiri Austin.
sofia mencium tangan suaminya dan mengambil tas kerjanya.
Austin yang mendapatkan prilaku begitu dari istrinya pun terteguh, hatinya mulai menghangat dan entah kenapa dia merasakan debaran yang aneh pada jantungnya.
perlahan dia mulai sadar dalam lamunannya dan berjalan meninggalkan sofia, Jantungnya sangat bergemuruh jika di dekat wanita itu. itulah sebabnya dia segera meninggalkan sofia. takut sofia mendengarkan detak jantungnya, kalau itu terjadi. mau ditaruh dimana wajahnya nanti.
namun sofia tetap mengikuti Austin dan meninggalkan dua orang yang sedang perang dingin di sampingnya.
" bagaimana hari mu di kantor? " tanya sofia sembari mengarahkan tombol yang ada di kursi rodanya ke depan, sehingga secara otomatis kursi rodanya berjalan kedepan. mengikuti Austin yang sudah berjalan duluan.
" mmmm seperti biasanya. " ucap Austin datar sembari melangkahkan kakinya menuju lift
setelah menekan tombol, lift pun perlahan terbuka. Austin dan sofia segera masuk ke lift yang mengarah ke lantai 3 tepat di kamar mereka.
sampailah mereka di kamar.
" mmm kau mandilah dulu, aku sudah siapkan airnya. aku akan menyiapkan pakaian mu. " ucap Sofia sembari mengarahkan tombol kursi rodanya ke Walk in closed.
Sedangkan Austin hanya diam dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
setelah selesai mandi, Austin keluar dengan hanya menggunakan handuk di pinggang nya. Sedangkan Sofia yang tengah membereskan pakaian Austin yang berserakan pun kaget bukan main melihat pemandangan itu.
bagaimana tidak, Austin terlihat seksi dengan hanya menggunakan handuk di pinggang nya. apalagi masih ada tetesan air yang mengalir melewati dadanya dan turun ke perutnya yang ada enam kotak itu.
lalu tetesan itu mengalir melewati perut, dan masuk ke handuk tersebut dan-
" Apa yang sedang kau pikirkan? " ucap Austin mengagetkan Sofia dari lamunan nya.
sofia pun kelagapan menjawab pertanyaan Austin. dia hanya mengaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan muka semerah tomat matang.
" mmmm i itu,, A anu ah tidak jadi aku hanya sedang me memikirkan tentang hewan yang aku lihat kebun tadi, iya hewan yang aku lihat di kebun. itu saja aku tidak memikirkan apa apa. " ucap Sofia sembari mengaruk tengkuknya dan berharap Austin percaya dengan jawaban konyolnya.
" konyol. " ucap Austin sembari membuka handuknya di depan sofia dan memakai pakaian yang sudah di siapkan Sofia.
lagi lagi pipi sofia memanas dengan telinga memerah melihat pemandangan itu. dia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. dia tidak mau melihat benda yang sudah membuatnya kesakitan sekaligus kenikmatan itu. eh?
" Kau sudah makan? " tanya Austin sembari memakai bajunya.
" mmm Belum aku menunggu mu. " ucap Sofia jujur karena dia memang belum makan. niatnya dia akan makan bersama Austin.
" Lain kali tidak usah menunggu ku, bisa saja aku lembur. " ucap Austin datar.
" tidak pa pa aku akan tetap menunggu mu. "
" terserah kau saja lah, " ucap Austin sembari berjalan ke arah pintu. namun,
__ADS_1
" mmm su suami aku rasa kau tidak perlu membelikan ku baju terlalu banyak. aku tidak akan bisa memakai semuanya. " ucap Sofia yang seketika membuat Austin terteguh.
Suami, suami, suami, suami, suami, suami,.......
entah kenapa hanya kata itu yang terus terngiang ngiang di telinganya dan membuat jantungnya tambah bergemuruh.
seketika ia ingat bagaimana malam pertama yang ia habiskan bersama sofia. bagaimana dia dan sofia bercumbu dan menyatu.
perasaan aneh muncul di hatinya dan entah kapan sesuatu yang tidak seharusnya bangun kembali bangun dan membuat tubuhnya memanas.
dia ingin mengulang malam itu lagi!
gagang pintu yang seharusnya terbuka dia lepaskan lagi, berbalik ke arah sofia yang bingung melihat tingkahnya. perlahan berjalan dan mendekati sofia yang terus menatapnya aneh.
berjongkok dan meraba wajah mulus dan putih itu, walaupun tidak bisa melihat namun entah kenapa dia bisa merasakan jika wajah itu pastilah sangat cantik.
tangannya pun sampai pada bibir sofia yang begitu manis dan merah. di usapnya lembut bibir itu membuat sofia memejamkan matanya sambil mengigit bibirnya sendiri saat merasakan hembusan nafas hangat Austin yang menerpa wajahnya.
perlahan bibir mereka mulai menyatu dengan lembut dan perlahan mulai menyecap kemanisan yang mereka rasakan.
saling membelit dengan cara yang menakjubkan.
hingga akhirnya Austin mengangkat tubuh itu dan berjalan menuju ranjang mereka, meletakkan sofia dengan hati hati bagai patung porselen rapuh.
melihat Austin yang mengukungnya, membuat sofia kembali ingat tentang malam pertama mereka.
apakah mereka akan melakukan itu lagi?
" mm ti tidak a akuu ha hanya,,,, aahhh!" ucap sofia terpotong karena Austin mencium lehernya kembali.
" hanya apa? hanya berpikiran mesum?? " ucap Austin tepat sasaran.
mendengar itu pipi sofia kembali memanas. dan dia mengalihkan pandangannya karena malu.
" kenapa? apa aku benar? " tany Austin sembari menyeringai.
" baiklah akan aku kabulkan apa yang kau pikirkan. " ucap Austin sebelum kembali menyerang Sofia seperti malam pertama mereka.
dan di ruangan itu hanya terdengar ******* dan lenguhan mereka, dengan decitan ranjang yang ikut bergoyang.
sementara dua sejoli tengan menikmati manisnya madu dan kenikmatan surgawi, lain halnya dua orang yang ada di lantai satu, mereka tengah perang dingin.
yang satu sok cool dengan sifat cueknya dan yang satu lagi sok garang dengan terus menatap tajam lawannya.
" kenapa kau menatapku begitu? " tanya Leo yang merasa risih terus di tatapi begitu tajam oleh Maria.
" memangnya kenapa? aku punya mata ya terserah aku dong mau liat apa, kenapa kamu yang sewot?? " ucap Maria ngegas.
" dasar cewek aneh. " umpat Leo yang pergi meninggalkan Maria yang masih terus menatapnya tajam.
tidak terima dengan ucapan Leo, maria pun menyusulnya dan menghalangi jalan nya.
" apa kau bilang? aku cewek aneh?? kamu tu yang aneh dasar tembok!! " ucap Maria tak mau kalah dengan berkacak pinggang.
__ADS_1
" kamu yang aneh! marah marah gak jelas! " ucap Leo yang ikut terbawa emosi.
" kamu aneh! muka kek tembok! dasar aneh! " maki Maria semakin terpancing.
" apa kau bilang?!! kamu berani sama aku? " ucap Leo yang masih meladeni Maria.
" berani! kenapa harus takut ama tembok? " ucap Maria menantang walau pun kelihatan takut.
" oooooohhhh gitu, oke,, " ucap Leo sembari membuka bajunya dan terlihatlah ototnya yang besar dan badannya yang seperti pegulat.
Melihat itu, Maria pun ketakutan dan langsung berlari ke dalam mansion.
" Dasar om om Mesummmmmmm!!! "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung........
__ADS_1